Taman Ria Senen, Taman Ria Monas, dan Taman Ria Remaja Senayan adalah taman ria yang pernah mengisi hari-hari warga Jakarta.
10 Sep 2025 10:00 WIB · Metropolitan
Bagi warga, terutama yang tinggal di perkotaan, kehadiran taman hiburan adalah ibarat oase yang menjadi tempat untuk melepas lelah dari rutinitas sehari-hari dan berekreasi bersama keluarga.
Pada era 1970-an masyarakat di Jakarta tentu sangat familiar dengan keberadaan taman hiburan atau saat itu dikenal dengan nama taman ria. Setidaknya ada tiga taman ria yang dibangun dalam rentang tahun 1969-1970. Ketiganya adalah Taman Ria Senen, Taman Ria Monas, dan Taman Ria Remaja Senayan.
Taman Ria Senen yang menempati lantai IV dan V pada Proyek Senen diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 27 April 1969. Sebagai tempat rekreasi dan hiburan, tentu saja taman ria ini menyediakan area permainan yang dilengkapi dengan restoran, kafe, dan panggung terbuka. Tiket masuk untuk anak-anak Rp 10 dan untuk dewasa Rp 20. Beragam permainan yang tersedia antara lain kiddle flying wheel, kereta mini, dan konsol gim mini.
Supaya dapat menikmati permainan-permainan itu, pengunjung membayar lagi Rp 10-Rp 20 untuk durasi bermain 3 menit sampai 5 menit. Taman Ria Senen ini dibangun PT Inter Recreation and Tourism Indonesia (PT IRTI), sebuah perusahaan joint venture antara PT Pembangunan Jaya/Proyek Senen dan PT Interarts Hong Kong. Namun, dua pekan setelah diresmikan, pengelola menutup sementara Taman Ria Senen untuk melanjutkan kembali persiapan sejumlah ruangan serta pemasangan peralatan permainan dan hiburan. Menurut keterangan pihak pengelola, hal tersebut terpaksa dilakukan karena waktu persiapan yang terlalu singkat dengan jadwal peresmian (Kompas, 6 Mei 1969).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/77c156a7-1217-4cb5-9e4a-4d6e60bfbca4_jpg.jpg)
Dalam rentang waktu yang sama dengan pembangunan Taman Ria Senen, PT Inter Recreation & Tourism Indonesia (PT IRTI) juga menyiapkan taman ria yang berada di kawasan Monumen Nasional (Monas) bernama Taman Ria Jakarta.
Taman ria yang kemudian lebih dikenal dengan nama Taman Ria Monas ini mulai dibuka pada Juni 1969 berbarengan dengan ajang Jakarta Fair untuk memperingati HUT Jakarta. Meski bersebelahan, Taman Ria Monas ini terpisah dengan Jakarta Fair.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/a3d2b28a-fed7-421f-b19e-fc87136c8034_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/9ccafaff-1979-499b-a89c-b7f11a6e5515_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/81712e5c-809d-4da4-abfd-bcbdbcf26139_jpg.jpg)
Menempati lahan sekitar 4,2 hektar di sisi pojok barat Jalan Medan Merdeka Selatan, Taman Ria Monas diproyeksikan menjadi salah satu taman rekreasi termodern di Indonesia saat itu.
Sebuah monorel dengan ketinggian rel sekitar 2,5 meter dari tanah dengan gerbong yang mampu menampung sekitar 30 penumpang anak-anak menjadi wahana favorit. Selain itu juga ada moon rocket dan jet coaster yang akan menerbangkan anak-anak hingga ketinggian 15 meter serta tea cup sebuah permainan berbentuk meja dan cangkir berukuran besar yang dapat berputar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/b6b7efd7-496d-44ee-b11f-2744399685c9_jpg.jpg)
Hingga Oktober 1969, sebanyak 15 jenis wahana permainan telah melengkapi Taman Ria Monas. Tiket jet coaster menjadi yang paling mahal, yaitu Rp 150 per orang. Jet coaster diprioritaskan untuk orang dewasa dan bagi anak-anak berumur kurang dari 15 tahun dilarang naik.
Permainan lain yang juga banyak diminati di Taman Ria Monas adalah boom boom car. Menempati area berukuran 20 x 8 meter, pengunjung dapat menikmati mengendarai mobil mini yang digerakkan dengan tenaga listrik itu. Untuk bermain selama 3 menit, tiket yang dibayarkan Rp 100.
Melengkapi dua taman ria yang sudah ada, pada 1970 bertambah satu lagi taman ria yang dirancang sebagai pusat hiburan dan rekreasi keluarga di jantung Ibu Kota.
Taman Ria Remaja diresmikan Presiden Soeharto pada 15 Agustus 1970. Berlokasi di kawasan Senayan, lantas dikenal juga sebagai Taman Ria Remaja Senayan atau Taman Ria Senayan.
Pembangunan kawasan ini atas prakarsa ibu-ibu Yayasan Karya Bhakti Rukun Ibu Ampera (RIA) yang dipimpin Ny Tien Soeharto. Setelah diresmikan, pengelolaan Taman Ria Remaja diserahkan kepada Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, Ali Sadikin.
Dalam buku Gita Jaya: Catatan H Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1966-1977, Bang Ali menyebutkan, ”Fasilitas hiburan dan rekreasi bagi Kota Jakarta yang diarahkan sebagai kota industri, perdagangan, kota pariwisata, kota kebudayaan, disamping fungsi-fungsi lain, sungguh merupakan kebutuhan mutlak bagi warga negara yang sehari-hari selalu tenggelam dalam kesibukan.”
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/76a93c60-ab7d-4d13-92fb-6d20047e80a1_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/d1beef29-09cd-460f-8bb0-462f48b4a1d3_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/2bcbd8bd-8a1a-40e5-91f6-b0e0955d8aeb_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/5dd71395-16d0-446b-b5c1-ed4ce1ac4e0e_jpg.jpg)
Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung di Taman Ria Senayan sekitar 1.000 orang. Jumlah itu meningkat 8.000-10.000 orang saat akhir pekan. Daya tarik utama di Taman Ria Senayan adalah danau buatan dan rekreasi air, seperti perahu motor dan sepeda air.
Jumlah pengunjung saat akhir pekan itu dapat berlipat ketika hari libur. Seperti saat libur Lebaran pada November 1972, pihak pengelola Taman Ria Senayan mencatat selama dua hari libur Lebaran saja jumlah pengunjung telah mencapai 45.000 orang.
Taman Ria Senayan juga rutin menggelar beragam acara, termasuk peragaan busana, pameran pertanian, dan pertunjukan musik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/18c0ba34-794b-4f66-a756-e8d14a0b4d09_jpg.jpg)
Memasuki era 1980-an Taman Ria Senayan semakin semarak dengan hadirnya grup lawak Srimulat yang membuka panggung permanen di area Taman Ria Senayan. Gedung pertunjukan lantas disiapkan untuk menampung 1.000 penonton Srimulat. Menurut pemimpin Srimulat, Teguh, kontrak pertama di Taman Ria Senayan berlangsung selama satu tahun dengan sewa per bulan Rp 2,5 juta belum termasuk listrik dan lain-lain.
Rombongan pemain yang datang berjumlah 38 orang dengan para pemain yang sudah dikenal penonton di Jakarta, seperti Gepeng, Bagus Sutikno, Jujuk, dan Isbandiah. ”Mereka mengontrak rumah di kawasan Slipi dan Kebon Jeruk”, kata Teguh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/d54cfcb2-a9ba-4e6e-a480-029385c0eadb_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/b5c40e18-36e8-4f53-af30-32dc7e48df29_jpg.jpg)
Grup Srimulat yang beranggotakan 260 pemain terbagi dalam tiga panggung tetap di tiga kota, yaitu Solo, Surabaya dan Jakarta. Untuk pertunjukan di Solo, harga karcis dijual dalam dua harga sesuai kelas, yaitu Rp 400 dan Rp 500. Di Surabaya harga tiket kelas 1 dijual Rp 800, dan kelas 2 dijual Rp 500. Sementara dalam pertunjukan di Jakarta penonton Srimulat ditarik bayaran Rp 1.000 dan Rp 2.000.
Dalam pertunjukan perdana yang berlangsung pada Sabtu (10/10/1981), Srimulat membawakan lakon berjudul ”Cinta Tahan Karat” yang menampilkan antara lain Triman, Jujuk, Asmuni dan Gepeng.
Panggung pertunjukan Srimulat di Taman Ria Senayan hanya bertahan hingga 1989 setelah grup lawak itu mengalami kesulitan keuangan. Pada Mei 1989 kelompok tersebut tidak diperkenankan lagi menggunakan gedung pertunjukan karena menunggak sewa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/6ce6bca1-85a9-4c9d-b78d-2b0c725aff7c_jpg.jpg)
Dalam perjalanan waktu, keberadaan taman ria yang sempat mendapatkan tempat tersendiri bagi masyarakat Jakarta pada akhirnya harus berhenti. Pada Juli 1990 kegiatan utama di Taman Ria Monas berupa taman rekreasi dan permainan tidak lagi beroperasi terkait polemik pengelolaan lahan.
Wahana permainan kemudian mulai dibongkar pada akhir Juli 1990. Sementara kegiatan lain di Taman Ria Monas, seperti kolam renang, bowling center, bioskop, dan perkantoran, masih diberi kelonggaran hingga akhir tahun untuk menghentikan kegiatan dan kemudian dibongkar , 28 Juli 1990).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/ea24d6dc-8443-4469-98df-56d3e1cf057a_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/85703565-7d57-4c55-ad09-1da2e2f71b44_jpg.jpg)
Hal serupa juga dialami Taman Ria Senayan. Tahun 1992, Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan mendapat izin memanfaatkan tanah untuk proyek Playground Taman Ria Senayan dalam jangka 35 tahun.
Pemugaran dan renovasi kemudian dilakukan termasuk melakukan modernisasi beragam sarana permainan. Salah satunya adalah dengan memasukkan wahana permainan roller coaster. Taman Ria Senayan setelah renovasi kembali dibuka untuk publik pada 1997. Dua tahun setelah beroperasi kembali hampir saja wahana roller coaster itu menyebabkan insiden fatal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/625051f6-ce5d-43e6-9664-de7a144b6e5a_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/566f4259-6f34-4e05-bfbe-804dffb07211_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/db1ccba7-22b8-40ac-befa-815c869b28d1_jpg.jpg)
Pada Minggu (13/6/1999), sebanyak 12 penumpang roller coaster di arena bermain Taman Ria Senayan nyaris celaka. Roller coaster yang mereka tumpangi berhenti mendadak karena terputusnya aliran listik saat ditarik ke bagian rel yang tertinggi. Tak pelak lagi, para penumpang yang berada di roller coaster panik dan berteriak meminta pertolongan. Selama dua jam mereka ”mengangkasa” sebelum akhirnya ditolong petugas pemadam kebakaran.
Peristiwa mendebarkan yang terjadi pukul 14.00 WIB itu tidak segera dapat diatasi. Pengelola Taman Ria Senayan ternyata bukan saja gagal menyalakan kembali aliran listrik, melainkan juga tidak memiliki unit penyelamat. Pertolongan baru terjadi setelah satu unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Kebakaran DKI tiba. Petugas menurunkan penumpang dari atas roller coaster dengan peralatan pemadam kebakaran tower ladder (tangga menara).
Tahun-tahun berikutnya Taman Ria Senayan diterpa beragam polemik, salah satunya terkait kepemilikan dan pengelolaan lahan serta sorotan publik terkait terancamnya ruang terbuka hijau dengan adanya aktivitas pembangunan pada Taman Ria Senayan.
Selama polemik yang berkepanjangan hingga ke Mahkamah Agung itu, Taman Ria Senayan pun terbengkalai. Hingga akhirnya pada 2010 area Taman Ria Senayan dibongkar. Saat ini di lokasi bekas Taman Ria Senayan telah berganti menjadi pusat perbelanjaan (Kompas.id, 2 Desember 2019).
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Maria Susy BerindraFoto:
AP Susetyo WijatmokoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari