Arsip Foto ”Kompas”: Oplet, Ikon Jalanan yang Tinggal Menyisakan Cerita

Oplet menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari sejumlah warga di beberapa kota di Indonesia, khususnya Jakarta. Pada masanya, angkutan ini menjadi pilihan utama.

24 Sep 2025 08:02 WIB · Metropolitan

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Hai, oplet tua dengan bapak sopir tua

Cari penumpang di pinggiran ibu kota

Sainganmu mikrolet, bajaj, dan bis kota

Kini kau tersingkirkan oleh mereka

Penggalan lirik lagu ”Barang Antik” milik Iwan Fals yang dirilis pada tahun 1984 itu sangat lugas menggambarkan kondisi sisa-sisa kejayaan oplet yang pernah digunakan sebagai transportasi umum.

Mulai muncul sebagai angkutan penumpang sekitar tahun 1950, pada kurun 1960 hingga 1970, oplet adalah angkutan yang sangat populer bagi masyarakat, terutama di Jakarta.

Meski sebagian besar oplet ada di Jakarta, oplet juga dapat dijumpai di beberapa kota lain di Indonesia. Bagi generasi baby boomers dan sebagian generasi X mungkin masih mengingat dan menyimpan memori masa lalu bersama oplet.

Suasana terminal oplet di Jakarta. 23 Februari 1971

Sebenarnya oplet bukanlah kendaraan niaga atau kendaraan yang khusus didesain untuk menjadi tranportasi umum. Namun, menggunakan mobil yang saat itu sudah banyak digunakan di Indonesia.

Sebagian besar oplet menggunakan mobil lawas buatan tahun 1940 hingga 1950-an yang berasal dari pabrikan mobil Amerika Serikat (AS) atau Eropa, seperti jip Willys, Chevrolet, Morris, Austin, dan Fiat. Jip Willys awalnya dikenal sebagai kendaraan yang digunakan oleh militer AS dalam Perang Dunia II.

Bentuk asli mobil-mobil itu kemudian dimodifikasi, salah satunya adalah pemotongan sebagian badan atasnya dan diganti badan baru dari kayu jati. Pada sisi kiri dan kanan badan baru ini juga ditambahkan jendela. Sementara pada bagian belakang dibuat pintu yang berfungsi untuk keluar masuk penumpang.

Mobil oplet ini aslinya hanya berkapasitas untuk 4-5 penumpang saja. Namun, dengan modifikasi dari karoseri-karoseri ala kadarnya itu, kapasitas angkut penumpang bisa bertambah hingga 10 orang.

Sampai awal 1970-an, perusahaan karoseri pembuat oplet relatif mudah ditemukan di Jakarta, seperti di Cawang, Salemba, Gajah Mada, dan Cilincing.

Sejumlah oplet di kawasan Kebayoran Lama, Jakata. Oplet-oplet tersebut dibuat dari model mobil Jeep Willys. 7 Februari 1978
Sejumlah oplet parkir di salah satu sudut Jakarta. 3 Februari 1978
"Terminal oplet di Halim" Suasana Terminal Oplet di Jalan Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. 2 November 1977

Terminal oplet pertama di Jakarta dibangun di Jatinegara, Jakarta Timur, dengan menempati area bekas bundaran trem Kampung Melayu. Terminal yang diresmikan pada awal Desember 1968 ini memiliki luas 180 meter x 120 meter.

Meski lebih kecil dari Lapangan Banteng, terminal bisa menampung 100-150 oplet. Saat itu jumlah oplet di Jakarta sekitar 4.900 unit. Angka tersebut lantas meningkat menjadi 6.128 unit pada tahun 1971.

Warga umumnya menyukai oplet karena dapat naik dan turun di sembarang tempat. Oplet juga memberi jaminan tempat duduk bagi penumpangnya.

Sementara tarifnya pun disesuaikan dengan jarak dekat-jauhnya tujuan penumpang. Misalnya, tarif oplet dari Jakarta Kota-Jatinegara pada tahun 1973 adalah Rp 50 per penumpang. Kemudian, tarif dengan rute luar kota, seperti Jakarta-Tangerang, adalah Rp 75 per penumpang.

Sebanyak 22 rute oplet ada di Jakarta. Rute itu antara lain Kampung Melayu-Pasar Senen, Tanah Abang-Kebayoran Lama, Tanah Abang- Jakarta Kota, Tanjung Priok-Jakarta Kota, dan Cililitan-Pondok Gede.

Sejumlah petugas sedang memungut uang karcis sumbangan pembangunan emplasemen (SPE) kepada pengemudi oplet di pintu masukTerminal Cililitan, Jakarta Timur, 28 November 1877.
Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo (memakai topi) turut mendorong oplet yang mogok di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, saat banjir melanda sejumlah kawasan di Jakarta. 19 Januari 1979
Sebuah oplet berada diantara mikrolet yang mulai beroperasi di Jakarta sebagai angkutan umum. 24 November 1982

Memasuki tahun 1974, larangan pengoperasian oplet tua di Jakarta mulai muncul. Saat itu jumlah oplet di Jakarta mencapai 3.500 unit. Dua tahun kemudian, jumlah oplet di Jakarta sempat turun menjadi sekitar 2.500 unit saja.

Selain melarang oplet-oplet tua, Pemerintah DKI Jakarta juga tidak lagi mengeluarkan izin operasi bagi oplet-oplet baru sehingga jumlah oplet perlahan-lahan akan semakin berkurang. Kebijakan itu terkait rencana Pemerintah DKI Jakarta dalam menyusun pola angkutan umum dan regenerasi transportasi umum di Jakarta.

Warga menumpang oplet yang dibuat dari mobil Chevrolet Suburban buatan tahun 1950 yang melewati jalan di wilayah Sukabumi selatan. 25 Agustus 1980

Oplet secara resmi mulai digantikan oleh mikrolet pada tahun 1980. Pada fase awal 400 oplet akan mulai digantikan dengan mikrolet hingga akhir tahun 1980.

Kemudian, secara bertahap hingga akhir tahun 1983, keseluruhan oplet di Jakarta yang saat itu tercatat 3.025 unit sudah tidak boleh lagi beroperasi dan digantikan mikrolet (Kompas, 23 Agustus 1980).

Berita Kompas tentang penggantian oplet dengan mikrolet

Saat meresmikan mikrolet sebagai pengganti oplet, Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo tak melupakan jasa oplet. Menurut dia, oplet telah beroperasi membantu mobilitas warga Jakarta selama lebih dari 35 tahun. ”Riwayatnya tumbuh dalam proses perjuangan,” katanya.

Dulu, banyak orang memilih menjadi sopir oplet atau kusir delman karena tak mau menjadi pegawai kolonial Belanda. Oleh karena itu, pengusaha oplet umumnya pengusaha kecil yang hanya memiliki 1-2 oplet saja.

Oplet di Manado, Sulawesi Utara, yang dibuat dari modifikasi mobil bak terbuka. 18 Desember 1989
Oplet yang sudah dilarang sebagai angkutan umum di Jakarta masih terlihat beroperasi terutama di daerah pinggiran Jakarta. 23 Februari 1993 *** Local Caption *** Judul Amplop: Opelet , Bonceng Sepeda , Penjual Minyak Tanah
Meski gerobak sapi, oplet dan becak tidak lagi boleh melewati sebagian besar jalan di Jakarta. Transportasi kelas bawah tersebut tetap dapat dijumpai seperti di daerah Cijantung, Jakarta Timur. 15 Januari 1983

Tak hanya di Jakarta, di beberapa kota lain keberadaan oplet juga mengalami nasib serupa. Tahun 1977, oplet di Tanjungkarang, Lampung, mulai tergusur dengan keberadaan bus Damri. Kemudian di Pekanbaru, Riau, oplet yang mesinnya dibuat sebelum tahun 1950 pun dihentikan operasinya. Padahal, saat itu jumlah oplet di Jakarta masih sekitar 3.000 unit, dan di Tanjungkarang sekitar 740 unit. Di Pekanbaru, dari 300 oplet yang ada, 100 di antaranya menggunakan mesin keluaran tahun 1945-1950.

Warga diibantu polisi mendorong oplet yang mogok di Jakarta setelah melewati genangan yang disebabkan hujan, Sabtu (31/1/1981).
Kalau di Jakarta ada bus gandeng, maka di Ciputat tak mau kalah ada juga oplet yang bergandengan dengan gerobak minyak tanah. Tukang gerobak ini tampaknya tak mau lelah mendorong, lalu memilih duduk di pintu oplet sambil menarik gerobaknya. 8 Februari 1992

Meski resmi dilarang beroperasi, setelah tahun 1983 keberadaan oplet tak langsung hilang begitu saja. Sebagian masih mencoba bertahan dan beroperasi di daerah pinggiran Jakarta. Dalam arsip foto Kompas, hingga awal 1990-an masih dapat dijumpai sejumlah oplet yang melayani warga.

Salah satu adegan saat syuting sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan” yang turut menampilkan sebuah oplet. Foto ini diambil pada 15 Februari 1995.
Syuting sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan”.
Acara pindah rumah Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso ke rumah dinasnya di Jalan Taman Suropati, Jakarta Pusat, semarak dengan dengan adat Betawi. Tampak rombongan pindahan diiringi keluarga Si Doel yang turut membawa oplet, 11 Juni 1997.
Artis pemeran dalam sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan” hadir meramaikan perayaan HUT Ke-468 Kota Jakarta dengan mengendarai oplet di Pekan Raya Jakarta, 21 Juni 1995

Oplet sempat kembali menjadi topik pembicaraan setelah muncul dalam sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan” yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta tahun 1994.

Oplet yang aslinya adalah mobil Morris Minor berkelir biru dan hitam itu sangat ikonik dan tampaknya masih diingat publik hingga sekarang.

Mobil Morris Minor 100 Traveller yang dikenal sebagai mobil Oplet dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan dipamerkan dalam 90's Festival di Gambir Expo, Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (10/11/2018).


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari