Arsip Foto ”Kompas”: Pasang Surut Sarinah

Sarinah digagas oleh Presiden Soekarno dan menjadi pusat perbelanjaan pertama di Indonesia untuk mendukung produk UMKM. Sarinah akan memasuki usia ke-59.

23 Jul 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Priyombodo

Tanggal 15 Agustus 2025 mendatang, Sarinah akan memasuki usia ke-59. Pusat perbelanjaan pertama di Indonesia itu digagas dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Sarinah yang menjadi rumah  bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM ini pernah mengalami masa-masa sulit, mulai dari kebanjiran, kebakaran, hingga ditinggal oleh pengunjung karena kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan baru yang tumbuh menjamur di seantero Jakarta dan kota sekitarnya.

Pada 2022, pusat perbelanjaan Sarinah selesai direnovasi  dan siap dikenalkan kembali kepada publik. Proses renovasi berlangsung cepat, yakni 18 bulan masa pengerjaan. Peresmian Sarinah dengan konsep baru dilakukan oleh Presiden RI saat itu, Joko Widodo, pada 14 Juli 2022. Peresmian itu menandai babak baru dari bangunan cagar budaya Sarinah.

Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di Menteng, Jl.MH Thamrin Jakarta, 22 Juni 1980. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1963.

Gedung Sarinah setinggi 74 meter dengan 15 lantai pada masanya dikenal sebagai gedung tertinggi pertama di Jakarta. Sarinah  juga menyandang predikat sebagai toko serba ada (toserba) pertama dan menjadi cikal bakal dari toko ritel di Indonesia.

Satu lagi yang tak kalah menarik adalah di Sarinah terdapat eskalator pertama. Tak heran jika Sarinah pada masa-masa awal beroperasi banyak dikunjungi masyarakat untuk merasakan sensasi menaiki eskalator. Tak sedikit pula pengunjung yang berasal dari luar Jakarta.

Eskalator pertama itu masih tetap dipertahankan sebagai memorabilia di gedung Sarinah yang baru. Fungsinya digantikan oleh dua eskalator baru untuk mengakomodasi pengunjung.

Kini, Sarinah telah bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan modern atau mal yang estetik dengan wajah baru. Di Sarinah yang baru terdapat fasilitas tangga amphitheater dan skydeck atau area luar mal yang memungkinkan para pengunjung untuk menikmati suasana Kota Jakarta  dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Termasuk menikmati sajian musik secara langsung  dari musisi Tanah Air yang tampil di halaman depan gedung Sarinah yang kini tanpa sekat pagar.

Pekerja melintas di dekat proyek renovasi gedung Sarinah,  Jakarta Pusat, dengan penampakan wajah barunya, pada 16 Januari 2022. Transformasi Sarinah nantinya diproyeksikan untuk mendukung kemandirian dan kemajuan produk lokal dengan menjadi pusat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tempat parkir sepeda di Gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, 22 Maret 2022. Perbelanjaan modern pertama di Indonesia itu kini tampil dengan wajah baru dan bertransformasi menjadi panggung bagi karya anak bangsa.
Dekorasi di salah satu lantai di gedung Sarinah, Jakarta, pada 11 Maret 2022.  Jumlah keterisian penyewa gedung saat ini sudah mencapi 95 persen dan mereka sedang melakukan persiapan di setiap gerai. Progres konstruksi dalam pemugaran gedung Sarinah yang juga termasuk cagar budaya sejak Agustus 2020 kini sudah selesai seluruhnya. Tidak hanya berubah secara fisik, Sarinah juga bertransformasi secara bisnis dengan memberikan tempat pada usaha kecil menengah dalam negeri (UMKM dan UKM) yang akan menjadikan Sarinah sebagai pusat perdagangan dan promosi bagi produk-produk lokal di dunia internasional.  Sarinah akan mulai beroperasi kembali pada akhir Maret 2022.
Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti peresmian Transformasi Sarinah, Kamis (14/7/2022). Peresmian tersebut menandai babak baru dari toko ritel pertama di Indonesia, Sarinah.
Warga beristirahat di pelataran Sarinah, Jakarta, Jumat (30/6/2023). Warga memanfaatkan libur panjang Idul Adha 2023 dengan mengunjungi pusat perbelanjaan seperti Sarinah. Mal pertama di Indonesia ini menyuguhkan berbagai macam komoditas, seperti pakaian, pernak-pernik, hingga makanan yang berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Bangunan yang menjadi salah satu ikon Jakarta ini menjadi daya tarik warga untuk menghabiskan waktu liburnya. Pelataran Sarinah menjadi salah satu tempat warga untuk beristirahat atau berfoto dengan latar belakang mal tersebut. ”Skydeck” sarinah yang berada di lantai 3 juga menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga. Di sana warga mengabadikan momen bersama keluarga dan teman-temannya dengan latar belakang gedung-gedung yang berada di Jalan MH Thamrin dan Jalan KH Wahid Hasyim.
Eskalator kecil yang berada di tengah merupakan eskalator pertama di Indonesia yang berada di Gedung Sarinah, Jakarta, Jumat (11/3/2022). Eskalator tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu ikon Sarinah meski tidak akan dioperasikan. Progres konstruksi dalam pemugaran Gedung Sarinah yang juga termasuk cagar budaya sejak Agustus 2020 lalu kini sudah selesai seluruhnya. Tidak hanya berubah secara fisik, Sarinah juga bertransformasi secara bisnis dengan memberi tempat pada usaha kecil menengah dalam negeri (UMKM dan UKM) yang akan menjadikan Sarinah sebagai pusat perdagangan dan promosi bagi produk-produk lokal di dunia internasional. Sarinah akan mulai beroperasi kembali pada akhir Maret 2022. KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD)11-03-2022

Di antara tamu undangan pada saat peresmian tahun 2022, turut hadir putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. Ia mengisahkan jika peresmian itu membangkitkan kenangannya 56 tahun lalu.

Nama Sarinah yang disematkan Bung Karno adalah nama dari pengasuh dirinya semasa kecil, yakni Mbok Sainah. Sarinah merupakan penghormatan dan rasa terima kasihnya kepada jasa-jasanya yang telah membentuk jiwa Bung Karno. Itulah untuk pertama kalinya publik mengenal nama ”Sarinah”, yang dikonstruksi oleh Bung Karno.

Di masa awal beroperasi, Sarinah menyerap banyak tenaga kerja. Sebuah berita di Harian Kompas yang terbit pada 8 Februari 1966 berjudul ”Dept Store Sarinah Masih Perlu Banjak Tenaga Wanita”. Di berita itu dijelaskan jika tenaga wanita dibutuhkan untuk posisi di kasir dan pramuniaga. 

Berita terkait Sarinah yang mencari tenaga kerja wanita yang terbit di Harian ”Kompas”, 8 Februari 1966.

Meskipun menyandang status sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, Sarinah pada mulanya adalah tempat usaha untuk mengangkat derajat para pedagang UMKM serta perajin dan industri kecil dari sejumlah provinsi sekaligus stabilisator harga di pasar pada jenis dan produk tertentu.

Oleh karena itu, di lantai bawah tanah gedung Sarinah diperuntukkan bagi pedagang yang menjual perlengkapan rumah tangga, sayur mayur, daging, buah segar, serta makanan dan minuman. Bahan makanan dan minuman tersimpan dalam lemari berpendingin untuk menjaga kesegaran. Juga terdapat sebuah coffeeshop bagi pengunjung.

Quote

Nama Sarinah yang disematkan Bung Karno adalah nama dari pengasuh dirinya semasa kecil, yakni Mbok Sainah.

Lantai satu menjadi surga bagi kaum perempuan karena di sinilah tempat yang menjual alat kosmetik, salon kecantikan, aksesori, dan alat jahit. Untuk laki-laki, di lantai ini juga disediakan aksesori, rokok, barber shop, peralatan elektronik, dan alat optik. Untuk mengakomodasi turis asing, fasilitas money changer disiapkan juga di lantai  ini.

Di lantai 2, tersedia tekstil, pakaian jadi, barang kelontong, ruang bermain khusus, dan barber shop untuk anak-anak. Perabotan rumah tangga, perlengkapan sekolah, toko buku, alat musik, alat olahraga, kaset dan piringan hitam, serta lukisan dinding bisa diperoleh di lantai tiga. Sebuah foto arsip memperlihatkan ramainya pengunjung yang  berbelanja pakaian dan perlengkapan shalat di toserba Sarinah jelang Lebaran pada tahun 1995.

Sesudah meresmikan pembukaan festival batik Indonesia 1973, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meninjau stan-stan peserta di lantai VI Sarinah. Menurut dia, motif batik kini sudah makin berkembang. Ia juga mengemukakan sudah banyak jenis batik yang sebenarnya dapat diekspor.
Seorang peragawati menggunakan rok dari batik, dalam  Pekan Promosi Batik 1972 di Sarinah Dapartment Store, Jakarta, 8 Juli 1972. Acara tersebut dihadiri Ibu Tien Soeharto. Pekan promosi yang diikuti para peserta Kontes Internasional Batik Indonesia ini diadakan setahun sekali setiap bulan Agustus.
Suasana di salah satu sudut yang memajang produk kerajinan saat peresmian Pasar Kerajinan Indonesia di lantai III Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, 22 Maret 1974.
Menjelang Lebaran, toko dan pusat perbelanjaan, terutama yang menyuguhkan baju dan pakaian, banyak diserbu pengunjung. Belanja busana dan perlengkapan untuk menyambut Lebaran menjadi aktivitas yang hampir terjadi di mana-mana. Begitu pula suasana di Toko Serba Ada (Toserba) Sarinah, Jakarta Pusat, 23 Feruari 1995.
Pengunjung melihat patung yang dijual di bagian kerajinan di Sarinah Department Store di Jalan MH Thamrin, Jakarta, 30 Agustus 2012.  Sarinah merupakan pelopor toko serba ada moderen dan turut membantu menyerap produk ritel, tekstil, dan kerajinan di Indonesia sejak 50 tahun lalu.
Edward Hutabarat Cruise 2023
 Latihan tinju di Sasana Tinju Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Masyarakat memadati halaman depan gedung Sarinah, Jakarta Pusat, saat menyaksikan pawai pembangunan dalam rangka peringatan HUT Ke-30 Proklamasi Kemerdekaan RI.
Wajah baru Toserba Sarinah yang hadir menjadi pemandagan baru di Jalan Thamrin, Jakarta.

Sarinah menjadi etalase bagi produk kerajinan dari banyak daerah. Selain itu, untuk mempromosikan produk UMKM berkualitas, di Sarinah kerap kali digelar pameran kerajinan.

Pergelaran busana untuk mempromosikan batik juga menjadi agenda berkala di Sarinah. Bahkan, setelah Sarinah direnovasi, perancang busana Edward Hutabarat memilih skydeck Sarinah untuk memperkenalkan rancangan terbarunya yang mengangkat khazanah batik Cirebon dan Pekalongan pada 2022.

Tak tanggung-tanggung di Sari Garden, yang terletak di lantai dua Sarinah dibuka sasana tinju pada 14 Jannuari 1969. Pengoperasian sasana tinju itu dalam rangka memajukan olahraga tinju. Sarinah bekerja sama dengan pihak Persatuann Tinju Amatir Indonesia (Pertina) untuk menggembleng dan mendidik calon petinju dari kalangan masyarakat umum dan karyawan.

Restoran cepat saji dari negeri ”Paman Sam” menambah lengkap fasilitas di Sarinah. McDonald’s di Sarinah dibuka pada 21 Februari 1991. Restoran cepat saji itu cukup terkenal dan menjadi salah satu ikon di Sarinah.

Ramainya pengunjung terekam oleh lensa kamera fotografer Harian Kompas, Julian Sihombing. Keberadaan McDonald’s di Sarinah berlangsung hingga 2009. Hengkangnya restoran cepat saji itu sempat menjadi buah bibir. Maklum saja, banyak masyarakat yang memiliki kenangan di gerai tersebut. Karena pertikaian bisnis, akhirnya McDonald’s Sarinah diganti dengan restoran cepat saji lokal bernama Toni Jack’s. Namun, restoran ini tak berumur pajang.

Suasana di rumah makan siap saji MC Donald's di Gedung Sarinah Jl.Thamrin, Jakarta. Pusat,  yang ramai pengunjungnya, (29/3/1991).

Banjir dan kebakaran

Banjir besar yang melumpuhkan Jakarta pada 19 Januari 1977 berdampak pada gedung Sarinah. Lantai bawah tanah yang diisi oleh pedagang  sayur-mayur terendam banjir.

Dikabarkan jika air banjir merendam lantai  bawah tanah hingga dua pekan lamanya. Kondisi tersebut menyebabkan barang-barang  dagangan mengalami kerusakan dan menimbulkan bau busuk. Untuk mengusir bau tak sedap, pihak pengelola dan pedagang sampai membakar dupa.

Sebelumya, pada 1975 banjir juga merendam halaman gedung Sarinah. Hujan deras dan sistem drainase yang buruk menjadi penyebabnya.

Banjir di jalan protokol MH Thamrin yang juga merendam Sarinah terus berulang, paling tidak merunut dari arsip foto Harian Kompas, banjir Sarinah terjadi pada 2 Februari 2002 dan 1 Februari 2008.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Selain banjir, kebakaran juga sempat melanda gedung Sarinah. Menurut catatan, Sarinah tiga kali diamuk si jago merah. Kebakaran hebat terjadi pada 18 Juli 1980 dan 14 November 1984. Dua kebakaran ini terjadi pada malam hari.

Kebakaran pada 1980 berawal dari ruang pertukangan yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi. Api yang diduga muncul akibat hubungan pendek arus listrik itu dengan cepat membakar material dekorasi yang mudah terbakar.

Kebakaran kembali berulang pada 1984. Kebakaran yang terjadi di lantai atas gedung Sarinah cukup merepotkan petugas kebakaran saat itu mengingat minimnya alat pemadaman untuk gedung bertingkat.

Sebuah foto arsip memperlihatkan lantai atas gedung Sarinah yang habis terbakar. Asap hitam terlihat masih mengepul dari atas gedung. Petugas pemadam hanya berupaya menyiram air ke restoran yang berada di lantai dua agar tidak turut terbakar karena bara api yang berjatuhan dari lantai atas.

Gedung Sarinah bertingkat 14 untuk pertokoan dan perkantoran di Jalan Mh Thamrin, Jakarta Pusat, terbakar,  mulai 13 November 1984 malam. Tampak kobaran dan bara api yang mengamuk di tingkat atas gedung Sarinah, 14 November 1984 pagi berjatuhan dan membakar restoran di lantai dua.
Kebakaran melanda kompleks bangunan Toko Serba Ada Sarinah di Jakarta, 18 Juli 1980. Sebanyak 14 mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api tersebut. Belum diketahui penyebab kebakaran itu. Diduga kebakaran diakibatkan korsleting kabel listrik di dalam gedung tersebut.
Jembatan yang meghubungkan gedung Sarinah dan Djakarta Theater ambruk total, 28 Februari 1981. Jembatan itu sejak semula tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang sebenarnya sebagai tempat penyeberangan. Sudah sejak lama jembatan itu menjadi lokasi untuk sebuah restoran. Belum diperoleh keterangan penyebab runtuhnya jembatan tersebut.
Petugas pemadam kebakaran berjuang keras memadamkan api yang membakar gedung Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 13 November 1984.  Api mulai menyala sekitar pukul 19.00 WIB di lantai 6 gedung bertingkat 14 itu. Setidaknya sampai pukul 23.30 WIB api belum juga terkuasai.
Petugas pemadam kebakaran dengan bantuan Bronto Sky lift memadamkan kebakaran di lantai 14 gedung Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 15 Oktober 2015.

Terakhir, pada 15 Oktober 2015 kebakaran melanda lantai 14 gedung Sarinah. Kebakaran pada siang hari itu membuat karyawan yang  berkantor di gedung Sarinah berhamburan keluar gedung. Tampak petugas pemadam kebakaran dengan menggunakan alat pemadam di ketinggian berupaya menangani kebakaran.

Kebakaran yang terjadi menambah wajah murung Sarinah saat itu. Pada akhirnya tiba saatnya Sarinah direvitalisasi pada tahun 2020. Proses revitalisasi berlangsung selama 18 bulan.

Di awal renovasi ditemukan relief yang bercerita tentang keseharian rakyat Indonesia yang bersahaja. Di Sarinah terdapat relief patung petani, patung pedagang perempuan, pedagang laki-laki dengan pikulannya, serta patung kerbau. Bentangan relief sepanjang 11-12 meter dan setinggi 3 meter itu kini dipajang di lantai dasar gedung Sarinah yang dapat dinikmati masyarakat.

Wajah Baru Sarinah
Sarinah Beroperasi Kembali Akhir Maret 2022
Sarinah Beroperasi Kembali Akhir Maret 2022
Sarinah Beroperasi Kembali Akhir Maret 2022

Melalui renovasi, Sarinah beradaptasi terhadap perubahan zaman. Sarinah menyesuaikan diri dengan konsep pusat perbelanjaan zaman sekarang yang terbuka. Dengan wajah barunya, Sarinah tetap relevan sebagai rumah  bagi produk UMKM berkelas yang dapat dinikmati masyarakat luas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati