Saat pertama muncul di Indonesia, mobil Toyota Kijang identik dengan mobil rakyat. Kini, dengan banyak perubahan, mobil ini naik kelas.
21 Mei 2025 10:30 WIB · Foto
Lahir pada dasawarsa 1970-an, Toyota Kijang menjadi salah satu mobil yang fenomenal di Indonesia. Tidak hanya diterima masyarakat sejak awal kemunculan, tetapi tetap bertahan hingga puluhan tahun. Pada awal 1970-an, pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengeluarkan program Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS).
Program tersebut untuk menciptakan kendaraan niaga produksi dalam negeri yang sesuai dengan daya beli masyarakat untuk alat transportasi dan distribusi barang. Secara spesifik, kendaraan tersebut harus memenuhi persyaratan seperti ekonomis, tangguh, dan serbaguna.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh sejumlah merek mobil yang ada di Indonesia saat itu, termasuk Toyota. Namun, dari sejumlah merek mobil untuk KBNS yang muncul pada waktu itu, hanya Kijang yang diperkenalkan melalui PT Toyota Astra Motor (TAM) sebagai pemegang merek Toyota di Indonesia yang mampu bertahan dan berkembang.
Meski mesin, transmisi, dan sasis masih dipasok dari Jepang, Kijang yang dirakit di Indonesia ini menggunakan kabin, rangka, dek, dan suku cadang lain yang diproduksi di dalam negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/b5cf68f4-9ed4-477e-bd50-8e42394388d0_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/056a40be-8b28-4b5b-a85d-ab93d324840f_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/36b3532f-9283-490f-b686-6dbc42d69c37_jpg.jpg)
Pendiri Astra, William Soeryadjaya, dalam buku Memoar William Soerdjaya, ditulis oleh Ramadhan KH dan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia 2024, mengisahkan masa awal lahirnya Kijang.
Pada 9 Juni 1977 untuk pertama kalinya secara resmi Kijang diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Mesin 1.166 cc yang digunakan Kijang sama dengan mesin sedan Toyota Corolla. Saat pertama kali diluncurkan, Kijang tampil dalam bentuk yang sederhana dan hanya terdiri dari satu tipe, yaitu pick-up atau mobil bak terbuka.
Salah satu ciri khasnya adalah posisi mesin berada di depan. Dengan demikian, Kijang memiliki ”hidung” atau bonnet yang relatif lebih aman dibandingkan dengan model pick-up dengan mesin di bawah jok depan. Posisi hidung dengan tutup mesin yang dapat dibuka ke atas ini lantas memunculkan sebutan populer, yaitu Kijang ”Buaya”. Kijang generasi pertama ini dijual dengan harga Rp 1,3 juta saat itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/6fb4f8b4-fef9-4b86-aac9-2547f1e8c941_jpg.jpg)
Hingga akhir 1977 atau enam bulan sejak diperkenalkan, jumlah produksi Kijang telah mencapai lebih dari 1.000 unit. Jumlah itu meningkat menjadi 5.000 unit pada 1978 dan 10.000 unit pada pertengahan 1979. Pada 1978, jenis Kijang ditambah dengan tipe sisi tinggi beratap serta penambahan kabin dan sasis. Penambahan tipe ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan menggunakan dalam berbagai keperluan, seperti mobil barang, mobil tangki air, dan ambulans. Selain itu, juga ditambahkan tipe kabin berlantai yang akan memudahkan bila hendak diubah menjadi minibus.
Pada 1981 atau empat tahun kemudian, generasi kedua Kijang muncul dengan tampilan yang baru sama sekali. Perubahan yang dilakukan mencakup peningkatan aspek penampilan dan kenyamanan. Mesin yang digunakan juga diganti dari tipe 3K (1.200 cc) menjadi tipe 4K (1.300 cc). Generasi kedua ini kemudian mendapat julukan Kijang ”Doyok”. Julukan ini muncul karena mengingatkan pada tokoh kartun ”Doyok” di harian Pos Kota kala itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/235359b6-abb2-43a0-a84f-2b5fb0a561ea_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/c391811e-90ca-42bf-8fd1-f10630a50f61_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/6288b002-18ad-4869-91cd-7e7b0c20b257_jpg.jpg)
Kehadiran generasi kedua ini juga berimbas pada jumlah produksi yang melonjak. Hingga pertengahan 1983, jumlah produksi Kijang sudah mencapai 75.000 unit. Dengan berkembangnya Kijang, maka untuk menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan masyarakat, mulai 1983 Toyota Astra Motor bekerja sama dengan Toyota Motor Corporation Jepang mengadakan studi untuk penyempurnaan Kijang.
Studi ini juga diikuti dengan pembuatan purwarupa dan serangkaian uji coba di Jepang maupun Indonesia. Hasil studi ini kemudian menciptakan generasi ketiga Kijang yang diperkenalkan pada November 1986. Generasi ketiga ini dikenal sebagai Kijang Super.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/7a13d125-d3af-45cc-8974-dcfdac3166fe_jpg.jpg)
Pada awal 1987, Pemerintah Indonesia merencanakan untuk melakukan ekspor komponen kendaraan bermotor dalam jumlah besar.
”Dengan adanya devaluasi rupiah dan apresiasi nilai yen, maka rencana ekspor komponen secara besar-besaran akan menjadi kenyataan,” kata Menteri Perindustrian Hartarto. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Perindustrian menanggapi peresmian peluncuran perdana ekspor Toyota Kijang Super di Jakarta, Jumat, 6 Februari 1987.
Dalam seremoni tersebut, sebanyak 15 unit Kijang Super diekspor ke sejumlah negara Asia dan Pasifik, seperti Brunei Darussalam, Thailand, Papua Niugini, Fiji, dan Vanuatu. ”Walaupun yang kami dorong ekspor komponennya, tentu saja kesempatan ekspor kendaraan jenis niaga adalah lebih baik,” ujar Hartarto. Adapun komponen kendaraan yang telah dieskpor antara lain aki, filter, radiator, dan brake system.
Sebanyak 15 kendaraan yang diekspor tersebut baru dijadikan contoh oleh negara pengimpornya. Meski tidak bersedia menyebutkan harga ekspor tersebut, pemimpin Astra, William Soeryadjaya, mengatakan, harganya sekitar 10 persen di bawah harga jual di dalam negeri. Saat itu, harga jual Kijang Super di dalam negeri berkisar Rp 9 juta hingga Rp 13 juta.
Khusus untuk Brunei Darussalam, setelah melakukan penjajakan pasar yang cukup lama, PT Toyota Astra Motor akan mengekspor 25 unit Kijang Super untuk mengisi pasaran negara itu yang setiap tahunnya diperkirakan mampu menyerap 100 unit kendaraan. Mobil yang diekspor juga sudah dilengkapi radio tape dan AC (Kompas, 7 Februari 1987).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/cbeac9d1-837f-40f0-b1a2-d10b8f7c2d15_jpg.jpg)
Masuknya Kijang Super ke Brunei Darussalam mendapat sambutan positif dan langsung diminati oleh konsumen di negara itu. Sebab, selain sebagai kendaraan penumpang, Kijang Super juga bisa digunakan mengangkut keluarga sambil membawa barang dalam jumlah yang besar.
Tidak ada hal khusus pada Kijang Super yang diekspor ke Brunei, bentuk dan karoserinya sama persis dengan yang digunakan di Indonesia. Jika ada perbedaan, itu hanya pada safety belt. Namun, yang menjadikan Kijang Super sangat diminati adalah minimnya minibus dan kendaraan angkutan di Brunei. Dari 95.425 kendaraan yang tercatat di negara itu (data Mei 1989), sebanyak 79.428 adalah mobil pribadi dan mayoritas adalah sedan. Ekspor Kijang Super ke Brunei dilakukan melalui North Borneo Trading (NBT) selaku importir tunggal kendaraan merek Toyota.
Memasuki awal 1990-an, mobil serbaguna Toyota Kijang kian dipersiapkan untuk bisa menembus dan memperluas pasar ekspor. Selain itu, jumlah produksi harian Kijang juga turut ditingkatkan dari 160 unit per hari menjadi 200 unit per hari pada 1993.
Pada tahun 1992, TAM sudah memproduksi 48.498 unit mobil dari enam jenis mobil atau sama dengan 27,3 persen pangsa pasar mobil nasional. Sampai Agustus 1993, TAM sudah memasarkan 26.573 unit mobil atau sama dengan 25 persen pasaran mobil nasional. Sebagian besar jenis mobil yang diproduksi adalah Kijang.
Semua Kijang yang akan diekspor dirakit di pabrik TAM, bukan diserahkan kepada perusahaan authorized karoseri. Untuk Kijang pasar dalam negeri, semuanya dirakit di tiga perusahaan karoseri yang sudah disahkan oleh TAM, yakni Nusa Cendana Harum, Superior Coach, dan Nasmoko Autobody.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/55e3f49a-1d07-46bd-9e85-9102285cf070_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/9230ab9b-37fa-48c9-be8d-fef31c69aff8_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/675030df-71bc-4e75-a3d9-f30e64264f23_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/b05e6936-a0fa-4b28-99cb-17ad40b65fcb_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/73062362-338f-44a9-b2c3-6ad8023fe246_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/d26454cb-bce4-4afc-83a6-4a4a256bcc2f_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/39944cf8-bc27-4f04-a0ea-dea8eae37219_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/89ccabd5-1916-4840-a09f-76f2302074fd_jpg.jpg)
Setelah Brunei Darussalam dan Papua Niugini, ekspor Kijang diperluas dengan memasuki pasar Malaysia dan Filipina. Ekspor ke Malaysia dilakukan dalam bentuk CKD (completely knocked down) atau terurai. Hal ini berbeda dengan ekspor ke Brunei dan Papua Niugini yang dalam bentuk built up.
Produksi Kijang yang kini sudah 50 persen local content mempunyai efek ganda yang positif. Ada 77 industri yang ikut aktif dan hidup dari produksi Kijang ini. Komponen setempat yang digunakan akan lebih banyak, dengan akan masuknya perusahaan Jepang, Aisin Seiki, dalam industri ini.
Mereka akan bekerja sama dengan PT Dharma Sarana Perdana, patungan antara PT TAM dan Bimantara. Hingga tahun 1995, produksi Kijang sudah mencapai 500.000 unit sejak pertama kali diluncurkan pada 1977 (Kompas, 6 Mei 1995).
Dalam upaya mempertahankan pangsa pasar otomotif nasional pada jenis komersial yang semakin ketat, PT TAM meluncurkan Kijang generasi keempat menggunakan transmisi manual dan otomatis. Kendaraan serbaguna dengan kapasitas mesin 1.800 cc itu dijual dengan harga Rp 27,05 juta hingga Rp 43,4 juta off the road.
Menurut Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Rudiyanto, saat peluncuran di Jakarta, Senin (6/1/1997), pengembangan model baru ini memakan waktu sekitar tiga tahun dengan total dana riset pengembangan desain hingga berjalan mencapai 100 juta dollar AS (sekitar Rp 230 miliar kurs saat itu).
Hasilnya tidak saja TAM mampu membuat Kijang bertransmisi otomotis, tetapi juga diesel. Ini merupakan prestasi TAM yang pada Februari 1997 itu berusia ke-40. Mesin diesel Kijang baru ini adalah seri 2L berkapasitas 2,446 cc dengan empat silinder.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/9e11fdcf-9468-4bd0-aa25-da87bbc5d3d0_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/aecb328d-12a2-4ddb-9b20-16cd3d987b24_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/0e43035a-a781-4b03-974e-d3e0d861d4cd_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/d733783a-e6dc-4254-b63b-0f714ef49510_jpg.jpg)
Adapun mesin bensin yang digunakan untuk Kijang ini adalah mesin 7K (1.800 cc) yang disempurnakan dengan karakteristik tenaga besar tetapi hemat bahan bakar. Guna memberikan kenyamanan guncangan, suspensi depan menggunakan model double wishbone, sedangkan belakang menggunakan tipe pegas daun dengan posisi per di bawah as roda sehingga kestabilan bisa meningkat.
Generasi keempat ini juga mengalami ubahan pada bentuk bodi yang lebih membulat sehingga Kijang generasi ini dijuluki Kijang ”Kapsul”.
Berakhirnya era Kijang Kapsul yang diproduksi 1997-2004 mengawali transformasi Kijang dalam pasar otomotif Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/300ac993-4b48-4a7c-92bf-97f1c0b79a57_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/b07f5707-1cae-4e92-9446-8a14a1035e29_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/d3e74d4a-c039-4488-9b2c-f2d1de03c637_jpg.jpg)
Pada 1 September 2004, PT TAM meluncurkan Toyota Kijang Innova di pabrik Toyota Karawang. Dengan diluncurkannya Toyota Kijang Innova itu, berakhir pulalah mitos Toyota Kijang sebagai mobil rakyat. Sejarah panjang Toyota Kijang sebagai mobil rakyat yang diawali pada tahun 1977 dapat dikatakan berakhir dengan kelahiran Toyota Kijang Innova. Sebab, dengan diluncurkannya Toyota Kijang Innova, produksi Toyota Kijang lama dihentikan.
Kijang Innova memiliki bodi lebih besar daripada pendahulunya, panjang 4,555 meter (3,5 sentimeter lebih panjang), lebar 1,770 meter (10 sentimeter lebih lebar), dan tinggi 1,755 meter (3 sentimeter lebih rendah). Tidak berlebihan bila dikatakan, dengan keluarnya Kijang Innova, Kijang naik kelas. Kijang Innova menyandang mesin berkapasitas 2.0 Liter yang dilengkapi dengan variable valve timing intelligent (VVTI), yang menjadikan mesin tersebut lebih bertenaga, lebih bersih (ramah lingkungan), dan lebih hemat bahan bakar.
Kijang Innova sebagai generasi kelima Kijang ini bertahan hingga lebih dari 10 tahun sebelum dilanjutkan dengan generasi keenam All New Kijang Innova pada 2015.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/f824917d-8f5d-490a-b03d-f4426b593ca9_jpg.jpg)
Transformasi dan revolusi Kijang pun terus berlanjut dengan lahirnya generasi terbaru Innova. Pada Senin (21/11/2022), generasi ketujuh Kijang diluncurkan. Namanya kini menjadi lebih panjang: Toyota Kijang Innova Zenix. Hadir di tengah elektrifikasi mobil sedang bergelora, Zenix tak mau ketinggalan. Ia muncul dengan dua dapur pacu: bermesin pembakaran internal saja, serta paduan antara mesin dan motor listrik yang digerakkan baterai (hibrida).
Harga jualnya pun turut melonjak tajam. Toyota Innova Zenix bermesin bensin tipe G dibanderol dengan harga Rp 419 juta dan Rp 467 juta untuk tipe V. Sementara untuk golongan hibrida, tipe G berharga Rp 458 juta, tipe V seharga Rp 532 juta, dan tipe Q yang sudah dilengkapi Toyota Safety Sense (TSS) harganya Rp 611 juta. Harga tersebut berlaku on the road DKI Jakarta. Untuk semua varian transmisi otomatis kini bertransmisi CVT sekuensial 10 percepatan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/056a40be-8b28-4b5b-a85d-ab93d324840f_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/a8270858-718c-4814-8afb-4aab2b309533_jpg.jpg)
Menilik sejarah panjang dan kuatnya citra merek Toyota Kijang tampaknya membuat PT TAM yakin Zenix dapat diterima pasar meski saat ini tidak lagi menyandang sebagai mobil rakyat seperti saat pertama kali diluncurkan 48 tahun lalu. Tak ayal jika slogan ”Memang Tiada Duanya” melekat pada Kijang.
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Maria Susy BerindraFoto:
AP Susetyo WijatmokoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan