Inilah kisah Pulau Galang saat digunakan untuk penampungan pengungsi Vietnam pada 1979-1996.
13 Agt 2025 10:00 WIB · Politik & Hukum
Nama Pulau Galang kembali ramai diperbincangkan setelah rencana Pemerintah Indonesia untuk membawa korban perang di Gaza untuk dirawat di Pulau Galang, Kepulauan Riau.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajarannya untuk memberikan bantuan pengobatan kepada warga korban perang Gaza. Pusat bantuan kesehatan akan didirikan di Pulau Galang dan ditargetkan dapat membantu 2.000 korban perang Gaza (Kompas.id, 7/8/2025).
Meski dilandasi misi kemanusiaan, rencana itu menuai beragam pendapat kritis di masyarakat, termasuk kekhawatiran adanya rencana membawa korban perang itu adalah untuk pemindahan warga.
Pulau Galang sebenarnya menyimpan banyak cerita berkaitan dengan pengungsi dan misi kemanusiaan. Pada dekade 1979-1996, Pulau Galang pernah digunakan sebagai kamp penampungan pengungsi dari Vietnam dan Kamboja yang meninggalkan negaranya akibat perang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/5a88b023-0a58-4e8e-97b0-d7bf568541cc_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/7258c45a-38b4-42e6-a3f0-2c245cb5ee1b_jpg.jpg)
Perang Vietnam, perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, yang berakhir dengaan jatuhnya ibu kota Vietnam Selatan, Saigon, pada 30 Juli 1975 mengakibatkan ribuan warga Vietnam Selatan meninggalkan Vietnam.
Sebagian besar dari mereka meninggalkan Vietnam dengan menumpang perahu (sehingga kemudian disebut ”manusia perahu”), mengarungi lautan pergi ke negara-negara tetangga untuk mencari hidup. Mereka mengungsi ke sejumlah negara, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Hong Kong, dan Indonesia.
Pengungsi Vietnam pertama tercatat masuk ke Indonesia di Kepulauan Natuna. Kehadiran pengungsi itu lantas diikuti gelombang pengungsi secara besar-besaran.
Saat itu jumlah pengungsi Vietnam mencapai lebih dari 200.000 orang yang tersebar di sejumlah negara anggota ASEAN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/5a0167bd-5acc-4b86-98f2-5021799a10bf_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/258c8e76-d25c-45de-b0f8-48d5b9f1eee4_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/dfb843df-c1ee-4a82-a608-41f16bea6f2b_jpg.jpg)
Pemerintah Indonesia yang didukung Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) kemudian menyediakan Pulau Galang sebagai penampungan sementara dan pusat pemrosesan para pengungsi sebelum UNHCR menyalurkan mereka ke negara ketiga.
Setelah fasilitas penampungan disiapkan di Pulau Galang, para pengungsi yang sebelumnya terpencar di beberapa pulau lantas mulai dipindahkan.
Pada awal September 1979, kapal TNI AL yang membawa 2.082 pengungsi Vietnam yang sebelumnya ditempatkan di Pulau Laut dan Pasir Merah tiba di Pulau Galang.
Mereka ditampung di barak-barak berdinding papan dan beratapkan seng. Setiap barak mampu menampung sekitar 1.000 orang. Barak-barak itu juga dilengkapi dengan kamar mandi dan dapur.
Selama dalam penampungan para pengungsi mendapat bantuan dari UNHCR berupa 4 kilogram beras, gula, minyak goreng, garam, ikan segar masing-masing setengah kilogram, dan kecap. Bantuan itu diberikan setiap sepuluh hari sekali.
Dari waktu ke waktu frekuensi pengungsi Vietnam yang tiba di Kepulauan Riau semakin meningkat. Jumlah mereka yang datang bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan yang diberangkatkan menuju negara ketiga yang bersedia menampung.
Hingga Desember 1981, jumlah pengungsi Vietnam yang berada di Pulau Galang sebanyak 15.000 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persennya adalah anak-anak muda dan pelajar (Kompas, 29/12/1981).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/ee1f78d9-0f1e-4570-b597-f8fff608afe2_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/15036e35-4ab5-4d88-a184-ac9463fbf686_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/d2c83bb0-8d66-4aee-8f36-015d61738181_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/430f17f9-e668-486d-9b78-1e2235bbdd87_jpg.jpg)
Membanjirnya arus manusia perahu dari Vietnam dan Kamboja membuat Pulau Galang sebagai tempat penampungan sementara bagi pengungsi Vietnam dalam keadaan kritis. Semua fasilitas yang tersedia di pulau seluas 164 kilometer persegi itu tidak lagi memadai dan mampu menampung para pengungsi.
Pulau Galang sebenarnya hanya dirancang untuk menampung 5.000-6.000 orang, tetapi hingga Juni 1990 telah dipenuhi oleh lebih dari 16.500 orang.
Selain pengungsi baru yang berdatangan, juga lahirnya bayi-bayi para pengungsi di tempat penampungan. Setiap bulan setidaknya 4-5 bayi dilahirkan di sana.
Sejak 1979-1990 tercatat 140.738 pengungsi Vietnam telah diproses di Pulau Galang. Dari jumlah itu, sebanyak 124.049 orang telah dimukimkan di negara-negara ketiga, 8 orang direpatriasi, dan 122 orang meninggal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/ed9b9618-6c08-4026-aa3a-8b6685fef7fe_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/1bb686e5-4153-490d-b7ee-11ccf47abeac_jpg.jpg)
Berdasarkan hasil pertemuan Geneva, Swiss, tahun 1989 disepakati bahwa pengungsi Vietnam yang terus mengalir ke sejumlah negara harus dilakukan skrining. Khusus pengungsi yang berada di Indonesia, ditetapkan mereka yang datang setelah 17 Maret 1989 harus menjalani skrining yang dilakukan oleh UNHCR.
Sejak itu, Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa ”manusia perahu” asal Vietnam bukan lagi pengungsi, melainkan pencari suaka. Skrining dilakukan untuk membedakan antara pengungsi dan bukan pengungsi. Jika bukan pengungsi, mereka akan direpatriasi atau dipulangkan kembali ke negaranya.
Indonesia memberi batas waktu pengosongan Pulau Galang hingga Agustus 1995 dan telah memasukkan Pulau Galang dalam proyek pengembangan Barelang, yaitu Batam, Rempang, Galang.
Pada 1996, seiring dengan rampungnya repatriasi ”manusia perahu” asal Vietnam dan Kamboja dari Pulau Galang, kamp pengungsi di pulau itu resmi dinyatakan ditutup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/18887fa8-ff2f-43cb-a5f2-3a5e06b291fc_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/4bb65a4a-d441-42d1-89b2-5b53a3faa4f3_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/86b4d4e4-2b45-4f8f-b4e7-fd7076c421a4_jpg.jpg)
Upacara penutupan kamp pengungsi tersebut dilakukan di Pulau Galang, 8 September 1996, dengan Inspektur Upacara Komandan Kogas Kemanusiaan Galang 1996 Mayjen Arie J Kumaat.
Hadir dalam upacara penutupan tersebut, Direktur Asia Oseania UNHCR Geneva Francois Fouinat yang kemudian menyerahkan infrastruktur dan fasilitas milik UNHCR yang digunakan untuk pengungsi di Pulau Galang kepada Pemerintah Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/5959383e-45ad-47d9-b5e5-67e589da2cbb_jpg.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Maria Susy BerindraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan