PELAYARAN

Arsip Foto ”Kompas”: Tampomas II dan Kisah Evakuasi Para Penumpang

KM Tampomas II yang berlayar dari Jakarta menuju Ujung Pandang, terbakar dan tenggelam di perairan Masalembu, Sumenep, Januari 1981.

12 Agt 2026 08:06 WIB · Ekonomi & Bisnis

ARSIP KOMPAS

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

KMP Mutiara Sentosa II saat terbakar di perairan utara Sumenep, Jatim, Minggu (2/8/2026).

Pada Minggu (9/8/2026) atau delapan hari sejak insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya mengakhiri monitoring aktif terhadap KMP Mutiara Sentosa II di Laut Jawa, sekitar 45 kilometer di utara Pantai Batu Putih, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.

Tim SAR tidak menemukan indikasi keberadaan kapal yang terbakar pada 2 Agustus lalu dan sejumlah korban lain yang tidak tercatat dalam manifes.

Dari operasi SAR telah dievakuasi 238 korban, sebanyak 5 jiwa di antaranya meninggal.

Perubahan status operasi SAR menjadi monitoring aktif dilaksanakan setelah Tim SAR tidak lagi melihat bahtera milik PT Atosim Lampung Pelayaran itu di permukaan. Selain itu, berdasarkan hasil verifikasi bersama antara operator, nakhoda, otoritas (Kementerian Perhubungan), dan pencocokan data lapangan operasi SAR, diyakini bahwa semua korban telah dievakuasi (Kompas.id, 10 Agustus 2026).

Tim SAR gabungan melakukan pencarian dan penyelamatan di sekitar lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (19/6/2018). Laporan korban hilang dari keluarga terus bertambah hingga lebih dari 200 orang. Hingga Selasa, sebanyak 18 penumpang telah ditemukan selamat dan satu orang tewas.KOMPAS/NIKSON SINAGA (NSA)19-06-2018

Peristiwa terbakar dan tenggelamnya KMP Mutiara Sentosa itu menambah panjang daftar kecelakaan transportasi laut di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Pada Juli 2025 KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali, kemudian Juni 2018 KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, yang menyebabkan lebih dari 150 orang tewas, serta KM Zahro Express yang terbakar di Teluk Jakarta pada Januari 2017. Kebakaran itu menyebabkan 24 orang tewas dari 238 jumlah penumpang.

Berita Utama Kompas tentang Kapal Tampomas II yang terbakar
Kapal Tampomas II yang berlayar dari Jakarta menuju Makassar, terbakar saat berada di perairan Maselembu, Madura, Jawa Timur, 25 Januari 1981

Salah satu tragedi transportasi laut yang masih membekas hingga saat ini tentu peristiwa terbakar dan tenggelamnya KM Tampomas II di perairan Masalembu, Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, pada Januari 1981. KM Tampomas II berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 24 Januari 1981. Kapal membawa muatan 1.054 penumpang, 82 awak kapal, dan ratusan kendaraan bermotor roda dua dan empat.

Namun, saat berada di perairan Masalembu pada Minggu (25/1/1981) malam muncul kobaran api dari dek tempat penyimpanan kendaraan. Awak kapal berusaha keras memadamkan api, tetapi tidak berhasil. Setelah terombang-ambing di lautan dan berbagai usaha penyelamatan yang dilakukan, kapal akhirnya tenggelam pada Selasa 27 Januari 1981 sekitar pukul 12.40 WIB.

Kisah evakuasi dan pertolongan kepada para penumpang KM Tampomas II menjadi salah satu laporan utama Kompas pada 30 Januari 1981. KM Sangihe merupakan salah satu kapal penolong pertama yang memberikan bantuan kepada penumpang KM Tampomas. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Pare-pare, Sulawesi Selatan pada Minggu (25/1/1981) dengan tujuan Surabaya.

<p>Kapal Tampomas II saat berlabuh pertama kali di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Juni 1980. (KOMPAS/MARKUS DUAN ALLO)</p><p>Kapal Tampomas II di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (KOMPAS/DUDI SUDIBYO)</p><p>Suasana penumpang yang berada di area palka kapal Tampomas. (KOMPAS/MAMAK SUTAMAT)</p>

Kapal Tampomas II saat berlabuh pertama kali di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, Juni 1980. (KOMPAS/MARKUS DUAN ALLO)

Kapal Tampomas II di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (KOMPAS/DUDI SUDIBYO)

Suasana penumpang yang berada di area palka kapal Tampomas. (KOMPAS/MAMAK SUTAMAT)

Saat mendekati perairan Masalembu sekitar pukul 06.00, awak kapal melihat asap mengepul di laut. Nakhoda kapal bernama Agus KS lalu memerintahkan kapal mendekat ke arah asap. Melalui teropong terbaca nama pada lambung kapal: Tampomas II.

Segera semua ABK (anak buah kapal) Sangihe diperintahkan memberikan pertolongan seperti menyediakan pelampung, alat pemadam api, tali-temali dan sebagainya. Awak kapal Sangihe juga berusaha menghubungi Tampomas II tapi tidak ada respons. Sangihe lalu berusaha menghungi kapal-kapal lain yang berada di perairan itu. Peringatan SOS dari KM Sangihe-lah yang pertama kali memberitahukan ihwal kecelakaan tersebut.

Sekitar pukul 08.00 WIB sudah dua kali KM Sangihe mengitari Tampomas II. Setelah membuang jangkar awak Sangihe berusaha menghubungkan kedua kapal menggunakan tali pada jarak sekitar 100 meter. Ada dua tali yang berhasil direntangkan.

Saat itu, menurut awak Sangihe, sudah banyak penumpang yang terjun ke laut menggunakan pelampung. Mereka berusaha mendekat ke Sangihe di tengah ombak dan angin kencang. Sejumlah penumpang tidak berhasil mendekat ke arah kapal.

Penumpang yang menjadi korban terbakarnya KM Tampomas II berada di salah satu kapal penyelamat saat dibawa menuju Makassar, Sulawesi Selatan
Rangkaian foto dramatis ini diambil dari atas kapal Tampomas II oleh seorang penumpang. ????????????, menunjukkan betapa panik suasana waktu itu. Foto kiri atas memperlihatkan upaya yang dilakukan kapal Sangihe (latar belakang). Kapal ini berusaha merentangkan tambang untuk menghubungkan diri dengan Tampomas II yang tengah terbakar. Dua tambang yang diantarkan sekoci dari Sangihe, berhasil direntang. Namun satu tambang putus akibat panas dan terbakar, sedang tambang satunya lagi diputuskan sendiri oleh Sangihe karena membahayakan kapal itu sendiri. Menurut awaknya, Sangihe waktu itu serasa sudah mau ikut miring. Beberapa perahu karet kecil berisi penumpang Tampomas berada di sekitar Sangihe. Ketiga foto lainnya menunjukkan ekspresi para penumpang Tampomas II di atas kapal yang tengah terbakar tersebut. menurut keterangan, pengambil foto ini pun setelah habis filmnya, kemudian membungkus negatifnya dengan plastik, dikantunginya, dan dia mencebur ke laut, sementara kameranya dia buang.
Rangkaian foto dramatis ini diambil dari atas kapal Tampomas II oleh seorang penumpang. ????????????, menunjukkan betapa panik suasana waktu itu. Foto kiri atas memperlihatkan upaya yang dilakukan kapal Sangihe (latar belakang). Kapal ini berusaha merentangkan tambang untuk menghubungkan diri dengan Tampomas II yang tengah terbakar. Dua tambang yang diantarkan sekoci dari Sangihe, berhasil direntang. Namun satu tambang putus akibat panas dan terbakar, sedang tambang satunya lagi diputuskan sendiri oleh Sangihe karena membahayakan kapal itu sendiri. Menurut awaknya, Sangihe waktu itu serasa sudah mau ikut miring. Beberapa perahu karet kecil berisi penumpang Tampomas berada di sekitar Sangihe. Ketiga foto lainnya menunjukkan ekspresi para penumpang Tampomas II di atas kapal yang tengah terbakar tersebut. menurut keterangan, pengambil foto ini pun setelah habis filmnya, kemudian membungkus negatifnya dengan plastik, dikantunginya, dan dia mencebur ke laut, sementara kameranya dia buang.
Rangkaian foto dramatis ini diambil dari atas kapal Tampomas II oleh seorang penumpang. ????????????, menunjukkan betapa panik suasana waktu itu. Foto kiri atas memperlihatkan upaya yang dilakukan kapal Sangihe (latar belakang). Kapal ini berusaha merentangkan tambang untuk menghubungkan diri dengan Tampomas II yang tengah terbakar. Dua tambang yang diantarkan sekoci dari Sangihe, berhasil direntang. Namun satu tambang putus akibat panas dan terbakar, sedang tambang satunya lagi diputuskan sendiri oleh Sangihe karena membahayakan kapal itu sendiri. Menurut awaknya, Sangihe waktu itu serasa sudah mau ikut miring. Beberapa perahu karet kecil berisi penumpang Tampomas berada di sekitar Sangihe. Ketiga foto lainnya menunjukkan ekspresi para penumpang Tampomas II di atas kapal yang tengah terbakar tersebut. menurut keterangan, pengambil foto ini pun setelah habis filmnya, kemudian membungkus negatifnya dengan plastik, dikantunginya, dan dia mencebur ke laut, sementara kameranya dia buang.

Embusan angin kencang itu membuat posisi Sangihe terhadap Tampomas II semakin buruk. Satu tali yang menghubungkan kedua kapal terbakar karena panas dan putus. Tinggal menyisakan satu tali yang kondisinya juga hampir putus. Tali tersebut akhirnya diputuskan karena bisa membahayakan Sangihe yang posisinya agak miring.

Setelah KM Sangihe, pada sore hari beberapa kapal lain mulai berdatangan. Ada kapal Pelni Ilmamui, kemudian kapal Istana VI, dan disusul kapal Adhiguna Kurnia. Kapal terakhir yang merapat adalah Sengata yang tiba di sekitar lokasi pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Kelima kapal itu memutuskan untuk mulai melakukan operasi penyelamatan menjelang fajar. Saat mencoba mendekat ke Tampomas II, kapal Adhiguna Kurnia sempat bersenggolan dengan Tampomas II. Saat terjadi senggolan pada bagian lambung itu, sejumlah penumpang di Tampomas II sempat meloncat ke arah kapal Adhiguna Kurnia. Karena posisi Tampomas II yang lebih tinggi, sejumlah penumpang cedera.

Memasang jala

KM Sengata memasang jala-jala di sekeliling kapal untuk memudahkan penumpang yang berada di laut untuk naik ke kapal. Sengata cukup berani mendekat ke posisi Tampomas II, akibatnya lambung Sengata menjadi hangus.

Sengata berhasil membawa sekitar 150 orang penumpang serta 19 ABK dan dua korban meninggal. Tetapi posisi berdekatan kedua kapal itu tidak bisa dipertahankan dalam waktu lama. Ombak besar disertai angin kencang membuat Sengata menjauhkan diri dari Tampomas II.

Foto-sikuen ini menunjukkan terturut saat-saat paling akhir kehidupan KM Tampomas II yang terbakar dan tenggelam di Laut Jawa tanggal 27 Januari lalu jam 12.42 WIB. Foto atas adalah saat-saat kapal yang malang itu telah terseok miring, kemudian bawah tatkala makin miring lagi, miring lagi, dan untuk selanjutnya tenggelam yang ditandai dengan kepulan asap akibat api dan bara yang ditelan air. Foto-foto ini diambil Capt. RWB Mathindas, Nakhoda KM Sengata dari Paradise Lines, sebuah kapal kayu dari kalimantan Timur. Kapal Sengata adalah kapal terdekat dengan Tampomas II pada saat-saat terakhirnya itu. Selain Sengata, saksi mata lainnya adalah KM Sangihem KM Limamus, KM Istana VI dan KM Adiguna Kurnia. Sejumlah kapal lain yang datang setelah Tampomas tenggelam, masih sempat memungut para penumpang yang terapung-apung di laut.

Sekitar pukul 12.30 WIB saat ombak dan angin kencang, posisi Tampomas II semakin kritis. Kapal itu mula-mula terlihat miring ke kiri, lalu buritannya mulai tenggelam masuk ke laut. Itu semua berlangsung hanya sekitar 11 menit. Sisa-sisa penumpang yang sampai saat terakhir masih berada di Tampomas II tampak terapung-apung di laut.

Ketika cuaca mulai membaik, tiba sejumlah kapal lain seperti kapal Thamrin, Niaga XXIX, Wayabula dan KM Jeruk. Kapal-kapal tersebut lalu menolong para penumpang yang berada di laut. Kapal Sangihe yang sudah kritis persediaan makanan dan minuman kemudian berlayar menuju Pelabuhan Ujung Pandang dengan membawa 145 orang.

Dalam proses evakuasi penumpang itu para awak kapal Sangihe mengatakan, siapa pun yang terlibat dalam penyelamatan penumpang Tampomas II, mereka pasti akan angkat topi dan memberikan hormat kepada Abdul Rivai, nakhoda Tampomas II. Ia bolak-balik menyelamatkan penumpang, termasuk membawa penumpang mencapai jala-jala kapal Sengata.

Kepada semua nahkoda kapal yang memberikan pertolongan Rivai mengatakan, ”Apa pun yang terjadi, saya akan menjadi penumpang terakhir yang meninggalkan kapal.” Abdul Rivai turut menjadi salah satu korban meninggal tenggelamnya Tampomas II.

Foto nahkoda Kapal Tampomas II Abdul RivaI yang turut menjadi korban dalam tragedi KM Tampomas II

Dalam peristiwa ini, pemerintah memberi penghargaan kepada nakhoda KM Tampomas II Kapten Abdul Rivai (44) atas jasa-jasanya. Pemerintah memutuskan untuk menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta pada Februari 1981.

Sejak dilaporkan mengalami kebakaran hingga kemudian tenggelam, sekitar 30 kapal telah membantu tugas SAR. Termasuk kapal dari unsur Armada RI dan kapal-kapal TNI AL seperti KRI Rencong, KRI Pulau Rani, termasuk satuan udara Armada berupa pesawat Nomad, Fokker 27, Albatros, Helikopter Puma TNI-AU dan pesawat Hercules.

Prajurit SAR TNI-AU berada di pesawat amphibi Albatros yang terbang pada ketinggian sekitar 350 kaki untuk memantau kondisi KM Tampomas II yang terbakar
Menjelang Tenggelam Foto KM Tampomas II ini diambil Selasa 27 Januari 1981 sekitar pukul 09.00 wib, beberapa jam sebelum tenggelam. Foto diambil dari pesawat SAR TNI-AU jenis amphibi Albatros
Kapal penumpang Tampomas II dan beberapa kapal penolong lain yang berada di sekelilingnya. KM Tampomas II yang terbakar akhirnya tenggelam di Perairan Maselembu, Sumenep, 27 Januari 1981
Kapal penumpang Pelni &quot;Tampomas II&quot; ini diambil gambarnya Selasa kemarin jam 09.00 pagi, beberapa jam sebelum tenggelam. Foro diambil dari pesawat SAR TNI-AU jenis amphibi Albatros yang terbang berkeliling pada ketinggian sekitar 350 kaki. Ombak di laut besar, antara 7-10 meter, sehingga tidak memungkinkan pesawat mengair. Cuaca waktu foto ini diambil berkabut, sinar matahari tidak tampak. Para penumpang yang masih di kapal banyak berkumpul di dek bawah dan atas di bagian haluan. Asap tipis masih mengepul di bagian belakang, namun pada siangnya nyala api dilaporkan membesar kembali dan kapal miring serta kemasukan air dan tenggelam cepat.

Tragedi Tampomas II yang terjadi 45 tahun lalu itu menyebabkan 90 orang ditemukan tewas dan lebih dari 300 lainnya hilang. Peristiwa tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga dalam dunia pelayaran. Meskipun regulasi dan standar keselamatan terus ditingkatkan, kecelakaan kapal masih kerap terjadi.

Salah satu penyebab utamanya adalah faktor manusia. Insiden KMP Mutiara Sentosa II pada awal bulan ini seharusnya dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh sistem keselamatan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase