Arsip Foto ”Kompas”: Tsunami Aceh, Tragedi Terbesar Abad Ini

Berada di sekolah untuk kegiatan olahraga Minggu pagi itu ternyata menyelamatkan nyawanya. ”Bapak, mamak, kakak, semua meninggal,” katanya lirih.

22 Des 2024 10:10 WIB · Foto

Oleh hendra agus setyawan

Tsunami yang terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, akan terus dikenang sebagai bencana alam paling dahsyat setelah letusan Gunung Krakatau di abad ke-19. Dalam waktu sekejap, sekitar 126.741 warga Aceh tewas dan 93.285 orang dinyatakan hilang tersapu ombak mahadahsyat. Bencana itu tidak hanya menimpa satu negara, tetapi seluruh negara di Teluk Bengali. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter disusul tsunami meluluhlantakkan 800 kilometer garis pantai Aceh, setara dengan garis pantai yang membentang San Francisco-San Diego.

Dua warga berusaha menyelamatkan seorang pria dari gelombang tsunami di Simpang Lima, Banda Aceh, Minggu (26/12/2004). Foto ini baru diperoleh hari Kamis (13/1/2005) setelah seseorang mengantar kembali kamera milik wartawan Serambi Indonesia, Bedu Saini, yang sempat hilang ketika bencana itu terjadi. Bedu Saini selamat, tetapi ia kehilangan dua anaknya.
Jalan Teuku Panglima Polem, Banda Aceh
Jalan Teuku Panglima Polem, Banda Aceh
Suasana Pasar Atjeh yang porak poranda diempas sapuan gempa dan gelombang tsunami di Banda Aceh,  Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa (28/12/2004).

Seperti diberitakan Kompas, Senin, 27 Desember 2004, menurut Hendra Suwarta, Kepala Kelompok Operasional Pengolahan dan Analisa Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Wilayah I Medan, gempa di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terjadi dua kali dalam rentang waktu sekitar satu jam. Gempa pertama terjadi pukul 07.58 berkekuatan 6,8 pada skala Richter. Sedangkan menurut BBC, kekuatan gempa 8,5 pada skala Richter. Pusat gempa berada di 2,9 derajat Lintang Utara (LU), 95,6 derajat Bujur Timur (BT) atau 149 kilometer selatan kota Meulaboh, dengan kedalaman 20 kilometer di Samudra Hindia. Gempa itu dirasakan masyarakat sekitar Meulaboh V-VI Modified Mercalli Intensity (MMI) selama 3-5 menit.

Seorang warga dengan tongkat berjalan menyisiri pinggir kolam di depan Masjid Baiturrahman yang penuh dengan puing akibat sapuan gempa dan gelombang tsunami di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa (28/12/2004). Masjid Baiturrahman tak mengalami kerusakan berarti dan tetap tegar berdiri mesti tempat di sekitarnya, yaitu Pasar Aceh, porak-poranda.
Pemandangan kota Meulaboh, Aceh Barat, dari udara, Selasa (28/12/2004) siang, setelah dihantam gelombang tsunami. Sebagian besar wilayah kota ini mengalami kerusakan dan para korban membutuhkan bantuan makanan, sandang, ataupun bantuan kesehatan serta tempat penampungan sementara.
Daerah yang tadinya padat dengan bangunan perumahan, rata dengan tanah akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda kawasan Banda Aceh, 26 Desember 2004. Perlu waktu panjang untuk memulihkan kondisi ini.
Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.

Gempa kedua terjadi pada pukul 08.48 dengan kekuatan 5,9 skala Richter. Pusat gempa berada di 5,4 LU, 94,4 BT atau sebelah barat Pulau We dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa kedua inilah yang menyebabkan gelombang tsunami di Pantai Timur Aceh meliputi Sigli, Lhok Seumawe, Sabang, bahkan sampai ke Sumatera Utara. Gempa tersebut menyebabkan dasar laut naik secara tiba-tiba setinggi 40 meter sehingga memicu tsunami raksasa yang diam-diam menjalar ke berbagai penjuru. Saat gempa mulai mereda, orang-orang di pesisir Banda Aceh melihat laut yang surut, tanpa menyadari bahwa tsunami tengah menjalar menuju pantai. Sekitar 20 menit setelah gempa itu, gelombang pertama tsunami menghantam garis pantai Banda Aceh, diikuti serangkaian gelombang panjang yang susul-menyusul. Elevasi maksimum dan landaan tsunami mencapai 34 meter, terekam di pantai barat Banda Aceh (Gegar Prasetya, dkk, 2011).

Meski akses beberapa ruas jalan protokol sudah dapat dipergunkan, sisa sampah akibat gelombang tsunami beberapa pekan lalu di Banda Aceh, Kamis (13/1/2005), masih terlihat menumpuk di reruntuhan gedung dan rumah penduduk.
Bawah Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, 2004.
Sejumlah warga pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam yang selamat dari hantaman tsunami tengah melintas di antara dua kapal yang terdampar di tengah jalan di kawasan Lhok Nga, Aceh Besar, Senin (10/1/2005). Mereka melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki selama 14 hari dari Meulaboh menuju Banda Aceh.
Dahsyatnya gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh Barat dapat dilihat dari sebuah tanker yang terbalik di salah satu pelabuhan di sepanjang wilayah pantai barat, 1 Januari 2005.

Begitu mencapai daratan, tsunami bisa merobohkan berbagai penghalang yang dilaluinya, bahkan beton ataupun pepohonan. Tidak seperti gelombang yang digerakkan oleh angin yang hanya menciptakan gejolak lapisan paling atas lautan, tsunami menggerakkan seluruh kolom air, dari dasar samudra hingga ke permukaan samudra.

Sejumlah warga mencari apa saja yang bisa dimakan, termasuk buah jeruk, di halaman di depan Masjid Baiturrahman yang penuh dengan puing akibat sapuan gempa dan tsunami di Banda Aceh. Aceh, Selasa, 28 Desember 2004.
Dua helikopter Amerika Serikat turun di Calang, Aceh, untuk mengangkut bantuan pada 5 Januari 2005 seusai bencana tsunami yang melanda Aceh.
Warga melintas di permukiman yang hancur tersapu gempa dan gelombang tsunami di Lampare Kota, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa (28/12).
Membangun suatu kota tidak mudah. Di Banda Aceh, misalnya, seperti yang ditunjukkan dalam foto, tampak kompleks Masjid Raya Banda Aceh sebelum (Mei 2004) dan sesudah bencana (29 Desember 2004). Saat rekonstruksi, tempat-tempat bersejarah semacam ini harus dipulihkan.

Kepiluan dampak tsunami Aceh terekam jelas dalam artikel yang terbit di Kompas, Sabtu, 1 Januari 2005. Ketika gelombang tsunami mengempaskan wilayah itu, Minggu (26/12/2004) pagi, Fuadi (28) masih sempat menyelamatkan diri. Ia mendaki puncak bukit di pulau kecil yang ada di sekitar itu bersama istri, saudara, bibi, dan anaknya yang masih bayi, baru berumur 13 hari.

Setelah badai reda, ia turun dari bukit dan mendapati perkampungan di pulau tersebut sudah rata tanah. Tidak ada bekal buat hari-hari mendatang yang masih bisa diselamatkan, cukuplah nyawa masih di badan. Hingga empat hari setelah bencana, keluarganya bertahan hidup hanya dengan melahap ubi dan kelapa. Mereka menunggu giliran melabuhkan kapal ke Banda Aceh, sekitar tiga jam pelayaran dari ”Kampung Pulo”, begitu mereka menyebut kampung halaman yang remuk itu. Akhirnya, dengan menanggung derita, tibalah mereka di Banda Aceh, Kamis siang.

Ribuan pengungsi di Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, berebut bantuan pakaian yang dibagikan anggota TNI AL, Rabu (5/1/2005). Pasukan TNI AL berupaya menembus daerah yang terisolasi di sepanjang pantai barat Meulaboh dengan mengerahkan armada kapal perang.
Seorang anak perempuan menahan sakit akibat jahitan di kakinya di RS Kesdam Iskandar Muda, Banda Aceh, Kamis (30/12/2004). Ratusan pasien yang menjadi korban gempa dan gelombang tsunami tak dapat ditampung seluruhnya di dalam rumah sakit sehingga puluhan pasien harus rela berada di luar.
Seorang pria warga Meulaboh, Aceh Barat, Selasa (4/1/2005), termangu di depan rumahnya yang hancur ketika dilanda gempa dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004. Ia mencoretkan kesedihannya di dinding berupa keterangan bencana dan tanggalnya.
Kapal motor terdampar di pusat pertokoan Simpang Pelor, Meulaboh. Hingga Jumat (31/12/2004), kawasan itu masih porak poranda dan bau anyir tercium di mana-mana meski tak ada mayat atau bangkai hewan yang terlihat.
Sebuah album dari kehidupan yang manis dulu terserak di antara puing di kawasan Punge, Banda Aceh (kanan). Kini keadaan memang seperti ”kiamat”. Sejumlah warga melintas di jalanan Lampulo, Banda Aceh (kiri), pada 29 Desember 2004.

Gambaran lain dampak tsunami juga terekam saat seorang anak perempuan duduk agak tersisih dari kerumunan dengan wajah mendung. Mawardani (8), begitu namanya, masih mengenakan pakaian seragam olahraga. Berada di sekolah untuk kegiatan olahraga Minggu pagi itu ternyata menyelamatkan nyawanya. ”Bapak, mamak, kakak, semua meninggal,” katanya lirih. Tidak ada bekas air mata di wajahnya. Namun, nyata-nyata gadis kecil itu tampak amat kebingungan, linglung, dan muram. Mawardani sekadar turut arus pengungsian warga desanya ke Banda Aceh. ”Kami harus mengungsi karena di sana tidak ada makanan, tidak ada pertolongan, padahal kami tak punya apa-apa lagi,” ucap Ferawati (23) yang bekerja sebagai guru sekolah dasar di Pulau Aceh.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melewatkan hari pertama di tahun 2005, Sabtu (1/1/2005), dengan menemui pengungsi korban bencana tsunami di Meulaboh, pantai barat Aceh.
Seorang anak perempuan menunggui jenazah kakeknya yang menjadi korban gempa dan gelombang tsunami di Sigli, Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (27/12/2004).
Ribuan pengungsi korban gempa tsunami di Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, Rabu (5/1/2005), berkumpul di dermaga untuk menunggu diturunkannya bahan makanan dari kapal jenis landing ship tank (LST) TNI Angkatan Laut (AL) KRI Teluk Ratai. TNI AL berupaya menembus daerah yang masih terisolasi di sepanjang pantai barat Meulaboh dengan mengerahkan armada kapal perang.
Ratusan pengguna kendaraan harus antre berjam-jam untuk mendapatkan 5  liter premium untuk motor dan 10 liter premium atau solar untuk mobil di SPBU Lampanah, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (30/12).

Besarnya korban jiwa akibat tsunami Aceh juga terganbar dari artikel Kompas, Rabu, 29 Desember 2004. Tiga hari setelah bencana dahsyat terjadi, kota Banda Aceh diwarnai bau bangkai yang sangat menyengat. Mayat-mayat berserak di mana-mana, warga sudah tak sanggup mengurus karena mereka konsentrasi mengurus keluarga mereka yang masih belum jelas nasibnya. Sementara tentara yang ada sudah begitu kelelahan setelah tiga hari praktis tak istirahat, di samping itu mereka pun masih dalam kondisi traumatis. Menurut pantauan Kompas, Selasa (28/12/2004), di Lambaro, sekitar 5 kilometer dari Bandar Udara Blang Bintang, Banda Aceh, sekitar 500 mayat tampak ditumpuk. Korban gempa bumi dan gelombang tsunami tersebut belum dikuburkan.

Kondisi ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini bukan cuma gelap karena mati listrik, tetapi juga kekurangan makanan dan air bersih. Antrean orang untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) juga terlihat di kota ini. Transportasi lokal di Banda Aceh hampir lumpuh total karena tidak ada lagi bensin, kecuali sisa-sisa solar yang jumlahnya tidak banyak. Tidak ada angkutan darat dari dan ke bandar udara (bandara). Sementara mobil-mobil teronggok di jalanan.

Sekitar 32.000 pengungsi yang tersebar di sekitar Calang terpaksa bertahan dari hujan dengan memanfaatkan seng-seng bekas dan daun nipah. TNI AL berusaha membuka daerah yang terisolasi dengan menggunakan armada kapal perang.
Bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh ternyata tidak hanya menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Sektor ekonomi pun merasakan dahsyatnya bencana tersebut. Sebuah pabrik semen di Lhok Nga, misalnya, terlihat mengalami kerusakan sangat parah. Saat itu lokasi tersebut belum bisa dijangkau karena terputusnya jalur darat.
Afni (30), petani garam pengungsi korban gempa dan tsunami dari Desa Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, Selasa (11/1/2005), melintasi areal pembuatan garam yang sudah rata dengan tanah. Ia harus berjalan jauh untuk mencari air bersih di daerah pesisir tersebut. Afni adalah salah satu pengungsi yang mencoba pulang ke desanya, tetapi ia dihadapkan pada kendala kesulitan mencari bahan kebutuhan pokok, terutama air bersih dan bahan makanan lainnya.
Bendera Merah Putih meski sobek tersapu gelombang tsunami masih berdiri kukuh di Asrama Kompi B 112/DJ yang berdekatan dengan pantai barat Aceh di Lhok Nga, Aceh Besar, Jumat (31/12/2004).
Seorang warga sedang membersihkan sampah dan puing-puing sisa bencana gempa bumi dan tsunami yang berserakan di halaman rumahnya di kawasan Lhok Nga, Aceh Besar, pada 23 Februari 2005.
Helikopter jenis Sea Hawk milik Angkatan Laut Amerika Serikat, yang digunakan untuk mengevakuasi korban bencana gempa dan tsunami, hari Senin (10/1) sekitar pukul 07.20 jatuh di lahan persawahan tak jauh dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dalam kecelakaan tersebut, seluruh penumpang selamat.

Tsunami Aceh 2004 akan terus dikenang sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai negara yang berada di zona Cincin Api dan sewaktu-waktu bisa dilanda kembali gempa bumi dan tsunami raksasa, berbagai upaya mitigasi harus terus dilakukan serta ditingkatkan. Tsunami Aceh 2004 harus jadi pelajaran untuk memperkuat ketangguhan Indonesia dari bencana.


Kerabat Kerja

Penulis:

hendra agus setyawan
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro