Berada di sekolah untuk kegiatan olahraga Minggu pagi itu ternyata menyelamatkan nyawanya. ”Bapak, mamak, kakak, semua meninggal,” katanya lirih.
22 Des 2024 10:10 WIB · Foto
Tsunami yang terjadi pada Minggu pagi, 26 Desember 2004, akan terus dikenang sebagai bencana alam paling dahsyat setelah letusan Gunung Krakatau di abad ke-19. Dalam waktu sekejap, sekitar 126.741 warga Aceh tewas dan 93.285 orang dinyatakan hilang tersapu ombak mahadahsyat. Bencana itu tidak hanya menimpa satu negara, tetapi seluruh negara di Teluk Bengali. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter disusul tsunami meluluhlantakkan 800 kilometer garis pantai Aceh, setara dengan garis pantai yang membentang San Francisco-San Diego.
Seperti diberitakan Kompas, Senin, 27 Desember 2004, menurut Hendra Suwarta, Kepala Kelompok Operasional Pengolahan dan Analisa Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Wilayah I Medan, gempa di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terjadi dua kali dalam rentang waktu sekitar satu jam. Gempa pertama terjadi pukul 07.58 berkekuatan 6,8 pada skala Richter. Sedangkan menurut BBC, kekuatan gempa 8,5 pada skala Richter. Pusat gempa berada di 2,9 derajat Lintang Utara (LU), 95,6 derajat Bujur Timur (BT) atau 149 kilometer selatan kota Meulaboh, dengan kedalaman 20 kilometer di Samudra Hindia. Gempa itu dirasakan masyarakat sekitar Meulaboh V-VI Modified Mercalli Intensity (MMI) selama 3-5 menit.
Gempa kedua terjadi pada pukul 08.48 dengan kekuatan 5,9 skala Richter. Pusat gempa berada di 5,4 LU, 94,4 BT atau sebelah barat Pulau We dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa kedua inilah yang menyebabkan gelombang tsunami di Pantai Timur Aceh meliputi Sigli, Lhok Seumawe, Sabang, bahkan sampai ke Sumatera Utara. Gempa tersebut menyebabkan dasar laut naik secara tiba-tiba setinggi 40 meter sehingga memicu tsunami raksasa yang diam-diam menjalar ke berbagai penjuru. Saat gempa mulai mereda, orang-orang di pesisir Banda Aceh melihat laut yang surut, tanpa menyadari bahwa tsunami tengah menjalar menuju pantai. Sekitar 20 menit setelah gempa itu, gelombang pertama tsunami menghantam garis pantai Banda Aceh, diikuti serangkaian gelombang panjang yang susul-menyusul. Elevasi maksimum dan landaan tsunami mencapai 34 meter, terekam di pantai barat Banda Aceh (Gegar Prasetya, dkk, 2011).
Begitu mencapai daratan, tsunami bisa merobohkan berbagai penghalang yang dilaluinya, bahkan beton ataupun pepohonan. Tidak seperti gelombang yang digerakkan oleh angin yang hanya menciptakan gejolak lapisan paling atas lautan, tsunami menggerakkan seluruh kolom air, dari dasar samudra hingga ke permukaan samudra.
Kepiluan dampak tsunami Aceh terekam jelas dalam artikel yang terbit di Kompas, Sabtu, 1 Januari 2005. Ketika gelombang tsunami mengempaskan wilayah itu, Minggu (26/12/2004) pagi, Fuadi (28) masih sempat menyelamatkan diri. Ia mendaki puncak bukit di pulau kecil yang ada di sekitar itu bersama istri, saudara, bibi, dan anaknya yang masih bayi, baru berumur 13 hari.
Setelah badai reda, ia turun dari bukit dan mendapati perkampungan di pulau tersebut sudah rata tanah. Tidak ada bekal buat hari-hari mendatang yang masih bisa diselamatkan, cukuplah nyawa masih di badan. Hingga empat hari setelah bencana, keluarganya bertahan hidup hanya dengan melahap ubi dan kelapa. Mereka menunggu giliran melabuhkan kapal ke Banda Aceh, sekitar tiga jam pelayaran dari ”Kampung Pulo”, begitu mereka menyebut kampung halaman yang remuk itu. Akhirnya, dengan menanggung derita, tibalah mereka di Banda Aceh, Kamis siang.
Gambaran lain dampak tsunami juga terekam saat seorang anak perempuan duduk agak tersisih dari kerumunan dengan wajah mendung. Mawardani (8), begitu namanya, masih mengenakan pakaian seragam olahraga. Berada di sekolah untuk kegiatan olahraga Minggu pagi itu ternyata menyelamatkan nyawanya. ”Bapak, mamak, kakak, semua meninggal,” katanya lirih. Tidak ada bekas air mata di wajahnya. Namun, nyata-nyata gadis kecil itu tampak amat kebingungan, linglung, dan muram. Mawardani sekadar turut arus pengungsian warga desanya ke Banda Aceh. ”Kami harus mengungsi karena di sana tidak ada makanan, tidak ada pertolongan, padahal kami tak punya apa-apa lagi,” ucap Ferawati (23) yang bekerja sebagai guru sekolah dasar di Pulau Aceh.
Besarnya korban jiwa akibat tsunami Aceh juga terganbar dari artikel Kompas, Rabu, 29 Desember 2004. Tiga hari setelah bencana dahsyat terjadi, kota Banda Aceh diwarnai bau bangkai yang sangat menyengat. Mayat-mayat berserak di mana-mana, warga sudah tak sanggup mengurus karena mereka konsentrasi mengurus keluarga mereka yang masih belum jelas nasibnya. Sementara tentara yang ada sudah begitu kelelahan setelah tiga hari praktis tak istirahat, di samping itu mereka pun masih dalam kondisi traumatis. Menurut pantauan Kompas, Selasa (28/12/2004), di Lambaro, sekitar 5 kilometer dari Bandar Udara Blang Bintang, Banda Aceh, sekitar 500 mayat tampak ditumpuk. Korban gempa bumi dan gelombang tsunami tersebut belum dikuburkan.
Kondisi ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini bukan cuma gelap karena mati listrik, tetapi juga kekurangan makanan dan air bersih. Antrean orang untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) juga terlihat di kota ini. Transportasi lokal di Banda Aceh hampir lumpuh total karena tidak ada lagi bensin, kecuali sisa-sisa solar yang jumlahnya tidak banyak. Tidak ada angkutan darat dari dan ke bandar udara (bandara). Sementara mobil-mobil teronggok di jalanan.
Tsunami Aceh 2004 akan terus dikenang sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai negara yang berada di zona Cincin Api dan sewaktu-waktu bisa dilanda kembali gempa bumi dan tsunami raksasa, berbagai upaya mitigasi harus terus dilakukan serta ditingkatkan. Tsunami Aceh 2004 harus jadi pelajaran untuk memperkuat ketangguhan Indonesia dari bencana.
Penulis:
hendra agus setyawanEditor:
Demitrius Wisnu Widiantoro