ARSIP

Arsip Foto ”Kompas”: Wajah Penerbangan Perintis di Tanah Papua

Selama puluhan tahun penerbangan perintis berperan signifikan membuka dan membangun koneksi antardaerah dan distribusi barang, termasuk di wilayah pedalaman Papua.

18 Feb 2026 10:00 WIB · Nasional

KOMPAS/RUDY BADIL

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Pada Rabu pekan lalu, 11 Februari 2026, salah satu penerbangan perintis di Papua, yaitu pesawat Smart Air PK-SNR, diserang oleh kelompok bersenjata di Lapangan Terbang Koroway Batu, Distrik Kombay, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.

Dalam penyerangan itu pilot dan kopilot tewas, sementara para penumpang yang berjumlah 13 orang selamat. Insiden itu tentu sangat mengejutkan dan meninggalkan duka yang mendalam serta menambah panjang insiden penembakan pesawat di Papua.

Padahal, jalur udara menjadi urat nadi utama bagi konektivitas di Papua. Selama puluhan tahun penerbangan perintis telah berperan signifikan dalam membuka dan membangun koneksi antardaerah dan distribusi barang, termasuk di wilayah-wilayah pedalaman di tanah Papua.

Masyarakat suku Dani di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, 3 Oktober 1984
Penduduk Desa Pasema, Distrik Kurima, Yahukimo, Papua Pegunungan, yang dikabarkan menderita kekurangan pangan, menyambut kedatangan pesawat perintis yang membawa bantuan pangan, 17 Desember 1986.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), terdapat 264 rute perintis penumpang dengan 62 persen di antaranya melayani rute penerbangan di kawasan Papua pada tahun 2024. Jumlah tersebut bertambah menjadi 266 rute di 2025.

Jejak penerbangan perintis

Mengutip laman National Geographic dan Avia Historia, pesawat komersial/carter pertama yang terbang di wilayah Papua adalah de Havilland DH-89 Dragon Rapide pada 1935. Pesawat yang dicarter perusahaan konsorsium minyak NNGPM (Nederlands Niew Guinea Petroleum Maatschappij) itu digunakan untuk pemetaan udara.

NNGPM membangun lapangan terbang Babo yang terletak di Teluk Bintuni sebagai pangkalan (home base) untuk tugas ini.

Landasan pesawat terbang di Kanggimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, 3 Oktober 1984.
Potret masyarakat suku Dani di pedalaman Pegunungan Jayawijaya, Papua Pegunungan, Desember 1986
Tidak seperti lapangan-terbang Enarotali yang rata, lapangan terbang Mulia berada diantara bukit. Tampak dua pesawat Twin-Otter yang ditumpangi rombongan Gubernur Irian Jaya, Acub Zainal,  berada di ujung landasan, Mei 1974

Kemudian setelah itu pesawat-pesawat milik KLu (Koninklijke Luchtmacht/Angkatan Udara Belanda), pesawat amfibi milik perusahaan tambang minyak, atau pesawat lainnya milik misionaris menjadi andalan transportasi udara di Papua.

Karena jumlahnya yang sedikit dan tidak rutin, pemerintah setempat (Nederlands Niew Guinea) dengan investasi dari maskapai besar Belanda KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) mendirikan maskapai bernama NNGLM (Nederlands Niew Guinea Luchtvaart Maatschapij) atau dikenal juga sebagai de Kroonduif pada 14 Juli 1955.

Setelah sekitar tujuh tahun, NNGLM akhirnya berhenti beroperasi dan menyerahkan kepada Garuda pada 1 Januari 1963. Satu tahun kemudian rute perintis di Papua termasuk pesawatnya yang tersisa diteruskan oleh MNA (Merpati Nusantara Airlines).

Pesawat-pesawat yang digunakan dalam penerbangan perintis adalah pesawat kecil yang mempunyai kapasitas angkut 10-12 orang, seperti Pilatus atau Caravan.

Para penumpang turun dari pesawat perintis yang melayani rute Merauke - Tanah Merah di Bandar Udara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Pesawat perintis sangat efektif untuk membuka keterisolasian wilayah di Papua yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan dan pegunungan, 2 Juli 2013
Pesawat Merpati jenis MA-60 saat berada di Bandara Utarom, Kaimana, Papua Barat, 10 Mei 2011
Arsip berita Kompas terkait penerbangan di Papua saat itu masih bernama Irian Jaya pada Juni 1973

Dalam arsip berita Kompas, hingga awal 1970-an, penerbangan di Papua (saat itu masih bernama Irian Jaya) mengalami banyak kemajuan. Merpati yang sebelumnya mengoperasikan lima pesawat sudah bertambah menjadi sembilan pesawat yang terdiri dari 4 pesawat Dakota, 4 pesawat Twin Otter, dan 1 pesawat YS 11.

Jika pada 1966 jumlah penumpang hanya 20.000 orang, telah meningkat menjadi 57.000 orang tahun 1972.

Namun, sebagian besar atau sekitar 80 persen kegiatan penerbangan itu digunakan untuk aktivitas pemerintah, seperti pengiriman dan pemindahan pegawai di daerah pedalaman, disitribusi bahan makanan, dan kegiatan lainnya.

Biaya yang mahal membuat penduduk asli setempat belum banyak yang mempergunakan alat transportasi udara tersebut. Pada pertengahan 1973 tarif penerbangan rata-rata di Papua Rp 10.000 hingga Rp 50.000. Selain harga bahan bakar yang mahal, faktor lain yang memengaruhi adalah keterisian penumpang.

Siswa sekolah dasar melihat pesawat Merpati yang terbang menuju Timika di Bandara Ewer, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Pesawat terbang masih menjadi pilihan utama bagi orang yang ingin mendatangi Kota Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, 7 Oktober 2006

Sering kali penerbangan ke wilayah pedalaman hanya terisi penuh satu jurusan, terutama saat keberangkatan. Ketika kembali, pesawat kosong, tidak ada penumpang. Hal itu juga yang membuat Merpati hanya berfokus pada tempat-tempat yang sudah ramai.

Penerbangan ke wilayah pedalaman sebagian besar dilakukan oleh pesawat terbang milik misi, seperti AMA (Associated Mission Aviation) dan MAF (Mission Aviation Fellowship), yang sudah beroperasi sejak lama. AMA sendiri mulai beroperasi di Papua sejak 1959.

Adapun perusahaan penerbangan selain Merpati yang saat itu beroperasi adalah Indonesian Air Transport dan Air Fast.

Pesawat Twin Otter yang dioperasikan Airfast Indonesia untuk penerbangan perintis berada di Bandara Ewer, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, 17 Oktober 1996.

Tantangan operasionalisasi

Wilayah yang luas dan kondisi geografis yang banyak didominasi pegunungan membuat akses darat atau transportasi darat dan sungai sangat terbatas di Papua.

Kondisi tersebut yang hingga saat ini membuat warga bergantung pada transportasi udara. Baik menggunakan pesawat-pesawat kecil yang dioperasikan oleh misionaris maupun maskapai penerbangan.

Pilot menerbangkan pesawat Cessna Caravan 208B yang dioperasikan Asian One dalam penerbangan perintis menuju Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, 25 November 2024
Penumpang berada di dalam pesawat Cessna Caravan 208B yang dioperasikan Asian One dalam penerbangan perintis menuju Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, 25 November 2024
Pemandangan Danau Paniai yang berada di Kabupaten Paniai, Papua Tengah, terlihat dari dalam pesawat Cessna Caravan 208B yang dioperasikan Asian One dalam penerbangan perintis menuju Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, 25 November 2024

Tentu saja keberadaan angkutan udara membutuhkan biaya tinggi. Di sinilah pentingnya subsidi dari negara. Jika tanpa subsidi, tak mungkin penerbangan ini dapat berlanjut karena secara bisnis tak menguntungkan.

Selain subsidi penumpang, pemerintah juga menyediakan subsidi angkutan bahan bakar minyak (BBM) berupa subsidi ongkos angkut avtur.

Sejumlah barang kebutuhan masyarakat yang terdiri dari berbagai jenis barang diturunkan dari pesawat Trigana Air yang baru datang dari Jayapura di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, 20 Desember 2005
Anak-anak warga Distrik Oklip, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, menyaksikan pesawat perintis milik AMA. Pesawat-pesawat perintis seperti itulah yang menjadi penghubung wilayah pedalaman Papua. Hingga saat ini, ketergantungan pada armada udara perintis di Papua masih tinggi karena kondisi geografis yang berat dan infrastruktur darat yang belum memadai, 13 Desember 2011

Kondisi lapangan terbang dalam penerbangan perintis tak semuanya ideal. Rata-rata memiliki landasan yang pendek, hanya berkisar 700-900 meter.

Tak sedikit pula lapangan terbang yang hanya memiliki koridor tunggal sehingga pendaratan dan penerbangan pesawat hanya satu arah. Sebab, kondisi geografis kurang mendukung, seperti perbukitan. Landasan juga tidak semuanya bermarka, bahkan tak beraspal, hanya beralaskan tanah.

Foto dari udara lapangan terbang Nabire yang diharapkan menjadi proyek percontohan untuk pembuatan lapangan terbang serupa di Papua. Biaya pembangunan bandara yang dimulai sejak 1971 itu sebagian besar merupakan bantuan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), 15 Juni 1973.
Suasana di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, 5 Februari 1996
Penumpang mengambil bagasi setibanya di Bandar Udara Wamena, Papua, 24 Juni 2015

Sementara cuaca yang tidak menentu dan cepat berubah di Papua juga menjadi tantangan besar dalam operasionalisasi penerbangan. Seringkali penerbangan ditunda atau dibatalkan karena faktor cuaca yang berubah tiba-tiba, seperti perubahan tekanan udara, kecepatan angin, dan kondisi awan.

Salah satu daerah dengan kondisi cuaca ekstrem adalah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Kondisi cuaca ini juga menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan pesawat.

Pesawat Cessna Caravan 208B baru saja mendarat di bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. Pesawat kecil semacam itu merupakan alat transportasi satu-satunya yang bisa menjangkau Ilaga dari Bandara Timika di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, 15 Februari 2015
Pesawat Cessna 206 PK MCP yang dioperasikan MAF (Mission Aviation Fellowship ) jatuh di tengah perkebunan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Tidak ada korban dalam kecelakaan itu, namun kondisi pesawat rusak parah, 3 Maret 1981.
Warga menonton bangkai pesawat milik maskapai penerbangan PT Manunggal Air yang terbakar setelah mendarat di Bandar Udara Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Tujuh awak pesawat selamat, tetapi muatan pesawat, termasuk bahan bakar minyak habis terbakar, 7 Maret 2008
Warga menonton evakuasi pesawat DHC-4A Carybou milik maskapai Trigana Air Service yang tergelincir dari landasan pacu lapangan terbang Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua,Tengah. Meskipun tidak menimbulkan korban, kecelakaan itu membuat aktivitas penerbangan di Mulia lumpuh karena sayap pesawat melintangi landasan pacu, 30 Juni 2007.

Faktor lain yang tidak bisa dilepaskan dalam operasionalisasi penerbangan perintis di Papua adalah gangguan keamanan. Dalam catatan Kompas, sedikitnya 20 penembakan terjadi di bandara yang berada di Papua Tengah dan Papua Pegunungan pada kurun waktu 2018-2025.

Termasuk dalam rentang waktu itu adalah kasus penembakan pesawat Susi Air di Lapangan Terbang Distrik Paro, Nduga, 7 Februari 2023. Saat itu, pilot asal Selandia Baru, Philip Mehrtens, ditahan kelompok bersenjata dan baru dibebaskan setahun kemudian.

Anggota Panitia Pemilihan Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo, tiba di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya,  Papua Pegunungan, dengan membawa berita acara rekapitulasi perolehan suara pemilu presiden. Seperti halnya pengiriman surat suara ke Welarek, pengiriman berita acara itu juga harus menggunakan pesawat, 9 Juli 2009
Aktivitas penumpang di Bandar Udara Aminggaru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Pesawat masih menjadi sarana transportasi andalan menuju daerah-daerah pelosok dan pegunungan di Papua, 19 Desember 2019.
Tampak para penumpang akan menaiki pesawat jenis caravan di Bandara Udara Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Sulitnya akses transportasi menjadi kendala utama di Tolikara. Panjang landasan pacu di bandara itu hanya 750 meter sehingga tak bisa dimasuki pesawat berbadan besar, 24 Juli 2015

Kasus terakhir, pada 11 Februari 2026, menimpa pesawat Smart Air PK-SNR di Lapangan Terbang Koroway Batu, Distrik Kombay, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang menewaskan pilot dan kopilot.

Koroway Batu sendiri termasuk dalam program jembatan udara yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Sebuah program pemerintah untuk penyediaan akses transportasi udara melalui penerbangan perintis ke daerah pedalaman, perbatasan, ataupun terluar.

Bahan bakar diisi lagi, penerbangan pun dilanjutkan ke tujuan lain, mengejar kecerahan cuaca yang terbatas menerangi daerah pedalaman Irian Jaya.
Sungai Maro yang terletak di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, difoto dari dalam pesawat, 29 Mei 1993
Panorama hutan yang membentang luas terlihat dari pesawat tujuan Wamena-Jayapura, Papua, 11 Desember 2013

Merespons insiden di Koroway Batu itu, Kementerian Perhubungan lantas mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasionalisasi penerbangan di 11 bandara/satuan pelayanan/lapangan terbang yang memiiki potensi kerawanan keamanan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selain di Koroway Batu, lokasi lainnya adalah Bandara Bomakaia, Satpel Yaniruma, Satpel Manggelum, Lapter Kapiraya, Lapter Iwur, Lapter Faowi, Lapter Dagai, Lapter Aboy, Lapter Teraplu, dan Lapter Beog.

Dua pesawat Twin-Otter di "lapangan terbang" Enarotali, yang rata mendingan keadaannya ditepi danau (gambar atas). Gambar bawah: seorang penerbang pesawat Twin-Otter dalam cockpitnya sedang mengarungi daerah pedalaman Irian Jaya. Seringkali ia harus "menyelusup-nyelusup" ditengah-tengah pegunungan.
Warga lokal menarik becak disamping pesawat Antonov AN-12 yang disewa untuk melayani angkutan kargo di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Distribusi barang dan makanan di pedalaman dan pegunungan Papua yang hanya mengandalkan penerbangan menjadikan harga tinggi, 30 April 2012

Penghentian operasionalisasi itu tentu diharapkan tidak berlangsung lama. Sebab, yang paling terdampak dan dirugikan adalah masyarakat sendiri. Akses terputus, terisolasi, dan distribusi bahan makanan terhambat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto