Art Week Tokyo 2024: Merangkai Kosmos Seni Asia

Puluhan galeri seni yang tersebar di seantero Tokyo, yang menjadi bagian AWT 2024, tak mengecewakan.

24 Nov 2024 07:20 WIB · Opini

Oleh Lynda Ibrahim

Art Week Tokyo atau AWT kembali menyapa pencinta seni di institusi, galeri, dan ruang publik. Menginjak tahun keempat, AWT terlihat lebih merengkuh talenta seni Asia lainnya. Saya beruntung bisa menyaksikannya.

Dalam pameran utama, AWT Focus, 57 karya perupa Asia tersebar di Museum Okura untuk mengilustrasikan Bumi, angin, dan api pembangun kosmos kehidupan dalam empat bagian.

Struktur Kosmik diawali 267 obyek terakota berbentuk bunga dan sayap burung karya Albert Yonathan Setyawan dari Indonesia. Menarik juga adalah tenun jacquard Mika Tajima yang dibentuk dari pola rekaman suara pabrik tekstil, pusat data, dan lantunan meditasi. Tangan, tubuh, doa terwakili lukisan berwarna merah tentang Amamata, induk manusia dan makhluk halus dalam kepercayaan suku semi-nomadis Akha, karya Busui Ajaw dari Myanmar. Pun menarik patung berbentuk alami berlumur cat bak lukisan karya Lynda Benglis dari Amerika Serikat.

Kekuatan Tak Terlihat diwarnai mitologi. Lukisan besar Amenomurakumo Kuki Samuhara, naga pengatur hujan dalam agama Shinto, khusus dipersembahkan Tomiyuki Kaneko. Di seberangnya terpampang sepasang lukisan wayang Heri Dono dari dua era, menggambarkan pertarungan kebajikan melawan kejahatan dalam politik dan lingkungan hidup. AWT Focus ditutup oleh Siklus dan Energi Alami, terwakili baik melalui Mit Jai Inn dari Thailand yang mengawinkan teknik seperti tenun untuk membuat lukisan terasa tiga dimensi dan layar lebar video perubahan alam dari Asako Fujikura yang membuat saya terduduk meditatif sekian menit.

Pendekatan lensa kosmos dan lebih diikutsertakannya perupa Asia tak lepas dari Mami Kataoka sebagai kurator AWT Focus tahun ini. Dikenal sebagai profesional seni rupa tangguh, Kataoka terlibat banyak proyek bergengsi regional sebelum mengepalai Museum Mori, institusi terkenal di Tokyo yang dihormati di Asia. Kataoka pernah datang ke Museum MACAN sebagai kurator Chiharu Shiota dalam pameran yang diserbu publik Jakarta pada akhir 2022.

Quote

Perupa Indonesia baginya adalah bagian penting dari struktur kosmis seni rupa yang luas.

Saya beruntung dapat mencuri waktu Kataoka saat pembukaan. Ia menjelaskan visinya, yaitu AWT sebagai panggung ekologi seni yang luas dan terbuka. Perupa Indonesia baginya adalah bagian penting dari struktur kosmis seni rupa yang luas. Kataoka juga menyoroti keragaman kepercayaan di Indonesia, mudanya populasi, percakapan publik tentang masa depan bangsa dan semaraknya kolektif seni; aspek terakhir ini membentuk Jakarta Biennale 2024 sebagaimana saya tulis bulan lalu.

Konsep kolektif lumbung yang mendasari kurasi Documenta 15 oleh Ruang Rupa, kolektif seni terkemuka Indonesia, juga disebut Sohrab Mohebbi, kurator AWT Videos 2024, pada diskusi di Universitas Keio yang dihadiri akademisi dan masyarakat seni. Secara pribadi, saya senang akhirnya ada pembahasan publik tentang aspek positif ini, karena pemberitaan acara seni bergengsi Jerman 2022 itu dipenuhi kontroversi sepihak tentang beberapa karya yang dianggap anti-semit.

Quote

Rangkaian patung berbasis anatomi wanita, terutama organ reproduksi, bisa dilihat sebagai suka dan lara melahirkan dan membesarkan anak.

Kontroversi lumrah dalam seni. Contohnya Louise Bourgeois, seniman Perancis yang sedang diangkat Museum Mori. Bourgeois mengolah trauma ditinggal wafat ibu saat muda, menghadapi ayah problematik dan mengarungi bahtera pernikahan, menjadi karya menyentak tentang keperempuanan. Mungkin trauma yang mendorong Bourgeois melihat dualitas isu. Instalasi laba-laba raksasanya bisa diterjemahkan sebagai ibu pelindung atau sosok pengancam. Rangkaian patung berbasis anatomi wanita, terutama organ reproduksi, bisa dilihat sebagai suka dan lara melahirkan dan membesarkan anak. Instalasi kepala merah dalam kerangkeng diartikan sebagai keinginan untuk mendekat, kebencian pada orang lain, bahkan rasa bersalah. Tak heran mengapa kutipan Bourgeois yang paling dikenal, terbordir dalam saputangan, adalah ”I’ve been to hell and back. And let me tell you, it was wonderful.” Bourgeois merasa sebagai penyintas neraka yang ternyata tempat indah.

Seni juga bisa interaktif dan penuh tawa, seperti pameran Ei Arakawa Nash di The National Art Center Tokyo (NACT). Karyanya dijejer di antara karya pelukis ternama Jepang dan Eropa, dan Arakawa-Nash mempersilakan pengunjung mewarnai lantai NACT dan terlibat performance art. Saya, kebetulan berdiri paling depan, terikut sebagai pemakai karya berbentuk pola pakaian malam itu, berkeliling arena sementara pengunjung lain memindahkan balok dan dibopong keluar lubang di dinding.

Pameran juga bisa menjadi wahana belajar sejarah seni. NACT mengumumkan kolaborasi tahun depan dengan Museum M+ Hong Kong tentang irisan senirupa kedua negara. Tahun ini. seratusan koleksi pribadi Takahashi Ryutaro dan Museum of Tokyo (MOT) yang digelar di MOT membuat saya lebih paham fase perkembangan seni kontemporer Jepang dan dinamika budayanya. Rumah kayu mini yang bila diteropong memperlihatkan kegiatan dapur, karya Ayako ”Tabaimo” Tabata, membuat saya berpikir tentang keteguhan bangsa Jepang akan hal detail serba halus terlepas cepatnya derap zaman.

Sebanyak 50 galeri seni yang tersebar di seantero Tokyo menjadi bagian AWT 2024. Beberapa yang tertangkap mata saya, tak mengecewakan.

Mungkin karena minggu itu bertepatan Pemilu Amerika Serikat, instalasi Meiro Koizumi tentang manusia dengan teknologi, terinspirasi kisah Prometheus yang mencuri api dewa Yunani Kuno, terbaca oleh saya sebagai pergulatan manusia dengan syahwat kekuasaan. Potongan tubuh yang terjegal mesin dan kursi saya lihat sebagai ketakpedulian manusia akan harga sebuah kedudukan. Pergumulan bangsa Jepang dengan teknologi dan tingkat upah, yang membuat keterampilan menjahit menghilang, dirangkai baik oleh Satoru Aoyama. Berdiri di Mizuma Gallery, ekspresinya ngelangut saat menerangkan karya tentang rendahnya upah dan Yen saat ini. Seri boks miniatur Ryoko Aoki di Take Ninagawa mengingatkan saya akan realitas masyarakat urban Jepang dengan sederet batasan fisik dan tata-nilai.

Ittah Yoda mengolah residensinya di Bali bersama Roh Projects, galeri Indonesia, menjadi lukisan dan wewangian berbasis bunga kamboja. Seri lukisan Dwi Antono Roby yang terinspirasi ritual bulan dan kelahiran anaknya diusung Nanzuka Underground dan menarik minat sekelompok jurnalis asing sore itu.

Sensasi tersendiri saya rasakan pada pameran solo Arlene Shechet di mana patung, kertas dan tapestry (karpet) menjadi medium yang rumit dari sisi teknik serta memukau dari warna dan tekstur. Sensasi yang sama saat menikmati seruangan lukisan dan patung berkarakter bocah bermata besar dan judes khas Yoshitomo Nara di salah satu galeri di pusat Tokyo.

Sebentuk kosmos seni rupa Asia, sekolam oase keindahan saat dunia limbung kiri-kanan, AWT 2024 untuk saya. 

Lynda Ibrahim, Konsultan Bisnis & Penulis

  

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Lynda Ibrahim
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq