Sebagai bentuk balasan atas serangan AS, Houthi mengklaim telah menargetkan kapal induk AS, USS Harry Truman, dengan rudal dan pesawat nirawak.
17 Mar 2025 10:04 WIB · Internasional
KAIRO, SENIN — Amerika Serikat dan kelompok Houthi di Yaman sama-sama tidak segan untuk meningkatkan eskalasi. Menyusul serangan AS, Houthi telah balas menyerang militer AS. Di saat sejumlah pihak menyerukan perdamaian, Iran mengklaim tidak terlibat dan mengecam tuduhan AS.
Jet-jet tempur AS menyerang Sanaa dan Saada, markas Houthi, Sabtu (15/3/2025). Serangan itu menewaskan sedikitnya 53 orang dan melukai hampir 100 orang. Menurut Washington, Houthi melancarkan pembajakan dan serangan kepada kapal-kapal AS di Laut Merah, salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia.
”Kami tidak akan membiarkan orang-orang ini mengendalikan kapal mana yang bisa lewat dan mana yang tidak. Berapa lama ini akan berlangsung? Ini akan terus berlangsung sampai mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk melakukannya,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada CBS, Minggu (16/3/2025).
Laut Merah merupakan rute penting bagi 12 persen lalu lintas pengiriman dunia. Rubio menjelaskan, dalam 18 bulan terakhir, Houthi telah menyerang Angkatan Laut AS secara langsung sebanyak 174 kali dan menargetkan kapal pengiriman komersial sebanyak 145 kali. Houthi diklaim menggunakan ”senjata antikapal presisi berpemandu”.
Rubio mengatakan, serangan AS tidak akan berupa satu kali serangan balasan saja, seperti pada masa pemerintahan Presiden AS Joe Biden. Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk menggunakan ”kekuatan mematikan” sampai Houthi berhenti menyerang dan memperingatkan Iran untuk bertanggung jawab.
Seorang pejabat AS mengatakan, kampanye militer AS mungkin akan berlanjut selama berminggu-minggu. Pada Senin (17/3/2025), Televisi Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi menyatakan, AS melancarkan dua serangan yang menargetkan Hodeidah.
”Begitu Houthi mengatakan akan berhenti menembaki kapal, kami akan berhenti menembaki pesawat nirawak Anda. Kampanye ini akan berakhir, tetapi sampai saat itu tiba, kampanye ini tidak akan pernah berhenti.” tutur Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kepada Fox News.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/8cd460c8-980a-4fc7-a89d-7114cd2015d3_jpg.jpg)
Kelompok Houthi telah berulang kali menarget kapal-kapal internasional di Laut Merah, termasuk menenggelamkan dua kapal. Tindakan ini merupakan aksi solidaritas dengan warga Palestina di Gaza, tempat Israel berperang. Baik Houthi maupun Hamas merupakan sekutu Iran.
Aksi Houthi di Laut Merah berhenti ketika gencatan senjata Hamas-Israel berlaku pada 19 Januari 2025, sehari sebelum Trump menjabat. Namun, pekan lalu, Houthi menyatakan akan menyerang lagi kapal-kapal Israel setelah Israel menghentikan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza di tengah negosiasi lanjutan soal gencatan senjata.
Biro politik Houthi mengatakan, kelompok itu akan merespons serangan AS. Houthi kini bersumpah untuk menargetkan kapal kargo AS di Laut Merah setelah dulu mengancam memperbarui serangan terhadap kargo Israel setelah gencatan senjata.
”Amerika sekarang akan dikenakan embargo selama melanjutkan agresinya. Kami akan menghadapi eskalasi dengan eskalasi, dan kami akan menanggapi musuh Amerika dengan menargetkan kapal induk dan kapal perangnya serta melarang kapalnya,” kata Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi dalam pidato yang disiarkan televisi, Minggu (16/3/2025).
Abdul Malik al-Houthi melanjutkan, jika agresi AS terhadap Yaman berlanjut, Houthi akan beralih ke opsi eskalasi tambahan.
Si pemimpin kelompok turut menyerukan aksi unjuk rasa sejuta warga. ”Saya menyerukan kepada rakyat untuk keluar besok pada peringatan Pertempuran Badar dalam aksi unjuk rasa sejuta orang di Sanaa dan seluruh provinsi,” kata Abdul Malik al-Houthi merujuk pada pertempuran yang dimenangi Nabi Muhammad.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/8c9aeb91-6243-4c8f-ab8b-4fb32be51211_jpg.jpg)
Serangan udara AS adalah salah satu semalam itu merupakan salah satu serangan ekstensi terhadap Houthi sejak perang Hamas-Israel berlangsung pada Oktober 2023. ”Serangan itu sebenarnya menargetkan beberapa pemimpin Houthi dan menghabisi mereka,” ujar penasihat Keamanan Nasional AS, Michael Waltz, kepada ABC.
Waltz tidak mengidentifikasi sosok yang dimaksud atau memberikan bukti. Namun, Rubio mengklaim beberapa fasilitas Houthi telah dihancurkan.
Sebagai bentuk serangan balasan, Houthi mengklaim telah menargetkan militer AS dengan rudal dan pesawat nirawak. Mereka meluncurkan 18 rudal dan sebuah pesawat nirawak.
”Menanggapi agresi ini, angkatan bersenjata melakukan operasi militer yang menargetkan kapal induk AS, USS Harry Truman, dan kapal perang pendampingnya,” bunyi pernyataan Houthi.
USS Harry Truman mencakup kapal induk, tiga kapal perusak, dan satu kapal penjelajah yang sedang berada di Laut Merah. Adapun kapal selam rudal jelajah USS Georgia juga beroperasi di kawasan itu.
Menurut seorang pejabat AS tanpa nama, Houthi memang balas menyerang. Houthi menembakkan 11 pesawat nirawak dan setidaknya satu rudal selama sekitar 12 jam.
Akan tetapi, pejabat itu melanjutkan, pesawat jet tempur Angkatan Udara AS mencegat 10 pesawat nirawak dan pesawat jet tempur AL F/A-18 mencegat satu pesawat. Sementara itu, rudal jatuh ke perairan lepas pantai Yaman, jauh dari kapal. ”Militer AS tidak mengambil tindakan apa pun karena tidak dianggap sebagai ancaman,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/25/64f32bf1-6574-4f80-bd22-942e7c4eca0b.jpg)
Sebelumnya, Trump memberi tahu Iran untuk segera berhenti mendukung kelompok itu. Jika Iran mengancam AS, Trump akan meminta pertanggungjawaban penuh dan AS tidak akan bersikap baik.
Komandan Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami membantah negaranya terlibat dalam serangan Houthi, Minggu (16/3/2025). Iran, tuturnya, tidak berperan dalam menetapkan kebijakan nasional atau operasional Houthi.
”Kami memperingatkan musuh-musuh kami bahwa Iran akan menanggapi dengan tegas dan destruktif jika mereka melaksanakan ancamannya,” ucap Salami kepada TV milik pemerintah.
Lewat pelantar X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendesak AS untuk menghentikan serangan udaranya. Ia mengatakan, Washington tidak dapat mendikte kebijakan luar negeri Iran.
AS dan negara-negara lain telah lama menuduh Iran memberikan bantuan militer kepada Houthi. AL AS telah menyita suku cadang rudal buatan Iran dan persenjataan lain yang kabarnya untuk Houthi. AS, Israel, dan Inggris pernah menyerang wilayah kekuasaan Houthi.
Rusia ikut mendesak Washington untuk menghentikan serangan ke Yaman. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menelepon Rubio untuk mendesak penghentian segera penggunaan kekuatan dan pentingnya semua pihak untuk terlibat dalam dialog politik, kata Moskwa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/07/86f39396-92da-4dda-aa6f-30b816a4360d_jpg.jpg)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah pernyataan menyatakan keprihatinan atas serangan AS di Yaman sehingga timbul korban kematian dan cedera. PBB juga prihatin dengan ancaman berkelanjutan dari Houthi kepada kapal-kapal di Laut Merah.
PBB menyerukan ”penahanan diri sepenuhnya dan penghentian semua kegiatan militer”. Pernyataan itu turut memperingatkan risiko serius terhadap situasi kemanusiaan yang mengerikan di Yaman, negara termiskin di dunia Arab.
”Setiap eskalasi tambahan dapat memperburuk ketegangan regional, memicu siklus pembalasan yang dapat semakin mengganggu stabilitas Yaman dan kawasan tersebut, dan menimbulkan risiko serius terhadap situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di negara itu,” kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, Minggu (16/3/2025).
Dilansir dari kantor berita Anadolu, Dujarric menegaskan, PBB menekankan bahwa hukum internasional, termasuk hukum kemanusiaan internasional, harus dihormati setiap saat.
”PBB tetap berkomitmen untuk melanjutkan upayanya menuju deeskalasi yang lebih luas di Yaman serta keterlibatan berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan Yaman, regional, dan internasional guna mengamankan penyelesaian konflik yang berkelanjutan dan damai, dan pada akhirnya masa depan yang lebih baik bagi rakyat Yaman,” ujar Dujarric. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .