Dalam wawancara dengan ”Fox News”, Trump mengindikasikan mau berbicara dengan Iran, tetapi tergantung persyaratannya.
10 Mar 2026 21:36 WIB · Internasional
AFP PHOTO/THE WHITE HOUSE/DANIEL TOROK
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan ada kemungkinan dirinya bersedia berbicara dengan Iran. Namun, itu tergantung persyaratannya.
Hal tersebut dikatakannya kepada jaringan berita kabel Fox News, Selasa (10/3/2026). Trump mengatakan, kesediaannya berunding dengan Iran karena mendengar Teheran sangat ingin berbicara dengannya.
Namun, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani mengeluarkan ancaman terselubung kepada Trump dan memperingatkannya agar berhati-hati.
”Bangsa Iran tidak takut dengan ancaman kosong Anda. Bahkan, mereka yang lebih besar dari Anda pun tidak dapat melenyapkan Iran. Hati-hati, jangan sampai Anda sendiri yang dilenyapkan,” katanya dalam unggahan di X.
”Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua atau selat kekalahan dan penderitaan bagi ’para penghasut perang’,” lanjut Larijani.
Pesan Larijani itu merupakan balasan atas ancaman Trump sebelumnya. Ia mengancam akan menyerang Iran ”dua puluh kali lebih keras” jika Teheran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump kembali mengutarakan tanggapannya atas Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. ”Saya tidak percaya dia bisa hidup damai,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/10/0ff60f3c-f559-45e5-99c3-d3298b6fe8d0_jpg.jpg)
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, serangan terhadap Iran akan mencapai intensitas baru pada Selasa. Perang akan berlanjut selama Trump memutuskan demikain.
”Hari ini akan menjadi hari serangan paling intens di Iran,” katanya dalam konferensi pers di Pentagon.
Hal serupa dilakukan Iran. Pada Selasa, Iran melancarkan serangan baru ke Israel dan target AS di negara-negara Teluk Arab. Serangan itu juga sebagai cara Iran meningkatkan tekanan di Timur Tengah.
Di pusat bisnis futuristik Dubai, Uni Emirat Arab, suara sirene terdengar memperingatkan datangnya rudal Iran. Di Bahrain, pihak berwenang mengatakan serangan Iran menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menewaskan satu orang dan melukai delapan orang.
Arab Saudi mengungkapkan telah menghancurkan dua drone di wilayah timur yang kaya minyak. Sementara Garda Nasional Kuwait mengatakan telah menembak jatuh enam drone.
Di Jerusalem, pada Selasa pagi waktu setempat, sirene juga berbunyi. Suara ledakan juga terdengar di Tel Aviv saat sistem pertahanan Israel berupaya mencegat tembakan rudal yang datang, tidak lama setelah militer mendeteksi peluncuran rudal Iran.
”Kami jelas tidak mencari gencatan senjata,” tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, di X.
”Kami percaya bahwa agresor harus ditinju di mulutnya agar dia mendapat pelajaran sehingga tidak akan pernah berpikir untuk menyerang Iran tercinta kami lagi,” imbuh Qalibaf.
Di Teheran, saksi mata melaporkan beberapa ledakan pada Selasa, saat Israel memulai gelombang serangan udara baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/327101a87a4b45381fbd97d921b0ee9f-20260307_KID_AFP_Teluk_Hormuz_mumed.jpg)
Selain menembakkan rudal dan drone ke Israel dan pangkalan AS di wilayah Teluk, Iran menargetkan infrastruktur energi dan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital untuk perdagangan minyak.
Serangan Iran ke Selat Hormuz menyebabkan harga minyak melonjak. Minyak mentah Brent, acuan standar internasional, melonjak hingga hampir 120 dolar AS per barel pada Senin.
Pada Selasa, harga minyak Brent turun di kisaran 90 dolar AS per barel. Meski turun, harga itu hampir 24 persen lebih tinggi daripada harga sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Iran juga secara efektif menghentikan pergerakan kapal-kapal tanker yang hendak melewati Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat ini merupakan gerbang menuju Samudra Hindia, tempat 20 persen minyak dunia diangkut.
Menurut Organisasi Maritim Internasional, serangan terhadap kapal dagang di dekat selat tersebut telah menewaskan sedikitnya tujuh pelaut. Pusat pemantauan yang dikelola oleh militer Inggris menyatakan, sebuah kapal pengangkut curah kemungkinan diserang di Teluk Persia pada Selasa di lepas pantai Uni Emirat Arab. Kapten kapal melaporkan adanya percikan dan ledakan keras di dekatnya.
Analis menilai, serangan-serangan Iran ditujukan untuk menimbulkan dampak ekonomi global yang cukup besar. Hal ini menjadi cara Iran menekan AS dan Israel agar mengakhiri serangan mereka.
Namun, dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump tampaknya tidak mengakui hal itu. Trump justru mengancam akan menghancurkan Iran lebih keras jika menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz.
Iran tak menggubris ancaman Trump. Garda Revolusi Iran mempertegas pendiriannya dengan mengatakan tidak akan mengizinkan ekspor, bahkan 1 liter minyak pun dari wilayah tersebut ke pihak yang bermusuhan dan para sekutunya.
Sementara Amin Nasser, Presiden dan CEO perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Aramco, mengatakan bahwa kapal tanker dialihkan untuk menghindari Selat Hormuz. Perusahaan menggunakan pengiriman alternatif melalui pipa minyak Timur-Barat. Pipa ini mampu mengirim minyak dengan kapasitas maksimal 7 juta barel per hari menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah pekan ini.
”Situasi di Selat Hormuz menghalangi volume minyak yang cukup besar dari seluruh wilayah,” kata Nasser.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/b7b0c3fceef57dd741f0ef9bfaf7ad1c-000_A2AQ2NQ.jpg)
Nasser menambahkan, pasokan yang lebih ketat kemungkinan akan mendorong harga minyak per barel secara global lebih tinggi lagi. Kenaikan biaya secara global akan mendorong biaya bensin dan bahan bakar lebih tinggi.
”Jika berlangsung dalam waktu lama, itu akan berdampak serius pada ekonomi global,” kata Nasser. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati