Iran mengumumkan menutup Selat Hormuz. Amerika Serikat membantah klaim tersebut. Situasi Teluk tidak menentu.
11 Jun 2026 08:09 WIB · Internasional
AFP
TEHERAN, KAMIS — Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengumumkan menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat kembali menyerang Iran. Teheran tidak akan membiarkan satu pun kapal keluar dari selat itu, termasuk tanker dan kapal komersial. Siapa saja yang berusaha melewati Selat Hormuz akan langsung ditembak. Hingga Rabu (10/6/2026), ada dua kapal yang nekat berusaha lewat dan ditembak.
Namun, Komando Tengah AS (Centcom) membantah klaim Iran. Menurut otoritas militer AS itu, kapal-kapal komersial masih terus terlihat bisa masuk dan keluar dari Selat Hormuz.
Otoritas AS mengatakan, kapal-kapal itu melintasi selat saat tengah malam dan dilindungi oleh AS sehingga Iran tidak dapat menghentikannya dan tidak diketahui Iran karena radarnya sudah dihancurkan AS sebelumnya.
Terkait kondisi di Teluk, kepada Fox News, Presiden AS Donald Trump, Rabu (10/6/2026) waktu setempat, mengatakan telah berbicara langsung dengan para pejabat Iran. Trump mengklaim, mereka memintanya menghentikan serangan terhadap Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/28/a2152307-32ba-4f43-8b0b-20957da34bc0_jpg.jpg)
Namun, Teheran menyangkal klaim Trump itu. Menurut mereka, tidak ada pejabat Iran yang berkomunikasi dengan AS secara langsung. ”Klaim palsu Trump bahwa pejabat Iran menghubunginya adalah kedok untuk menghindari perang dengan Iran,” kata pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya itu.
Situasi Teluk saat ini kembali memanas. Berbagai media Iran melaporkan terjadinya ledakan di seluruh wilayah Iran dekat Selat Hormuz, seperti Qeshm, Kargan, dan Sirik.
Sebelumnya, Selasa lalu, AS membombardir pertahanan udara, radar, dan situs lain milik Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengisyaratkan AS masih akan menyerang terus sampai tiga hari.
Serangan hari kedua AS terjadi beberapa jam setelah Bahrain, Kuwait, dan Jordania—yang semuanya menampung pasukan AS—diserang oleh Iran. Bahrain mencegat rudal Iran, sementara Jordania menembak jatuh lima rudal. Kuwait juga melakukan hal yang sama. Serangan AS terjadi setelah helikopter Apache milik AS rontok karena bertabrakan dengan drone Iran.
Trump bersumpah menghantam Iran dengan keras. Serangan itu, kata Trump, untuk menekan Iran agar mau segera menyepakati perundingan perdamaian. Trump dikabarkan jengkel karena para perunding Iran dianggap mempermainkan AS.
”Kami menghantam mereka dengan keras kemarin. Kami akan hantam mereka keras lagi hari ini. Kami sudah hampir mencapai kesepakatan, tetapi mereka mengulur waktu terus,” kata Trump.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menolak ancaman Trump, dengan mengatakan tidak ada kesepakatan berkelanjutan yang dapat dicapai melalui ancaman, intimidasi, atau penggunaan kekerasan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam serangan AS sebagai pelanggaran kedaulatan Iran. Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan negara-negara tetangganya agar tidak membiarkan AS atau Israel menggunakan wilayah mereka untuk serangan.
Eskalasi serangan ini memicu seruan internasional untuk menahan diri menjelang Piala Dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan agar tidak kembali ke ”perang penuh”.
Di sisi lain, meski situasi memanas, upaya diplomasi belum sepenuhnya bubar. Para perunding dari Qatar kembali berdialog dengan Iran untuk menjembatani perbedaan AS-Iran. Terkait hal itu, Iravani mendesak AS untuk menahan diri. Ia menegaskan, Iran tidak mau berunding di bawah ancaman dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan atau ancaman.
Iran sudah membuktikan ketahanan mereka. Meski diserang terus selama berminggu-minggu, Iran mampu bertahan. Iran bertaruh bahwa kemampuannya untuk menutup Selat Hormuz akan memberikannya kartu tawar yang kuat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/aeae3011cfa856b47bd6fe251a43ccd7-wires_photo.jpg)
Untuk mendukung kebijakannya di Teluk dan global, Trump berencana bertemu dengan para eksekutif dari kontraktor pertahanan terbesar AS di Gedung Putih paling cepat minggu depan. Mereka akan membahas percepatan produksi karena serangan AS terhadap Iran dan operasi militer lainnya mengurangi pasokan persenjataan AS. Perang dengan Iran dan pasokan yang dikirim ke Ukraina dalam beberapa tahun terakhir telah mengurangi persediaan senjata AS.
Pertemuan ini merupakan pertemuan kedua antara Trump dan petinggi perusahaan senjata AS. Pada pertemuan Maret lalu, CEO dan pejabat lainnya dari BAE Systems, Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX Corporation, Boeing, Honeywell Aerospace, dan L3Harris Technologies bertemu dengan Hegseth.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/f798163dfcb952f50f2d60bb5978604d-20260409_H01_KID_Gencatan_Senjata_Perang_mumed.jpg)
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan, militer AS punya amunisi, peluru, dan persediaan yang lebih dari cukup untuk melayani semua tujuan strategis Trump. Trump sudah mendesak kontraktor pertahanan AS untuk terus memproduksi lebih banyak senjata buatan AS. Pertemuan dengan para produsen persenjataan ini terjadi ketika para negosiator Pentagon mendesak para kontraktor bergerak lebih cepat.
Sudah ada perjanjian produksi pada awal tahun ini, termasuk kesepakatan multitahun dengan Lockheed Martin untuk melipatgandakan produksi PAC-3, rudal yang digunakan sistem pertahanan udara Patriot. Lockheed Martin juga diminta untuk melipatgandakan produksi rudal untuk sistem THAAD.
Kesepakatan multitahun terpisah dengan RTX juga digenjot untuk menambah stok rudal jelajah Tomahawk dan rudal udara ke udara AMRAAM. Namun, kesepakatan tersebut belum menjadi kontrak. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan