AS terus berupaya meredam gejolak harga minyak dunia akibat perangnya dengan Iran. AS meminta bantuan sejumlah negara untuk membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran.
16 Mar 2026 21:00 WIB · Internasional
AFP/SAHAR AL ATTAR
WASHINGTON, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah ”terdesak”. Ia meminta sekutu-sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO untuk membantu membuka blokade Selat Hormuz oleh Iran. Pada saat yang sama, ia juga meminta bantuan serupa dari China.
Trump memperingatkan, NATO bakal menghadapi masa depan yang sangat buruk jika tidak membantunya membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Menanggapi desakan Trump, Pemerintah Jerman, Senin (16/3/2026), menyatakan, perang di Timur Tengah yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran tidak ada hubungannya dengan NATO dan bukan perang NATO.
”NATO adalah aliansi untuk pertahanan wilayah dan mandat untuk mengerahkan NATO tidak ada dalam situasi saat ini,” kata Stefan Kornelius, juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers rutin.
Negara anggota NATO lainnya, Inggris, juga menyatakan Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran. Meski demikian, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Senin, mengatakan, Inggris tetap akan bekerja sama dengan negara-negara sekutu dalam rencana kolektif ”yang layak” untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan sedang bekerja sama dengan berbagai negara mitra di Eropa dan Asia mengenai kemungkinan misi internasional untuk mengawal kapal melalui selat tersebut. Macron menekankan, hal itu harus dilakukan ketika keadaan memungkinkan, yakni saat pertempuran telah mereda.
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran memicu penutupan Selat Hormuz. Banyak kapal pengangkut minyak dan gas yang tertahan di perairan dan tidak bisa melintas. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga lebih dari 40 persen. Pada Senin, harga minyak mentah sekitar 100 dolar AS per barel.
Seiring melonjaknya harga minyak, pemerintahan Trump mesti mempertimbangkan opsi baru. Salah satunya gagasan yang diungkapkan akhir pekan ini agar sejumlah negara bergabung untuk membuka Selat Hormuz dengan kapal perang mereka sendiri.
Sejumlah negara, antara lain Jepang dan Australia, tidak bersedia mengerahkan armada mereka ke Timur Tengah. Beberapa negara, di antaranya Korea Selatan, memilih bersikap hati-hati.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/623e1474-ac0c-40c8-9402-a4322b56c6a2_jpg.jpg)
Trump juga tengah mempertimbangkan untuk membentuk koalisi internasional untuk membantunya menjaga Selat Hormuz. Koalisi itu direncanakan terdiri atas negara-negara yang bergantung pada minyak mentah Timur Tengah.
”Sangat tepat jika negara-negara yang diuntungkan dari selat ini membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana,” kata Trump kepada Financial Times di atas pesawat Air Force One saat terbang kembali ke Washington dari Florida, Minggu.
Akan tetapi, merujuk Times of Israel, negara-negara yang disebut bergantung pada minyak Timur Tengah belum memberikan janji untuk bergabung dalam koalisi itu.
Trump juga meminta bantuan China dengan alasan China mendapatkan sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Sementara AS hanya mendapatkan minyak sedikit.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada NBC, ia sudah berkomunikasi dengan beberapa negara yang disebutkan Trump. Untuk China, ia mengharapkan China akan menjadi mitra yang konstruktif dalam membuka kembali selat itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/14/4cce5f77-4c86-422b-927c-fa7c4da24b2c_jpg.jpg)
Juru bicara Kedutaan Besar China untuk AS, Liu Pengyu, mengatakan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat. ”China akan memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk deeskalasi,” katanya.
Situasi terkini di Timur Tengah membuat Trump bisa saja menunda pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Direncanakan mereka akan bertemu pada akhir Maret.
”Kami ingin tahu sebelum perjalanan tersebut apakah Beijing akan membantu. Kami mungkin akan menunda,” kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times, Minggu.
Pembatalan kunjungan dan agenda pertemuan Trump dengan Xi dapat memiliki konsekuensi ekonomi besar. Hubungan antara Washington dan Beijing sudah tegang setelah kedua belah pihak saling mengancam dengan tarif tinggi selama setahun terakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/13/21ff7e96-593c-4b8b-8b2f-6edbd9dd20b9_jpg.jpg)
Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Senin, mengatakan, keputusan Trump tentang apakah akan menunda pertemuan puncak di China tidak bergantung pada respons Beijing terhadap permintaan bantuan dalam membuka Selat Hormuz. Bessent bertemu dengan koleganya dari China di Paris, Perancis, dan mengatakan pertemuan berjalan dengan baik.
Ia mengatakan, perjalanan presiden ke luar negeri mungkin tidak optimal selama konflik militer dengan Iran. ”Kita akan melihat apakah kunjungan tersebut berlangsung sesuai jadwal. Namun, yang ingin saya tegaskan, dan ada narasi yang salah di luar sana, bahwa jika pertemuan ditunda, itu tidak akan ditunda karena presiden menuntut agar China menjaga Selat Hormuz,” kata Bessent kepada CNBC.
”Jika pertemuan tersebut karena alasan tertentu dijadwal ulang, itu akan dijadwal ulang karena masalah logistik. Presiden ingin tetap berada di (Washaington) DC untuk mengoordinasikan upaya perang, dan bepergian ke luar negeri pada saat seperti ini mungkin tidak optimal,” imbuhnya.
Di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian hanya mengatakan bahwa China dan AS terus mempertahankan komunikasi mengenai kunjungan Trump. ”Diplomasi kepala negara memainkan peran panduan strategis yang tak tergantikan dalam hubungan China-AS,” kata Lin dalam pengarahan harian.
Lin tidak menjawab langsung pertanyaan tentang seruan Trump untuk membantu di Selat Hormuz. Ia mengulangi seruan pemerintahnya untuk mengakhiri pertempuran.
”China sekali lagi menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan aksi militer, menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut, dan mencegah ketidakstabilan di kawasan tersebut berdampak lebih besar pada pembangunan ekonomi global,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/14/91ef08fc-d550-4a67-bed1-0bc07204b895_jpg.jpg)
Di tengah gejolak harga energi, Badan Energi Internasional (IEA) segera mengalirkan cadangan minyak darurat ke pasar global. Sebanyak 412 juta barel minyak akan dialirkan ke pasar global. Jepang telah mulai melepas cadangan minyaknya pada Senin. Cadangan dari Eropa dan Amerika akan dilepaskan mulai akhir Maret.
Menyikapi pentingnya Selat Hormuz, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada CBS mengatakan, Teheran telah didekati oleh sejumlah negara yang mencari jalur aman untuk kapal mereka. ”Hal ini terserah militer kami untuk memutuskan,” katanya.
Ia menambahkan, sekelompok kapal dari berbagai negara telah diizinkan untuk lewat Selat Hormuz. Namun, Araghchi tidak memberikan penjelasan secara detail. Iran mengatakan, selat itu terbuka untuk semua, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto