Jika temuan ini benar, peristiwa ini menandai eskalasi perang. Sebelumnya, AS mengecam penggunaan bom tandan oleh Iran, tetapi sekarang diduga menggunakannya.
29 Mar 2026 08:30 WIB · Internasional
Kompas/irene sarwindaningrum
Amerika Serikat diduga menebar ranjau bom tandan yang telah dilarang traktat internasional di Iran. Ledakan dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan melukai beberapa orang lainnya.
Laporan ini dihimpun dari media-media Iran, media investigatif independen Bellingcat, serta diberitakan The Washington Post, dan The New York Times, Sabtu (28/3/2026). Dugaan itu bermula dari temuan paket peledak di perdesaan dekat kota pusat rudal Iran, Shiraz.
Warga setempat menyebutnya mirip tuna kalengan yang meledak saat diangkat. Paket-paket ini dijatuhkan dari pesawat setelah serangan udara AS-Israel. Dalam tayangan Youtube jurnalis independen Kanada, Dimitri Lascaris, di lokasi, terlihat bentuknya kotak hijau seukuran kotak nasi.
”Ada dua yang dijatuhkan semalam. Satu meledak di udara, satunya meledak saat diangkat. Orang yang mengangkat itu tewas,” kata seorang warga Iran dalam tayangan di Desa Kafari yang diambil pada Kamis (26/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/44253a1a4c9059fd0e18fede04e8fef1-Screenshot_20260328_130450_YouTube.jpg)
Menurut warga, seorang perempuan tewas di Kafari menjadi korban ledakan. Salah satu paket itu meledak saat ia sedang memasak di dapurnya. Seorang pria lain kehilangan tangan dan kaki setelah mengangkat benda itu. Warga desa lalu berusaha meledakkan sendiri beberapa paket yang berhasil ditemukan tanpa bantuan militer.
Menurut mereka, radius ledakan paket itu sekitar 40 meter. Warga menandai rumah warga di mana benda ditemukan dengan cat merah. ”Beberapa terkubur di tanah, sulit ditemukan semua, jadi sangat berbahaya,” kata warga.
Dari pemeriksaan geolokasi yang dilakukan Bellingcat di Desa Kafari, sedikitnya tiga ranjau terlihat sekitar 2 kilometer dari pintu masuk Pangkalan Rudal Shiraz Selatan. Belum diketahui jumlah ranjau yang tersebar.
Beberapa terkubur di tanah, sulit ditemukan semua, jadi sangat berbahaya.
Media Iran, Fars, melaporkan, paket-paket peledak itu dijatuhkan setelah serangan pesawat Israel-Amerika Serikat ke area permukiman di Shiraz. Adapun kantor berita Iran, Mehr dan Tasnim, memperingatkan warga agar menjauhi kaleng logam apa pun yang bentuknya aneh, cacat, atau tidak biasa.
Dugaan kuat bahwa paket udara itu dijatuhkan AS didasarkan pada penilaian setidaknya tiga ahli senjata. Paket-paket peledak itu dinilai mirip ranjau antitank sebar udara jenis BLU-91/B buatan AS. Sejauh ini, ranjau yang dijuluki ”Gator” ini hanya dimiliki AS.
Ranjau BLU-91 dirancang untuk meledak ketika sensor magnetiknya mendeteksi kendaraan melintas. Ranjau itu dirancang meledak di bagian bawah tank.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/db25b20f4dc81cbd012467375b4f4575-Screenshot_20260328_130319_YouTube.jpg)
Direktur lembaga riset persenjataan Armament Research Services NR Jenzen-Jones mengatakan, foto-foto paket peledak tampak sebagai ranjau darat antitank sebar BLU-91/B buatan AS. Ranjau BLU-91/B disebarkan dari bom kargo CBU-78/B atau CBU-89/B yang dijatuhkan dari udara.
Sistem ini termasuk munisi tandan yang melepaskan banyak ranjau sekaligus. ”Ada adaptor aeroballistic berbentuk persegi, menunjukkan ranjau itu dikirim lewat udara,” kata Jenzen-Jones, seperti dikutip dari Bellingcat.
Ketua Tim Senjata di lembaga analisis pertahanan Janes, Amael Kotlarski, juga mengidentifikasi benda itu sebagai ranjau antitank BLU-91/B Gator. Ia menjelaskan, BLU-92/B merupakan ranjau antipersonel yang mirip dengan BLU-91/B. Ranjau itu akan meledak jika mengalami pergerakan.
Penjelasan itu sejalan dengan laporan warga Desa Kafari bahwa seorang pria tewas ketika mengangkat salah satu benda tersebut di dekat mobilnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/25/2b88e260-5b3e-460f-9800-1d86cb456284.jpg)
Menurut Kotlarski, ranjau BLU-91/B diketahui dilepaskan dari bom tandan milik Angkatan Udara atau Angkatan Laut AS. Bom itu membawa campuran ranjau antitank BLU-91/B dan ranjau antipersonel BLU-92/B.
Sistem Gator adalah sistem peluncur dari udara atau bom kargo yang menyebarkan ranjau ke suatu area. Ranjau itu dibundel bersama dalam bom tandan seberat 500 pon (sekitar 227 kilogram) yang pecah di udara. Setelah pecah, sistem itu lalu menebarkan munisi dan membentuk ladang ranjau seketika. Ranjau-ranjau itu dapat tersebar di area sekitar 200 meter kali 650 meter.
Ranjau BLU-91/B dan BLU-92/B aktif dua menit setelah diaktifkan. Keduanya juga memiliki fitur penghancur diri dengan jeda waktu bervariasi. Selain meledak karena gangguan, sistem ini juga dapat meledak sendiri dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah disebarkan. Pengaturan penghancur diri itu dapat disetel untuk 4 jam, 48 jam, atau 15 hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/17/2620d712-2354-4993-8055-4a718d53a070.jpg)
Penyelidik senjata Amnesty International, Brian Castner, mengingatkan bahwa senjata ini berbahaya bagi warga sipil. ”Meskipun ranjau darat ini dimaksudkan untuk menarget kendaraan lapis baja, senjata itu tetap bisa sangat berbahaya bagi warga sipil,” katanya, dikutip dari The Washington Post.
Jika temuan ini benar, peristiwa ini menandai eskalasi perang oleh AS yang jarang terjadi. Bellingcat, The New York Times, ataupun The Washington Post berusaha meminta konfirmasi militer AS. Namun, tak ada tanggapan, baik dari Departemen Pertahanan AS maupun Komando Pusat AS.
Sebelumnya, AS mengecam penggunaan bom tandan oleh Iran dalam membalas serangan AS-Israel. Pada 16 Maret, Panglima Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper merilis video yang mengecam serangan Iran ke Tel Aviv yang menurutnya menggunakan bom tandan. Ia menyebut senjata itu sebagai jenis munisi yang tak pandang bulu. Namun, tak disebut adanya korban jiwa karena bom itu di Tel Aviv.
Sementara itu, pada Sabtu (28/3/2026) Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, telah menemukan dan menjinakkan 120 bom tandan di Provinsi Fars, Iran selatan. Dikutip dari Mehr, Wakil Kepala Humas IRGC di Fars, mengatakan munisi itu dijatuhkan dalam serangan AS dan Israel beberapa hari sebelumnya di Desa Kafari dan wilayah sekitarnya.
Sistem Gator termasuk munisi tandan yang dilarang oleh Konvensi Munisi Tandan 2008. Konvensi ini telah diratifikasi 112 negara. Namun, AS, Iran, dan Israel tak masuk dalam traktat itu.
Munisi tandan dilarang karena melepaskan ranjau yang berbahaya bagi warga sipil, bahkan setelah perang selesai. Sistem ini menebarkan submunisi peledak di area luas yang sulit dibatasi dampaknya.
Namun, traktat itu mulai dilanggar. Pada Maret 2025, Lituania secara resmi keluar dari Konvensi Munisi Tandan dengan alasan ancaman dari Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/3b6e70af595d09cba4a58b8736f18e7a-9571085.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/24/57041169dac757e4e18c3219ddf80eea-20260324_NNN_Pengungsi_Iran_mumed.png)
Pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden pernah mentransfer munisi tandan dalam jumlah besar ke Ukraina untuk perang melawan Rusia. The New York Times melaporkan, satu-satunya perang yang melibatkan AS langsung dan diketahui pernah menggunakan ranjau Gator adalah Perang Teluk 1991. Saat itu, lebih dari 1.300 bom Gator dijatuhkan AS dan melepaskan sekitar 116.000 ranjau di Kuwait dan Irak.
Adapun penggunaan terakhir ranjau antipersonel oleh AS, menurut The Washington Post, terjadi hanya satu kali di Afghanistan pada 2002, yaitu saat evakuasi dari Kabul.
Hingga 2020, Angkatan Udara AS masih memiliki hampir 8.800 bom tandan Gator dalam inventarisnya, sementara Angkatan Laut AS memiliki sedikit di atas 1.000.
Sejarah menunjukkan, senjata ini dapat meleset dari sasaran. Ketika dijatuhkan dari ketinggian yang tinggi atau dalam angin kencang selama Perang Teluk, bom Gator sering melenceng jauh dan gagal mengenai sasaran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/11/125102a6-a439-4dbf-a0b4-f00b94488f35.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/d758d2fb6779a08037555201306860ec-wires_photo_1_.jpg)
Setelah perang itu, Pentagon mengembangkan seperangkat sirip ekor untuk membantu mengarahkan bom tandan ke lokasi tertentu dengan sinyal GPS. Sampai kini, belum ada citra dari Iran yang menunjukkan apakah perangkat pemandu itu ditemukan.
Berdasarkan data transfer senjata Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) dan data penjualan senjata utama, sejauh ini tidak ada bukti bahwa ranjau-ranjau itu pernah ditransfer AS ke Israel. Hal ini memperkuat indikasi mengarah ke AS.
Jenzen-Jones menduga, ranjau antitank sebar itu mungkin digunakan untuk menutup akses kendaraan ke kota rudal Iran. Kemungkinan dimaksudkan untuk mempersulit pergerakan peluncur. ”Ini bisa mencegah kendaraan peluncur rudal bergerak TEL keluar, dan membatasi upaya memulihkan akses ke fasilitas, misalnya dengan mencegah ekskavator beroperasi di pintu masuk yang runtuh,” katanya.
Sejauh ini belum jelas apakah ranjau itu sebenarnya diarahkan ke situs rudal balistik Iran tetapi jatuh jauh dari sasaran, atau memang ditujukan ke lokasi di desa itu.
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Nur Hidayati