TEHERAN, KAMIS — Amerika Serikat di bawah Donald Trump harus membayar mahal kesepakatan damai dengan Iran. Teheran pun harus membayar tak kalah sedikit.
Secara terpisah di Perancis dan Iran, kesepakatan sementara untuk perdamaian AS-Iran diteken pada Rabu (17/6/2026). Trump menandatangani di Istana Versailles, Perancis, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken di Teheran.
Pezeshkian menunjukkan naskah kesepakatan dalam bahasa Persia, sementara Trump tak menunjukkan bahasa apa di dokumen yang ditekennya.
Selanjutnya, tim teknis AS-Iran dijadwalkan berunding di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan, sanggraloka di Buergenstock akan jadi lokasi perundingan.
Sejumlah politisi di AS marah terkait dengan kesepakatan AS-Iran. Mereka menyebut, pemerintahan Trump menghabiskan miliaran dolar AS tanpa mendapatkan apa-apa.
Dalam laporan pada Mei 2026, Departemen Pertahanan AS membenarkan biaya perang setidaknya 29 miliar dolar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak merinci biaya itu. Hal yang jelas, AS harus menembakkan ribuan rudal dan bom untuk menyerang Iran.
Washington juga kehilangan aneka peralatan perang dan pendukung pertahanan senilai miliaran dolar AS. Selain aneka pesawat dan helikopter, sejumlah radar AS juga dihancurkan Iran. Butuh banyak dana dan waktu untuk memproduksi ulang persenjataan itu.
Bagi banyak pihak, tak satu pun target atau batasan AS tercapai setelah kesepakatan diteken pada Rabu. Sejak bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, AS menetapkan sejumlah target dan batasan.
AS mau mengganti pemerintahan di Iran. AS juga mau menghancurkan kemampuan nuklir dan rudal Iran. Selain itu, AS menolak mencabut sanksi ekonomi kalau Iran tak melucuti nuklir dan rudalnya.
Dalam ulasan pada Kamis (18/6/2026), Bloomberg menuliskan bahwa Trump harus mengesampingkan aneka batasan yang ditetapkannya soal Iran demi mencapai kesepakatan itu.
Sejak mengeluarkan AS dari Kesepakatan Nuklir (JCPOA) pada 2018, Trump berkeras program nuklir dan rudal Iran harus dilucuti. Iran juga harus berhenti menyokong kelompok bersenjata di kawasan.
Selepas meneken kesepakatan perdamaian, ia menyebut tidak adil jika Iran dilarang memiliki rudal kala negara lain di kawasan punya. ”Mereka harus punya karena orang lain juga punya,” kata Trump soal rudal Iran.
Soal nuklir malah masih akan dibicarakan. Padahal, ia berulang kali menyebut Barack Obama berunding dengan buruk sehingga Kesepakatan Nuklir 2015 diteken.
Batasan lain soal pengurangan sanksi ke Iran. Menurun naskah yang dibacakan pejabat AS, Iran bisa mendapatkan investasi serta pencairan atas aset mereka yang dibekukan AS serta sekutunya.
Awalnya, Trump sama sekali tak mau mengendurkan sanksi kalau Iran tak mau program rudal dan nuklirnya dilucuti. Belakangan, ia menyebutkan bahwa uang yang diserahkan kepada Teheran memang milik Iran.
”Bukan uang kami, itu uang mereka dan kita membekukan itu beberapa waktu. Saya pikir kami akan mengembalikan itu. Kalau kita tidak mengembalikan, tidak ada yang berinvetasi pada dolar lagi,” katanya.
Selama ini, AS menyanksi beberapa negara dengan cara melarang penggunaan kliring dolar AS. Larangan itu membuat transaksi tidak bisa dilakukan kalau pembayaran dalam dolar AS.
Menanggapi itu, semakin banyak negara dan pihak mengupayakan alternatif. China mendorong perluasan penggunaan yuan, sementara euro semakin meningkat penggunaannya. Sejumlah pihak di AS khawatir, peran dolar AS sebagai alat transaksi akan tergerus.
Bukan cuma AS harus memberikan konsesi demi mencapai kesepakatan. Banyak infrastruktur militer dan sipil Iran hancur akibat serangan AS-Israel.
Iran juga kehilangan banyak warga dan pemimpin. Korban serangan AS termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan para jenderal Iran.
Selepas Ali Khamenei tewas pada 28 Februari 2026, Iran berjanji akan berperang habis-habisan untuk membalas. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sejumlah politisi Iran serta para pendukungnya mendesak agar Teheran tidak berdamai dengan Washington.
Unjuk rasa berulang kali digelar di depan kantor Kementerian Luar Negeri Iran karena Kemenlu Iran jadi salah satu perunding utama Iran. Meski meminta mempertahankan kepentingan nasional, Pezeshkian meminta Menlu Iran Abbas Araghchi terus berunding dengan AS.
Israel tersingkir
Israel menjadi pihak yang terkait, tetapi tidak dilibatkan dalam perundingan. Menurut peneliti Chatham House, Yossi Mekelberg, porsi Israel akan ditentukan AS. Ia mencatat, Trump berulang kali menunjukkan kemarahan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
”Semua orang melihat dalam 2,5 tahun terakhir dan Israel mengerahkan kekuatan maksimum tanpa hasil menentukan. Hasil ditentukan tanpa Israel dilibatkan dalam perundingan,” ujarnya.
Israel jelas tak akan banyak dilibatkan dalam perundingan lanjutan AS-Iran. ”Pada dasarnya, akan didikte oleh pemerintahan Trump,” ujarnya.
Ia mencatat, begitu banyak kemarahan di Israel atas keputusan Trump bersepakat dengan Iran. Apalagi, berbagai tujuan AS-Israel menyerang Iran tak tercapai.
Peneliti pada American University of Beirut, Rami Khouri, mengatakan bahwa Israel akan menjadi ganjalan serius perdamaian itu. Dalam naskah kesepakatan AS-Iran disebutkan, pertempuran di semua palagan harus dihentikan. Menurut Iran, hal itu berlaku untuk Lebanon yang sedang diduduki Israel.
Para petinggi Israel berkeras tak mau menarik pasukan dari Lebanon. Bahkan, pada Kamis dini hari, Israel melanjutkan gempuran ke Lebanon. ”AS satu-satunya kekuatan yang bisa memaksa Israel mengubah kebijakannya,” kata Khouri kepada Aljazeera.
Ia meyakini, walau akan butuh waktu lama, Trump pada akhirnya akan mendesak Israel soal Lebanon. Sebab, Trump bertindak rasional dan strategis. ”Trump paham, Iran sangat serius dan punya kemampuan,” katanya.
Ia mengingatkan, AS-Israel tak pernah menghadapi perlawanan sengit sekaligus dari Iran, Hizbullah, dan Houthi. Meski tiga hal itu berakar pada syiah, hampir semua komunitas Muslim global mendukung mereka. Sebab, mereka menjadi lambang perlawanan terhadap zionis dan pendukungnya. (AP/AFP/REUTERS)
TEHERAN, KAMIS — Amerika Serikat di bawah Donald Trump harus membayar mahal kesepakatan damai dengan Iran. Teheran pun harus membayar tak kalah sedikit.
Secara terpisah di Perancis dan Iran, kesepakatan sementara untuk perdamaian AS-Iran diteken pada Rabu (17/6/2026). Trump menandatangani di Istana Versailles, Perancis, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken di Teheran.
Pezeshkian menunjukkan naskah kesepakatan dalam bahasa Persia, sementara Trump tak menunjukkan bahasa apa di dokumen yang ditekennya.
Serial Artikel
AS-Iran Telah Teken Kesepakatan Sementara Perdamaian
AS-Iran meneken MoU 14 poin untuk membuka Hormuz dan menghentikan perang. Iran dinilai memperoleh banyak keuntungan. Sementara Trump belum mencapai tujuannya.
Selanjutnya, tim teknis AS-Iran dijadwalkan berunding di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan, sanggraloka di Buergenstock akan jadi lokasi perundingan.
Sejumlah politisi di AS marah terkait dengan kesepakatan AS-Iran. Mereka menyebut, pemerintahan Trump menghabiskan miliaran dolar AS tanpa mendapatkan apa-apa.
Dalam laporan pada Mei 2026, Departemen Pertahanan AS membenarkan biaya perang setidaknya 29 miliar dolar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak merinci biaya itu. Hal yang jelas, AS harus menembakkan ribuan rudal dan bom untuk menyerang Iran.
Washington juga kehilangan aneka peralatan perang dan pendukung pertahanan senilai miliaran dolar AS. Selain aneka pesawat dan helikopter, sejumlah radar AS juga dihancurkan Iran. Butuh banyak dana dan waktu untuk memproduksi ulang persenjataan itu.
Bagi banyak pihak, tak satu pun target atau batasan AS tercapai setelah kesepakatan diteken pada Rabu. Sejak bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, AS menetapkan sejumlah target dan batasan.
AS mau mengganti pemerintahan di Iran. AS juga mau menghancurkan kemampuan nuklir dan rudal Iran. Selain itu, AS menolak mencabut sanksi ekonomi kalau Iran tak melucuti nuklir dan rudalnya.
Dalam ulasan pada Kamis (18/6/2026), Bloomberg menuliskan bahwa Trump harus mengesampingkan aneka batasan yang ditetapkannya soal Iran demi mencapai kesepakatan itu.
Sejak mengeluarkan AS dari Kesepakatan Nuklir (JCPOA) pada 2018, Trump berkeras program nuklir dan rudal Iran harus dilucuti. Iran juga harus berhenti menyokong kelompok bersenjata di kawasan.
Selepas meneken kesepakatan perdamaian, ia menyebut tidak adil jika Iran dilarang memiliki rudal kala negara lain di kawasan punya. ”Mereka harus punya karena orang lain juga punya,” kata Trump soal rudal Iran.
Serial Artikel
Trump Isyaratkan Serangan Lanjutan ke Iran
Setelah menambah pesawat pengebom dan kapal induk dekat Iran, AS mengancam menyerang Iran.
Soal nuklir malah masih akan dibicarakan. Padahal, ia berulang kali menyebut Barack Obama berunding dengan buruk sehingga Kesepakatan Nuklir 2015 diteken.
Batasan lain soal pengurangan sanksi ke Iran. Menurun naskah yang dibacakan pejabat AS, Iran bisa mendapatkan investasi serta pencairan atas aset mereka yang dibekukan AS serta sekutunya.
Awalnya, Trump sama sekali tak mau mengendurkan sanksi kalau Iran tak mau program rudal dan nuklirnya dilucuti. Belakangan, ia menyebutkan bahwa uang yang diserahkan kepada Teheran memang milik Iran.
”Bukan uang kami, itu uang mereka dan kita membekukan itu beberapa waktu. Saya pikir kami akan mengembalikan itu. Kalau kita tidak mengembalikan, tidak ada yang berinvetasi pada dolar lagi,” katanya.
Selama ini, AS menyanksi beberapa negara dengan cara melarang penggunaan kliring dolar AS. Larangan itu membuat transaksi tidak bisa dilakukan kalau pembayaran dalam dolar AS.
Menanggapi itu, semakin banyak negara dan pihak mengupayakan alternatif. China mendorong perluasan penggunaan yuan, sementara euro semakin meningkat penggunaannya. Sejumlah pihak di AS khawatir, peran dolar AS sebagai alat transaksi akan tergerus.
Bukan cuma AS harus memberikan konsesi demi mencapai kesepakatan. Banyak infrastruktur militer dan sipil Iran hancur akibat serangan AS-Israel.
Iran juga kehilangan banyak warga dan pemimpin. Korban serangan AS termasuk Ayatollah Ali Khamenei dan para jenderal Iran.
Selepas Ali Khamenei tewas pada 28 Februari 2026, Iran berjanji akan berperang habis-habisan untuk membalas. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sejumlah politisi Iran serta para pendukungnya mendesak agar Teheran tidak berdamai dengan Washington.
Unjuk rasa berulang kali digelar di depan kantor Kementerian Luar Negeri Iran karena Kemenlu Iran jadi salah satu perunding utama Iran. Meski meminta mempertahankan kepentingan nasional, Pezeshkian meminta Menlu Iran Abbas Araghchi terus berunding dengan AS.
Serial Artikel
Serangan Israel ke Lebanon Terus Ganjal Kesepakatan AS-Iran
Isu Lebanon dan sanksi Iran jadi ganjalan penuntasan perundingan AS-Iran. Isu nuklir akan dibahas di putaran terpisah.
Israel menjadi pihak yang terkait, tetapi tidak dilibatkan dalam perundingan. Menurut peneliti Chatham House, Yossi Mekelberg, porsi Israel akan ditentukan AS. Ia mencatat, Trump berulang kali menunjukkan kemarahan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
”Semua orang melihat dalam 2,5 tahun terakhir dan Israel mengerahkan kekuatan maksimum tanpa hasil menentukan. Hasil ditentukan tanpa Israel dilibatkan dalam perundingan,” ujarnya.
Israel jelas tak akan banyak dilibatkan dalam perundingan lanjutan AS-Iran. ”Pada dasarnya, akan didikte oleh pemerintahan Trump,” ujarnya.
Ia mencatat, begitu banyak kemarahan di Israel atas keputusan Trump bersepakat dengan Iran. Apalagi, berbagai tujuan AS-Israel menyerang Iran tak tercapai.
Peneliti pada American University of Beirut, Rami Khouri, mengatakan bahwa Israel akan menjadi ganjalan serius perdamaian itu. Dalam naskah kesepakatan AS-Iran disebutkan, pertempuran di semua palagan harus dihentikan. Menurut Iran, hal itu berlaku untuk Lebanon yang sedang diduduki Israel.
Para petinggi Israel berkeras tak mau menarik pasukan dari Lebanon. Bahkan, pada Kamis dini hari, Israel melanjutkan gempuran ke Lebanon. ”AS satu-satunya kekuatan yang bisa memaksa Israel mengubah kebijakannya,” kata Khouri kepada Aljazeera.
Ia meyakini, walau akan butuh waktu lama, Trump pada akhirnya akan mendesak Israel soal Lebanon. Sebab, Trump bertindak rasional dan strategis. ”Trump paham, Iran sangat serius dan punya kemampuan,” katanya.
Ia mengingatkan, AS-Israel tak pernah menghadapi perlawanan sengit sekaligus dari Iran, Hizbullah, dan Houthi. Meski tiga hal itu berakar pada syiah, hampir semua komunitas Muslim global mendukung mereka. Sebab, mereka menjadi lambang perlawanan terhadap zionis dan pendukungnya. (AP/AFP/REUTERS)