Trump diberi tahu kala pesawat Israel sudah hampir mencapai Qatar. Oleh karena itu, AS tak bisa mencegah serangan Israel ke Qatar.
10 Sep 2025 06:37 WIB · Internasional
DOHA, RABU — Amerika Serikat menjaga jarak dari serangan Israel ke Qatar. Serangan pada Selasa (9/9/2025) itu adalah agresi satu sekutu AS kepada sekutu AS lain.
Dosen Kajian Keamanan Internasional pada King’s College London, Rob Geist Pinfold, mengatakan bahwa AS tak mau membahas serangan pada Selasa itu. Apalagi, serangan itu gagal membunuh para petinggi Hamas. ”Mereka (AS) mau menjauhkan diri dari ini,” katanya kepada Al Jazeera.
Para petinggi Hamas sedang berkumpul di Doha, Qatar, pada Selasa untuk membahas usulan gencatan senjata yang disampaikan Presiden AS Donald Trump. Sebagian peserta rapat datang dari Turki. AS menanti kabar dari pertemuan itu.
Media AS, Axios, melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan itu. Militer Israel, Tzahal, dan badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, mendukung penuh serangan itu. Doha menyebut, Israel menggunakan pesawat nirawak dalam serangan itu.
Trump, menurut Axios, diberi tahu kala pesawat Israel sudah hampir mencapai Qatar. Oleh karena itu, AS tak bisa mencegahnya.
Utusan Khusus Netanyahu, Ron Dermer, sudah tahu rencana itu kala bertemu Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, pada Senin. Walakin, Dermer tak membahas itu dengan Witkoff.
”Ini keputusan dibuat Perdana Menteri Netanyahu. Itu bukan keputusan saya. Secara sepihak mengebom bangsa berdaulat dan sekutu dekat AS, yang bekerja amat keras dan mengambil risiko besar dengan kita untuk mendorong perdamaian, tidak sesuai kepentingan Israel atau Amerika,” tulis Trump di media sosial.
Ia juga mengklaim memerintahkan Witkoff mengabari Qatar soal rencana serangan itu. Sayangnya, peringatan itu terlambat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/09/d6e481449cdb921ed5b2eafcf9a104b4-Qatar_Israel_Hamas.jpg)
Kantor PM Israel juga menyatakan, serangan itu sepenuhnya keputusan Israel. ”Israel menggagasnya, Israel melaksanakannya, dan Israel bertanggung jawab penuh,” demikian pernyataan itu.
PM sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menolak kabar Doha diberi tahu Washington soal serangan itu. ”Tidak diketahui sampai terjadi,” katanya.
Juru Bicara Kemenlu Qatar Majed al-Ansari juga menyangkal AS mengabari Qatar soal serangan itu. ”Telepon dari pejabat AS datang di kala terdengar suara ledakan akibat serangan Israel ke Doha,” katanya.
Hamas menyebut, AS bertanggung jawab dalam serangan itu. Sebab, AS terus mendukung penuh Israel.
Serangan Israel dilancarkan tak jauh dari Pangkalan Udara Al-Udeid. Pangkalan itu merupakan markas operasi terbesar Angkatan Udara AS di kawasan. Juni 2025, Qatar berusaha melindungi pangkalan itu dari serangan pembalasan Iran. Teheran membalas setelah diserang AS-Israel.
Direktur Eksekutif Arab Center Khalil Jahshan mengatakan bahwa AS jelas akan dipandang terlibat dalam serangan ke Qatar. Ia mengingatkan, pada 2022, Qatar ditetapkan AS sebagai sekutu.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan status itu menunjukkan penghormatan mendalam dan simbol yang kuat. ”Kalau status itu tetap membuat bisa diserang sekutu AS dengan lampu hijau dri AS, maka, bagi saya, lebih baik tak punya teman seperti itu,” kata pemimpin lembaga kajian di AS tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/94c3152d-5dcc-4e82-a44e-3817e3879572_png.png)
Serangan itu akan membuat negara-negara Arab, khususnya yang baru menormalisasi hubungan dengan Israel, tertekan. ”Jika mereka mengizinkan salah satu dari mereka menjadi target serangan, mereka semua akan jadi sasaran di masa depan,” lanjutnya.
Qatar sudah bertahun-tahun memosisikan diri sebagai sahabat Barat di kawasan. Doha bisa menjadi jembatan antara Barat dan kelompok yang dianggap Barat sebagai musuh. Hal itu termasuk Hamas dan Taliban.
Mantan Wakil Duta Besar AS di Yaman Nabeel Khoury mengatakan, serangan itu membahayakan kepentingan AS di kawasan. ”Saya tidak melihat siapa pun, khusus di dunia Arab, akan terus berurusan dengan AS,” katanya. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan