PERANG

AS Mulai Menyerang Pulau Kharg dan Fasilitas Sipil di Iran

Serangan terjadi sebelum tenggat yang ditetapkan AS berlalu. Mereka menyerang jalur kereta, jalan tol, jembatan, hingga permukiman.

07 Apr 2026 19:28 WIB · Internasional

AFP

Oleh Fransisca Romana Ninik W

WASHINGTON, SELASA — Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target di Pulau Kharg, Iran. Sejumlah fasilitas, seperti jalur kereta, jembatan, jalan tol, dan permukiman, di Iran juga dilaporkan terkena serangan. Serangan terjadi sebelum tenggat yang ditetapkan AS berlalu.

Media Axios, Selasa (7/4/2026), melaporkan serangan di Pulau Kharg dengan mengutip pejabat senior AS yang tidak disebutkan identitasnya. Kharg sangat penting bagi Iran karena selama ini menjadi salah satu pelabuhan utama ekspor minyak mentahnya.

Bulan Sabit Iran melaporkan serangan terhadap jalur kereta di Karaj dan Qavzin. Sementara sebuah proyektil dilaporkan menghantam bangunan tempat tinggal di kota Shahriar, menewaskan 9 orang dan melukai 15 orang.

Para pejabat Iran melaporkan kerusakan pada setidaknya dua jembatan, infrastruktur kereta, dan jalan tol utama pada Selasa, akibat gelombang serangan udara AS. Sebuah jembatan di dekat kota suci Qom dan jembatan di pusat kota Kashan hancur. Kantor berita IRNA mengutip keterangan pejabat keamanan regional, Akbar Salehi, yang menyebutkan, 2 orang tewas dan 3 orang terluka di Kashan akibat serangan itu.

Kanal Telegram milik Garda Revolusi Iran juga menyebutkan, serangan AS menghantam sebuah jembatan layang. Adapun menurut kantor berita ISNA, terjadi pemadaman listrik di sebagian kota Karaj dan Fardis di luar ibu kota Teheran setelah jalur transmisi listrik dan gardu induk rusak akibat serangan udara.

Seiring berbagai laporan kerusakan akibat serangan pada fasilitas sipil di Iran, militer Israel menyatakan telah menyelesaikan gelombang besar serangan yang menargetkan ”situs infrastruktur”, tanpa memberikan detail.

Iranian firefighters with the help of an excavator clear rubble from a destroyed residential building in northern Tehran on March 23, 2026. A series of strong explosions were heard on March 23, in the Iranian capital, an AFP journalist said, as the war with the United States and Israel raged for its fourth week. On February 28, Israel and the United States launched strikes on Iran killing its supreme leader and triggering a war that spread across the Middle East and unleashed chaos across global markets and sent oil prices soaring. (Photo by AFP) /

Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran kecuali Iran setuju untuk menghentikan serangan dan membuka blokade di Selat Hormuz. Ia memberi tenggat pada Selasa pukul 20.00 waktu AS atau Rabu (8/4/2026) pagi waktu Indonesia. Namun, serangan telah dimulai sebelum tenggat berakhir.

”Seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah dibangkitkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi. Mungkin sesuatu yang revolusioner dan luar biasa dapat terjadi, siapa tahu? Kita akan mengetahuinya malam ini,” kata Trump tentang serangan terbaru ini.

Sebelum serangan, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memperingatkan akan membalas ke wilayah jauh di luar Timur Tengah. Mereka juga mengancam akan merampas minyak dan gas dari AS dan sekutunya jika melanggar ”garis merah”.

”Garda Revolusi sekali lagi menyatakan, jika tentara Amerika melanggar garis merah, respons kami akan melampaui wilayah ini,” sebut pernyataan IRGC.

Infografik Selat Hormuz yang Strategis

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa mitra regional AS harus tahu bahwa Iran telah ”menahan diri” demi hubungan bertetangga yang baik dan punya keberatan dalam memilih target pembalasan. ”Tetapi semua keberatan ini telah dihilangkan,” lanjut IRGC.

Sementara Qatar, Selasa, memperingatkan, perang di Timur Tengah hampir mencapai ambang batas di mana perang tidak dapat dikendalikan setelah ultimatum Trump.

”Kami telah memperingatkan sejak 2023 bahwa eskalasi yang tidak terkendali akan membawa kita ke situasi perang tidak dapat dikendalikan, dan kita sangat dekat dengan titik itu, dan inilah mengapa kami mendesak semua pihak untuk menemukan solusi, cara mengakhiri perang ini sebelum terlambat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan