Mata-mata AS Gagal Bujuk Pilot Culik Presiden Venezuela

Segala cara dipakai AS untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.  Upaya putus asa membujuk pilot pribadi Maduro pun dilakoni.

29 Okt 2025 12:30 WIB · Internasional

AP

Oleh Luki Aulia

Saat bertugas di Dominika, agen investigasi keamanan dalam negeri Amerika Serikat, Edwin Lopez, coba membujuk Bitner Villegas. Tujuannya, menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Villegas adalah pilot pesawat Kepresidenan Venezuela. Ia kolonel di pasukan pengawal presiden Venezuela. Kisahnya diulas Associated Press dalam laporan pada Selasa (28/10/2025).

Laporan disusun berdasarkan wawancara dengan tiga pejabat AS, baik masih aktif maupun pensiunan, serta salah satu lawan Maduro. Semua tak mau disebut namanya.

Lopez mencoba peruntungan menangkap Maduro lewat Villegas. Selama bertahun-tahun, AS mencoba segala cara untuk menangkap Kepala Negara Venezuela itu. Operasi ini mengungkap betapa nekatnya—dan sering kali caranya asal-asalan—upaya AS selama bertahun-tahun untuk menggulingkan Maduro.

Kisah Lopez dan Villegas ini memiliki semua elemen thriller mata-mata Perang Dingin, mulai dari pesawat jet pribadi mewah, pertemuan rahasia di hanggar bandara, diplomasi berisiko tinggi, dan pendekatan halus terhadap orang-orang penting Maduro.

Rincian rencana ini muncul seiring meningkatnya tekanan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Maduro. Trump mengerahkan pasukanAngkatan Laut AS ke Karibia dan menggandakan hadiah untuk penangkapan Maduro menjadi sebesar 50 juta dollar AS.

Pada 2020, Maduro didakwa AS telah bersalah atas tuduhan narkotika-terorisme dan membanjiri AS dengan kokain. AS menuding Maduro menghancurkan demokrasi Venezuela dan menyediakan tempat berlindung bagi para pengedar narkoba, kelompok teroris, dan Kuba.

This handout picture released by the Venezuelan Presidency shows Venezuela's President Nicolas Maduro gesturing during an official TV show in Caracas on October 27, 2025. Venezuelan President Nicolas Maduro on October 27, announced he had suspended an energy agreement with Trinidad and Tobago in response to the neighboring island nation's welcoming of a US warship. (Photo by Handout / Venezuelan Presidency / AFP)

Upaya nekat Lopez (50) berawal ketika mendapat informasi dua pesawat jet pribadi mewah Maduro di Dominika untuk perbaikan. Kedua pesawat itu—Dassault Falcon 2000EX dan Dassault Falcon 900EX—sering dipakai Maduro keliling dunia, termasuk ke Iran, Kuba, dan Rusia.

Lopez mengetahui bahwa perawatan apa pun kemungkinan besar merupakan pelanggaran pidana, menurut hukum AS. Sebab, perawatan melibatkan pembelian suku cadang dari AS. Pembelian itu dilarang menurut sanksi AS ke Venezuela.

Kedua pesawat itu bisa disita karena melanggar sanksi. Saat selesai diperbaiki di hanggar Bandara La Isabela di Santo Domingo, ada lima delegasi personel Angkatan Udara Venezuela yang mengambilnya. Lopez punya izin untuk berbicara dengan pilot-pilotnya.

Lopez lalu punya ide memanfaatkan para pilot. Hal itu mengingat melacak keberadaan Maduro bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Ada cara yang lebih cepat. Pada Mei 2024, di salah hanggar bandara eksekutif di Santo Domingo, Lopez mengajukan penawaran ke Villegas: Alihkan penerbangan Maduro ke tempat ia bisa ditangkap oleh otoritas AS.

Lokasi pertemuan bisa dipilih oleh pilot. Bisa di Republik Dominika, Puerto Riko, atau pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba. Sebagai imbalannya, Villegas akan menjadi orang kaya raya dan dianggap sebagai pahlawan oleh rakyat Venezuela.

Bujukan berkhianat

Villegas digambarkan sebagai sosok yang ramah, pendiam, dan dipercaya Maduro. Ketika berbicara dengan Lopez selama 15 menit, Villegas mulai tegang dan kakinya mulai gemetar.

Lopez bertanya lebih tajam: Apakah Villegas pernah menerbangkan Hugo Chávez atau Maduro? Villegas awalnya mencoba menghindari pertanyaan, tetapi akhirnya mengakui ia pernah menjadi pilot untuk keduanya.

Villegas menunjukkan kepada agen-agen foto-foto di ponselnya. Foto itu memperlihatkan dirinya dan kedua presiden tersebut dalam berbagai perjalanan.

Ia juga memberikan detail tentang instalasi militer Venezuela yang pernah dikunjunginya. Tanpa sepengetahuan Villegas, salah satu rekan Lopez merekam percakapan tersebut di ponsel.

Villegas tidak memberi jawaban pada penawaran Lopez. Ia hanya memberi nomor teleponnya kepada Lopez.

Ini ditangkap Lopez sebagai tanda mungkin tertarik membantu AS. Selama 16 bulan selanjutnya, bahkan setelah pensiun pada Juli lalu, Lopez masih terus mengobrol dan membujuk Villegas melalui aplikasi pesan terenkripsi.

This combination of images obtained from 2025 documents released by the U.S. District Court for the Southern District of Florida, shows a Dassault Falcon 900 EX, with the tail number T7-ESPRT, that was seized in Santo Domingo, Dominican Republic, at the request of the United States in May 2024, top, and a Dassault Falcon 2000EX, with the tail number YV3360, seized in Santo Domingo at the request of the United States in February 2025, bottom. (U.S. District Court for the Southern District of Florida via AP)

Dalam pesannya pada 7 Agustus 2025, Lopez menuliskan pesan: ”Saya masih menunggu jawaban Anda”. Lopez melampirkan tautan siaran pers Departemen Kehakiman AS tentang hadiah penangkapan Maduro yang naik jadi 50 juta dollar AS.

Beberapa hari kemudian, Lopez kirim pesan lagi: ”Masih ada waktu untuk jadi pahlawan Venezuela dan berada di sisi sejarah yang benar”.

Lopez pernah berhasil memberantas geng narkoba, pencucian uang, dan penipu. Ia juga pernah membongkar operasi penukaran uang ilegal di Miami dan pernah mendapat teguran publik pada 2010 dari pendahulu Maduro, Hugo Chavez.

Karena keberhasilannya itu, ia dipercaya memimpin investigasi jaringan kriminal transnasional di Karibia. Namun, untuk tugas kali ini tidak mudah. Maduro menindak keras siapa pun yang menentangnya.

Sejak menjabat pada 2013, Maduro menindas aksi protes secara brutal. Banyak orang ditangkap bahkan sekutu-sekutunya dipenjarakan. Mereka dicurigai mengkhianati dirinya.

Meski begitu, Lopez tak putus asa. Pesan-pesan teks di Whatsapp dan Telegram belasan kali dikirimkan dan berbalas. Namun, percakapan mereka tampaknya tidak menghasilkan apa-apa.

Janji setia

Karena putus asa, Lopez mencoba membujuk Villegas untuk terakhir kalinya. Ia menyebut nama ketiga anak Villegas dan masa depan lebih baik yang katanya menanti mereka di AS.

”Waktu untuk mengambil keputusan semakin dekat. Sebentar lagi akan terlambat,” tulis Lopez. Tak ada balasan dari Villegas. Nomor telepon Lopez pun sudah diblokir.

Ketika Villegas menolak Lopez, sekutu oposisi Venezuela berkampanye daring untuk menebar kecurigaan tentang loyalitas Villegas. Mantan pejabat keamanan nasional AS, Marshall Billingslea, sudah mengolok-olok Maduro selama berminggu-minggu.

FILE - President Nicolas Maduro flashes victory signs during Indigenous Day in Caracas, Venezuela, Oct 12, 2025. (AP Photo/Ariana Cubillos, File)

Pada ulang tahun ke-48 Villegas, ia mengunggah pesan ulang tahun yang mengejek di media sosial. Ia menyertakan foto-foto Villegas sedang duduk di sofa kulit merah di hanggar pesawat di Dominika. Di sana Villegas bertemu Lopez.

Ada juga foto resmi AU Venezuela dengan bintang emas yang menunjukkan pangkat baru Villegas sebagai jenderal. Unggahan Billingslea dipublikasikan pada pukul 15.01, semenit sebelum pesawat Airbus lain yang dikenai sanksi dan diketahui pernah diterbangkan Maduro lepas landas dari bandara Caracas. Sekitar 20 menit kemudian, pesawat itu tiba-tiba kembali ke bandara.

Ucapan selamat ulang tahun yang dilihat sekitar 3 juta orang itu menggemparkan media sosial Venezuela. Para penentang Maduro berspekulasi Villegas diperintahkan untuk kembali guna menghadapi interogasi.

Orang lain bertanya-tanya apakah ia akan dipenjara. Tak seorang pun melihat atau mendengar kabar dari Villegas selama berhari-hari.

Namun, pada 24 September, Villegas muncul kembali dengan mengenakan seragam penerbang AU dalam salah satu acara populer di televisi. Acara itu dipandu Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello.

Cabello menertawakan anggapan bahwa militer Venezuela dapat disuap. Sambil bercanda tentang kesetiaan Villegas, Cabello menyebut Villegas sebagai patriot yang tangguh dan pantang menyerah. Villegas lalu berdiri diam sambil mengangkat tangannya yang terkepal sebagai tanda kesetiannya. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan