Memilih pemain yang cocok pada waktu yang tepat adalah keterampilan terselubung Claudio Ranieri. Berkat naluri jitunya, Roma melaju ke perempat final Liga Europa.
07 Mar 2025 11:09 WIB · Olahraga
ROMA, JUMAT — Setelah sekian lama hilang, Claudio Ranieri memunculkan kembali bakat lamanya. Pelatih AS Roma itu punya semacam indra keenam dalam melihat potensi seorang pemain. Keputusannya memasukkan Eldor Shomurodov dan Alexis Saelemaekers di babak kedua saat membekap Athletic Bilbao, 2-1, membuka jalan Roma menuju perempat final Liga Europa.
Shomurodov pada akhirnya keluar sebagai pahlawan kemenangan di Stadion Olimpico, Roma, Jumat (7/3/2025) dini hari WIB. Saat laga seperti akan berakhir dengan hasil imbang, sepakan Shomurodov sukses membawa ”I Giallorossi” membalikkan ketertinggalan.
Gol kemenangan Roma tidak akan lahir tanpa keputusan Ranieri memainkan Shomurodov dan Saelemaekers. Kedua pemain pengganti itu melakukan kombinasi yang mampu menembus pertahanan Bilbao.
Saya mencoba meningkatkan kemampuan pemain di mana saya melihat bahwa mereka perlu meningkatkan kemampuan. Tetapi, mereka harus bebas bermain dengan cara yang mereka tahu untuk maju dan membantu tim.
Alih-alih mempertahankan Artem Dovbyk dan Paulo Dybala, Ranieri justru melakukan pergantian pemain yang membuat seisi stadion bingung. Pelatih berusia 78 tahun itu memasukkan Shomurodov dan Saelemaekers. Waktu kemudian menjawab bahwa keputusan memainkan kedua pemain itu adalah jitu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/bb4150cad394c3e6060ffbfd6bf62f36-FBL_EUR_C3_ROMA_ATHLETIC_BILBAO_128030803.jpg)
Ranieri mengungkapkan, dirinya selalu berusaha memberikan kepercayaan kepada seluruh pemain. Itu sebabnya dia tidak terpaku pada pemain tertentu. Baginya setiap pemain punya potensi unik. Tugas pelatih adalah menemukan potensi itu dan mengeluarkannya pada saat yang tepat. Dalam sebuah wawancara, Ranieri pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki pemain yang bisa mengubah hasil akhir.
”Saya mencoba meningkatkan kemampuan pemain di mana saya melihat bahwa mereka perlu meningkatkan kemampuan. Tetapi, mereka harus bebas bermain dengan cara yang mereka tahu untuk maju dan membantu tim. Saya memberi mereka pedoman dan petunjuk. Kami menganalisis lawan dan bekerja untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk menimbulkan masalah bagi lawan,” kata Ranieri seusai laga.
Sejak dulu, Ranieri memang dikenal punya naluri istimewa dalam mencium bakat seorang pemain. Naluri Ranieri ini terkuak, salah satunya, saat ia memutuskan membeli N’Golo Kante saat masih menangani Leicester City. Dari dua pilihan pemain untuk mengisi pos lini tengah, Ranieri lebih memilih Kante daripada Jordy Clasie.
Berkat naluri tersebut, Leicester akhirnya mengukir sejarah menjuarai Liga Inggris untuk pertama kalinya. Kante menjelma sebagai gelandang bertahan terbaik kala itu. Kemampuannya dalam membaca arah serangan dan memenangi duel membuat lini pertahanan Leicester tidak mudah terekspos.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/9ffe6061271d3ca9fb0ff1a260f7bc72-FBL_EUR_C3_ROMA_ATHLETIC_BILBAO_128032189.jpg)
Ranieri seakan memiliki sentuhan yang mampu membuat pemain mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di Roma, ia meningkatkan performa bek kanan Zeki Celik. Sebelum Ranieri mengambil alih kursi pelatih Roma pada November 2024, Celik kesulitan tampil bagus.
Di tangan Ranieri, Celik menjadi lebih hidup. Saat menghadapi Bilbao pun manuver Celik beberapa kali menyulitkan lawan. Dalam situasi tertinggal akibat gol Inaki Williams, Celik bergerak naik hingga mendekati jantung pertahanan Bilbao lalu mengirim umpan silang yang mampu dikonversi menjadi gol oleh Angelino.
Pada babak pertama, Roma mendominasi penguasaan bola tetapi sulit menciptakan peluang berbahaya. Ranieri menerapkan formasi 3-4-2-1 dengan Artem Dovbyk berperan sebagai penyerang tunggal. Ia disokong dua trequartista, Paulo Dybala dan Tommaso Baldanzi.
Walau mengemban tugas sebagai penyerang, Dovbyk lebih sering menjadi pemantul bola kepada Dybala dan Baldanzi. Skema serangan Roma dimulai dengan bola panjang ke arah Dovbyk. Dengan tubuh tinggi besarnya, Dovbyk sangat mudah memenangi duel perebutan bola. Bola kemudian dipantulkan kepada Baldanzi atau Dybala.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/d4601857d65fc1efd56aacae2ffe10cc-Italy_Soccer_Europa_League_128029057.jpg)
Beberapa peluang Roma tercipta dari situasi tersebut. Namun belum ada yang benar-benar mengancam gawang Julen Agirrezabala karena kemampuan penyelesaian akhir yang buruk. Ketidakmampuan Roma dalam memanfaatkan peluang serta dukungan dari puluhan ribu pendukung berubah petaka saat Williams membawa Bilbao unggul lebih dulu.
”Saya pikir seperti biasa, mereka yang masuk di babak kedua bermain sangat baik. Mereka mengubah permainan. Kami mencetak gol di akhir dan kami membutuhkannya karena kami menyia-nyiakan banyak peluang. Sekarang kami ingin menang,” kata Baldanzi.
Kemenangan atas Bilbao melanjutkan laju Roma yang sedang dalam tren positif bersama Ranieri. Dengan kemenangan ini, Roma belum terkalahkan dalam tujuh laga terakhir.
Meski menang, Roma belum bisa larut dalam pesta. Mereka akan mendapat ujian berat di markas Bilbao yang sekaligus menjadi arena final Liga Europa musim ini, Stadion San Mames. Di sanalah Roma akan kembali membutuhkan naluri jitu nan klasik dari Ranieri. (AFP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari