AS Tetap Optimistis Jadi Penengah Rusia-Ukraina

Seusai pertemuan Trump-Putin, belum ada kemajuan dalam penyelesaian perang Rusia-Ukraina. Namun, AS tetap yakin dapat memediasi Rusia-Ukraina.

25 Agt 2025 16:15 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

NEW YORK, SENIN — Penyelesaian perang Rusia-Ukraina masih buntu sejak pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada pertengahan Agustus. Namun, Wakil Presiden AS JD Vance tetap optimistis AS dapat memediasi Rusia-Ukraina untuk mengakhiri perang.

Optimisme disampaikan Vance dalam wawancara eksklusif dengan NBC News bertajuk ”Meet the Press” yang ditayangkan pada Minggu (24/8/2025) malam waktu setempat atau Senin pagi waktu Indonesia. ”Kami yakin telah melihat beberapa konsesi signifikan dari kedua belah pihak dalam beberapa minggu terakhir,” kata Vance.

Keyakinan Vance berkaitan dengan hasil pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan sejumlah pemimpin Eropa dengan Trump di Gedung Putih, 18 Agustus. Mereka bertemu setelah pertemuan Trump-Putin di Alaska. Pertemuan di Alaska yang dimaksudkan untuk merundingkan cara mengakhiri perang di Ukraina, tetapi tidak mencapai hasil apa pun.

Dalam pertemuan di Gedung Putih, Zelenskyy dan para pemimpin Eropa mendesak Trump agar bersikap tegas terhadap Putin. Mereka membahas usulan Trump untuk pertemuan bilateral Putin-Zelenskyy, diikuti pertemuan trilateral bersama Trump. Hal lain tentang jaminan keamanan bagi Ukraina dan rencana gencatan senjata.

Namun, di medan perang, serangan terus terjadi. Rusia meluncurkan rudal ke Ukraina barat, menghantam pabrik elektronik milik perusahaan AS. Trump telah menyatakan kekecewaannya terhadap serangan itu.

Kendati demikian, dalam wawancara dengan NBC, Vance tidak menyebut serangan itu ataupun sejumlah isu lain sebagai hambatan jangka panjang bagi perdamaian. Vance mengatakan masih banyak ruang untuk negosiasi.

”Pada akhirnya kita akan berhasil atau kita akan menemui jalan buntu. Jika kita menemui jalan buntu, kita akan melanjutkan proses negosiasi ini, menerapkan ’pengungkit’,” ucap Vance.

Vice President JD Vance looks on as President Donald Trump speaks in the Oval Office of the White House, Friday, Aug. 22, 2025, in Washington. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Vance menjelaskan, Trump sudah coba menerapkan pengungkit ekonomi yang agresif untuk menekan Rusia. Trump menjatuhkan tarif sekunder terhadap India karena membeli minyak Rusia. Tarif sekunder itu mempersulit Rusia mendapatkan dana dari minyak.

Vance juga menegaskan kembali penolakan Trump mengirim pasukan darat untuk membantu menegakkan kesepakatan damai. ”Presiden sudah sangat jelas, tidak akan ada pasukan darat di Ukraina,” ujarnya.

Meski begitu, AS akan terus memainkan peran aktif untuk memastikan Ukraina mendapatkan jaminan keamanan. AS juga memberikan keyakinan yang dibutuhkan Ukraina bahwa upaya untuk menghentikan perang ada di pihak mereka. Sementara bagi Rusia, mereka juga akan merasa dapat mengakhiri perang di pihak mereka.

Di Moskwa, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam sebuah wawancara pada Minggu menyatakan, sekelompok negara, termasuk anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), harus menjadi penjamin keamanan Ukraina.

Adapun Zelenskyy di sela-sela upacara peringatan kemerdekaan Ukraina pada Minggu menyerukan kembali pertemuan puncak bilateral dengan Putin. Seruan itu ia sampaikan setelah harapan perdamaian Rusia-Ukraina meredup ketika Rusia pada Jumat menolak pertemuan langsung Putin-Zelenskyy.

”Format perundingan antarpemimpin adalah cara paling efektif untuk maju,” kata Zelenskyy.

Dalam program ”Meet the Press” yang sama, kritikus utama Trump dari Partai Demokrat, Senator AS Adam Schiff, menggambarkan KTT Trump-Putin sebagai kegagalan. Menurut dia, hal itu memungkinkan Putin lolos tanpa gencatan senjata dan ancaman sanksi berkurang.

”Jadi, mereka (Rusia) berhasil menipunya,” kata Schiff. Ia yakin perundingan damai telah mandek.

Schiff juga mengecam pengeboman Rusia pekan lalu pada pabrik milik AS di Ukraina. Ia menyebut tindakan Rusia provokatif dan terang-terangan terhadap Trump. Sementara Trump hanya menunjukkan sedikit kemarahan atas insiden tersebut dengan mengatakan, ia tidak senang dengan pengeboman itu.

WASHINGTON, DC - AUGUST 22: U.S. President Donald Trump talks with Vice President JD Vance in the Oval Office August 22, 2025 in Washington, DC. Trump announced the FIFA World Cup 2026 draw will take place at The Kennedy Center. Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Merebut wilayah Ukraina

Rusia juga awal pekan ini kembali merebut wilayah Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia pada Minggu mengatakan, pasukan Rusia merebut Desa Filia di wilayah Dnipropetrovsk.

Filia bukan satu dari empat wilayah yang dianeksasi Rusia secara ilegal tujuh bulan setelah menginvasi Ukraina. Ukraina tidak mengakui Filia telah berpindah tangan. Namun, Moskwa menyatakan telah memasuki wilayah Dnipropetrovsk.

Pada saat yang sama, komandan tertinggi Ukraina mengatakan, pasukannya memperoleh kemajuan di tempat lain dengan merebut kembali tiga desa di wilayah Donetsk timur. Panglima Ukraina Oleksandr Syrskyi menulis di Telegram bahwa pasukan Ukraina telah merebut kembali Desa Mykhailivka, Zelenyi Hai, dan Volodymyrivka.

Pasukan Ukraina terus mendesak untuk merebut kembali desa-desa di wilayah Donetsk. Wilayah Donetsk merupakan titik fokus serangan Rusia. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul