Seruan Yunus untuk memulangkan pengungsi Rohingya dianggap sebagai salah satu solusi permasalahan panjang Rohingya.
22 Mar 2025 09:33 WIB · Foto
Penjabat PM Bangladesh Muhammad Yunus, dalam pesannya pada Hari Internasional untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial, Jumat (21/3/2025), mendesak negara-negara mengambil sikap menentang diskriminasi rasial dan menyerukan ”tindakan konkret” untuk memulangkan pengungsi Rohingya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/824a16f8-e968-49f9-8129-827d7fde5722_jpg.jpg)
Yunus mengatakan bahwa penderitaan Rohingya tetap menjadi contoh mencolok tentang bagaimana diskriminasi rasial memicu krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Salah satu tindakan kongkret yang dimaksud adalah memulangkan pengungsi Rohingya ke Myanmar.
Dia menekankan bahwa situasi pengungsi Rohingya di Bangladesh ingin kembali ke tanah air mereka di Rakhine sesegera mungkin. Selain itu, Yunis juga menyatakan bahwa Rohinya tidak dapat dipertahankan tanpa batas waktu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/37fa4454-ae3e-4c03-954f-b0c3e8663ce1_jpg.jpg)
Bangladesh saat ini menampung lebih dari 1,2 juta Muslim Rohingya di Cox’s Bazar. Sebagian besar mulai melarikan diri dari Myanmar pada Agustus 2017 saat terjadi represi militer. Cox’s Bazar saat ini menjadi permukiman pengungsi terbesar di dunia. Selain di Bangladesh, pengungsi Rohingya juga melarikan diri ke negara-negara lain. Malaysia, Thailand, dan Indonesia menjadi persinggahan pengungsi ini menuju tujuan Australia. Gelombang pengungsi ini datang silih beganti dengan perahu kayu.
Selain pengungsi, banyak juga di antara mereka yang terjebak dalam perdagangan orang. Sindikat ini menawarkan iming-iming kehidupan yang lebih layak, dengan membayar sejumlah uang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 2.800 pengungsi Rohingya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam kunjungan ke kamp pengungsi di Cox’s Bazardi Bangladesh, pekan sebelumnya juga menyatakan keprihatinan yang sama. Cox’s Bazar adalah daerah tempat tinggal sekitar satu juta Muslim Rohingya, yang melarikan diri dari penganiayaan di negara Myanmar.
Guterres juga menyoroti pemotongan bantuan kemanusiaan Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Seruan Yunus ini seakan menjadi harapan baru bagi jutaan pengungsi Rohingya yang tersebar di banyak negara tanpa kewarganegaraan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari