Asa Rumah Sakit di Gaza

Gaza darurat layanan medis setelah perang 21 bulan tak kunjung usai.

12 Jul 2025 12:21 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Tak ada yang istimewa saat melihat foto belasan warga yang duduk di depan bangunan yang lebih mirip tumpukan puing-puing besar di Gaza itu. Mereka layaknya penduduk biasa yang menikmati sore, melihat pemandangan indah sambil bersyukur akan karunia yang indah. 

Satu-satunya yang menarik mata adalah perban dan luka-luka yang di tubuhnya. Mereka adalah penduduk Gaza, yang karena keterbatasan tempat, terpaksa antre mendapatkan perawatan medis di lorong-lorong bangunan hancur yang dulunya sebuah kota yang indah.

Sementara lorong di dalam bangunan Rumah Sakit Shifa telah penuh sesak oleh orang sakit. Beberapa di antara mereka bahkan tergeletak di lantai, sebagian yang lebih beruntung berbaring di ranjang dengan selimut kucel.

Wadih Ghaben, 11, seorang pengungsi Palestina dengan luka tembak, berbaring di kasur di luar ruang operasi khusus di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.

Satu-satunya bagian bangunan yang tampak berbeda adalah ruang tindakan operasi. Lampu dan tembok ruangan itu mencerminkan rumah sakit pada umumnya. Di dalamnya terlihat beberapa dokter yang sedang mengambil tindakan, tentu dengan segala keterbatasan akibat perang.

Rumah Sakit Shifa dulunya merupakan tulang punggung sistem kesehatan di Jalur Gaza. Kini, setelah 21 bulan dilanda perang, rumah sakit ini setidaknya telah dua kali mendapat serangan bersenjata Israel. Rumah sakit ini nyaris tak berfungsi.

Pasien mendaftar untuk perawatan di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Seorang perawat merawat orang yang terluka di dalam gudang yang dibangun di halaman Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.
Anggota staf medis di Rumah Sakit Shifa beristirahat di ruangan yang juga digunakan untuk mensterilkan peralatan bedah, di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Seorang pasien tanpa pendamping berbaring di lantai Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.
Dokter Abeer Al-Gharbawi melakukan operasi yang diterangi oleh senter dua ponsel selama pemadaman listrik di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Wadih Ghaben (11), pengungsi Palestina dengan luka tembak, berbaring di kasur di luar ruang operasi khusus di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.

Hari itu dan hari-hari sebelumnya, koridor-koridornya selalu dipenuhi orang-orang yang terluka akibat serangan Israel, kamar mayatnya penuh dengan jenazah. Dokter dan perawat melakukan operasi dalam kondisi yang buruk, sering kali mereka terpaksa bekerja di bawah cahaya ponsel. Pasien yang lain antre menunggu giliran. Sebuah tenda dibangun di samping yang ruang perawatan dialisis yang hancur karena serangan udara Israel. 

Israel, yang menuduh Hamas berlindung di balik kegiatan rumah sakit, melakukan dua serangan besar di Shifa yang merusak banyak fasilitas medis yang ada. Staf medis membantah tuduhan tersebut, tetapi petugas keamanan Hamas sering terlihat di dalam fasilitas tersebut dan telah menutup sebagian akses publik ke beberapa bagiannya.

Rumah sakit dapat kehilangan status perlindungannya berdasarkan hukum internasional jika digunakan untuk tujuan militer.

Seorang ibu membawa anaknya ke dalam tenda perawatan pasien yang didirikan di halaman Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.

Tentara Israel pertama kali menyerbu Rumah Sakit Shifa pada November 2023. Ini hanya berselang beberapa minggu setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang terbuka kedua pihak. Militer mengatakan, rumah sakit tersebut berfungsi sebagai pusat komando dan kendali utama Hamas, tetapi hanya memberikan sedikit bukti selain sebuah terowongan yang mengarah ke ruang bawah tanah di dekat fasilitas tersebut.

Pada Maret 2024, pasukan Israel kembali menyerang rumah sakit ini yang menurut militer Israel menewaskan 200 anggota Hamas setelah pertempuran berhari-hari. Unit gawat darurat rumah sakit dan sebuah gedung bedah hancur dalam serangan kedua.

Israel mengatakan, pihaknya melakukan segala upaya untuk menghindari korban jiwa warga sipil, termasuk dengan mengevakuasi fasilitas-fasilitas tersebut dan mengirimkan bantuan kepada mereka. Namun, para petugas medis di Gaza mengatakan, serangan-serangan tersebut telah secara sembrono membahayakan pasien dan menghancurkan sistem kesehatan. 

Bangunan utama Rumah Sakit Shifa yang hancur setelah serangan udara dan darat Israel. Rumah sakit memperkirakan 70 persen fasilitas telah hancur, di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Sebuah gudang yang dibangun di halaman Rumah Sakit Shifa penuh sesak dengan pasien di Kota Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.
Staf rumah sakit membawa kotak persediaan di atas tandu melewati pasien yang terluka dan menunggu perawatan di Kota Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.
Dokter Ashraf al-Bayya dan timnya melakukan operasi pada pasien yang disebabkan oleh serangan Israel di ruang operasi dengan listrik yang tidak stabil di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Seorang anggota staf medis berdoa di ruangan yang dipakai untuk mensterilkan peralatan bedah, yang juga berfungsi sebagai ruang istirahat dan doa untuk dokter dan staf, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Seorang pasien dan kerabatnya duduk di halaman Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Jumat, 4 Juli 2025.
Perawat bangsal darurat beristirahat di sebuah ruangan setelah merawat pasien di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Minggu, 6 Juli 2025.

Kini, bekas gudang kini menjadi tempat tinggal pasien. Pasokan peralatan dan obat-obatan menjadi langka akibat blokade Israel. Ini ditambah parah dengan runtuhnya hukum dan ketertiban di wilayah tersebut, yang menyulitkan kelompok-kelompok bantuan untuk mengirimkan pasokan. 

Pemadaman listrik juga menjadi hal rutin karena kekurangan bahan bakar. Sebagian besar staf adalah sukarelawan yang bekerja berjam-jam tanpa bayaran. Beberapa ruangan begitu penuh sesak sehingga pasien berbaring di lantai. Lalat berkerumun di seluruh fasilitas, sebagian karena kurangnya disinfektan.

Gaza tidak hanya darurat kelaparan, lebih parah lagi, Gaza juga darurat medis.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto