Potret Gaza yang mulai didera kelaparan akibat blokade Israel.
16 Mei 2025 08:21 WIB · Foto
Foto tentang Sabhi al-Bursh, pasien rumah sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza, yang terpaksa diberi makan kacang kaleng saat mendapat perawatan sungguh sangat menyentuh rasa. Bagaimana tidak, Sobhi yang kesakitan akibat kehilangan kakinya akibat bom masih menderita kelaparan. Ayahnya berinsiatif membawa makanan kaleng dari rumah. Rumah sakit tempatnya dirawat tidak bisa lagi menyediakan makanan untuk pasien.
Sejak 2 Maret 2025, Israel telah memblokade semua bantuan kemanusiaan yang memasuki wilayah Gaza. Ini dilakukan untuk memberi tekanan akan tuntutan pembebasan semua sandera yang masih ditahan pihak Hamas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/1aaa5e8a-edc2-418a-9dd5-9008cdf1bc4f_jpg.jpg)
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke Israel menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang masih menjadi alasan Israel untuk terus menyerang wikayah Palestina hingga kini. Sebagian besar sandera telah dibebaskan dalam jeda gencatan senjata, tetapi Israel berkeyakinan bahwa Hamas masih menahan 58 sandera dan 23 di antaranya dikatakan masih hidup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/c8dd0a99-3d13-4704-9142-ffeb0fae1661_jpg.jpg)
Pada foto lain tentang penderitaan warga Palestina ini menunjukkan hal yang tak kalah mengenaskan. Foto karya Abdel Kareem Hana ini menunjukkan saat Mona al-Raqab mengangkat baju putranya yang berusia 5 tahun, Osama al-Raqab. Tubuh anak itu kurus kering. Punggungnya tidak rata, dominan tonjolan tulang tanda kelaparan dan malanutrisi akut. Dalam caption-nya tertulis bahwa Osama mengidap fibrosis kistik, penyakit genetik yang menyebabkan lendir di dalam tubuh menjadi kental dan lengket, terutama di paru-paru dan saluran pencernaan.
Lendir yang kental ini dapat menyebabkan penyumbatan, infeksi, dan kerusakan pada organ tubuh. Ini diperburuk dengan kekurangan daging, ikan, dan obat enzim akibat blokade Israel.
Sementara warga Palestina menderita karena kekurangan makanan dan minuman, Israel terus memborbardir wilayah-wilayah di Gaza. Kabar terakhir, Israel menuduh bahwa rumah sakit di Gaza digunakan sebagai pusat operasi Hamas. Itu menyebabkan banyak rumah sakit menjadi sasaran serangan dalam beberapa minggu belakangan. Pasien yang terpaksa mengungsi lengkap dengan ranjang tempat dia dirawat, atau didorong dengan kursi roda dengan infus di tangan menjadi pemandangan yang sering dijumpai di Gaza.
Pemandangan puluhan anak-anak yang berdesakan dengan ratusan orang dewasa untuk memperoleh makanan juga menjadi hal yang biasa ditemui di Gaza dan daerah-daerah lain di wilayah Palestina. Mereka mengacungkan piring kaleng atau panci plastik berharap segera mendapatkan sesuatu untuk mengganjal perut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/a2a2af40-2963-4347-b783-70725f1e605d_jpg.jpg)
Gaza di ambang kelaparan parah. Populasi Gaza yang berjumlah sekitar 2,3 juta orang hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan luar untuk bertahan hidup. Operasi militer Israel yang telah berlangsung selama 19 bulan telah menghapus sebagian besar kapasitas memproduksi makanan sendiri.
Sebuah pernyataan, pada Kamis (15/5/2025), menyebutkan adanya sebuah organisasi kemanusiaan baru yang mendapat dukungan Amerika Serikat untuk mengambil alih pengiriman bantuan kepada warga sipil yang kelaparan di Gaza. Hal ini membuat asa warga Gaza yang didera kelaparan menyala. Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung beberapa veteran mileter AS dikabarkan terlibat dalam organisasi ini.
Jake Wood, Direktur Eksekutif Yayasan Team Rubicon, mengatakan, komitmen untuk memulai operasi dalam beberapa minggu ke depan mengikuti diskusi dengan pejabat Israel. Wood adalah seorang veteran militer AS dan salah satu pendiri kelompok bantuan bencana tersebut.
Wood mengindikasikan bahwa Israel telah mengizinkan yayasan tersebut mengirimkan bantuan. Untuk sementara bantuan dikirim melalui sistem yang ada di Gaza sembari kelompok tersebut membangun lokasi distribusi baru yang diminta Israel untuk distribusi bantuan.
Israel juga telah setuju untuk mengizinkan lebih banyak lokasi dibangun untuk memungkinkan distribusi bantuan di seluruh Gaza. Selain itu, akan dicari cara memberikan bantuan kepada mereka yang kekurangan gizi, cacat karena pertempuran, terlalu tua atau terlalu muda untuk melakukan perjalanan jauh ke salah satu pihak pemberi bantuan, kata pernyataan yayasan tersebut. Yayasan tersebut berada dalam ”tahap akhir” pengumpulan bantuan yang cukup untuk 300 juta makanan dalam 90 hari pertama beroperasi, tulis Wood.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/b62f0d29-95fc-4db7-9e35-8f115548e2bd_jpg.jpg)
Berita ini menjadi asa baru bagi warga Gaza yang mulai didera kelaparan, pun masih hanya sebatas kabar.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .