Jelang penampilan Asian Games kedua, Desak Made Rita menghadapi perasaan gugup yang lebih besar dibandingkan saat debutnya. Kematangannya akan jadi penentu.
28 Sep 2026 17:48 WIB · Olahraga
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Tiga tahun lalu, di Asian Games Hangzhou 2022, Desak Made Rita Kusuma Dewi hanya membawa beban sebagai tulang punggung keluarga. Sekarang, beban itu naik berkali-kali lipat karena dia kembali ke ajang yang sama dengan ekspektasi medali emas dari seluruh warga Indonesia.
Bukan lagi debutan, pemanjat tebing andalan Indonesia itu kini berstatus juara bertahan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Desak adalah satu-satunya pemanjat ”Merah Putih” yang meraih emas di Hangzhou. Dengan fakta itu dan progres tiga tahun terakhir, wajar jika dia menjadi tumpuan.
Asian Games kedua semestinya terasa lebih mudah bagi Desak. Ibarat pendaki gunung, dia sudah memahami jalur untuk bisa menggapai puncak. Apalagi, pengalamannya sudah mencapai level tertinggi dengan tampil di Olimpiade. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kalau sudah manjat, Desak sudah enggak tahu lawan, apalagi penonton. Walaupun (ada yang) teriak, saat manjat sudah enggak kedengaran. Lebih karena kencang ngomong di dalam diri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/20/d060bde7-3239-44dd-8ddc-e2f07d33d796.jpg)
Desak justru merasa lebih gugup kali ini. ”Karena sebelumnya sudah pernah ngerasain Asian Games, nanti kayak gini venue-nya, auranya pastinya bakalan seperti ini. Dari sekarang jadi mulai ngontrol itu, malahan lebih deg-degan kalau sudah pernah,” ujar perempuan asal Bali itu.
Desak berkata, saat debut tiga tahun lalu, pengalamannya di ajang multicabang hanyalah sebatas Pekan Olaharga Nasional. Karena itu, dia tidak punya gambaran soal seberapa besar Asian Games. Sang pemanjat pun hanya fokus mempersiapkan diri, khususnya soal teknis keberangkatan.
Sekarang, atlet 25 tahun itu sudah memahami betul rasa manis dan pahit dari penampilan di ajang multicabang. Dia pernah berjaya ketika Asian Games Hangzhou dan terluka saat Olimpiade Paris 2024. Desak menyadari, pertarungan nanti akan sangat berarti bagi dirinya, demi Indonesia.
Rasa gugup itu bukan disebabkan hambatan mental, justru sebaliknya. Desak gugup karena membawa tanggung jawab lebih besar dan dia berambisi untuk menuntaskan itu. Wajar jika dirinya overthinking sebab Desak selalu total saat berhubungan soal panjat tebing dan Merah Putih.
Pengalaman tidak akan berbohong. Desak boleh saja merasa lebih gugup, tetapi dia tahu cara mengantisipasi itu setelah segudang ajang yang dilalui. ”Harus pintar ngelola pikiran, ngelola tekanan. Mulai menstabilkan kondisi emosi di proses latihan. Masih meditasi (juga),” ujar Desak.
”Kalau sudah di venue, ngomong ke diri sendiri, ’ya bisa fokus ya’. Paling ini ya, ikhlas saja, berikan yang terbaik. Kalau sudah manjat, Desak sudah enggak tahu lawan, apalagi penonton. Walaupun (ada yang) teriak, saat manjat sudah enggak kedengaran. Lebih karena kencang ngomong di dalam diri,” lanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/06/56cba31a-5d8b-44d2-aabe-655f62223fd8.jpg)
Kesiapan pikiran menjadi yang terpenting bagi Desak untuk mempertahankan emas. Di atas kertas, dia merupakan unggulan teratas dalam nomor speed putri. Adapun Desak baru saja memecahkan rekor Asia di Kejuaraan Asia Meishan 2026, April lalu, dengan catatan 6,07 detik.
Desak juga datang ke Asian Games dengan banyak pencapaian positif di tahun ini. Selain bersinar di Kejuaraan Asia, dia juga berhasil memenangi Piala Dunia Krakow dan Chamonix. Di latihan, pada awal tahun, dia bahkan sudah berhasil mencapai catatan waktu di bawah enam detik.
Menurut pelatih tim panjat tebing Indonesia disiplin speed, Fitriyani, tidak sulit untuk mengeluarkan potensi terbaik Desak. ”Dia sebenarnya cuma butuh dipeluk kadang, dikuatin gitu. Aku selalu bilang, ’Kalau kamu bisa 6,1 detik lewat berarti aman.’ Sebab, pemanjat China dan lain-lain masih 6,3 detik,” katanya.
Desak akan memulai perjalanan mempertahankan emas dalam babak kualifikasi di Portmesse Nagoya Exhibition Hall 1, Nagoya, Jepang, Selasa (29/9/2026) pukul 10.30 WIB. Adapun perebutan medali baru akan berlangsung sehari setelah kualifikasi, Rabu malam.
Tim Indonesia mengirimkan total empat pemanjat untuk bertarung di Nagoya. Desak didampingi Berthdigna Devi Surya Kusuma di kategori putri. Sementara itu, peraih emas Olimpiade Paris, Veddriq Leonardo, akan turun bersama Aditya Tri Syahria di kategori putra.
Perbedaan paling kentara di Asian Games kali ini adalah penggunaan empat jalur pemanjatan, dari sebelumnya hanya dua. Artinya, empat pemanjat akan berlomba sekaligus dalam satu waktu. Tantangan para pemanjat akan bertambah karena harus menghadapi lebih dari satu lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/29/51c411ea-14c1-4c9d-8cf8-520439acfe4d.jpg)
Meskipun berbeda dari edisi lalu, Desak tidak akan bermasalah dengan format baru tersebut. Format itu digunakan pertama kali dalam seri Piala Dunia di Krakow, Juli lalu. Desak merupakan pemenang dalam ajang tersebut. Adapun tim Indonesia juga terbiasa berlatih dengan empat jalur di pemusatan latihan nasional.
Soal capaian di Asian Games, Desak mengaku belum puas dengan satu emas. Sebab, tujuannya lebih besar dari itu. ”Enggak ada puasnya untuk prestasi. Aku mau menjaga motivasi. Apalagi, mau Olimpiade kan target utamanya. Ini sebagai batu loncatan ke Olimpiade,” tuturnya.
Jadi, cukup nikmati saja penampilan pemanjat kebanggaan Indonesia itu di Asian Games kedua dalam kariernya, biarkan Desak yang ”memasak”!
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra