Padel akan debut sebagai cabang olahraga ekshibisi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia siapkan peta jalan prestasi hingga Olimpiade Brisbane 2032.
15 Nov 2025 14:31 WIB · Olahraga
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Padel resmi diakui oleh Dewan Olimpiade Asia (OCA), organisasi olahraga Asia yang menyelenggarakan Asian Games. Pengakuan ini dinilai jadi batu loncatan penting bagi perkembangan padel di Asia, terutama membuka jalur prestasi. Indonesia pun menyiapkan peta jalan prestasi hingga Olimpiade Brisbane 2032.
Federasi Padel Internasional (FIP) dan badan kontinentalnya, Padel Asia, mengumumkan pengakuan OCA pada 10 November 2025. FIP mengklaim, pengakuan juga dibarengi dengan keputusan memasukkan padel sebagai cabang olahraga resmi dalam Asian Games 2026 di Aichi, Nagoya, Jepang dan Asian Beach Games 2026 di Sanya, China.
Pengakuan dan keikutsertaan ini mengikuti langkah serupa yang telah dilakukan di Eropa dengan debut padel di European Games 2023 dan South American Games 2022. Padel juga akan dipertandingkan di Mediterranean Games 2026.
”Kami sangat senang menyambut Federasi Padel Internasional dan Padel Asia secara resmi ke dalam keluarga Dewan Olimpiade Asia. Padel telah menunjukkan pertumbuhan dan energi yang luar biasa di seluruh benua, menginspirasi generasi baru atlet dan penggemar,” kata Direktur Jenderal dan Direktur Teknis OCA Husain Al-Musallam, dalam keterangan resmi FIP.
”Keikutsertaan padel dalam Asian Games mencerminkan komitmen kami untuk merangkul olahraga-olahraga baru yang menyatukan masyarakat dan mewujudkan nilai-nilai Olimpiade, yaitu persahabatan, rasa hormat, dan keunggulan,” ucapnya.

Padel mengalami pertumbuhan pesat di Asia, termasuk Indonesia, dalam dua tahun terakhir. FIP mencatat, pemain amatir padel di Asia sudah mencapai 2,2 juta orang yang tersebar di 30 negara. Lapangan yang tersedia pun hingga 4.600 lapangan di 4.500 klub.
Asia juga baru-baru ini menjadi tuan rumah bagi sejumlah ajang padel bergengsi, termasuk Piala Padel FIP Asia, Piala Dunia FIP di Doha (2021, 2024) dan Dubai (2022), serta 24 turnamen Cupra FIP Tour, 3 ajang Premier Padel, dan 8 turnamen yunior FIP Promises pada tahun 2024 saja.
Padel merupakan olahraga hibrida tenis dan skuas. Permainan ini dirancang untuk dimainkan di lapangan tertutup yang ukurannya sepertiga lapangan tenis. Lapangan dilengkapi dinding kaca diperkuat (tempered glass) sehingga bola bisa dipantulkan seperti pada skuas.
Skema penilaian dalam padel mengikuti aturan yang serupa dengan tenis, yaitu dengan urutan skor 15, 30, dan 40, deuce, dan advantage. Padel umumnya dimainkan dalam format best-of-three set. Setiap set terdiri dari beberapa game yang harus dimenangkan oleh satu tim. Tim pertama yang memenangi enam game dengan selisih dua game akan memenangi set tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/49f7062291288b79b248b27ee9cbb304-20250619AGS_20.jpg)
Presiden FIP Luigi Carraro mengatakan, waktu pengumuman pengakuan padel bertepatan dengan pelaksanaan Piala Dunia FIP Berpasangan di Kuwait. Menurut dia, itu merupakan sebuah bukti bagaimana padel kian jadi olahraga global dan memiliki kehadiran yang besar baik di Asia maupun di seluruh dunia.
Saat ini, FIP mewakili hampir 100 federasi nasional di seluruh dunia. Lebih dari 35 juta pemainnya berasal dari tiga perempat negara anggota PBB dan lebih dari 80.000 lapangan di seluruh dunia.
Adapun Presiden Padel Asia Tariq Zainal menuturkan, pengakuan OCA membuka babak baru bagi padel di Asia. ”Keikutsertaan padel dalam Asian Games akan menyediakan platform yang luar biasa bagi para atlet kami untuk menunjukkan bakat mereka di salah satu panggung olahraga terbesar di dunia,” ujarnya.
Di Indonesia, padel pertama kali dibawa dan diperkenalkan pascapandemi Covid-19. Padel bermula dari sejumlah ekspatriat yang tengah bermukim di Bali mendirikan lapangan padel.
Dari sekadar dimainkan sesama ekspatriat, padel semakin berkembang dan populer. Jumlah lapangan padel pun terus bertambah di Bali. Perlahan, dalam setahun terakhir, lapangan-lapangan terus bermunculan di kota lain, terutama Jakarta.
Ketua Umum Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Galih Dimuntur Kartasasmita mengklaim, sudah hampir 500 lapangan terbangun di Indonesia, mulai dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, sampai Bandung, hingga November. Perkembangannya pesat dalam setahun terakhir. Padahal, pada akhir tahun lalu, hanya ada 110 lapangan dengan 80 di antaranya ada di Bali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/0b116bf9894705ea3f154f734dd3cccf-20250619AGS_67.jpg)
Hal ini tak lepas dari menjelmanya padel jadi olahraga tren dan gaya hidup, dimainkan oleh para selebritas dan pemengaruh, serta menjadi ajang pengakuan di media sosial. Galih mengatakan, tumbuhnya padel sebagai bagian gaya hidup itu menjadi bagian dari pemassalan olahraga tersebut.
”Namun, selain rekreasi, kami ingin juga buktikan bahwa ini bukan sekadar FOMO (fear of missing out/tak mau ketinggalan tren). Kami menyiapkan juga peta jalan prestasi sembari mendukung federasi internasional mendorong padel dipertandingkan, mulai dari ajang multicabang Asia Tengga, Asia, hingga dunia lewat Olimpiade,” kata Galih.
Di Asian Games mendatang, Galih menuturkan bahwa padel akan jadi cabang ekshibisi, yakni cabang yang dipertandingkan dengan tujuan utama memperkenalkan atau mempromosikan kepada masyarakat luas. Umumnya, cabang ekshibisi tidak dihitung dalam perolehan medali atau klasemen medali.
Menurut Galih, ketentuan peserta ekshibisi masih akan didiskusikan lebih lanjut. Namun, pihaknya saat ini tengah mendaftarkan diri agar diakui Komite Olimpiade Indonesia, yang mengatur partisipasi Indonesia dalam ajang internasional, seperti Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/17/648b6d335d6f3c21d65d8c8bf24a8422-20250617AGS_35.jpg)
Adapun pengakuan dari OCA penting untuk memastikan keberlanjutan olahraga ini di Asian Games. Sementara itu, di level Asia Tenggara, Galih mengatakan, padel sedang diupayakan bisa didemonstrasikan di SEA Games Thailand 2025 dan mulai jadi cabang yang dipertandingkan di SEA Games Malaysia 2027 sebagai cabang olahraga pilihan tuan rumah.
Sementara itu, upaya lobi dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) masih berlangsung untuk memasukkan padel ke Olimpiade. Masih ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi, seperti persebaran federasi nasional di hampir semua kontinental.
”Pada akhirnya, harapannya adalah bisa jadi cabang olahraga di Olimpiade, yang semoga (bisa terlaksana) di Brisbane 2032. Ketika sudah ada tujuan utamanya, mereka yang bermain padel pun punya jalur yang jelas untuk berprestasi,” kata Galih.
Sejauh ini, lanjut Galih, pihaknya sudah menyiapkan peta jalan menuju Olimpiade Brisbane 2032. Pertama, PBPI menyiapkan infrastruktur pembinaan, mengawalinya dengan pelatihan pelatih dan mendorong pengurus cabang untuk membina atlet-atlet kelompok umur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/5c55a605b07506743d2ed20ebbba17d5-20250619AGS_4.jpg)
Kompetisi padel pun mulai digencarkan setelah debut sebagai cabang ekshibisi di PON Aceh-Sumut 2024. Sirkuit nasional mulai digelar tahun ini, lalu pelaksanaan liga tahun depan. Dari kompetisi ini bermunculan pemain-pemain yang akhirnya ditarik untuk memperkuat timnas.
Timnas padel debut di ajang internasional di Piala Asia 2025 di Qatar pada Oktober lalu. Mereka terdiri dari tim putra dan putri dengan masing-masing 10 atlet. Sementara tim putra menempati posisi terbawah klasemen akhir Grup A, tim putri melaju hingga semifinal dan akhirnya merebut posisi ketiga.
Keikutsertaan itu adalah upaya untuk melihat realitas kekuatan Indonesia di Asia. Dengan tim putri ternyata bisa menembus tiga besar, optimisme semakin muncul untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain di ajang selanjutnya.
”Sekarang, atlet-atlet kita mau tidak mau harus dikirim ke luar negeri untuk latihan dan bertanding mengikuti seri turnamen internasional di sana. Ini bagian dari peta jalan yang kita siapkan. Tujuan utamanya, bisa tampil di Olimpiade,” ucap Galih.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul