Makan gratis yang sudah lama ditunggu akan segera terlaksana. Akankah program baru dari pemerintah baru ini menyasar penduduk yang benar-benar membutuhkan?
03 Jan 2025 11:30 WIB · Investigasi
Sebentar lagi program makan bergizi gratis (MBG) akan direalisasikan pemerintah. Program ini dulu bernama makan siang gratis (MSG) yang dikenalkan ketika masa kampanye pilpres pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rangkabuming Raka.
Program MBG dan MSG adalah sama. Sesuai namanya, program makan ini diberikan gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak sekolah. Selain gratis, menu yang disajikan juga bergizi seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) di setiap klasifikasi umur penerima.
Program ini bertujuan meningkatkan akses makanan bergizi dan pola makan sehat penduduk. MBG juga diharapkan meningkatkan prestasi, partisipasi, dan kehadiran siswa sekolah. Program ini juga ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM serta menciptakan lapangan kerja baru.
Target penerima MBG tahun 2025 ialah 19,47 juta jiwa dengan alokasi anggaran Rp 71 triliun. Akhir tahun lalu pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mematok harga per porsi MBG sebesar Rp 10.000.
Sejumlah skema diberlakukan BGN untuk menjalankan program ini. Mulai dari membangun dapur sendiri, bekerja sama dengan lembaga negara lain seperti komando distrik militer (kodim), kepolisian resor (polres), dan pemerintah daerah, atau bekerja sama dengan pihak swasta.
Program ini menurut rencana akan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan. Jumlah target penerima dan anggaran yang dialokasikan juga akan semakin banyak. Tujuan utamanya ialah agar dapat menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak sekolah secara keseluruhan pada tahun 2029.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/2e276edb242bbf5ff1b49c9ddbb03751-IMG_20241118_083129.jpg)
Pada tahun pertama program ini berlangsung, pemerintah belum memiliki prioritas dalam menentukan 19,47 juta target penerima MBG. Padahal, hingga tahun 2022, terdapat 93,8 juta ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak sekolah dari berbagai kelas ekonomi dari kelas miskin hingga kelas atas.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menghitung sebaran empat kelompok target penerima MBG yang semestinya menjadi prioritas utama pemerintah. Mereka merupakan penduduk dari keluarga kelas ekonomi rendah atau miskin dan juga kurang gizi, khusus untuk anak sekolah.
Melalui target penerima MBG dari hitungan Kompas, diharapkan program baru ini dapat lebih tepat sasaran mengingat tujuan utama MBG ialah meningkatkan akses makanan bergizi dan meningkatkan prestasi anak sekolah. Dua hal ini lebih pas jika diberikan kepada warga miskin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/b716222c-ebf2-411c-955b-df95ee5cdd58_jpg.jpg)
Selain tepat sasaran, jumlah target penerima dari hasil hitungan Kompas juga lebih sedikit. Harga per porsi makanan yang dibagikan pun lebih besar, yakni dua kali lipat harga yang saat ini dipatok pemerintah.
Pemerintah bahkan bisa menghemat anggaran yang ada tanpa mengurangi menu bergizi seimbang yang disediakan dalam program ini. Kompas juga menghitung rata-rata harga per porsi makanan bergizi seimbang di setiap provinsi. Hasilnya, ada sejumlah provinsi dengan harga per menu relatif lebih terjangkau daripada provinsi lain.
Laporan lengkap mengenai tantangan dan rekomendasi untuk program MBG ini dapat Anda ikuti dalam belasan artikel dan video yang dimuat selama sepekan ke depan, dimulai Sabtu (4/1/2025).
================
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam Whatsapp Group Pembaca Kompas "Investigasi & Jurnalisme Data" dengan mengklik tautan ini. Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei berikut ini
Penulis:
R Albertus Krisna Pratama P., Maria Paschalia Judith Justiari, Margaretha Puteri RosalinaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji