Asimetri Perang Iran-Israel

Perang Iran-Israel sudah lama diniscayakan akan terjadi. Menjadi harapan kita bahwa perang ini dapat dideeskalasi sehingga tidak membahayakan keamanan dunia.

25 Jun 2025 18:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Ninok Leksono

”Monopoli nuklir regional Israel yang bertahan selama empat dekade terakhir telah memicu ketidakstabilan di Timur Tengah”. Demikian diungkapkan Kenneth Waltz dalam ”Why Iran Should Get the Bomb”, (Foreign Affairs, Juli/Agustus, 2012). Namun Waltz juga menyadari bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan mau menerima pandangan di atas. Israel tampaknya sudah bersumpah bahwa di Timur Tengah tidak boleh ada kekuatan nuklir selain dirinya.

Lalu, ketika negara Yahudi ini berkeyakinan bahwa Iran akan bisa membuat senjata nuklir dalam tempo setahun, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Serangan pun dilancarkan Jumat dini hari, 13 Juni 2025.

Israel bersikukuh menerapkan politik nuklir hegemonistik/monopolistik karena adanya senjata nuklir yang dimiliki Iran bisa mengancam eksistensinya, sementara Amerika Serikat (AS) menerapkan standar ganda karena ia membolehkan Israel memiliki senjata nuklir dan memburu hingga ke ujung dunia negara lain yang ingin memilikinya.

Sekadar catatan, meski tidak mengiyakan atau menyangkal (neither confirm nor deny), Israel dipercayai memiliki 80-400 hulu ledak nuklir, dengan yang pertama dibuat antara akhir tahun 1966 dan awal 1967  (The New Arab).

Sementara, Iran memandang Israel sebagai zionis yang sangat kejam dan brutal, terlebih-lebih dengan operasi militernya yang ia perlihatkan terhadap Gaza. Selama ini Iran hanya bisa melawan Israel dengan mendukung kelompok-kelompok perlawanan Hamas di Gaza dan juga Hizbullah di Lebanon.

Gambar empat orang dengan slogan 'Dibunuh oleh Natanyahu' difoto di peringatan bagi mereka yang terbunuh oleh Israel, di Lapangan Hafteh-tir, di Teheran pada 23 Juni 2025.

Kita tinggalkan alasan ideologis itu, dan ada baiknya kita menyimak, bagaimana perang dilangsungkan kedua negara tersebut.

Istilah asimetri dalam kronologi perang merujuk pada perang generasi keempat, di mana sering disebut metafor ”David Lawan Goliath”, di mana pihak yang dianggap lebih lemah berpeluang mengungguli, atau menimbulkan kerusakan besar pada pihak yang lebih kuat.

Namun dalam tulisan ini, penulis ingin menggunakan istilah asimetri dalam perang Iran-Israel dalam kaitan dengan taktik yang digunakan oleh kedua lawan ini dalam menjalankan perangnya.

Asimetri dalam perang antara Iran dan Israel yang dimulai dengan serangan Israel ke sasaran strategis di Iran—terutama situs nuklir, pemimpin Garda Republik dan markas militer, serta ilmuwan nuklir—pada Jumat (13/6/2025) sudah tampak dari awal.

Israel mengerahkan tidak kurang dari 200 pesawat tempur generasi 4 dan 5 yang ia miliki, dan diyakini diujungtombaki oleh jet tidak kasat radar F-35 Lighning II (yang di Angkatan Bersenjata Israel/IDF disebut Adir).

Kita tahu, selain F-35 Israel yang disebut mengoperasikan 340 pesawat tempur juga mengoperasikan tiga skuadron F-15 Eagle (satu skuadron di antaranya dimodifikasi dengan teknologi Israel menjadi F-15I, dinamai Ra’am), dan sembilan skuadron F-16 (4 di antaranya F-16I, Sufa).

Sementara Iran dalam kekuatan udara amat jauh ketinggalan. Di sinilah nyata asimetri tersebut.

Meskipun disebut mengoperasikan 265 pesawat yang konon berkemampuan tempur (combat capable), arsenal udara Iran sudah sangat tua, bahkan termasuk jenis yang oleh TNI AU saja sudah dimuseumkan, seperti F-5E Tiger II. Ada F-14 Tomcat, F-4D Phantom, tapi jet-jet asal AS ini pun sudah ketinggalan zaman. Bisa juga di sini disebut MiG-29 Fulcrum (The Military Balance 2024, IISS, London).

Dengan asimetri itu, kita tidak menyaksikan adanya duel udara (dog fight) antara pesawat Angkatan Udara Iran dan Israel.

Kalau Iran menyadari bahwa ia tidak punya Angkatan Udara yang setara dengan IDF, masuk akal lalu  ia mengantisipasi konflik dengan musuh bebuyutan ini dengan sistem pertahanan udara yang andal.

Namun, meski disebut memiliki sistem pertahanan udara S-300 (RS-SA-20 Gargoyle) dan S-200 (RS-SA-5 Gammon), tidak terdengar berita yang menyebut aksi alutsista ini saat pesawat Israel menggempur. Hal ini bisa jadi karena jumlahnya tidak memadai, kesiapan tempurnya tidak mencukupi, atau keburu dihantam jet Israel.

Di tengah lanskap asimetri ini, Minggu (22/6/2025, WIB) kemarin, AS menggerakkan pengebom B-2 Spirit, yang biasanya berpangkalan di Whiteman, Missouri. Pengebom tak kasat radar yang satu unitnya berharga 2 miliar dollar AS (tidak kurang dari Rp 32,6 triliun)  ini menghantam situs-situs nuklir Iran di tiga lokasi, yakni Natanz, Isfahan, dan Fordow.

Mengingat fasilitas di Fordo ”dikubur” di kedalaman tak kurang dari 60 meter, B-2 lalu menggunakan bom massive ordnance penetrator (MOP) GBU-57 yang baru meledak setelah menembus tanah terlebih dulu. Bom dengan peledak seberat 13.500 kilogram itu diklaim presisi karena dipandu GPS (CNN).

Pengeboman juga didukung serangan rudal jelajah Tomahawk, yang biasa digunakan oleh AS untuk mengawali serangan.  

Perlawanan dengan rudal dan drone

Menghadapi asimetri kekuatan udara, Iran merespons serangan Israel dengan meluncurkan rudal balistik darat-ke-darat yang tergolong dalam rudal balistik jarak sedang (MRBM) berhulu ledak konvensional. Dari tipe ini yang paling sering disebut adalah versi modifikasi dari rudal Shahab-3.

Dari pemberitaan yang ada di media sejauh ini, memang Iran yang punya dua angkatan bersenjata (AB), yakni AB reguler dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), tampak meluncurkan banyak rudal balistik dan wahana nirawak (drone) ke sejumlah kota di Israel, yang meski ada kekurangannya, tetapi bukannya tanpa maksud.

Seperti diketahui, Israel memiliki sistem pertahanan udara berlapis—untuk menahan serangan pesawat tempur ataupun rudal balistik dan drone—mulai dari apa yang sangat dibanggakan dan ia beri nama Kubah Besi (Iron Dome), ”Pelontar/Ketapel (David’s Sling), dan ”Anak Panah” (Arrow).

Selama ini sistem tersebut seolah tak bisa ditembus. Dalam kenyataan, Iran sudah menyiapkan strategi untuk menembus sistem Israel tersebut.

Caranya adalah dengan menghujani kota-kota Israel dengan puluhan rudal dan drone. Ini satu kecanggihan sendiri mengingat jarak Iran-Israel 1.300-1.500 kilometer. Dengan taktik ini, konsentrasi pertahanan udara Israel tersebut terpecah.

Banyak rudal (yang setiap harinya disebut menghabiskan 285 juta dollar AS) yang ditembakkan untuk menangkis drone yang relatif berharga murah dibandingkan dengan rudal balistik berhulu ledak mahal.

Ketika Israel terkena serangan satu-rasi ini, baru datang rudal balistik berhulu ledak besar, dengan hulu ledak seberat 500-1.000 kilogram yang tak semuanya bisa ditangkis oleh sistem Arrow, David’s Sling, ataupun Iron Dome.

Meski pihak Israel melarang penyebarluasan foto atau video dampak serangan rudal Iran, tetapi dari beberapa tayangan yang ada memperlihatkan gedung-gedung yang hancur.

Karena tidak semua rudal Iran bersifat presisi, misalnya dengan panduan satelit, sasaran pun tidak bersifat presisi, meski ada klaim serangan berhasil menyasar target penting, seperti pusat pemerintahan, pangkalan militer, atau sasaran bernilai tinggi. Yang menjadi berita justru perumahan warga dan rumah sakit (Soroka di Beersheba).

Dengan segala catatan yang ada, balasan terhadap serangan Israel dengan rudal merupakan satu hal yang patut dicatat. Teringat dengan teori bisnis Blue Ocean Strategy (W Chan Kim dan Renee Mauborgne, 2005).

Buku ini menyarankan agar pebisnis tidak ikut-ikutan bertarung di pasar yang ketat persaingannya, tapi bukanlah medan pertarungan baru. Dalam konflik Iran-Israel, kalau tahu Israel unggul dalam kekuatan udara, Iran tidak mengimbanginya dengan bersaing ”di Laut Merah” yang sulit dimenangkannya.

Pengendaramelewati papan iklan anti-Israel, dengan slogan dalam bahasa Farsi yang berbunyi "Sudah waktunya untuk Perang", di Teheran pada 22 Juni 2025.

Apalagi tahu bahwa AU IDF tidak saja didukung pesawat-pesawat tempur canggih generasi 4,5 dan 5, tetapi para pilotnya juga sangat berpengalaman dengan latihan ketat. ”Perang 6 Hari” tahun 1967 hingga serangan 13 Juni 2025 menjadi buktinya.

Rudal balistik menjadi pilihan tak terelakkan. Program ini dimulai tahun 1984 dengan merekayasa ulang rudal Scud rancangan Uni Soviet yang diperoleh dari Libya dan Suriah, menerapkan metode reverse engineering, dengan merakit, membuatnya lebih canggih dalam mesin dan hulu ledak, serta memproduksinya.

Dalam teori inovasi, dikenal istilah ”3N”, yakni ”niteni” (mengamati), ”nirokke” (meniru), dan ”nambahi” (menambahi/meningkatkan).

Hasilnya nyata, antara lain dengan munculnya rudal balistik yang dimulai dari Shahab-1 (jangkauan 300 kilometer), lalu Shahab-2. Tipe Shahab-2 ini diperkaya dengan teknologi Korea Utara yang sudah membuat rudal Hwasong-6 yang dikembangkan dari Scud-C, yang berjangkauan 500 kilometer dan hulu ledak 750 kilogram.

Berbekal Shahab -1 dan Shahab-2, Iran lalu melangkah ke Shahab-3 yang berjangkauan 1.300 kilometer dan punya potensi untuk mengangkut bom nuklir (Daily Exeter, 21/6/2025)

Adapun rudal Sejjil yang banyak disebut dalam perang dengan Israel ini merupakan capaian Iran yang paling maju. Roket berbahan bakar padat (berbeda dengan tipe Shahab yang berbahan cair) ini memiliki jangkauan 2.000 kilometer.

Di luar Shahab dan Sejjil, Iran juga punya capaian lain, yakni yang mewujud pada rudal Fattah -1 dan Fattah-2 yang merupakan rudal hipersonik. Rudal hipersonik adalah rudal yang punya kecepatan di atas Mach 5 (lima kali kecepatan suara, atau 6.174 kilometer per jam). Jenis ini yang paling canggih adalah Fattah-2 yang berjangkauan 1.400 kilometer, ditambah kemampuan manuver, sehingga menyulitkan sistem antirudal Israel.

Uraian itu menggambarkan sekilas kemampuan ofensif Iran untuk mengimbangi kemampuan ofensif dengan jet tempur yang dimiliki Israel. Meski terkesan agak acak dalam mengenai sasaran, sebagian masih bisa menembus sistem Kubah Besi Israel yang selama ini amat dibanggakan.

Demonstran berkumpul di dekat AS. Marinir menjaga Gedung Federal Wilshire selama rapat umum menentang serangan Amerika Serikat terhadap Iran pada 22 Juni 2025 di Los Angeles, California.

Berpangkal dari teknologi peroketan

Perkembangan geopolitik seperti yang mewujud pada perang Iran-Israel meniscayakan perlunya peninjauan ulang terhadap strategi pertahanan negara.

Indonesia yang kerepotan mewujudkan doktrin minimum essential force karena keterbatasan finansial sejauh ini masih mempersepsikan alutsista sebagai andalan utama pertahanan. Hal itu antara lain diwujudkan dalam pembelian jet tempur Rafale.

Salah satu topik yang banyak penulis garis bawahi dalam laporan jurnalistik adalah pentingnya Indonesia mengembangkan peroketan.

Sebenarnya Indonesia sudah punya dasar pengembangan teknologi peroketan karena pada dasawarsa 1960-an sudah memiliki program peluncuran roket Kappa, dan pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an masih ada program roket RX, seri terakhir ada yang mencapai RX-300.

Sayang bahwa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN, sebelum diserap dalam BRIN) tidak cukup konsisten sehingga bisa dikatakan Indonesia kehilangan momentum dalam pengembangan peroketan.

Kini, meskipun kita melancarkan program roket untuk penelitian cuaca, atau peluncuran satelit damai untuk pemantauan sumber daya alam, hal itu sudah dibatasi AS dan sekutu Barat-nya yang menegakkan missile techology control regime, di mana pengembangan roket tidak bisa melebihi jangkauan 300 kilometer.

Sebagaimana ketakutan atas penyebarluasan senjata nuklir, AS dan sekutunya juga sangat ketakutan dengan penyebarluasan teknologi peroketan. Ini karena peroketan bersifat ganda. Ia bisa digunakan untuk peluncuran satelit, tetapi dengan mengganti muatan, ia juga bisa menjadi peluncur bom.

Dalam perspektif sejarah, AS sangat traumatik ketika Uni Soviet bisa meluncurkan satelit buatan Sputnik 1 pada 4 Oktober 1957. Hal itu implisit memperlihatkan Uni Soviet sudah mencapai keunggulan dalam roket jarak jauh atau antarbenua. AS pun merasa terancam sehingga Presiden John F Kennedy mencanangkan ”Program ke Bulan” pada tahun 1961.

Kini, meski ada MTCR, Indonesia, atas dasar Perang Iran-Israel dan melihat bagaimana perlawanan Iran, perlu meninjau kembali doktrin perangnya. Kita harus jujur mengakui bahwa daya ofensif dan defensif kita sangat lemah.

Melihat, menyimak, dan belajar

Sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir sejak tahun 1970 dan meratifikasinya tahun 1995, Indonesia berkomitmen mencegah penyebaran senjata nuklir dan mempromosikan penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai.

Dalam kaitan ini pula, Indonesia melihat monopoli Israel dan juga negara-negara nuklir lain—yakni lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah India, Pakistan, dan Korea Utara— sebagai sesuatu yang tidak adil dan mengancam keselamatan dunia.

Dalam konteks ini, pandangan Kenneth Waltz itu kiranya baru benar separuh karena dengan kepemilikan nuklir oleh Iran, bertambah pula risiko keamanan Timur Tengah, meski ada argumen sebaliknya.

Yang jelas, ada dua hal yang patut menjadi perhatian kita.

Pertama, perang, seperti sejarah memperlihatkan, muncul dari pertimbangan yang sering irasional.

Kedua, dalam doktrin nuklir, yang berlaku adalah mutually-assured destruction atau sama-sama binasa. Itu sebabnya perang nuklir disebut uniwinnable, tidak bisa dimenangkan.

Perang Iran-Israel sudah lama diniscayakan akan terjadi. Menjadi harapan kita bahwa perang ini dapat dideeskalasi sehingga tidak membahayakan keamanan dunia. Tanpa perang itu, kondisi dunia yang ada sekarang ini bisa dikatakan tidak baik, apalagi jika perang meluas, membakar kawasan Timur Tengah, dan lebih buruk lagi memicu Perang Dunia III. Sungguh risiko yang sulit kita bayangkan.

Ninok Leksono Wartawan Senior, Alumnus Department of War Studies, King’s College, London


Kerabat Kerja

Penulis:

Ninok Leksono
 | 

Editor:

Neli Triana, Sri Hartati Samhadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari