Assad Jatuh, Tank Israel Masuk Suriah

Israel mengirim tambahan tank setelah kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad dikabarkan berakhir.

08 Des 2024 16:15 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

TEL AVIV, MINGGU — Israel mengerahkan tank ke wilayah Suriah pada Minggu (8/12/2024). Tank-tank itu menerobos Suriah kala beredar kabar pemerintahan Bashar al-Assad berakhir.

Angkatan bersenjata Israel, Tzahal, membenarkan adanya pengerahan itu. Mereka berkilah mengamankan zona penyangga di antara Israel dan Suriah.

Tank Israel terakhir masuk zona itu pada 1974. Media Israel, The Jerusalem Post dan The Times of Israel, melaporkan tank-tank itu, antara lain, mendekati Quneitra, Suriah.

Tzahal juga dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas militer Suriah di sekitar Dataran Tinggi Golan. Militer Israel berkilah, serangan itu untuk mencegah fasilitas tersebut dikuasai kelompok radikal. Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak 1961.

Tentara Israel di Dataran Tinggi Golan pada Sabtu (7/12/2024). Dataran itu merupakan wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak 1961.
Tank Israel di Dataran Tinggi Golan pada Minggu (8/12/2024).
Tank Israel dikirim ke Dataran Tinggi Golan pada Sabtu (7/12/2024).

Tzahal beralasan, pengerahan tank-tank itu bagian dari pencegahan. Israel tidak mau ada orang bersenjata dari Suriah masuk ke Israel.

Tzahal menyatakan tidak ikut campur dalam perang saudara di Suriah. Pernyataan disampaikan meski Israel tidak berhenti menyerang berbagai posisi dan fasilitas pasukan pemerintah Suriah.

Gempuran Israel menjadi salah satu penyebab pasukan pemerintah dan milisi pendukung pemerintah melemah. Sebab, mereka jadi kekurangan senjata dan aneka fasilitas lain.

Kecemasan kawasan

Media Qatar, Al Jazeera, melaporkan kecemasan pejabat Irak atas perkembangan di Suriah. Sejumlah pejabat Irak terutama khawatir kelompok radikal dan teroris kembali berkembang di Suriah. Jika itu terjadi, Irak bisa terimbas.

Kecemasan itu beralasan dan pernah terbukti bertahun-tahun. Di tengah ketidakstabilan Suriah dan Irak, lahir Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Sebelum itu, ada Al-Qaeda dan aneka faksi kelompok teror.

Irak harus membayar mahal atas kehadiran NIIS dan Al-Qaeda di Suriah. Banyak milisi NIIS dan Al-Qaeda melancarkan aneka serangan ke berbagai penjuru Irak.

Irak dilaporkan menutup perbatasan dengan Suriah. Kantor berita Irak, INA, melaporkan penutupan melibatkan empat brigade penjaga perbatasan. Selain itu, Irak juga melibatkan milisi untuk menjaga perbatasan.

Kedutaan Besar Irak di Damaskus juga sudah ditutup. Seluruh pegawai kedutaan dibawa ke Lebanon.

Sementara kantor berita Iran, IRNA, melaporkan kedubes Iran di Damaskus dijarah sekelompok orang. Kedubes dikosongkan sejak beberapa waktu lalu.

Dari Bahrain dilaporkan, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulaziz al-Khulaifi berusaha lebih optimistis. Ia mengatakan, Doha mendukung upaya pencarian solusi politik di Suriah.

Solusi didasarkan pada Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 2254. Resolusi itu memerintahkan penghentian segala bentuk kekerasan di Suriah.

”Konflik itu antara pemerintah dan warga Suriah, bukan antara Suriah dan negara lain. Maka, kami mendukung semua usaha menyediakan solusi atas masalah itu,” ujarnya.

Penasihat Urusan Luar Negeri pada Kantor Perdana Menteri Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash juga menekankan soal solusi politik. Abu Dhabi, kata Gargash, mendukung semua upaya pencarian solusi itu. ”Kami berharap semua orang Suriah mau bekerja sama,” ujarnya.

Ia tidak mau menanggapi pertanyaan apakah Assad kini berada di UEA. ”Semua sudah jadi sejarah,” katanya.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho