Australia mendesak China berkomunikasi dan terbuka soal pengembangan kekuatan militer. Sebaliknya, China menuduh AUKUS memicu perlombaan senjata.
31 Mei 2025 18:00 WIB · Internasional
SINGAPURA, SABTU – Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, di sela Dialog Pertahanan Shangri La, di Singapura, Sabtu (31/5/2025) mendesak China lebih terbuka dalam berkomunikasi soal militernya. Menurut Marles, China adalah mitra strategis dan keterbukaan komunikasi akan menghasilkan hubungan yang produktif.
“Menilik pertumbuhan militer China, tanpa ukuran kepastian strategis atau transparansi strategis, itu jadi pemikiran Australia. Kita membutuhkan China yang lebih transparan dalam pengembangan kekuatan militer dan juga latihan-latihan yang mereka gelar,” kata Marles.
Dia melanjutkan, Australia ingin memiliki hubungan yang produktif dengan China semaksimal mungkin. “Kami berharap dalam konteks itu kita bisa melihat transparansi dan komunikasi lebih luas antara dua negara dalam menghargai pertahanan Australia,” ujar Marles.
Australia dan Selandia Baru, sesama negara Persemakmuran Inggris, menyatakan keprihatinan atas latihan tiga kapal perang China di perairan internasional dekat Tasmania pada Februari 2025. Kapal-kapal Angkatan Laut China itu berlayar melintasi perairan Indonesia ke perairan internasional di selatan Australia. Sementara militer Australia kerap berlayar ataupun terbang di dekat daratan China dengan alasan memantau sanksi PBB atas Korea Utara.
Australia dan Selandia menyampaikan keluhan atas latihan penembakan dengan munisi hidup oleh Angkatan Laut China yang mengakibatkan pengalihan 49 penerbangan komersial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/13/1f31409b-3373-457c-a0f9-bb6281cdd2f0.jpg)
Marles mengakui, latihan tersebut dilakukan sesuai ketentuan hukum internasional. Namun dia berharap China lebih terbuka sehingga latihan yang dilakukan tidak mengganggu kepentingan Australia.
Dia menambahkan, Australia mampu mengawasi latihan AL China dari dekat. “Ini sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Di sisi lain, ini juga memberikan kami kesempatan pemantauan jauh lebih besar dari sebelumnya,” kata Marles.
Menurut Marles, sejak kali pertama kapal-kapal perang China mendekati Australia, mereka sudah dilacak oleh aset militer Australia. ”Kami paham apa maksud dan tujuan latihan mereka di dekat wilayah kami,” ujarnya.
Para pejabat China telah mengeluarkan sinyalemen, latihan sejenis akan lebih sering dilakukan karena itu pelayaran rutin di perairan internasional.
Para analis militer memperkirakan latihan itu dilakukan untuk mendukung proyeksi AL Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sebagai Blue Water Navy yang mampu beroperasi di tujuh samudera seperti AL AS dan AL Inggris.
Australia pun sedang mengembangkan pertahanan peluru kendali di saat China mengembangkan persenjataan nuklir dan ekspansi angkatan laut dengan kemampuan operasi lintas samudera. Australia menargetkan belanja pertahanan naik dari 2 persen produk domestik bruto (PDB) menjadi 2,4 persen PDB pada awal 2030.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/01/28/FILES-US-CHINA-TAIWAN-MILITARY-POLITICS_94170519_1611850606.jpg)
Dalam dekade yang sama, Australia juga berencana mengoperasikan armada kapal selam nuklir. Dengan anggaran hingga akhir tahun 2025 sebesar 2 miliar dollar AS, Australia akan membangun kapal selam nuklir dengan bantuan Amerika Serikat. Operasional dijadwalkan pada awal 2032.
Itu adalah proyek militer terbesar Australia. Pembelian kapal selam dari AS itu juga mengakibatkan Australia batal membeli kapal selam dari Perancis.
Pada 8 Mei 2025, militer Rusia dan China mengatakan, proyek pertahanan dalam kerangka AUKUS yang dimotori AS, Inggris, dan Australia telah memicu perlombaan senjata di kawasan.
Pada forum yang sama, Menteri Pertahanan Amerika Serika Pete Hegseth mengatakan, kawasan Indo-Pasifik menjadi prioritas bagi pemerintahan Presiden Donald Trump. “Kami tidak ingin mencari perselisihan dengan China, tetapi China ingin mengontrol Indo-Pasifik,” katanya.
Menurut Hegseth, dari sumber yang dipercaya dia meyakini China siap menggunakan kekuatan militer di kawasan. “Ancaman dari China itu nyata dan bisa terjadi konflik dalam waktu dekat,” kata Hegseth.
Hegseth mendorong sekutu dan negara sahabat di Indo-Pasifik meningkatkan belanja pertahanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/31/3b60cb34f2a5627a6d002d532dc9e37d-Singapore_Security_Forum_2_.jpg)
AS memiliki pangkalan militer di Singapura, Filipina, Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Australia, dan Guam serta Hawaii. Sementara China saat ini aktif membangun jaringan ekonomi berupa pelabuhan, jaringan kereta api, dan perdagangan di Asia Tenggara dan kawasan Indo-Pasifik.
China tidak mengirimkan Menteri Pertahanan Laksamana Dong Jun menghadiri Dialog Shangri-La tahun ini. China hanya diwakili Wakil Rektor Universitas Pertahanan China Mayor Jenderal Hu Gangfeng.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Kolonel Senior Zhang Xiaogang, pada Kamis, di Beijing, mengatakan, forum Shangri-La sangat penting untuk diplomasi militer, termasuk dalam menjaga hubungan dengan AS. Namun, dia mengingatkan AS agar tidak mencari masalah dan mendorong reaksi terhadap pihak yang selalu diganggunya. (AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik W