Australia Protes Sembari Harapkan Uang China

Australia mendapatkan 294 miliar dollar AS dari berdagang dengan China. Sementara itu, dari AS, Australia memperoleh dukungan keamanan.

15 Jul 2025 19:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

BEIJING, SELASA — Surplus miliaran dollar AS per tahun membuat Australia tak kuasa mengabaikan pasar China. Meski diwarnai protes, lawatan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese diisi harapan perdagangan lebih banyak dengan China.

Albanese diterima Presiden China Xi Jinping di Beijing, Selasa (15/7/2025). Dilaporkan Xinhua, Xi menyebut upaya Beijing-Canberra telah memulihkan hubungan dari titik terendah menjadi menguntungkan kedua negara.

Ia menyinggung fakta buruknya relasi Australia-China pada 2017-2022. Pemerintahan Partai Konservatif membawa Australia bersikap keras kepada China. ”Pelajaran penting bagi kita adalah memperlakukan satu sama lain secara setara, mencari persamaan sembari menyingkirkan perbedaan, serta terlibat dalam kerja sama saling menguntungkan yang sesuai kepentingan China dan Australia,” kata Xi seperti dikutip Xinhua.

Sejak menang pemilu 2022, perbaikan relasi dengan China menjadi fokus Albanese. ”Penting agar kita berbicara langsung pada isu yang penting bagi kita dan demi stabilitas serta kemakmuran kawasan. Seperti disetujui sebelumnya, dialog harus menjadi inti hubungan Canberra dan Beijing,” kata politisi Partai Buruh Australia itu.

”Australia menghargai relasi dengan China dan akan terus meningkatkan pendekatan dengan cara tenang dan konsisten. Dipandu oleh kepentingan nasional kita,” ujarnya melanjutkan.

Albanese mengatakan, salah satu pembicaraan dengan Xi adalah latihan perang China dekat Australia. Latihan beberapa bulan lalu mengganggu rute penerbangan komersial.

Xi, menurut Albanese, menanggapi itu dengan mengatakan bahwa China berlatih seperti halnya Australia latihan perang. ”Tidak ada pelanggaran hukum internasional oleh China. Walakin, kami prihatin soal pemberitahuan dan cara itu terjadi,” katanya.

Australian Prime Minister Anthony Albanese, right, talks to China's President Xi Jinping, second left, in the Great Hall of the People in Beijing, China, Tuesday, July 15, 2025. (Lukas Coch/AAP Image via AP)

Gencetan persaingan

Seperti banyak negara di Pasifik, Australia dalam gencetan persaingan Amerika Serikat-China. Secara politik dan keamanan, Australia bergantung pada AS.

Sementara secara ekonomi, Australia bergantung pada China. Pada Mei 2025 saja, Australia mendapat surplus 3,19 miliar dollar AS dari berdagang dengan China. Sementara itu, pada 2014-2024, Australia meraup surplus 294 miliar dollar AS dari China.

Pada 2024, ekspor Australia ke China bernilai 104,1 miliar dollar AS, sementara ke AS hanya 15,4 miliar dollar AS. Ekspor Australia ke AS lebih rendah dibandingkan dengan ekspor Australia ke Jepang, Korea Selatan, dan India. Total ekspor Australia pada 2024 bernilai 342 miliar dollar AS.

Di sela lawatan ke China, Albanese menekankan upaya Australia meningkatkan perdagangan dengan negara-negara Asia. Sasarannya termasuk Indonesia, tetangga terdekat Australia. Tarif bea masuk impor yang dikenakan AS ke Australia memaksa Canberra mencari alternatif pasar.

Koran milik Pemerintah China, China Daily, menerbitkan opini positif tentang kunjungan Albanese di edisi hari Selasa. Surat kabar itu menulis, kunjungan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara dengan sistem politik yang berbeda masih dapat bekerja sama.

Dalam kunjungan enam hari ke China, Albanese juga didampingi para eksekutif dari raksasa pertambangan Rio Tinto, BHP, dan Fortescue. Mereka bertemu dengan pengusaha industri baja China pada Senin (14/7/2025).

Bran Black selaku CEO Dewan Bisnis Australia mengatakan, Bluescope Steel Australia akan hadir dalam diskusi bisnis bersama dengan raksasa kendaraan listrik China, BYD, para eksekutif perbankan Tiongkok, Baosteel, dan grup makanan milik negara, COFCO.

”Pertama dan terpenting, kami menggunakan acara seperti ini untuk mengirimkan sinyal bahwa keterlibatan bisnis-ke-bisnis harus disambut dan didorong,” ujar Black kepada Reuters.

Pernah memburuk

Australia masih dibayang-bayangi kekhawatiran terkait catatan hak asasi manusia China. Selain itu juga terkait meningkatnya aktivitas militer China di Pasifik, termasuk di perairan dekat Australia.

Bisa dikatakan dalam dekade terakhir hubungan Canberra dan Beijing berliku. Perselisihan berulang kedua negara tentang keamanan nasional dan persaingan kepentingan di seluruh kawasan Pasifik mewarnai hubungan kedua negara.

Hubungan Sydney-Beijing menurun sejak tahun 2017 ketika Australia dipimpin Perdana Menteri Scott Morrison yang konservatif. Ketika pandemi Covid-19 merebak pada 2020, Morrison meminta agar diadakan penyelidikan mengenai asal virus SARS-Cov-2. China marah dan menuduh Australia bersikap rasialis.

China kemudian menghentikan impor untuk sejumlah komoditas Australia, yaitu daging sapi, lobster, minuman anggur, gandum, batubara, dan jelai. Komoditas yang tidak diblokir dikenai tarif tinggi, bahkan ada yang sampai 80 persen.

Pada 2020 China mengumumkan tarif antidumping sementara untuk anggur Australia. Pengiriman lobster hidup, kayu, dan jelai Australia juga diblokir atau dibatasi sekitar waktu ini.

Kedutaan Besar China mencatat 14 keluhan terkait Australia, termasuk pemblokiran 10 investasi China atas dasar keamanan nasional. Nilai ekspor Australia ke China sempat drop karena hubungan yang memburuk.

Namun, pada Maret 2023, Biro Statistik Australia mencatat perbaikan kinerja ekspor sejumlah komoditas ke China. Terjadi peningkatan ekspor batubara, bijih besi, dan tembaga dari Australia ke China. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra