Tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir terjadi di beberapa titik di Malang, Batu, dan Trenggalek. Upaya mitigasi bencana hidrometeorologi krusial.
21 Nov 2024 13:46 WIB · Lingkungan
MALANG, KOMPAS — Rentetan bencana hidrometeorologi terjadi di beberapa daerah di wilayah selatan Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir, seperti angin kencang, tanah longsor, hingga banjir. Meski skalanya masih kecil dan parsial, masyarakat diimbau tetap waspada.
Rabu (20/11/2024) malam, longsor terjadi di Dusun Krajan, Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi longsor memutus pipa air warga di lingkungan RW 001 dan 002, Desa Peniwen. Material longsor juga menutup saluran irigasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, hujan dengan intensitas sedang pada Rabu sore-petang mengakibatkan pelataran rumah warga longsor.
”Assessment sudah dilaksanakan. Dimensi tanah yang longsor mencapai 10 meter x 10 meter. Hari ini warga kerja bakti membersihkan material longsor,” ujarnya, Kamis (21/11/2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/edd19a39405f130564bfd77be370f9a0-20241121wer4.jpg)
Meski tidak sampai mengenai rumah, menurut Sadono, pada jarak 12 meter dari lokasi terdapat keretakan sehingga berpotensi terjadi longsor susulan. Untuk mitigasi, titik yang retak telah ditutup menggunakan terpal.
BPBD Kabupaten Malang telah memetakan daerah rawan bencana hidrometeorologi selama musim hujan. Untuk banjir ada 16 kecamatan, antara lain Pujon, Ngantang, Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, dan Ampelgading.
Adapun gerakan tanah/longsor ada 17 kecamatan, antara lain Kromengan, Wonosari, Ngajum, Ampelgading, dan Ngantang. Sementara itu, angin kencang dan puting beliung ada 12 kecamatan, seperti Lawang, Singosari, Jabung, Sumberpucung, dan Kepanjen.
Beberapa hari sebelumnya, pada 19 November hujan deras disertai angin kencang juga menumbangkan sejumlah pohon di Dusun Pijiombo, Desa Wonosari. Akibatnya, tiga atap rumah warga rusak ringan.
Angin kencang dan hujan deras pada 16 November juga menumbangkan sejumlah pohon di tepi jalan raya di Kecamatan Pakisaji. Tujuh rumah warga di Desa Kendalpayak dilaporkan rusak ringan. Selain itu, dua kendaraan juga tertimpa batang pohon.
”Untuk antisipasi, masyarakat di daerah rawan bencana melakukan monitoring secara berkala terhadap potensi banjir ataupun tanah longsor. Saluran-saluran air dibersihkan untuk mitigasi banjir,” kata Sadono.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/0fb0e307d842eebd7fb35aee3329cb42-20241121wer1.jpg)
Tak hanya di Kabupaten Malang, hujan deras juga mengakibatkan banjir luapan lumpur di Kota Batu akibat drainase tertutup. Selasa (19/11/2024) luberan lumpur setebal 5 sentimeter mengganggu lalu lintas di Jalan Raya Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.
Ini adalah banjir lumpur kedua yang terjadi dalam tiga pekan terakhir di Batu. Pada 25 Oktober, banjir lumpur di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, memutus jalan Batu-Mojokerto.
Sementara itu, tiga hari terakhir, bencana banjir dan longsor juga terjadi di wilayah Kabupaten Trenggalek. Longsor di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, mengenai dua rumah warga, Rabu (20/11/2024). Adapun banjir di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, ada 10 keluarga terdampak. Banjir di Ngares berlangsung 20 dan 21 November.
Kepala BPBD Trenggalek S Triadi Armono mengatakan, hari ini dilakukan pembersihan material lumpur dan sampah pascabanjir di Ngares.
”Sampai saat ini ada tiga unit alat berat untuk mengeruk sedimen guna membuat tanggul untuk mengantisipasi banjir susulan di wilayah RT 023 RW 006 Dusun Temon, Ngares,” katanya. Menurut Triadi, pihaknya terus memonitor perkembangan lantaran musim hujan baru datang.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas 1 Juanda, Taufik Hermawan, telah mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Jatim telah memasuki musim hujan. Adanya fenomena gelombang atmosfer equatorial Rosby yang melintasi Jatim meningkatkan pertumbuhan awan-awan hujan dalam sepekan ini.
Untuk antisipasi, masyarakat di daerah rawan bencana melakukan monitoring secara berkala terhadap potensi banjir ataupun tanah longsor. Saluran-saluran air dibersihkan untuk mitigasi banjir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/21/3c7785a25b33146d45ff2772380b7089-20241121wer2.jpg)
Kondisi ini didukung suhu muka air laut di sekitar Jatim yang hangat sehingga terjadi peningkatan uap air ke atmosfer. BMKG pun mengimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, berupa hujan sedang-lebat yang disertai petir dan angin kencang.
”Warga yang tinggal atau melintas di wilayah curam, tebing, dan bergunung-gunung diharapkan lebih waspada terhadap dampak cuaca ekstrem,” katanya dalam rilis tertulis.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
C. Wahyu Haryo P