Fenomena La Nina lemah kemungkinan akan bergeser ke episode El Nino yang bakal lebih panas pada akhir tahun ini.
04 Mar 2026 07:53 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
JAKARTA, KOMPAS — Fenomena El Nino yang berdampak lebih panas dan lebih sedikit hujan untuk wilayah Indonesia dapat kembali terjadi akhir tahun ini. Hal ini terjadi seiring dengan meredanya fenomena La Nina yang memiliki efek mendinginkan dan lebih banyak hujan.
Perkembangan terbaru El Nino Southern Oscillation (ENSO) ini dilaporkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (3/3/2026). Menurut analisis lembaga ini, La Nina lemah yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu akan memberi jalan bagi kondisi netral, yang kemudian dapat berubah menjadi El Nino sebelum akhir tahun 2026.
La Nina adalah fenomena iklim alami yang mendinginkan suhu permukaan di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Fenomena ini membawa perubahan pada pola angin, tekanan, dan curah hujan. Untuk wilayah Indonesia, salah satu dampaknya adalah lebih banyak hujan.
WMO menyatakan, ada kemungkinan 60 persen kondisi ENSO netral selama periode tiga bulan dari Maret hingga Mei, dengan kemungkinan 30 persen kondisi La Nina, dan El Nino dengan probabilitas 10 persen. Untuk bulan April-Juni, kemungkinan 70 persen kondisi ENSO netral. Pada Mei-Juli, kemungkinan kondisi ENSO netral turun kembali menjadi 60 persen, dengan kemungkinan El Nino sebesar 40 persen.
”Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi bagi pengambilan keputusan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
Jika El Nino kembali terjadi akhir tahun, hal ini menunjukkan cepatnya siklus ini terjadi. Sebelumnya, El Nino juga melanda pada 2023-2024. ”El Nino pada tahun 2023-2024 adalah salah satu dari lima terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang kita lihat pada tahun 2024,” kata Saulo.
Di Indonesia, dampak El Nino kuat pada 2023-2024 juga menyebabkan kebakaran hutan serta lahan yang meluas dan kekeringan sehingga menurunkan produksi tanaman pangan.
Fenomena El Nino saat itu berkontribusi menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat dan tahun 2024 sebagai tahun dengan suhu tertinggi sepanjang masa. Di Indonesia, dampak El Nino kuat pada 2023-2024 juga menyebabkan kebakaran hutan serta lahan yang meluas dan kekeringan sehingga menurunkan produksi tanaman pangan.
”El Nino cenderung menekan curah hujan di sebagian besar wilayah tropis,” kata Kieran Hunt, ilmuwan iklim di National Center for Atmospheric Science di Inggris, dalam keterangan tertulis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/dee84118-2cd3-406c-9196-6ba2f42b6425_jpg.jpg)
Menurut dia, dengan asumsi faktor lain tetap sama, monsun Asia, Afrika, dan Amerika Selatan cenderung lebih kering dari biasanya. Sebaliknya, fenomena ini juga dikaitkan dengan peningkatan curah hujan dan banjir sesekali di Amerika Serikat bagian selatan, Peru, Argentina, Eropa selatan, Kenya, dan Uganda.
El Nino juga dapat mengintensifkan gelombang panas di daerah tropis. Itulah sebabnya, tahun-tahun El Nino sering kali termasuk yang terpanas dalam catatan. Beberapa ahli meteorologi memperkirakan bahwa peristiwa El Nino biasanya menyebabkan peningkatan sementara suhu rata-rata global sebesar 0,1-0,2 derajat celsius.
Sementara itu, kenaikan suhu yang dipicu oleh perubahan iklim buatan manusia telah meningkatkan suhu permukaan global 1,3-1,5 derajat celsius dibandingkan dengan tingkat praindustri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/69857b405b52e7508688ed26722f3ab7-Screenshot_2026_03_04_at_05_11_46_ENSO_neutral_conditions_expected_as_La_Nin_a_fades_but_El_Nin_o_chances_rise.png)
Menurut analisis WMO, peristiwa iklim alami seperti La Nina dan El Nino semakin intens terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. ”(Perubahan iklim) meningkatkan suhu global dalam jangka panjang, memperburuk peristiwa cuaca dan iklim ekstrem, dan memengaruhi pola curah hujan dan suhu musiman,” kata Saulo.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) sebelumnya juga menyampaikan ada kemungkinan 50 hingga 60 persen El Nino akan berkembang selama periode Juli-September dan seterusnya.
WMO dan NOAA mengklasifikasikan peristiwa El Nino dan La Nina sebagian dengan melihat suhu rata-rata di suatu wilayah Samudra Pasifik. Jika suhu melebihi 0,5 derajat celsius di atas normal untuk jangka waktu yang lama, itu adalah kondisi El Nino. Jika suhu turun 0,5 derajat celsius di bawah normal, itu adalah La Nina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2017/08/30/554d0485-714b-4ef3-81e3-a38cc3b42b57_jpg.jpg)
”Prakiraan musiman untuk El Nino dan La Nina membantu kita mencegah kerugian ekonomi jutaan dolar dan merupakan alat perencanaan penting untuk sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air,” kata Saulo.
Prakiraan ini, menurut Saulo, juga merupakan bagian penting dari intelijen iklim yang disediakan WMO untuk mendukung operasi kemanusiaan dan manajemen risiko bencana, dan dengan demikian menyelamatkan nyawa.
Pembaruan iklim musiman global terbaru dari WMO menunjukkan ada sinyal global yang luas untuk suhu permukaan daratan di atas rata-rata untuk bulan Maret hingga Mei. Prediksi curah hujan di Pasifik khatulistiwa menunjukkan pola seperti La Nina yang masih bertahan, tetapi di bagian lain dunia sinyalnya lebih beragam.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji