Awas, Fenomena Pura-pura Sibuk Saat Bekerja Menerpa Gen Z

”Task masking” alias pura-pura bekerja bisa jadi bentuk respons terhadap praktik kerja yang tidak fleksibel atau gangguan kecemasan karena memang tidak siap bekerja.

30 Mar 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Di kantor, pemandangan orang bekerja dengan tangan sibuk mengetik di depan komputer atau hilir mudik dengan ponsel menempel di telinga terlihat biasa. Akan tetapi, ada sebutan untuk orang yang kerap pura-pura sibuk, yaitu task masking.

Ada beberapa faktor mengapa fenomena ini muncul, khususnya di kalangan generasi Z.

Istilah task masking dibahas dalam artikel di Fortune, Februari lalu. Pura-pura kerja tidak sama dengan kebiasaan menunda-nunda. Istilah ini mengacu pada produktivitas yang performatif, yaitu aksi menciptakan ilusi bekerja keras, padahal sebenarnya tidak sama sekali.

Bagi sebagian orang, pura-pura kerja adalah bentuk kemalasan atau kebosanan. Namun, para ahli ketenagakerjaan melihat lebih jauh, terutama terkait banyaknya Gen Z yang melakukan hal itu.

Quote

Sebanyak 52 persen pekerja Gen Z tidak ingin menjadi manajer menengah.

Riset perusahaan perekrutan Robert Walters di Inggris menemukan, sebanyak 52 persen pekerja Gen Z tidak ingin menjadi manajer menengah. Sekitar 16 persen di antaranya menolak untuk mengambil peran yang melibatkan bawahan langsung.

Ketika ditanya mengapa, 69 persen Gen Z mengatakan, pekerjaan itu terlalu menegangkan, tetapi kurang menguntungkan.

”Ini adalah mekanisme bertahan hidup, khususnya dalam budaya kantor tempat karyawan merasa tertekan untuk tampak sibuk demi menghindari pengawasan atau kritik,” kata Jody Findley, Pendiri Mindseta dan konsultan tempat kerja kepada Harper’s Bazaar edisi Kamis (27/3/2025).

FILE - People work at the Yelp office in San Francisco on Feb. 14, 2023. Remote work has intensified loneliness in the workplace. Experts say friendships and a sense of belonging are vital to employees’ happiness. And also to companies’ success. (AP Photo/Jeff Chiu, File)

Findley menjelaskan, perilaku semacam itu sebetulnya lazim di semua generasi. Seiring waktu, maknanya berkembang. Bagi generasi milenial, pura-pura kerja berasal dari budaya yang memprioritaskan pekerjaan di atas kesejahteraan diri. Tujuannya, untuk membuat bos terkesan atau menghindari kritik.

Untuk Gen Z, perilaku itu tetap muncul. Namun, mereka mempunyai tantangan dan motivasi yang berbeda.

Alasan terjadi

Gara-gara pandemi Covid-19, Gen Z terbiasa bekerja secara hibrida. Pascapandemi, perusahaan besar, seperti Amazon, Meta, dan Google, telah memerintahkan karyawan untuk kembali ke kantor lagi.

Laporan Prospek CEO KPMG 2024 menyebutkan, 83 persen direktur utama perusahaan di Inggris memperkirakan kerja kantor penuh akan kembali dalam tiga tahun. 

Namun, tidak mengherankan jika bekerja penuh di kantor tidak populer di kalangan Gen Z. Beberapa pekerja barangkali mengurus hal pribadi saat bekerja sebagai cara menghindar. Pada Februari 2025, The Times merilis hanya satu dari 10 pekerja Gen Z ingin bekerja penuh waktu di kantor.

”Seiring semakin banyak perusahaan mendorong karyawan kembali (ke kantor), tumbuh kesenjangan antara harapan pemberi kerja dan cara terbaik Gen Z bekerja,” ujar pakar karier Oliver Sidwell.

CHICAGO, ILLINOIS - APRIL 05: Employees are welcomed back to work with breakfast in the cafeteria at the Chicago Google offices on April 05, 2022 in Chicago, Illinois. Google employees began returning to work in the office this week for three days a week following a two-year hiatus caused by the COVID-19 pandemic. Scott Olson/Getty Images/AFP == FOR NEWSPAPERS, INTERNET, TELCOS & TELEVISION USE ONLY ==

Sidwell melanjutkan, task masking bukan tentang menghindari pekerjaan, tetapi lebih tentang menavigasi budaya kerja yang belum sesuai harapan Gen Z. Dalam banyak hal, fenomena ini dapat dilihat sebagai bentuk adaptasi yang halus, bukan kemalasan.

Ketika perusahaan menerapkan struktur kantor yang kaku, tutur Sidwell, Gen Z mungkin merespons dengan berpura-pura bekerja. ”Bukan berarti mereka tidak ingin bekerja; tetapi lingkungan tersebut tidak menginspirasi mereka untuk menghasilkan hasil terbaik,” tuturnya.

Penyebab lain fenomena tersebut adalah gangguan kecemasan pada Gen Z. Studi oleh Harmony Healthcare IT menunjukkan, lebih dari 60 persen Gen Z mengalami kecemasan.

Findley menyebutkan, pura-pura bekerja merupakan mekanisme koping. ”Gangguan dalam pendidikan akibat Covid-19 membuat banyak pekerja Gen Z kurang siap untuk bekerja. Pura-pura bekerja memungkinkan mereka untuk menghindari terungkapnya kesenjangan dalam pengetahuan atau keterampilan,” ucapnya.

Keberadaan media sosial juga dapat menjadi pemantik fenomena pura-pura bekerja. Beberapa pekerja bisa saja lebih menciptakan citra sebagai orang produktif ketimbang fokus pada hasil yang bermakna. Pekerja juga kerap terganggu tugas yang tidak terkait pekerjaan, seperti membuat konten.

Cara deteksi

Pura-pura bekerja sejatinya tidak hanya dilakukan Gen Z. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan dapat mendeteksi pelaku task masking. Ada beberapa cara untuk mengenali mereka, menurut Findley.

”Karyawan yang sering menjadwalkan rapat yang tidak perlu atau terlalu banyak berkomunikasi melalui surel mungkin melakukan task masking, dan mereka yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk detail kecil tanpa membuat kemajuan nyata dapat menunjukkan perilaku penghindaran kerja,” kata Findley.

Quote

Karier seseorang tidak dibangun berdasarkan jam kerja, tetapi dari hasil, relasi, dan reputasi.

Bagaimana menghentikan kebiasaan pura-pura bekerja? 

Ada beberapa cara, salah satunya dengan mengurangi atau bahkan memblokir akses ke akun media sosial selama jam kerja. Cara lainnya, memprioritaskan tugas-tugas penting guna berkontribusi pada hasil yang berarti.

”Pemeriksaan rutin dengan manajer atau mentor dapat membantu menyelaraskan pekerjaan dengan harapan. Jika Anda merasa tidak siap atau tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas secara efisien, bicarakan dengan atasan tentang peluang pelatihan,” tutur Findley.

Karyawan memberikan arahan kepada peserta magang di salah satu kantor di Jakarta, Minggu (5/4/2024). KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 05-05-2024

Victoria McLean, pendiri konsultan karier City CV, menekankan, pura-pura bekerja dapat berdampak negatif kepada diri karyawan sendiri. Sebab, karier seseorang tidak dibangun berdasarkan jam kerja, tetapi dari hasil, relasi, dan reputasi. Bicaralah dengan atasan jika pekerja tidak melihat nilai dalam bekerja di kantor.

Di sisi lain, Sidwell menambahkan, untuk benar-benar mengakhiri task masking, jawabannya bukanlah menindak task masking, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang baik. Artinya, perusahaan perlu menawarkan jenjang karier yang jelas, transparansi gaji, dan opsi kerja hibrida.

”Tanpa itu, bisnis berisiko menyingkirkan generasi pekerja berbakat dan ambisius yang lebih dari sekadar bersedia berkontribusi, jika saja mereka diberi kondisi yang tepat untuk berkembang,” kata Sidwell.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati