Amerika Serikat dan Iran telah memiliki hubungan yang buruk selama beberapa dekade. Setelah pengeboman fasilitas nuklir Iran oleh Amerika, babak baru dimulai.
26 Jun 2025 12:34 WIB · Internasional
Narasi cerita “Setan Besar” yang selalu mengancam serta persekongkolan kelompok jahat yang dikembangkan Iran dan retorika beracun “Poros kejahatan pembuat onar di Timur Tengah” di mata Amerika yang telah berkembang hampir setengah abad nampaknya akan memasuki babak baru.
Pengeboman hebat Amerika atas tiga fasilitas nuklir Iran di pegunungan Fordo, Isfahan dan Natanz, Sabtu 21 Juni 2025, tepat dihari kesepuluh pecahnya perang antara Israel dan Iran serta serangan balasan Iran ke pengkalan AS di Qatar dan gencatan senjata yang ditengahi Presiden Donald Trump nampaknya akan menjadi penutup kisah lama hubungan Amerika dan Iran.
Awal Kisah Lama
Adalah kudeta tahun 1953 yang diatur oleh CIA, dengan dukungan Inggris, yang menggulingkan pemerintah Iran yang dipilih secara demokratis dan menyerahkan kekuasaan kepada Shah, Mohammad Reza Pahlavi.
Negara-negara Barat khawatir akan munculnya pengaruh Soviet dan nasionalisasi industri minyak Iran.
Shah adalah sekutu strategis AS yang memperbaiki hubungan resmi dengan Washington. Namun, keluhan terus membara di kalangan warga Iran atas pemerintahannya yang otokratis dan ketundukannya pada kepentingan Amerika.
Semua itu memuncak pada tahun 1979 ketika Shah meninggalkan negara itu dan kaum revolusioner teokratis mengambil alih kendali serta memaksakan garis keras mereka sendiri. Kejadian ini dikenal dengan Operasi Ajax.
Pada 4 November 1979, saat sentimen anti-Amerika mencapai puncaknya, mahasiswa Iran menyandera 66 diplomat dan warga negara Amerika dan menahan lebih dari 50 dari mereka selama 444 hari.
Itu adalah tontonan yang memalukan bagi Amerika Serikat dan Presiden Jimmy Carter saat itu. Ia segera memerintahkan misi penyelamatan rahasia beberapa bulan setelah krisis penyanderaan Iran.
Dalam Operasi Eagle Claw, delapan helikopter Angkatan Laut dan enam pesawat angkut Angkatan Udara dikirim untuk bertemu di gurun Iran.
Badai pasir membatalkan misi tersebut dan delapan anggota angkatan tewas ketika sebuah helikopter menabrak pesawat pengisian bahan bakar C-120.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/e0bec6cf-cb12-463d-a1d1-d5d313337247_jpg.jpg)
Hubungan diplomatik diputus pada tahun 1980 dan tetap terputus.
Iran membebaskan para sandera beberapa menit setelah pelantikan presiden Ronald Reagan pada 20 Januari 1981. Presiden Carter bahkan tidak bisa membebaskan sandera sampai akhir masa jabatannya.
Serangan Amerika pada tiga fasiltas nuklir Iran bukanlah yang pertama. Pada tanggal 18 April 1988, Angkatan Laut AS menenggelamkan dua kapal Iran, merusak satu kapal lainnya, dan menghancurkan dua kapal pengintai lain dalam pertempuran terbesarnya sejak Perang Dunia II.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/6c844b4c-8417-4809-bf59-f980924cddc1_jpg.jpg)
Operasi Praying Mantis merupakan balasan terhadap serangan di kapal USS Samuel B. Roberts di Teluk Persia empat hari sebelumnya. Sepuluh pelaut terluka dan ledakan tersebut meninggalkan lubang menganga di lambung kapal.
Puncak pertikaian adalah ketika Amerika memasukkan Iran dan tiga negara lain, yakni Korea Utara, Kuba, dan Suriah sebagai negara sponsor terorisme. Penetapan ini menjadi alasan negara-negara lain untuk menjatuhkan sanksi terhadap empat negara yang disebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/3f3eebbd-4b47-4500-bfed-c83964d8c57c_jpg.jpg)
Presiden George W Bush pada pidato kenegaraan tahun 2002, lima bulan setelah serangan teroris 11 September, mengatakan “Negara-negara seperti ini, dan sekutu teroris mereka, merupakan poros kejahatan, yang bersenjata untuk mengancam perdamaian dunia.” Setahun kemudian Amerika melancarkan invasi ke Irak dengan alasan Saddam Huddein memiliki senjata pemusnah massal.
Adalah Presiden Obama yang pada tahun 2015 membuat kesepakatan dengan Iran untuk membatasi pengembangan nuklir sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi. Iran saat itu setuju untuk membuang persediaan uranium yang diperkaya, membongkar sebagian besar sentrifus, dan memberi inspektur internasional lebih banyak akses untuk melihat apa yang dilakukannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/c65c6cb6-f439-46d2-9694-00c26a5a6f5a_jpg.jpg)
Trump mengecam kesepakatan itu dalam kampanyenya tahun 2016 dan membatalkannya dua tahun kemudian saat ia berhasil menjabat presiden, dan memberlakukan kampanye sanksi "tekanan maksimum".
Ia berpendapat kesepakatan itu hanya menunda pengembangan senjata nuklir dan tidak melakukan apa pun untuk menahan agresi Iran di kawasan itu.
Keluarnya Trump dari kesepakatan nuklir juga tak lepas dari “tantangan” dari Hassan Rouhani, yang saat itu menjabat sebagai presiden Iran. Pada tahun 2018: Rouhani mengatakan “Amerika harus memahami dengan baik bahwa perdamaian dengan Iran adalah induk dari semua perdamaian. Dan perang dengan Iran adalah induk dari semua perang.”
Trump menanggapi provokasi Iran ini dengan memerintahkan serangan pesawat tak berawak yang menyasar dan menewaskan Qassem Soleimani, Panglima Tertinggi Iran ketika berada di Irak.
Dunia menunggu babak baru hubungan antara Amerika dan Iran yang semula adalah permusuhan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .