Babak Baru Relasi Inggris-China

Perdana Menteri Inggris melakukan kunjungan ke China. Kunjungan ini bertujuan untuk memulihkan hubungan dan memperkuat kerja sama Inggris dan China.

29 Jan 2026 16:13 WIB · Internasional

AP

Oleh Helena Fransisca Nababan

BEIJING, KAMIS — Relasi Inggris dan China memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun hubungan kedua negara diwarnai sentimen ketidakpercayaan, pada Kamis (29/1/2026), Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden China Xi Jinping menyuarakan perlunya memperkuat relasi kedua negara dan bekerja sama di sejumlah bidang.

Hubungan yang kuat diperlukan untuk menghadapi gejolak geopolitik dan situasi internasional yang tidak menentu. Seruan itu terungkap dalam pertemuan Starmer dan Xi di Balai Agung Rakyat di Beijing, Kamis pagi waktu China.

British Prime Minister Keir Starmer, fifth right, and Chinese President Xi Jinping, sixth left, with their delegations participate in a bilateral meeting in Beijing, Thursday, Jan. 29, 2026. (Carl Court/Pool Photo via AP)

Pekan ini, Starmer melakukan kunjungan ke China. Kunjungan Starmer ini dilakukan di tengah ketegangan antara Inggris dan sekutu dekatnya, Amerika Serikat, terkait kebijakan tarif dan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland.

Kunjungan itu juga terjadi saat pemerintahan Starmer kesulitan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan. Starmer, politisi dari Partai Buruh, menjadikan peningkatan hubungan dengan China sebagai salah satu prioritas pemerintahannya.

”Saya berjanji 18 bulan yang lalu, ketika terpilih sebagai perdana menteri, bahwa saya akan membuat Inggris kembali menghadap ke luar,” kata Starmer kepada Xi.

Pemulihan hubungan

Starmer lantas menerapkan kebijakan untuk menjalin hubungan kembali dengan China. Sebelum pemerintahan Starmer, hubungan Inggris dan China memburuk selama bertahun-tahun.

Di bawah pemerintahan Konservatif, London membatasi masuknya investasi China karena kekhawatiran keamanan nasional. London juga sebelumnya menyatakan keprihatinan atas penindasan terhadap kebebasan politik di Hong Kong.

Dalam kunjungan empat hari ke China pekan tersebut, 50 pemimpin bisnis mendampingi Starmer. Para eksekutif itu merupakan pemimpin dari perusahaan perbankan, farmasi, dan otomotif di Inggris.

Britain's Prime Minister Keir Starmer, right, speaks during a bilateral meeting with Chinese President Xi Jinping in Beijing, China, Thursday, Jan.29, 2026. (Carl Court/Pool Photo via AP)

Keikutsertaan para pengusaha menunjukkan bahwa prioritas kunjungan Starmer ke China kali ini adalah hubungan ekonomi. Beberapa jam setelah tiba di China, Starmer berbicara kepada kalangan bisnis.

Starmer mengatakan, sudah saatnya membangun hubungan yang ”dewasa” antara Inggris dan China yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia. Upaya untuk memulihkan dan memperdalam kerja sama ekonomi dengan China itu diharapkan membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan Inggris serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Inggris yang sedang lesu.

”China adalah pemain vital di panggung global dan sangat penting bagi kita untuk membangun hubungan yang lebih canggih,” ujar Starmer kepada Xi pada awal pertemuan mereka, seperti dikutip Reuters.

Sama halnya dengan Inggris, China juga memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Xi pada awal pertemuan dengan Starmer mengatakan, hubungan China dengan Inggris melalui ”lika-liku” yang tidak menguntungkan kepentingan kedua negara. Xi menyatakan, China siap untuk mengembangkan kemitraan strategis jangka panjang dengan Inggris.

Kantor berita milik Pemerintah China, Xinhua, dalam editorial pada Rabu (28/1/2026) menulis, ”China siap memanfaatkan kunjungan (Starmer) ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan timbal balik politik dengan Inggris, memperdalam kerja sama praktis, dan bersama-sama melakukan upaya dan kontribusi yang semestinya untuk perdamaian, keamanan, dan stabilitas dunia.”

Starmer menambahkan, kedua negara perlu bekerja sama dalam stabilitas global, perubahan iklim, dan isu-isu lain. ”Saya telah lama menegaskan bahwa Inggris dan China membutuhkan kemitraan strategis jangka panjang, konsisten, dan komprehensif,” kata Starmer.

Kerry Brown, profesor studi China di King’s College London, mengatakan, ia memperkirakan akan ada pengumuman sejumlah kesepakatan antara Inggris dan China dari pertemuan Starmer dan Xi. Hal itu untuk menunjukkan bahwa hubungan kedua negara telah membaik.

”(Pengumuman) Ini akan terlihat seperti sebuah keberhasilan. Bagi kedua belah pihak, mereka tidak menginginkan pertemuan yang akan memperdebatkan hal-hal yang tidak mereka sepakati,” ujar Brown.

Chinese President Xi Jinping, center looks on during a bilateral meeting with Britain's Prime Minister Keir Starmer in Beijing, China, Thursday, Jan.29, 2026. (Carl Court/Pool Photo via AP)

Gangguan Trump

Kunjungan sejumlah pemimpin negara sekutu AS ke China pada Januari ini terjadi susul-menyusul. Starmer merupakan pemimpin keempat yang mengunjungi Beijing.

Sebelum Starmer, pemimpin Korea Selatan, Finlandia, dan Kanada sudah melakukan kunjungan ke Beijing. Kanselir Jerman diperkirakan akan berkunjung ke Beijing bulan depan.

The New York Times memberitakan, kunjungan negara-negara Eropa dan Barat ke Beijing merupakan upaya mereka untuk mengantisipasi ketidakpastian internasional dari AS di bawah Trump. Gangguan terhadap perdagangan global yang dipicu Trump membuat banyak negara memandang perluasan perdagangan dan investasi menjadi lebih penting.

Starmer berusaha memikat Beijing tanpa memprovokasi kemarahan Trump. Kunjungan Starmer ini dilakukan beberapa hari setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif 100 persen kepada Kanada jika Perdana Menteri Mark Carney membuat kesepakatan perdagangan dengan Beijing.

Tidak ada indikasi bahwa kesepakatan semacam itu sedang dalam proses meskipun Carney setuju menurunkan bea impor pada beberapa kendaraan listrik China selama kunjungan ke Beijing awal bulan ini.

Ketegangan antara AS dan Eropa juga meningkat karena ancaman Trump untuk merebut Greenland, yang merupakan wilayah Denmark, anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS. Awal bulan ini, Trump mengancam akan mengenakan tarif kepada Inggris dan negara-negara Eropa lainnya, kecuali Greenland diserahkan ke AS. Ia kemudian menarik kembali ancaman itu.

Bagi Xi, serangkaian kunjungan para pemimpin Barat ke China punya makna berbeda. China menganggap kunjungan itu sebagai bukti bahwa, tidak seperti AS, China adalah kekuatan global yang stabil dan dapat dipercaya.

British Prime Minister Keir Starmer, left, shakes hands with Chinese President Xi Jinping  ahead of a meeting in Beijing Thursday, Jan. 29, 2026. (Carl Court/Pool Photo via AP)

Awal kerja sama

Kantor Perdana Menteri Inggris mengatakan, Starmer dan Xi akan mengumumkan bahwa Inggris dan China juga bakal bekerja sama untuk mengatasi geng-geng yang terlibat dalam perdagangan migran ilegal.

Kesepakatan tersebut akan difokuskan pada pengurangan penggunaan mesin buatan China. Mesin ini biasa dipakai untuk menggerakkan perahu kecil yang mengangkut para imigran di seluruh Eropa yang tengah mencari suaka.

Pejabat Inggris dan China disebut akan berbagi informasi intelijen untuk mengidentifikasi rute pasokan penyelundup. ”Inggris dan China akan bekerja sama dengan produsen China untuk mencegah bisnis yang sah dieksploitasi oleh kejahatan terorganisir,” demikian pernyataan dari Downing Street.

Di dalam pesawat menuju China, Starmer mengatakan kepada wartawan bahwa ia juga akan mengangkat isu-isu terkait hak asasi manusia dengan Xi. Keterangan itu berkaitan dengan pertanyaan apakah ia akan membahas kasus Jimmy Lai, mantan taipan media Hong Kong dan warga negara Inggris yang dihukum pada Desember lalu atas kejahatan keamanan nasional.

Setelah berdiskusi selama 40 menit dengan Xi, Starmer dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Li Qiang pada Kamis sore. Sebelum bertemu Xi, Starmer juga bertemu dengan Zhao Leji, ketua badan legislatif China, Kongres Rakyat Nasional. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti