Silampukau tak lagi mendendangkan soal warung miras atau hilangnya lapangan bola di Surabaya. Lagu-lagu baru mereka adalah distopia di negara fiktif Arkipelagia.
18 Mei 2025 09:03 WIB · Hiburan
Berjeda 10 tahun dengan album penuh perdana, unit pop folk asal Surabaya, Silampukau, akhirnya mengeluarkan lagu-lagu baru pada Jumat (16/5/2025). Ini adalah keluaran pertama dari album penuh yang menurut rencana berjudul Stambul Arkipelagia. Perilisan ini sekaligus meresmikan perubahan format dari duo menjadi orkes. Inilah Orkes Silampukau.
Ada lima lagu baru dalam kumpulan yang diberi judul Stambul Arkipelagia: Vol 1 ini. ”Sengaja sepertiga awal dulu yang dirilis. Biar geregetnya dapat, kayak nonton series. Kita nikmati pelan-pelan, bareng-bareng,” kata vokalis, gitaris, dan lirikus Kharis Junandharu dalam rilis pers. Sebelum berformat orkes, Kharis didampingi gitaris dan vokalis Eki Tresnowening. Duo ini terbentuk pada 2009 di Surabaya, Jawa Timur.
Dalam karya baru ini, bebunyian dan warna musiknya jadi lebih meriah; ada tango, waltz dan balada. Yang tak berubah, mungkin, adalah kegetiran yang tersaji di album Dosa, Kota, dan Kenangan keluaran 2015 ataupun dua lagu lepasan ”Dendang Sangsi” (2021) dan ”Lantun Mustahil” (2022).
Ini sudah terlihat dari sampul albumnya yang bergaya mooi indie, tapi tak semuanya elok. Gunung-gunung terlihat dipapras oleh traktor. Corong pabrik mengeluarkan asap tebal. Kira-kira itulah yang terjadi di negara/bangsa maritim fiktif bernama Arkipelagia.
Imaji itu mewujud dalam lagu ”Sejauh ’Ku Memandang (Paceklik Blues)” dengan salah satu potongan larik ”hutang membayang sejauh ku memandang”. Dalam lagu bergaya Melayu, ”Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi)”, Kharis meratapi ”beginilah nasib bonus demografi/nirdaya kelam/diperdaya negara” diiringi musik sendu, seolah nina bobo yang bisa memantik mimpi buruk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/8e57a9370d4280ac92bd3e1f158ac051-STAMBUL_ARKIPELAGIA_VOL_1.png)
Dongeng dari negeri Arkipelagia babak pertama ini ditutup dengan nomor ”In Memoriam… (Halimun Rahasia)”. Lagu yang berpotensi jadi pengiring dansa ini tetap menyiratkan duka. Dalam penjelasan tertulisnya, lagu ini adalah kidung untuk dinyanyikan setiap kali sanak saudara atau kerabat ditemukan terbunuh atau hilang secara misterius.
Jika dalam album sebelumnya Kharis dan Eki terang-terangan menyebut Kota Surabaya sebagai latar tempat lagu, kali ini mereka memilih untuk berfantasi distopia. Mengaburkan tempat bukan berarti mereka mengendurkan kritik ataupun pesan sosial.
”Pada masa-masa seperti ini, harga untuk bertahan di realisme—seperti di album yang lalu—menjadi terlalu tinggi. Jadi, selain berupaya untuk menjadi antitesis dari karya kami sendiri, anggap saja karya fiksi ini sebagai benteng terakhir kami dalam menjaga kesehatan jiwa,” lanjut Kharis.
Lima lagu ini sudah dimainkan dan direkam anggota-anggota baru, tapi lama. Mereka adalah yang selama ini mendampingi pertunjukan Silampukau. Sebenarnya, mereka lebih sering tampil dalam format band dibandingkan duo belaka. Rhesa Filbert, pemain bas, sudah jadi anggota. Begitu juga dengan pemain drum Prasimansyah dan pemain kibor Ariefin.
Sekumpulan ini menjadi Orkes Silampukau, yang akan bertanggung jawab merampungkan epos Stambul Arkipelagia, yang menurut rencana berisi sekitar 12 lagu. Lima nomor awal ini masih belum cukup. Semoga kumpulan kedua dan ketiga hadir tak terlalu lama.
Awal April lalu, label rekaman baru asal Surabaya, Bojakrama Press, memampatkan dua lagu lepasan Silampukau di masa pandemi, yaitu ”Lantun Mustahil” dan “Dendang Sangsi”. Kedua lagu itu berdampingan di sisi A dan sisi B pada piringan hitam berdiameter 7 inci yang lantas diberi judul Sepasang Kidung Cilaka. Sebelumnya, dua lagu ini hanya tersiar dalam format digital yang perilisannya berselang satu tahun.
”Rilisan ini adalah persembahan khusus dari kami untuk kawan-kawan pencinta format fisik demi merayakan hari raya kita semua: Record Store Day. Rilisan ini dicetak terbatas, hanya 300 keping. Kami berikhtiar untuk terus mengupayakan arsip berformat fisik; sebuah sumbangsih kecil untuk sejarah panjang musik Indonesia di masa depan,” kata Ega, salah satu penggawa Bojakrama Press.
Misi mendokumentasikan arsip lagu pada format fisik adalah hal penting. Begitu pula bagi Silampukau. Dua lagu tersebut merupakan jembatan dari balada orang kalah di pergulatan kehidupan kota pada album pertama, menuju kegetiran lain di jagat fiksi Arkipelagia kelak.
Ini sebabnya, ”Lantun Mustahil” dan ”Dendang Sangsi” tak dapat diabaikan begitu saja. Dalam hal musikalitas, dua lagu ini sarat nuansa orkes keroncong, lompatan kecil dari dominasi folk akustik pada album pertama. Kisah yang dituliskan pun seperti memotret dengan lensa lebar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/9372a23ee21dbf614e976b374955afb3-IMG_8037_2.jpg)
Simak saja lirik-lirik dalam ”Dendang Sangsi” yang bernuansa pesimisme. Salah satu baitnya berbunyi ”Pembungkaman/lewat pasal dan julukan/lewat revolver dan senapan/lestarilah ketakutan!/Padamlah padam perlawanan/di alam pikiran”. Bungkus langgam keroncong membuat ketakutan rakyat jelata di hadapan otoritas seperti lebih nyata.
Lagu ”Lantun Mustahil” juga tak jauh berbeda. Lagu ini lebih pesimistis lagi, seperti menunjukkan rentannya kita di hadapan kuasa besar. Dua bait terakhirnya berbunyi, ”Badai melaju menderu-deru/Maut berbisik merdu merayu/’Semangat saja tak cukup/’tuk menyambung hidup//Layang-layang/padam di langit selatan/relakanlah daku, Sayang/mustahil bidukku pulang”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/22/7a560ee0-e357-4b32-b297-27380d80c79e_jpg.jpg)
Kisah lirik semacam itu berbeda dengan album Dosa, Kota, & Kenangan. Pada album yang keluar ketika gelombang folk sedang pasang itu, Eki dan Kharis banyak bercerita tentang manusia di sudut-sudut Kota Surabaya, tempat mereka berkarya. Lagu ”Si Pelanggan”, misalnya, menceritakan bahwa kompleks Gang Dolly adalah pelarian bagi ”hati yang terluka oleh cinta dan seluruh nelangsa”. Ia menyiratkan gugatan ke mana lagi ”korban matrimoni” melampiaskan gulananya apabila Dolly ditutup, juga nasib penghuninya.
Album ini meninggalkan kesan mendalam bagi pendengarnya. Ada penggemar yang sengaja datang ke Surabaya menapaki tempat-tempat yang disebut dalam album; merasakan kemacetan Jalan Ahmad Yani di jam 5.15 sore, atau mencari kedai arak beras. Edisi piringan hitamnya—yang tak murah itu—juga ludes sebanyak 400 keping ketika dilepas memperingati tujuh tahun usia album.
Mungkin butuh waktu 10 tahun bagi Eki dan Kharis menuliskan dongeng lainnya. Lima lagu telah muncul sebagai babak pembuka. Kesan awal dari lima lagu ini adalah pena mereka masih dan semakin tajam. Formasi band/orkes makin lantang menggemakannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/07/0316b5e2-269e-4ae1-86e9-662ef85874d5.jpg)
Penulis:
Herlambang JaluardiEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti