Hujan badai menghancurkan tenda-tenda pengungsi di Jalur Gaza. Dua bulan gencatan senjata belum sepenuhnya bisa dipakai mengatasi kesulitan warga.
12 Des 2025 09:00 WIB · Internasional
AP
GAZA, JUMAT — Hujan deras akibat badai menghancurkan tenda-tenda pengungsi di Deir al-Balah, Jalur Gaza. Genangan air dan sampah menyatu saat suhu udara musim dingin menusuk tulang, Jumat (12/12/2025). Seorang bayi dilaporkan tewas karena kedinginan di tengah serbuan hujan badai itu.
Badai Byron yang menghantam Gaza sejak Kamis (11/12/2025) membuat situasi kacau-balau di tenda-tenda pengungsian. Saat ini suhu udara di Jalur Gaza di kisaran 16 derajat celsius. Pada puncak musim dingin Januari 2026 diperkirakan suhu merosot hingga 12 derajat celsius.
Pada Jumat, baju dan makanan yang tersisa basah akibat terjangan badai. Jalan berlumpur penuh genangan. Warga berjalan kaki melintasi lumpur semata kaki. Bau sampah dan lumpur menyatu.
”Kami seperti tenggelam hidup-hidup dalam genangan air dan lumpur. Tidak ada baju kering dan tidak ada alas tidur,” kata Um Salman Abu Quenas, perempuan pengungsi yang tinggal di sebuah tenda di Khan Younis, Gaza selatan.
Dia bersama keluarganya tidak bisa tidur semalaman karena mereka basah kuyup di dalam tenda yang diterjang hujan badai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/26/27b7398a-0163-4e97-850a-5c246cddbf98.jpg)
Berbagai lembaga kemanusiaan menegaskan, tidak cukup barang bantuan yang masuk di Gaza sejak gencatan senjata Hamas-Israel diberlakukan pada awal Oktober 2025.
”Kedinginan, hunian penuh sesak, dan lingkungan hidup tidak sehat akan memperbesar risiko infeksi dan penyebaran penyakit,” sebut pernyataan UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, di X.
”Penderitaan ini bisa dicegah dengan memperlancar bantuan, terutama obat-obatan dan sarana hunian,” demikian keterangan UNRWA.
Sabreen Qudeeh, pengungsi di Khan Younis di Distrik Muwasi yang kumuh, mengatakan, keluarganya terbangun karena air membanjiri dari atap tenda mereka. Alas tidur berupa matras dan karpet juga basah terendam, membuat mereka kedinginan dan tercium bau menyengat.
Pengungsi lain, Ahmad Abu Taha, mengatakan, tidak satu tenda pun yang lolos dari hujan badai. ”Kondisi kami sangat buruk. Banyak orang tua dan orang sakit berjejalan tinggal di tempat yang tidak layak ini,” ujarnya.
Terjangan badai juga membuat sejumlah warga terjebak di dalam mobil mereka di selatan dan tengah Israel. Badan ambulans Israel, Megen David Adom (MDA), mengatakan, dua anak perempuan terluka saat sebuah pohon tumbang di sekolah mereka.
Namun, situasi di Israel jauh lebih baik dari kondisi Jalur Gaza yang hancur lebur setelah dua tahun digempur militer Israel dari darat dan udara. Hampir 100 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza menjadi pengungsi. Sebagian besar tinggal di tenda-tenda tanpa sarana saluran air dan hanya dilengkapi lubang-lubang untuk jamban darurat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/66fe440f60f73a813cd0ac87b95bf47c-Pictures_of_the_Week_Global_Photo_Gallery_1_.jpg)
Pertahanan Sipil Palestina melaporkan, setidaknya ada tiga gedung di Gaza City yang sudah separuh hancur akibat pengeboman Israel, runtuh akibat terjangan hujan badai. Mereka memperingatkan agar warga tidak menempati bangunan-bangunan yang rusak karena dikhawatirkan dapat runtuh sewaktu-waktu.
Lembaga tersebut juga melaporkan, sejak awal terjangan badai, mereka mendapat 2.500 panggilan permintaan tolong dari warga yang tendanya hancur dihantam badai.
Para pengungsi sejak Kamis hingga Jumat membersihkan tenda mereka dari genangan air dan lumpur menggunakan sekop dan ember.
Aliaa Bahtiti menuturkan, putranya yang berusia 8 tahun basah kuyup sejak semalam. ”Pagi ini tubuhnya membiru dan menggigil karena kedinginan. Lantai tenda kami tergenang air hampir seruas jari. Kami juga tidak bisa membeli makanan, atap tenda, handuk kering, atau matras baru untuk tidur,” ujar Bahtiti.
Berbagai lembaga kemanusiaan menyatakan Israel tidak mengizinkan bantuan memadai masuk ke Gaza untuk memenuhi kebutuhan warga selepas perang, apalagi untuk pembangunan ulang wilayah tersebut.
Dalam perjanjian gencatan senjata pada awal Januari 2025, Israel setuju mengizinkan bantuan masuk sekurangnya 600 truk bantuan bisa masuk ke Gaza tiap hari. Israel menyatakan sudah menjalankan kesepakatan itu. Kantor berita Associated Press meragukan kebenaran dari keterangan tersebut berdasarkan kondisi di lapangan.
Kesepakatan Januari 2025 juga menyatakan Israel akan mengizinkan masuknya pengiriman tenda yang layak dan iring-iringan bantuan khusus. Namun, semua itu belum ada yang terwujud.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/58748b524e34efa38d05f00ca9e9556c-Israel_Palestinians_Gaza_3_.jpg)
Tania Hari, Direktur Eksekutif Gisha, lembaga yang mengadvokasi hak kebebasan bergerak Palestina, menyatakan Israel belum memenuhi janji.
Koalisi bantuan Shelter Cluster yang dibentuk Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan, besaran angka bantuan yang diklaim Israel dalam kenyataan jauh lebih kecil. Mereka menyatakan, PBB dan berbagai LSM baru berhasil membawa masuk 15.590 tenda dan negara lain mengirim 48.000 tenda. Sebagian besar tenda tidak memiliki penyekat yang layak agar tidak bocor dari air dan dampak embusan angin serta udara dingin.
Amjad al-Shawa, Direktur Jaringan Kerja Sama LSM Palestina, kepada kantor berita Al Jazeera, Kamis, menyatakan, hanya sebagian dari 300.000 tenda yang dibutuhkan sudah masuk ke Gaza. Dia menjelaskan, para pengungsi dalam kondisi kritis dan membutuhkan pakaian musim dingin.
Dia juga menuduh Israel sengaja menghalangi masuknya pompa air yang sangat dibutuhkan untuk membersihkan tenda-tenda pengungsi dari genangan air. COGAT belum menanggapi pertanyaan media tentang hal ini.
Pemimpin Hamas, Khaled Mashaal, dalam wawancara dengan Al Jazeera, mengatakan, Gaza membutuhkan perbaikan rumah sakit, masuknya alat berat untuk membersihkan puing-puing, dan pembukaan Pos Lintas Batas Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Penyeberangan Rafah masih ditutup walau Israel pekan lalu menyatakan akan membuka pelintasan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/7cbaf203fc3920d957c97c94d7d007b3-wires_photo_118.jpg)
Amnesty International dalam laporan tertulis, Kamis, menyatakan, Hamas dan kelompok pejuang Palestina melakukan kejahatan kemanusiaan dalam serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang Israel-Hamas di Gaza.
Dalam laporan 173 halaman, Amnesti Internasional menyatakan adanya pembunuhan warga sipil secara sistematis, penyiksaan, dan kekerasan seksual.
Sebelumnya dikabarkan sebagian korban tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 disebabkan salah sasaran militer Israel. Dalam militer Israel ada Protokol Hannibal, yakni menghabisi lawan sekaligus kawan jika ada potensi kawan atau prajurit Israel disandera musuh.
Serangan Hamas mengakibatkan 1.200 orang tewas dan 250 orang disandera. Serangan balasan Israel di Gaza mengakibatkan 70.300 warga Palestina tewas yang didominasi perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia.
Adapun Amnesty International dalam laporan tahun 2024 menyatakan Israel melakukan genosida di Gaza. Laporan tersebut disanggah oleh Israel.
Amnesty International menyatakan melakukan wawancara terhadap 70 orang, termasuk 17 penyintas dan keluarga dari korban tewas. Mereka juga mengecek ratusan video dari sumber terbuka dan foto-foto dari serangan tanggal 7 Oktober 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/10/50104c3f-c037-42ab-9d49-5539a2aae078.jpg)
Hamas menyatakan hanya menyasar militer. Amnesty International mengatakan, serangan yang dilakukan juga menyasar warga sipil sehingga memenuhi ketentuan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hamas menentang laporan adanya kekerasan seksual dan menyebutnya hanya memperkuat klaim palsu Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel Oren Marmorstein mengecam laporan Amnesty International. ”Laporan itu pun jauh dari mengungkapkan apa yang terjadi,” kata Marmorstein di X. (AP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan