Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Mengapa duel versus Club Bruges menjadi pertaruhan martabat Mancheser City dan Pep Guardiola?
2. Mengapa City dijagokan bangkit dan lolos ke babak gugur?
3. Bagaimana kehadiran pemain baru bisa menjadi tambahan amunisi Manchester City?
4. Bagaimana bisa kehadiran tiga pemain baru City turut mencerminkan kian tertinggalnya pembinaan sepak bola Indonesia?
Tak banyak yang tahu, sebelum Liga Champions Eropa musim 2024-2025 digelar, Manchester City adalah tim yang paling dijagokan juara. Superkomputer Opta menaruh City dalam tim teratas dalam daftar unggulan dengan kans juara mencapai 25,3 persen. Bahkan, peluang ”The Citizens” lolos dari fase liga dan melaju ke babak gugur adalah nyaris sempurna, yaitu mencapai 95,2 persen.
Peluang juara tim asal Inggris itu jauh melampaui para kandidat juara lainnya, seperti juara bertahan Real Madrid (18,2 persen), runner-up edisi 2022-2023 Inter Milan (10,9 persen), Arsenal (6,3 persen), dan Barcelona (5,2 persen). Liverpool, runner-up 2021-2022, bahkan dijagokan juara hanya dengan kans 4,2 persen.
Musim panas lalu, City memang wajar diunggulkan juara karena memiliki materi pemain yang sangat lengkap, mulai dari barisan belakang hingga lini depan. Mereka punya tembok kokoh, Ruben Dias dan Josko Gvardiol. Mereka juga diperkuat gelandang jangkar juara Eropa dan peraih Ballon d’Or, Rodri.
Mereka juga punya dua kreator terbaik saat ini, Phil Foden dan Kevin de Brune. Tidak ketinggalan, mereka dipersenjatai striker paling menakutkan sejagat saat ini, Erling Haaland.
Selain itu, City adalah tim paling konsisten di Liga Champions dalam empat tahun terakhir. Dalam kurun waktu itu, mereka dua kali menembus final, satu di antaranya juara. Konsistensi itu hanya bisa dikalahkan Real Madrid yang dua kali juara.
Namun, setengah musim berlalu, realitas berkata sebaliknya. Cederanya Rodri yang ditambah jadwal padat dengan perubahan format Liga Champions musim ini menjadi ”liga super” membuat mereka tertatih-tatih. Untuk pertama kali di era Manajer Pep Guardiola, City menghadapi kenyataan pahit, yaitu terancam tereliminasi dini. Dari empat laga terakhir di kompetisi itu, City tiga kali kalah dan sekali imbang.
Setelah menjalani tujuh laga, City sudah dipastikan gagal menghuni zona delapan besar. Mereka berada di posisi ke-25 dari 36 tim peserta. Padahal, untuk bisa lolos ke fase gugur, mereka minimal harus berada di peringkat ke-24, itu pun melalui babak playoff. City kini terlempar dari status favorit juara. Mereka bahkan harus menghadapi duel hidup atau mati versus Club Bruges (Belgia) pada Kamis (30/1/2025) pukul 03.00 WIB di Stadion Etihad, Manchester.
Laga itu akan digelar bersamaan dengan 17 pertandingan lain. Untuk pertama kali, seluruh laga babak awal atau penyisihan Liga Champions digelar serentak. Hal itu dilakukan demi menjaga fairness agar tak ada satu pun tim yang diuntungkan karena lebih dulu atau tampil sesudah tim lain. Hasil satu laga di pekan terakhir fase awal bisa menentukan nasib tim lain dalam mengejar tiket ke fase 16 besar.
Selain City, sejumlah tim besar lain, seperti Paris Saint-Germain, Juventus, Real Madrid, Bayern Muenchen, dan Borussia Dortmund, masih berjuang menyegel tiket ke fase gugur, setidaknya lewat playoff. Sejauh ini, baru Liverpool, Barcelona, dan Arsenal yang dipastikan lolos ke babak 16 besar tanpa harus tampil di playoff. Hal itu menguntungkan mereka karena tak lagi perlu tampil di dua laga tambahan untuk lolos ke babak gugur.
Mengapa duel versus Club Bruges menjadi pertaruhan martabat Mancheser City dan Pep Guardiola?
Tidak ada pilihan bagi City selain mengalahkan Bruges, Kamis (30/1/2025) dini hari WIB, demi tiket ke babak playoff dan memelihara asa lolos ke fase 16 besar. Sejak musim 2013-2014 dan diambil alih investor Uni Emirat Arab, City tak pernah gagal lolos ke fase gugur Liga Champions.
Rekor manajernya, Pep Guardiola, pun tak kalah cemerlang. Sejak musim 2008-2009, dimulai saat menangani Barcelona, ia tak pernah gagal membawa timnya lolos ke babak gugur kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Manajer asal Spanyol itu bahkan telah tiga kali membawa klubnya juara Liga Champions, sekali di antaranya bersama City pada 2023.
Maka, mereka tidak mau kehilangan muka saat menghadapi Bruges, klub Belgia yang menghuni peringkat ke-20 di fase awal Liga Champions musim ini. Apalagi, City sempat difavoritkan juara, status yang kini direbut Liverpool, pemuncak klasemen.
Tanpa kemenangan, City akan tersisih. Mereka bersaing dengan delapan tim lain untuk memperebutkan enam posisi tersisa ke babak playoff.
Pesaing City untuk posisi playoff meliputi enam tim di peringkat atas mereka, seperti PSV Eindhoven (11 poin), Brugge (11), Benfica (10), PSG (10), Sporting Lisbon (10), dan Stuttgart (10). Selain mereka, Dinamo Zagreb (8) dan Shakhtar Donetsk (7) bisa pula mengancam jatah tiket playoff dari City.
”Kami memiliki sebuah laga ’final’ pada Rabu (Kamis WIB). Saya membutuhkan semua pemain yang tersedia untuk berada dalam ritme terbaik mereka,” kata Guardiola mewanti-wanti para pemainnya agar tampil maksimal, seperti dilansir laman resmi City, Senin (27/1/2025).
Mengapa City dijagokan bangkit dan lolos ke babak gugur?
Manchester City diyakini mampu mengalahkan Club Bruges, bahkan dengan skor telak. Mental mereka yang sempat terpuruk menyusul serangkaian hasil negatif kini perlahan telah pulih. Buktinya, mereka bisa mengalahkan tim kuat Chelsea, 3-1, pada laga Liga Inggris, akhir pekan lalu. Padahal, Guardiola menyimpan sejumlah pemain kunci, seperti bek John Stones dan gelandang Kevin de Bruyne.
Kedua pemain itu diharapkan lebih bugar dan tampil maksimal menghadapi Bruges. Selain itu, The Citizens akhirnya bisa menjaga tren positif saat tampil di kandangnya. Mereka selalu menang pada tiga laga terakhir di Stadion Etihad, termasuk atas Chelsea.
Ketajaman mereka, yang sempat hilang, pun mulai kembali. Mereka rerata mencetak 4,2 gol dari empat laga terakhir di berbagai ajang. Dalam tren kebangkitan itu, dua penyerang andalan, Phil Foden dan Erling Haaland, juga mampu mencetak gol.
Menurut perhitungan simulasi Opta, peluang City untuk lolos ke babak playoff mencapai 63,8 persen. Meskipun demikian, jika tak berhati-hati, seperti saat dikalahkan PSG, 2-4, City bisa kandas dini dan mengukir catatan buruk. Kans mereka tak lolos mencapai 36,2 persen atau lebih tinggi dari tim-tim lain di atasnya, seperti PSG (kans 14 persen tak lolos) dan Sporting Lisbon (8,5 persen).
Apalagi, tim tamu punya motivasi berlipat. Mereka ingin mengulang kisah manis musim 2022-2023. Saat itu adalah terakhir kali mereka lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Bruges punya kiper berpengalaman, Simon Mignolet. Ia sangat mengenal karakter bermain tim asal Inggris karena pernah membela Liverpool.
Brugge pun datang ke Etihad dengan catatan positif pada empat laga terakhir. Tim yang tengah duduk di peringkat kedua Liga Belgia itu mengemas dua kemenangan, yaitu kontra Aston Villa dan Sporting Lisbon, serta menahan Celtic dan Juventus.
”Melawan Manchester City, kami akan memberikan segalanya seperti di laga-laga sebelumnya. Ini akan menjadi laga yang istimewa bagi kami,” ujar Mignolet, kiper Brugge.
Bagaimana kehadiran pemain baru bisa menjadi tambahan amunisi Manchester City?
Manchester City mengambil langkah penyelamatan dari sederet hasil minor dengan menggaet tiga pemain baru pada jendela transfer Januari. Mereka dipercaya bisa menjadi pemecah masalah inkonsistensi performa City.
Pada bursa transfer Januari ini, City sukses mendatangkan setidaknya tiga pemain, yaitu Vitor Reis, Abdukodir Khusanov, dan Omar Marmoush. Dua dari tiga pemain baru, Reis dan Khusanov, berposisi sebagai bek tengah. Sementara Marmoush adalah penyerang yang punya kemampuan menarik lawan dan mengeksploitasi ruang.
”Semua itu (upaya bangkit) bergantung pada kami sendiri. Kami punya pemain baru dan mudah-mudahan kami bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri kami,” ujar gelandang City, Jack Grealish, seusai laga kontra Paris Saint-Germain.
Marmoush, pemain Mesir berusia 25 tahun, bahkan langsung dimainkan sejak babak pertama saat City melawan Chelsea, akhir pekan lalu. Pemain berpaspor Mesir itu menggantikan Savinho yang biasa beroperasi di posisi sayap kiri. Ia terlihat sangat nyaman bermain di lini depan bersama dengan Erling Haaland.
Marmoush tampil dengan determinasi tinggi. Ia juga punya kecepatan saat berkali-kali berlari dari belakang untuk memenangi perebutan bola. Marmoush bahkan sempat mencetak gol di babak pertama, tetapi dianulir karena offside.
Guardiola juga menurunkan Khusanov sebagai bek tengah sejak menit pertama laga versus Chelsea. Kehadirannya menjadi oase bagi City di tengah krisis pemain bertahan seiring cederanya Nathan Ake. Bek lainnya, Ruben Dias, ditarik keluar pada babak pertama versus PSG. John Stones, yang seharusnya menggantikan Dias, pada akhirnya disimpan karena belum bugar sepenuhnya.
Kehadiran tiga pemain baru setidaknya memberi wajah baru pada City. Mereka datang pada saat banyak pemain cedera dan City akan menjalani rentetan laga berat dalam beberpa pekan ke depan. Bukan tak mungkin, beberapa di antara mereka dimainkan kembali saat melawan Bruges dan menjadi ”kartu as” kemenangan.
Bagaimana bisa tiga pemain baru Manchester City pernah bersinggungan dengan Indonesia?
Selama bursa transfer Januari, Manchester City telah memperkenalkan tiga pemain baru yang masih berusia belia. Jika dicermati, ketiga pemain itu pernah bersinggungan dengan pemain-pemain muda Indonesia saat ini. Bedanya, kini mereka telah direkrut oleh salah satu tim terbaik di dunia dan akan merasakan asuhan pelatih revolusioner, Pep Guardiola.
Dua dari tiga pemain itu diperkenalkan pada pekan ini. Mereka adalah Abdukodir Khusanov (20) dan Vitor Reis (19). Satu pemain lainnya adalah Claudio Echeverri (18) yang telah dipinjamkan kembali ke River Plate hingga akhir musim ini.
Menariknya, ketiga pemain itu pernah satu arena dengan pemain-pemain Indonesia. Khusanov, misalnya, pernah menghadapi tim U-20 dan U-23 Indonesia pada periode 2023 dan 2024. Kala itu, Khusanov membela tim U-20 Uzbekistan pada Piala Asia U-20 2023. Mereka berjumpa Indonesia pada babak penyisihan yang berakhir sama kuat, 0-0.
Satu tahun berselang, Khusanov dan tim U-23 Uzbekistan mengandaskan langkah Indonesia di semifinal Piala Asia U-23 2024. Indonesia tumbang 0-2. Pada dua pertandingan itu, Indonesia diasuh Shin Tae-yong.
Khusanov menghadapi pemain muda Indonesia, seperti Hokky Caraka, Ronaldo Kwateh, dan Dony Tri Pamungkas, di Piala Asia U-20 Uzbekistan 2023. Ia juga meredam pemain depan tim U-23 Indonesia, di antaranya Ramadhan Sananta, Marselino Ferdinan, dan Witan Sulaeman, pada Piala Asia U-23 Qatar 2024.
Ketika pemain-pemain muda Indonesia masih kesulitan mencari tempat di klub-klubnya di Eropa, seperti Marselino di Oxford United serta Rafael Struick di Brisbane Roar, Khusanov telah menunjukkan peningkatan kualitas signifikan dalam satu tahun terakhir. Ia telah bermain sebanyak 31 pertandingan bersama tim Liga Perancis, Lens, termasuk 16 pertandingan pada paruh pertama musim 2024-2025.
Sementara Reis dan Echeverri mencuri perhatian mulai dari Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia. Reis bermain sebagai bek tengah sekaligus kapten tim Brasil. Adapun Echeverri adalah gelandang tim U-17 Argentina.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Mengapa duel versus Club Bruges menjadi pertaruhan martabat Mancheser City dan Pep Guardiola?
2. Mengapa City dijagokan bangkit dan lolos ke babak gugur?
3. Bagaimana kehadiran pemain baru bisa menjadi tambahan amunisi Manchester City?
4. Bagaimana bisa kehadiran tiga pemain baru City turut mencerminkan kian tertinggalnya pembinaan sepak bola Indonesia?
Tak banyak yang tahu, sebelum Liga Champions Eropa musim 2024-2025 digelar, Manchester City adalah tim yang paling dijagokan juara. Superkomputer Opta menaruh City dalam tim teratas dalam daftar unggulan dengan kans juara mencapai 25,3 persen. Bahkan, peluang ”The Citizens” lolos dari fase liga dan melaju ke babak gugur adalah nyaris sempurna, yaitu mencapai 95,2 persen.
Peluang juara tim asal Inggris itu jauh melampaui para kandidat juara lainnya, seperti juara bertahan Real Madrid (18,2 persen), runner-up edisi 2022-2023 Inter Milan (10,9 persen), Arsenal (6,3 persen), dan Barcelona (5,2 persen). Liverpool, runner-up 2021-2022, bahkan dijagokan juara hanya dengan kans 4,2 persen.
Musim panas lalu, City memang wajar diunggulkan juara karena memiliki materi pemain yang sangat lengkap, mulai dari barisan belakang hingga lini depan. Mereka punya tembok kokoh, Ruben Dias dan Josko Gvardiol. Mereka juga diperkuat gelandang jangkar juara Eropa dan peraih Ballon d’Or, Rodri.
Mereka juga punya dua kreator terbaik saat ini, Phil Foden dan Kevin de Brune. Tidak ketinggalan, mereka dipersenjatai striker paling menakutkan sejagat saat ini, Erling Haaland.
Selain itu, City adalah tim paling konsisten di Liga Champions dalam empat tahun terakhir. Dalam kurun waktu itu, mereka dua kali menembus final, satu di antaranya juara. Konsistensi itu hanya bisa dikalahkan Real Madrid yang dua kali juara.
Namun, setengah musim berlalu, realitas berkata sebaliknya. Cederanya Rodri yang ditambah jadwal padat dengan perubahan format Liga Champions musim ini menjadi ”liga super” membuat mereka tertatih-tatih. Untuk pertama kali di era Manajer Pep Guardiola, City menghadapi kenyataan pahit, yaitu terancam tereliminasi dini. Dari empat laga terakhir di kompetisi itu, City tiga kali kalah dan sekali imbang.
Setelah menjalani tujuh laga, City sudah dipastikan gagal menghuni zona delapan besar. Mereka berada di posisi ke-25 dari 36 tim peserta. Padahal, untuk bisa lolos ke fase gugur, mereka minimal harus berada di peringkat ke-24, itu pun melalui babak playoff. City kini terlempar dari status favorit juara. Mereka bahkan harus menghadapi duel hidup atau mati versus Club Bruges (Belgia) pada Kamis (30/1/2025) pukul 03.00 WIB di Stadion Etihad, Manchester.
Laga itu akan digelar bersamaan dengan 17 pertandingan lain. Untuk pertama kali, seluruh laga babak awal atau penyisihan Liga Champions digelar serentak. Hal itu dilakukan demi menjaga fairness agar tak ada satu pun tim yang diuntungkan karena lebih dulu atau tampil sesudah tim lain. Hasil satu laga di pekan terakhir fase awal bisa menentukan nasib tim lain dalam mengejar tiket ke fase 16 besar.
Selain City, sejumlah tim besar lain, seperti Paris Saint-Germain, Juventus, Real Madrid, Bayern Muenchen, dan Borussia Dortmund, masih berjuang menyegel tiket ke fase gugur, setidaknya lewat playoff. Sejauh ini, baru Liverpool, Barcelona, dan Arsenal yang dipastikan lolos ke babak 16 besar tanpa harus tampil di playoff. Hal itu menguntungkan mereka karena tak lagi perlu tampil di dua laga tambahan untuk lolos ke babak gugur.
Mengapa duel versus Club Bruges menjadi pertaruhan martabat Mancheser City dan Pep Guardiola?
Tidak ada pilihan bagi City selain mengalahkan Bruges, Kamis (30/1/2025) dini hari WIB, demi tiket ke babak playoff dan memelihara asa lolos ke fase 16 besar. Sejak musim 2013-2014 dan diambil alih investor Uni Emirat Arab, City tak pernah gagal lolos ke fase gugur Liga Champions.
Rekor manajernya, Pep Guardiola, pun tak kalah cemerlang. Sejak musim 2008-2009, dimulai saat menangani Barcelona, ia tak pernah gagal membawa timnya lolos ke babak gugur kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Manajer asal Spanyol itu bahkan telah tiga kali membawa klubnya juara Liga Champions, sekali di antaranya bersama City pada 2023.
Maka, mereka tidak mau kehilangan muka saat menghadapi Bruges, klub Belgia yang menghuni peringkat ke-20 di fase awal Liga Champions musim ini. Apalagi, City sempat difavoritkan juara, status yang kini direbut Liverpool, pemuncak klasemen.
Tanpa kemenangan, City akan tersisih. Mereka bersaing dengan delapan tim lain untuk memperebutkan enam posisi tersisa ke babak playoff.
Pesaing City untuk posisi playoff meliputi enam tim di peringkat atas mereka, seperti PSV Eindhoven (11 poin), Brugge (11), Benfica (10), PSG (10), Sporting Lisbon (10), dan Stuttgart (10). Selain mereka, Dinamo Zagreb (8) dan Shakhtar Donetsk (7) bisa pula mengancam jatah tiket playoff dari City.
”Kami memiliki sebuah laga ’final’ pada Rabu (Kamis WIB). Saya membutuhkan semua pemain yang tersedia untuk berada dalam ritme terbaik mereka,” kata Guardiola mewanti-wanti para pemainnya agar tampil maksimal, seperti dilansir laman resmi City, Senin (27/1/2025).
Mengapa City dijagokan bangkit dan lolos ke babak gugur?
Manchester City diyakini mampu mengalahkan Club Bruges, bahkan dengan skor telak. Mental mereka yang sempat terpuruk menyusul serangkaian hasil negatif kini perlahan telah pulih. Buktinya, mereka bisa mengalahkan tim kuat Chelsea, 3-1, pada laga Liga Inggris, akhir pekan lalu. Padahal, Guardiola menyimpan sejumlah pemain kunci, seperti bek John Stones dan gelandang Kevin de Bruyne.
Kedua pemain itu diharapkan lebih bugar dan tampil maksimal menghadapi Bruges. Selain itu, The Citizens akhirnya bisa menjaga tren positif saat tampil di kandangnya. Mereka selalu menang pada tiga laga terakhir di Stadion Etihad, termasuk atas Chelsea.
Ketajaman mereka, yang sempat hilang, pun mulai kembali. Mereka rerata mencetak 4,2 gol dari empat laga terakhir di berbagai ajang. Dalam tren kebangkitan itu, dua penyerang andalan, Phil Foden dan Erling Haaland, juga mampu mencetak gol.
Menurut perhitungan simulasi Opta, peluang City untuk lolos ke babak playoff mencapai 63,8 persen. Meskipun demikian, jika tak berhati-hati, seperti saat dikalahkan PSG, 2-4, City bisa kandas dini dan mengukir catatan buruk. Kans mereka tak lolos mencapai 36,2 persen atau lebih tinggi dari tim-tim lain di atasnya, seperti PSG (kans 14 persen tak lolos) dan Sporting Lisbon (8,5 persen).
Apalagi, tim tamu punya motivasi berlipat. Mereka ingin mengulang kisah manis musim 2022-2023. Saat itu adalah terakhir kali mereka lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Bruges punya kiper berpengalaman, Simon Mignolet. Ia sangat mengenal karakter bermain tim asal Inggris karena pernah membela Liverpool.
Brugge pun datang ke Etihad dengan catatan positif pada empat laga terakhir. Tim yang tengah duduk di peringkat kedua Liga Belgia itu mengemas dua kemenangan, yaitu kontra Aston Villa dan Sporting Lisbon, serta menahan Celtic dan Juventus.
”Melawan Manchester City, kami akan memberikan segalanya seperti di laga-laga sebelumnya. Ini akan menjadi laga yang istimewa bagi kami,” ujar Mignolet, kiper Brugge.
Bagaimana kehadiran pemain baru bisa menjadi tambahan amunisi Manchester City?
Manchester City mengambil langkah penyelamatan dari sederet hasil minor dengan menggaet tiga pemain baru pada jendela transfer Januari. Mereka dipercaya bisa menjadi pemecah masalah inkonsistensi performa City.
Pada bursa transfer Januari ini, City sukses mendatangkan setidaknya tiga pemain, yaitu Vitor Reis, Abdukodir Khusanov, dan Omar Marmoush. Dua dari tiga pemain baru, Reis dan Khusanov, berposisi sebagai bek tengah. Sementara Marmoush adalah penyerang yang punya kemampuan menarik lawan dan mengeksploitasi ruang.
”Semua itu (upaya bangkit) bergantung pada kami sendiri. Kami punya pemain baru dan mudah-mudahan kami bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri kami,” ujar gelandang City, Jack Grealish, seusai laga kontra Paris Saint-Germain.
Marmoush, pemain Mesir berusia 25 tahun, bahkan langsung dimainkan sejak babak pertama saat City melawan Chelsea, akhir pekan lalu. Pemain berpaspor Mesir itu menggantikan Savinho yang biasa beroperasi di posisi sayap kiri. Ia terlihat sangat nyaman bermain di lini depan bersama dengan Erling Haaland.
Marmoush tampil dengan determinasi tinggi. Ia juga punya kecepatan saat berkali-kali berlari dari belakang untuk memenangi perebutan bola. Marmoush bahkan sempat mencetak gol di babak pertama, tetapi dianulir karena offside.
Guardiola juga menurunkan Khusanov sebagai bek tengah sejak menit pertama laga versus Chelsea. Kehadirannya menjadi oase bagi City di tengah krisis pemain bertahan seiring cederanya Nathan Ake. Bek lainnya, Ruben Dias, ditarik keluar pada babak pertama versus PSG. John Stones, yang seharusnya menggantikan Dias, pada akhirnya disimpan karena belum bugar sepenuhnya.
Kehadiran tiga pemain baru setidaknya memberi wajah baru pada City. Mereka datang pada saat banyak pemain cedera dan City akan menjalani rentetan laga berat dalam beberpa pekan ke depan. Bukan tak mungkin, beberapa di antara mereka dimainkan kembali saat melawan Bruges dan menjadi ”kartu as” kemenangan.
Bagaimana bisa tiga pemain baru Manchester City pernah bersinggungan dengan Indonesia?
Selama bursa transfer Januari, Manchester City telah memperkenalkan tiga pemain baru yang masih berusia belia. Jika dicermati, ketiga pemain itu pernah bersinggungan dengan pemain-pemain muda Indonesia saat ini. Bedanya, kini mereka telah direkrut oleh salah satu tim terbaik di dunia dan akan merasakan asuhan pelatih revolusioner, Pep Guardiola.
Dua dari tiga pemain itu diperkenalkan pada pekan ini. Mereka adalah Abdukodir Khusanov (20) dan Vitor Reis (19). Satu pemain lainnya adalah Claudio Echeverri (18) yang telah dipinjamkan kembali ke River Plate hingga akhir musim ini.
Menariknya, ketiga pemain itu pernah satu arena dengan pemain-pemain Indonesia. Khusanov, misalnya, pernah menghadapi tim U-20 dan U-23 Indonesia pada periode 2023 dan 2024. Kala itu, Khusanov membela tim U-20 Uzbekistan pada Piala Asia U-20 2023. Mereka berjumpa Indonesia pada babak penyisihan yang berakhir sama kuat, 0-0.
Satu tahun berselang, Khusanov dan tim U-23 Uzbekistan mengandaskan langkah Indonesia di semifinal Piala Asia U-23 2024. Indonesia tumbang 0-2. Pada dua pertandingan itu, Indonesia diasuh Shin Tae-yong.
Khusanov menghadapi pemain muda Indonesia, seperti Hokky Caraka, Ronaldo Kwateh, dan Dony Tri Pamungkas, di Piala Asia U-20 Uzbekistan 2023. Ia juga meredam pemain depan tim U-23 Indonesia, di antaranya Ramadhan Sananta, Marselino Ferdinan, dan Witan Sulaeman, pada Piala Asia U-23 Qatar 2024.
Ketika pemain-pemain muda Indonesia masih kesulitan mencari tempat di klub-klubnya di Eropa, seperti Marselino di Oxford United serta Rafael Struick di Brisbane Roar, Khusanov telah menunjukkan peningkatan kualitas signifikan dalam satu tahun terakhir. Ia telah bermain sebanyak 31 pertandingan bersama tim Liga Perancis, Lens, termasuk 16 pertandingan pada paruh pertama musim 2024-2025.
Sementara Reis dan Echeverri mencuri perhatian mulai dari Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia. Reis bermain sebagai bek tengah sekaligus kapten tim Brasil. Adapun Echeverri adalah gelandang tim U-17 Argentina.