Performa keuangan operator telekomunikasi di Indonesia hingga triwulan III-2024 ditekan oleh daya beli yang lesu dan berkurangnya penggunaan produk ”legacy”.
18 Nov 2024 13:16 WIB · Ekonomi
Operator telekomunikasi di Indonesia, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom Group, PT XL Axiata Tbk, PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison), dan PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren), sudah merilis kinerja triwulan III-2024. Smartfren adalah operator telekomunikasi yang terakhir merilis laporan keuangan dibandingkan dengan operator telekomunikasi lainnya. Lantas, bagaimana kinerja mereka?
Mengutip info memo Telkom yang dirilis 30 Oktober 2024, pendapatan perusahaan selama sembilan bulan tahun 2024 tercatat Rp 112,21 triliun, naik tipis 0,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023, yang sebesar Rp 111,23 triliun.
Pendapatan perusahaan itu tertekan oleh beban. Selama sembilan bulan tahun 2024, total beban tumbuh 4,6 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 79,8 triliun, sementara beban operasional tumbuh 6,5 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 55,6 triliun.
Beberapa pos beban dilaporkan naik. Sebagai contoh, beban operasi dan pemeliharaan tumbuh sebesar 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp 30 triliun seiring dengan upaya perusahaan untuk terus mempertahankan dan meningkatkan konektivitas sebagai upaya untuk menumbuhkan dan memperkuat segmen bisnis ke bisnis (B2B) dan bisnis ke konsumen (B2C).
Beban sumber daya manusia tumbuh sebesar 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp 13,2 triliun karena ada program pensiun dini dengan nilai Rp 1,18 triliun yang telah dicairkan sepenuhnya pada triwulan III-2024.
Beban umum dan administrasi tercatat Rp4,9 triliun, naik sebesar 8,9 persen secara tahunan karena efek dasar yang rendah tahun lalu menyusul tingkat pemulihan yang lebih baik dalam sistem penagihan layanan pada triwulan III tahun 2023.
Lalu, beban penyusutan dan amortisasi juga meningkat secara moderat sebesar 0,7 persen secara tahunan dan 1,0 persen secara triwulanan. Peningkatan yang moderat tersebut terkait dengan inisiatif Telkom Group dalam mengoptimalkan belanja modal dan operasional.
Perusahaan mencatat rugi yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar investasi sebesar Rp 476 miliar, terutama untuk mengakui kerugian yang belum direalisasi dari investasi di GoTo.
Dari kenaikan total beban tersebut, laba Telkom grup hingga triwulan III-2024 turun secara tahunan 7,24 persen menjadi Rp 32,45 triliun. Sementara selama sembilan bulan tahun 2024, laba periode berjalan perusahaan tercatat Rp 17,67 triliun turun 9,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/0ba5e437-2753-4f63-94d1-a7420a63baaf_jpg.jpg)
Harga saham Telkom juga ikut tertekan dalam beberapa minggu terakhir. Sejak awal tahun, harga saham dikabarkan telah turun sekitar 30 persen.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Heri Supriadi di sela-sela aksi restorasi bumi dan peluncuran program Go Zero, di Pantai Glagah Wangi, Demak, Jumat (15/11/2024), buka suara terkait dengan performa keuangan tersebut.
”Posisi pendapatan kami masih didominasi pendapatan dari segmen konsumer, yakni layanan seluler dan Indihome. Kedua produk ini dikerjakan oleh Telkomsel. Di sana ada beberapa isu,” ujarnya.
Herry memberikan gambaran isu. Pangsa pasar bisnis layanan seluler di luar Jawa masih 70 persen. Akan tetapi, bisnis itu sekarang sedang mengalami penurunan permintaan produk suara dan SMS atau produk legacy. Selama sembilan bulan tahun 2024, pendapatan produk legacy turun sekitar Rp 2,9 triliun dibandingkan dengan sembilan bulan tahun 2023.
Kemudian, pangsa pasar layanan seluler di luar Jawa yang besar itu juga diwarnai dengan isu konsumen yang sekadar mencari promo. Porsi kelompok konsumen seperti ini diperkirakan 20 persen.
”Yang perlu kami lakukan adalah mempertahankan pangsa pasar dan high value customer. Kalau pos pendapatan data internet dan lainnya masih tumbuh. Mungkin tahun 2025, kinerja perusahaan masih terkena efek penurunan pendapatan produk legacy, tetapi itu kan gaya hidup masyarakat dan teknologi terus berkembang,” katanya.
Herry menambahkan, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Telkom Group selama sembilan bulan tahun 2024 mencapai Rp 56,6 triliun dengan margin EBITDA sebesar 50,5 persen. Dengan memperhitungkan program pensiun dini, EBITDA perusahaan yang dinormalisasi menurun sebesar 2,1 persen secara tahunan dan margin EBITDA yang dinormalisasi sebesar 51,5 persen.
”Dengan pencapaian EBITDA margin seperti itu, kami menganggapnya kami masih bisa menjaga profitabilitas,” imbuhnya.
Sepanjang sembilan bulan tahun 2024, Indosat Ooredoo Hutchison membukukan pendapatan sebesar Rp 41,81 triliun, naik secara tahunan 11,6 persen. EBITDA meningkat 15 persen secara tahunan menjadi Rp 20 triliun, dengan EBITDA margin 47,8 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/b09923e6-d642-451a-b845-c88b6cdd9685_jpg.jpg)
Seiring dengan kenaikan pendapatan, total beban perusahaan juga naik. Per September 2024, total beban naik 9,7 persen secara tahunan menjadi Rp 33,34 triliun.
Adapun selama sembilan bulan tahun 2024, laba bersih periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik induk tercatat Rp 3,87 triliun. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 yang sebesar Rp 2,78 triliun.
Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dalam siaran pers tanggal 30 Oktober 2024 mengatakan, pencapaian tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam menonjolkan keunggulan operasional, alokasi modal yang strategis, dan memanfatkan transformasi berbasis kecerdasan buatan. Kinerja itu juga dia klaim sebagai hasil dari strategi yang fokus pada peningkatan pelanggan dan efisiensi biaya yang terus dilakukan.
”Kami melanjutkan fokus untuk meningkatkan pengalaman serta memastikan kekuatan kinerja finansial seraya menavigasi lanskap telekomunikasi yang terus berkembang,” ucap Vikram.
Sepanjang sembilan bulan tahun 2024, XL Axiata membukukan pendapatan Rp 25,37 triliun, naik 6 persen secara tahunan. Pendapatan dari data dan layanan digital berkontribusi paling besar terhadap total pendapatan, yaitu sebesar Rp 23,37 triliun.
Kemudian, hingga September 2024, EBITDA perusahaan mencapai 13,3 triliun atau naik 13 persen secara tahunan, dengan EBITDA margin 52,4 persen. Adapun laba bersih mencapai Rp 1,33 trillun.
Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini, Kamis (7/11/2024), di Jakarta, menyebut, posisi keuangan XL Axiata sehat per akhir September 2024. Utang kotor perusahaan tercatat Rp 12,7 triliun, dengan rasio gearing net debt to EBITDA (termasuk finance lease atau pembiayaan kepada penyewa) sebesar 2,5 kali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/01/a73fe6cf-99f2-4717-b124-ff41c498ca49_jpg.jpg)
Utang bersih perusahaan sebesar Rp 10,9 triliun. XL Axiata tidak memiliki utang berdenominasi dollar AS. Sebesar 47 persen dari pinjaman yang ada saat ini memiliki suku bunga mengambang dan 53 persen memiliki suku bunga tetap. Arus kas perusahaan berada pada tingkat yang sehat dengan peningkatan sebesar 23 persen menjadi Rp 7,6 triliun.
”Situasi dan kondisi industri telekomunikasi nasional saat ini sangat menantang karena kompetisi berlangsung ketat di tengah daya beli masyarakat yang terus melemah. Tantangan ke depan tentunya tidak akan lebih ringan lantaran kondisi ekonomi Indonesia yang masih akan terpengaruh oleh kondisi geopolitik dunia serta tingkat daya beli masyarakat yang lemah,” ucap Dian.
Berdasarkan laporan keuangan Smartfren yang dirilis pada Kamis (14/11/2024), pendapatan perusahaan selama sembilan bulan tahun 2024 tercatat Rp 8,5 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 yang sebesar Rp 8,62 triliun.
Total beban usaha Smartfren hingga triwulan III-2024 ialah Rp 8,7 triliun. Sementara total beban usaha pada periode yang sama tahun sebelumnya adalah Rp 8,3 triliun.
Hingga kuartal III-2024 pula, Smartfren membukukan rugi bersih senilai Rp 1 triliun. Posisi utang berbunga perseroan mencapai Rp 17,4 triliun dengan porsi ekuitas sebesar Rp 21,7 triliun.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis (14/11/2024), Sekretaris Korporat James Wewengkang menyampaikan, sudah ada penandatanganan Akta Perjanjian Kredit Sindikasi oleh Smartfren, PT Smart Telecom, dan bank-bank sindikasi.
PT BCA Tbk dan PT Sarana Multi Infrastruktur bertindak sebagai original mandated lead arranger dan bookrunner. PT Bank Digital BCA, PT Bank Permata Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan PT Indonesia Infrastructure Finance juga terlibat dalam kredit sindikasi itu.
James mengatakan, nilai fasilitas pinjaman Rp 10 triliun. Peruntukannya adalah untuk pembiayaan kembali pinjaman perseroan dan Smartel kepada bank sindikasi sebelumnya, pembiayaan untuk lelang spektrum pita frekuensi, serta belanja modal Smartfren ataupun Smartel. Fasilitas pinjaman ini berjangka waktu tujuh tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/31/15407268-d959-48d3-a8c2-3822e8acae42_jpg.jpg)
Samuel Sekuritas Indonesia, dalam laporan riset Jumat (15/11/2024), di Jakarta, menuliskan, tiga perusahaan telekomunikasi besar Indonesia, yakni Telkom Group, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata, membukukan pendapatan agregat triwulan III-2024 sebesar Rp 59,1 triliun. Nilai ini secara triwulan minus 2,5 persen. Secara tahunan pun, nilai itu hanya tumbuh 0,7 persen.
”Penurunan pendapatan secara triwulanan disebabkan oleh daya beli konsumen yang lesu, berkurangnya penggunaan produk legacy, dan penurunan belanja per konsumen untuk layanan seluler atau average revenue per user (ARPU),” tulis Samuel Sekuritas Indonesia.
Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan, sektor industri telekomunikasi Indonesia tahun 2025 masih prospektif. Hal ini didukung oleh pertumbuhan permintaan data internet yang kuat yang didorong oleh penetrasi dan transformasi digital yang dipimpin pemerintah, peluang untuk memperluas basis pelanggan di area yang belum terjangkau, lelang spektrum, dan berbagai inisiatif strategis para operator.
Sebagai contoh, Telkom Group fokus memperluas pusat data, Indosat Ooredoo Hutchison fokus pada kecerdasan buatan, dan potensi merger XL Axiata dengan Smartfren.
Penulis:
Caecilia MedianaEditor:
Aufrida Wismi WarastriPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .