Arsip Foto Kompas: Bagaimana Masa Depan Laut Kita

Selama satu dekade ini perubahan iklim sebagai salah satu isu besar yang mulai berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir.

07 Jun 2025 10:15 WIB · Foto Cerita

Oleh Raditya Mahendra Yasa

Hamparan biru laut nusantara menyimpan banyak kisah tentang budaya, kehidupan, dan krisis yang kian nyata. Laut juga bukan sebatas pemandangan indah pantai dan luasnya samudera beserta isinya, di balik itu ada ancaman besar eksploitasi dan perubahan iklim yang harus dihadapi.

Di pagi yang tenang laut masih memanggil nelayan untuk pergi mengarunginya dari berabad-abad lalu sampai hari ini. Laut bukan sekedar bentang pasir putih dan air biru melainkan bagi masyarakat pesisir adalah rumah yang melahirkan banyak budayanya.

Wisatawan menikmati pemandangan saat senja di atas bukit di Gili Lawa Darat di Kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Selasa (29/8/2017).

Pantai Indonesia yang membentang sepanjang 95.000 kilometer menjadikan negara ini sebagai salah satu pemilik garis pantai terpanjang di dunia. Kondisi geografis ini melahirkan dan mendukung tumbuhnya berbagai suku yang menggantungkan hidup kepada laut.

Sementara kehidupan yang dinamis juga turut membentuk budaya maritim dengan tradisi, mata pencaharian, dan sistem kepercayaan masyakarat pesisir. Beberapa suku yang terkenal salah satunya adalah Suku Bajo di wilayah Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, dan Kalimantan Timur.

Foto drone perkampungan suku Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sabtu (16/7/2022).
Bagi masyarakat nelayan Desa Lamalera di Lembata - Flores Timur NTT, menangkap ikan paus berarti berburu dengan tombak. Serombongan paus pandu (pilot whale atau temu bela) di antara bulan Mei sampai Agustus, banyak berkeliarandi sekitar Laut Sawu. Dengan perahu kecil bercadik (peledang), nelayan pemburu dari Lamalera ini memburu dan menombaknya. Salah seekor paus pandu kecil ini, sedang digulingkan dan segera dibantai, dagingnya pun dibagi-bagi untuk penganan tambahan.
Lahir, hidup dan mati di atas perahunya, cara bermasyarakat Suku Laut di perairan Batam cukup khas. Warga Indonesia di tepi jalur pelayaran Internasional ini sangat membutuhkan uluran tangan perhatian.
Salah satu keunikan perahu dan cara berdayung di dunia, terdapat di daerah Asmat, Irian Jaya. Perahu lesung dari balok utuh, dibentuk indah penuh hiasan, ditambah cara berdayung sambil berdiri dengan dayung panjang menggenjot lalu perahu membelah sungai luas berarus deras. Penduduk Asmat memang manusia sejati yang hidup di hutan rawa penuh sungai.
 Perkampungan masyarakat Suku Laut dengan rumah-rumah di atas perairan di Pulau Bertam, Kecamatan Belakang Padang, Riau, (9/4/1997)
Mereka juga disebut sebagai gipsi laut karena hidup berpindah-pindah dengan mendirikan rumah di atas tumpukan batu karang di tengah laut, yang dikenal dengan rumah tancap.
Pedagang mengecek ikan asin milik warga yang akan ditukar dengan pisang di Kampung Bajo Torosiaje, Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Jumat (15/7/2022).
 Anak-anak mengikuti kegiatan belajar di luar ruang yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia saat kapal Gurano Bintang berlabuh di Kampung Yomakan, Distrik Rumberpon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Kamis (10/8).

Suku ini dikenal sebagai pengembara laut karena kehidupannya yang terus berpindah-pindah, tinggal di perahu dan rumah panggung. Banyak ritual dan tradisi yang tercipta dari mitos serta kepercayaan mereka terhadap lautan.

Dalam rentang waktu puluhan tahun jurnalis Harian Kompas telah mendokumentasikan kehidupan mereka di berbagai pelosok pulau dan perairannya. Pada ekspedisi tahun Jelajah Koral tahun 2017 banyak memotret soal keindahan bawah laut dan ancaman kerusakan lingkungannya.

Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai). Menurut rencana, perairan ini serta beberapa area lain di Morotai akan menjadi kawasan konservasi perairan (KKP) untuk memperkuat/memperluas KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012. KKP Pulau Rao seluas 330 hektar akan diperluas menjadi 58.011 ha yang terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu.
Seorang penyelam menikmati keindahan terumbu karang di perairan Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Juni 2007.
Serumpun alga laut melayang di atas koloni bulu babi (Diadema setosum) seperti kerumunan-kerumunan hitam di dasar laut yang karangnya telah rusak di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, akhir November 2008. Kerusakan terumbu karang tak hanya disebabkan oleh pengaruh perubahan alam, seperti pemanasan global, tetapi juga oleh ulah manusia, seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan perusakan ekosistem pesisir.
Dengan sistem seperti memasang puzzle, turis pun dengan mudah dapat menanam bibit 1.280 terumbu karang pada 50 rak di dasar laut.
Terumbu karang mati, Senin (4/7), terlihat berserakan di Pulau Pagang, Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar. Kerusakan itu disebabkan aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan sembarangan.
Transplantasi Terumbu Karang   Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang, bersiap melakukan transplantasi terumbu karang di perairan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (18/5/2014). Kegiatan itu dilakukan dalam rangka bimbingan teknis pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil dalam pengembangan mata pencarian alternatif dan pengelolaan ekosistem di Jatim.
Pemandangan dari salah satu ruang di dalam kapal.Kapal Karam Mawali yang tenggelam pada era Perang Dunia Ke-dua di perairan Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (14/6).
Kondisi terumbu karang di salah satu sudut titik selam Bhayangkari, Desa Barat Lembongan, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa (24/10). Titik selam tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang relatif kaya.

Tahun pertengahan tahun 2023 Kompas kembali mengadakan ekspedisi maritim  yang menyoroti soal isu kelautan dan perikanan di beberapa wilayah Indonesia timur. Selain itu juga mengangkat tradisi bagaimana warga warga pesisir menjaga lingkungan mereka dengan pendekatan adat.

Besarnya potensi kelautan khususnya pada perikanan tangkap berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2024 mencapai 3.34 juta ton. Dengan potensi sebesar itu nelayan kecil tetap harus bertarung dengan kapal-kapal ikan besar selama ini.

Bambang Zakaria (56) berusaha melepaskan seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang terkena jeratan tali pada kumpulan sampah di dekat Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (12/6/2022).

Daratan yang Hilang

Selama satu dekade ini perubahan iklim sebagai salah satu isu besar yang mulai berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir. Di pesisir utara Jawa dari wilayah Jakarta hingga ke timur tepatnya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah fenomena abrasi tampak nyata.

Ombak tak lagi jinak dan laut seolah semakin rakus menelan daratan dengan fenomena abrasi yang terus menggerus. Alih fungsi lahan yang sebelumnya merupakan ekosistem mangrove berubah menjadi kawasan industri dan permukiman.

 Keadaaan tersebut kian mempertegas potret kerusakan pesisir utara jawa. Tanpa penyangga alami yang kuat hingga memundurkan garis pantai puluhan meter setiap tahunnya. Di beberapa wilayah antara lain Subang, Pekalongan hingga Gresik rumah-rumah terpaksa ditinggalkan karena dinding beton tidak lagi mampu menahan amukan laut yang semakin tinggi dan deras.

 Hilangnya hutan mangrove memperparah kondisi ini. Akar-akar yang dulunya kuat menahan lumpur dan meredam gelombang kini lenyap tergantikan tambak atau lahan industri. Salah satunya di Demak, Jawa Tengah ribuan hektar lahan mangrove telah hilang sejak dua dekade terakhir.

Hunian warga yang terkena abrasi dan hempasan gelombang laut di Dusun Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Sejak tahun 2002, sepanjang garis pantai di desa tersebut mengalami abrasi dan subsidensi atau amblesan tanah.
Permukiman warga yang masih terus bertahan dengan keadaan rumahnya yang setiap saat tenggelam karena pasang air laut di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2023). Rob yang terjadi beberapa tahun ini semakin meluas diperparah beberapa faktor antara lain penurunan permukaan tanah, abrasi, peralihan fungsi lahan dan perubahan iklim.
Hunian warga yang ditinggalkan akibat terkena abrasi dan gelombang pasang di Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (27/12/2022). Ratusan KK terdampak abrasi dan limpasan air laut tersebut.

Tanpa perlindungan alami tersebut air laut masuk mengikis persawahan dan menggenangi permukiman. Warga yang sebelumnya tumbuh dari budaya agraris terpaksa harus beralih peran sebagai nelayan kecil atau bekerja serabutan. Sebagian dari mereka juga terusir dari tanah kelahirannya setelah halaman rumah mereka tenggelam.

Fenomena pasang air laut atau rob juga semakin akrab membanjiri beberapa wilayah pesisir. Tanggul-tanggul beton tinggi yang sebelumya tidak pernah terjangkau mulai tidak mampu melindungi limpasan air ketika pasang.

Banjir yang tanpa disertai hujan ini semakin sering terjadi dan meluas seperti di Muara Baru dan Penjaringan wilayah Jakarta. Pompa-pompa besar yang telah disiapkan seolah tak mampu menghalau air masuk. Rob menjadi babak baru bagi warga untuk bertahan dan beradaptasi dengan banjir yang rutin datang.

Sementara berjarak 350 kilometer dari Muara Baru terdapat satu wilayah kecamatan yang beberapa desanya mulai tenggelam karena dampak dari kerusakan pesisir. Bedono dan Timbulsloko merupakan potret bagaimana laut menghapuskan daratan dalam waktu cepat.

Sejumlah pemuda-pemudi Islam peserta Bengkel Hijrah Iklim berkeliling Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (6/2/2025) untuk melihat langsung dampak banjir rob. Banjir rob yang terjadi akibat berbagai faktor, termasuk perubahan iklim itu diharapkan bisa menggugah semangat mereka untuk lebih gencar dalam syiar terkait dampak krisis iklim.
Warga melintasi jembatan kayu dengan latar belakang sebuah sisa rumah yang ditinggalkan pemiliknya setelah tenggelam di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Rabu (29/5/2025).
Makam desa yang telah dikepung laut di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2023). Dalam sepekan ini musim pasang air laut kembali terjadi seiring dengan fenomena fase bulan baru.
Mukaromah (62), perempuan nelayan di Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah, tengah menyiapkan jaring untuk menangkap ikan di tambak dekat rumahnya yang tenggelam.
Kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu (3/7/2024).
Desa Kawasi yang berada di kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (25/11/2023).
Progres pembangunan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang merupakan kawasan industri terpadu untuk pengolahan logam berat dan berlokasi di Desa Lelilef, Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
Smelter PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Kawasan perbukitan yang menjadi lokasi penambangan di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (5/6/2021). Penambangan material nikel di pulau itu saat ini masih terus berlangsung.
Kawasan pantai yang sebagian tertutup lumpur di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, Minggu (6/6/2021).
Kawasan perbukitan yang menjadi lokasi penambangan di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (5/6/2021).

Ekosistem laut Indonesia yang kaya dan beragam juga mengalami tantangan berat terhadap kerusakan lingkungannya. Aktivitas manusia dan industri pertambangan yang tidak ramah lingkungan berlangsung di beberapa wilayah pesisir.

 Di wilayah Indonesia timur eksploitasi penambangan nikel berdampak serius terhadap ekologi dari hutan, pesisir, dan laut. Degradasi lingkungan pada beberapa waktu ini muncul dari pembuangan limbah yang menimbulkan sedimentasi dan rusaknya terumbu karang, hingga konflik sosial.

Warga mengikuti upacara HUT RI Ke-77 dengan latar belakang sebuah rumah yang tenggelam di Dusun Timbulsloko, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (17/8/2022). KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN) 17-08-2022 *** Local Caption ***

Masa depan laut saat ini berada dalam pilihan untuk terus menjaganya dan memastikan menjadi sumber kehidupan bukan yang berkelanjutan.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Mahendra Yasa
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .