Selama satu dekade ini perubahan iklim sebagai salah satu isu besar yang mulai berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir.
07 Jun 2025 10:15 WIB · Foto Cerita
Hamparan biru laut nusantara menyimpan banyak kisah tentang budaya, kehidupan, dan krisis yang kian nyata. Laut juga bukan sebatas pemandangan indah pantai dan luasnya samudera beserta isinya, di balik itu ada ancaman besar eksploitasi dan perubahan iklim yang harus dihadapi.
Di pagi yang tenang laut masih memanggil nelayan untuk pergi mengarunginya dari berabad-abad lalu sampai hari ini. Laut bukan sekedar bentang pasir putih dan air biru melainkan bagi masyarakat pesisir adalah rumah yang melahirkan banyak budayanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/58cfb4ca46c0270f83ac5cb18e04c947-20170829KUM17.JPG)
Pantai Indonesia yang membentang sepanjang 95.000 kilometer menjadikan negara ini sebagai salah satu pemilik garis pantai terpanjang di dunia. Kondisi geografis ini melahirkan dan mendukung tumbuhnya berbagai suku yang menggantungkan hidup kepada laut.
Sementara kehidupan yang dinamis juga turut membentuk budaya maritim dengan tradisi, mata pencaharian, dan sistem kepercayaan masyakarat pesisir. Beberapa suku yang terkenal salah satunya adalah Suku Bajo di wilayah Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, dan Kalimantan Timur.
Suku ini dikenal sebagai pengembara laut karena kehidupannya yang terus berpindah-pindah, tinggal di perahu dan rumah panggung. Banyak ritual dan tradisi yang tercipta dari mitos serta kepercayaan mereka terhadap lautan.
Dalam rentang waktu puluhan tahun jurnalis Harian Kompas telah mendokumentasikan kehidupan mereka di berbagai pelosok pulau dan perairannya. Pada ekspedisi tahun Jelajah Koral tahun 2017 banyak memotret soal keindahan bawah laut dan ancaman kerusakan lingkungannya.
Tahun pertengahan tahun 2023 Kompas kembali mengadakan ekspedisi maritim yang menyoroti soal isu kelautan dan perikanan di beberapa wilayah Indonesia timur. Selain itu juga mengangkat tradisi bagaimana warga warga pesisir menjaga lingkungan mereka dengan pendekatan adat.
Besarnya potensi kelautan khususnya pada perikanan tangkap berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2024 mencapai 3.34 juta ton. Dengan potensi sebesar itu nelayan kecil tetap harus bertarung dengan kapal-kapal ikan besar selama ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/c47c9dfd6436ca32de6d04ec4fe60fe0-20220612DRA09.JPG)
Selama satu dekade ini perubahan iklim sebagai salah satu isu besar yang mulai berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir. Di pesisir utara Jawa dari wilayah Jakarta hingga ke timur tepatnya di Kabupaten Demak, Jawa Tengah fenomena abrasi tampak nyata.
Ombak tak lagi jinak dan laut seolah semakin rakus menelan daratan dengan fenomena abrasi yang terus menggerus. Alih fungsi lahan yang sebelumnya merupakan ekosistem mangrove berubah menjadi kawasan industri dan permukiman.
Keadaaan tersebut kian mempertegas potret kerusakan pesisir utara jawa. Tanpa penyangga alami yang kuat hingga memundurkan garis pantai puluhan meter setiap tahunnya. Di beberapa wilayah antara lain Subang, Pekalongan hingga Gresik rumah-rumah terpaksa ditinggalkan karena dinding beton tidak lagi mampu menahan amukan laut yang semakin tinggi dan deras.
Hilangnya hutan mangrove memperparah kondisi ini. Akar-akar yang dulunya kuat menahan lumpur dan meredam gelombang kini lenyap tergantikan tambak atau lahan industri. Salah satunya di Demak, Jawa Tengah ribuan hektar lahan mangrove telah hilang sejak dua dekade terakhir.
Tanpa perlindungan alami tersebut air laut masuk mengikis persawahan dan menggenangi permukiman. Warga yang sebelumnya tumbuh dari budaya agraris terpaksa harus beralih peran sebagai nelayan kecil atau bekerja serabutan. Sebagian dari mereka juga terusir dari tanah kelahirannya setelah halaman rumah mereka tenggelam.
Fenomena pasang air laut atau rob juga semakin akrab membanjiri beberapa wilayah pesisir. Tanggul-tanggul beton tinggi yang sebelumya tidak pernah terjangkau mulai tidak mampu melindungi limpasan air ketika pasang.
Banjir yang tanpa disertai hujan ini semakin sering terjadi dan meluas seperti di Muara Baru dan Penjaringan wilayah Jakarta. Pompa-pompa besar yang telah disiapkan seolah tak mampu menghalau air masuk. Rob menjadi babak baru bagi warga untuk bertahan dan beradaptasi dengan banjir yang rutin datang.
Sementara berjarak 350 kilometer dari Muara Baru terdapat satu wilayah kecamatan yang beberapa desanya mulai tenggelam karena dampak dari kerusakan pesisir. Bedono dan Timbulsloko merupakan potret bagaimana laut menghapuskan daratan dalam waktu cepat.
Ekosistem laut Indonesia yang kaya dan beragam juga mengalami tantangan berat terhadap kerusakan lingkungannya. Aktivitas manusia dan industri pertambangan yang tidak ramah lingkungan berlangsung di beberapa wilayah pesisir.
Di wilayah Indonesia timur eksploitasi penambangan nikel berdampak serius terhadap ekologi dari hutan, pesisir, dan laut. Degradasi lingkungan pada beberapa waktu ini muncul dari pembuangan limbah yang menimbulkan sedimentasi dan rusaknya terumbu karang, hingga konflik sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/08/27/b45c412e-c440-4542-ba32-b898c2a3809a.jpg)
Masa depan laut saat ini berada dalam pilihan untuk terus menjaganya dan memastikan menjadi sumber kehidupan bukan yang berkelanjutan.
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .