Tiga fasilitas nuklir Iran dihajar AS. Iran mengklaim tidak ada risiko bagi warga sekitarnya. IAEA belum mengetahui potensi radiasinya.
22 Jun 2025 12:15 WIB · Internasional
DUBAI, MINGGU — Organisasi Energi Atom Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya meski tiga fasilitas pengayaan nuklirnya dihajar Amerika Serikat. Sampai sejauh ini Iran mengklaim tidak ada potensi risiko bagi penduduk yang tinggal di sekitar fasilitas nuklir itu. AS menyerang tiga lokasi pengayaan nuklir dan militer Iran, yakni Natanz, Fordo, dan Isfahan, Minggu (22/6/2025).
Belum ada laporan rinci mengenai dampak serangan itu. Namun, pihak berwenang Iran mengatakan, tidak ada tanda-tanda kontaminasi setelah serangan AS atas situs-situs utama tersebut.
”Tidak ada tanda-tanda kontaminasi yang tercatat,” kata Pusat Nasional untuk Sistem Keamanan Nuklir Iran. Lembaga itu berada di bawah Organisasi Energi Atom Iran. ”Oleh karena itu, tidak ada bahaya bagi penduduk yang tinggal di sekitar situs-situs tersebut.”
Fasilitas nuklir Iran di Natanz yang terletak sekitar 220 kilometer di tenggara ibu kota Teheran adalah tempat pengayaan utama Iran dan telah menjadi sasaran serangan udara Israel.
Di Natanz, uranium telah diperkaya hingga kemurnian 60 persen. Ini tingkat radioaktif ringan, tetapi tinggal selangkah lagi dari tingkat yang dibutuhkan untuk bisa menjadi senjata. Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebelum serangan AS, Israel sudah menghancurkan bagian atasnya.
Bagian lain dari fasilitas di Dataran Tinggi Tengah Iran itu berada di bawah tanah untuk mengantisipasi potensi serangan udara. Fasilitas tersebut mengoperasikan beberapa kaskade atau kelompok sentrifus yang bekerja sama untuk memperkaya uranium dengan lebih cepat. IAEA meyakini sebagian besar atau semua sentrifus ini dihancurkan oleh serangan Israel yang memutus aliran listrik ke lokasi tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/a55a9386dd9e92eae863e681770b66f4-TOPSHOT_US_IRAN_ISRAEL_CONFLICT_TRUMP_130722718.jpg)
Meski diserang, IAEA mengatakan, tingkat kerusakan dan kontaminasi hanya terjadi di lokasi itu, tidak sampai ke daerah sekitarnya. Iran juga sudah menggali Kūh-e Kolang Gaz Lā atau Gunung Beliung yang berada tepat di luar pagar selatan Natanz. Sebelumnya, Natanz pernah diserang virus Stuxnet yang menghancurkan sentrifus Iran.
Adapun fasilitas nuklir Iran di Fordo terletak sekitar 100 kilometer barat daya Teheran. Fasilitas ini juga menjadi tempat kaskade sentrifus, tetapi tidak sebesar Natanz. Menurut IAEA, pembangunan Fordo dimulai pada 2007, tetapi Iran baru memberi tahu IAEA tentang keberadaan Fordo pada 2009 setelah AS dan badan intelijen Barat sekutu mengetahui keberadaannya.
Fordo terkubur di bawah gunung dan dilindungi oleh baterai antipesawat yang juga dirancang untuk menahan serangan udara. Untuk bisa menghancurkan Fordo, para ahli militer memperkirakan hanya bom ”penghancur bunker” yang bisa menembus jauh di bawah permukaan sebelum meledak. Contohnya seperti bom GBU-57 A/B Massive Ordnance Penetrator terbaru yang ada di gudang senjata AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/2a97c5841d630e210846671e68b28640-FILES_US_ISRAEL_IRAN_CONFLICT_NUCLEAR_AIRVRAFT_130708446.jpg)
Bom berpemandu presisi seberat 13.600 kilogram tersebut dirancang untuk menyerang bunker dan terowongan yang terkubur dalam tanah dan diperkeras. Menurut Angkatan Udara AS, mereka hanya mengonfigurasi dan memprogram pesawat pengebom siluman B-2 Spirit untuk mengirimkan bom tersebut. B-2 hanya diterbangkan oleh Angkatan Udara AS dan diproduksi oleh Northrop Grumman.
Sementara fasilitas di Isfahan, sekitar 350 kilometer di tenggara Teheran, mempekerjakan ribuan ilmuwan nuklir. Fasilitas tersebut juga merupakan tempat bagi tiga reaktor penelitian dan laboratorium China yang terkait dengan program atom negara tersebut. Israel telah menyerang gedung-gedung di lokasi nuklir Isfahan, salah satunya fasilitas konversi uranium. IAEA mengatakan, tidak ada tanda-tanda peningkatan radiasi di lokasi tersebut.
Selain ketiga fasilitas itu, Iran masih punya beberapa lokasi lain yang tidak diumumkan sebagai target dalam serangan AS. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir komersial Iran berada di Bushehr, Teluk Persia, sekitar 750 kilometer selatan Teheran. Iran sedang membangun dua reaktor lain seperti itu di lokasi tersebut. Bushehr menggunakan bahan bakar uranium yang diproduksi di Rusia, bukan Iran, dan dipantau oleh IAEA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/8d61394a792423e324cbfea6ae9ca2c7-IRAN_US_ISRAEL_CONFLICT_130722973.jpg)
Reaktor air berat Arak berada 250 kilometer barat daya Teheran. Air berat membantu mendinginkan reaktor nuklir, tetapi menghasilkan plutonium sebagai produk sampingan yang berpotensi digunakan dalam senjata nuklir. Iran telah setuju berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara besar dunia untuk mendesain ulang fasilitas tersebut guna meredakan kekhawatiran proliferasi.
Reaktor Riset Teheran berada di kantor pusat Organisasi Energi Atom Iran, badan sipil yang mengawasi program nuklir Iran. Awalnya reaktor ini memerlukan uranium yang sangat diperkaya, tetapi kemudian dimodifikasi untuk menggunakan uranium yang diperkaya rendah karena kekhawatiran akan proliferasi.
Khawatir dengan ancaman radiasi dan risiko kesehatan, IAEA tidak mendeteksi pelepasan besar dari serangan Israel sebelumnya. Risiko pelepasan besarnya relatif rendah. Kepala IAEA Rafael Grossi memperkirakan kontaminasi radiologis dan kimia kemungkinan terjadi di dalam Natanz, tetapi tingkat radiasi di luar kompleks tetap normal. Kalaupun radiasi bocor dari salah satu lokasi, kata para ahli, jumlahnya tidak akan menimbulkan risiko bagi orang-orang di dekat fasilitas tersebut atau di wilayah yang lebih luas.
”Sangat sedikit uranium yang akan dilepaskan dalam serangan semacam ini,” kata David Albright, fisikawan dan ahli senjata nuklir yang mendirikan Institut Sains dan Keamanan Internasional di Washington DC, AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/16/589a1035-791e-43f2-9ddb-a146400f3d04_jpg.jpg)
Uranium, lanjut Albright, tidak terlalu beracun dan umum ditemukan di lokasi-lokasi tertentu. Seseorang yang berdiri di dekat fasilitas pengayaan yang mengalami kebocoran mungkin tidak akan terpapar radiasi lebih banyak dibandingkan orang yang sering terbang trans-Atlantik. Pasalnya, orang yang sering terbang sejauh itu menerima radiasi sedikit lebih tinggi karena dosis radiasi lebih besar di ketinggian.
Risiko kesehatan akan ada jika seseorang menelan uranium dalam jumlah besar. Uranium dapat ditemukan secara alami di air laut dan kerak bumi. Bukan radiasi yang dikhawatirkan, tetapi lebih pada gas fluor. Fluorin dicampur dengan bentuk uranium pekat untuk membuat uranium heksafluorida yang kemudian dimasukkan ke dalam sentrifus. Fluorin sangat mudah menguap dan cepat terkorosi serta dapat membakar kulit. Fluorin sangat mematikan jika terhirup.
Fabian Hinz dari Institut Studi Strategis Internasional mengatakan, kekhawatiran yang jauh lebih besar bagi masyarakat adalah jika Israel menyerang satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir komersial Iran. Di pembangkit listrik tenaga nuklir, inti reaktor dan bahan bakar nuklir bekas merupakan komponen yang paling radioaktif. Beberapa di antaranya tetap berbahaya selama ribuan tahun.
Pembangkit listrik Bushehr terletak 750 kilometer di selatan Teheran. ”Namun, tampaknya sangat tidak mungkin Israel akan menyerang Bushehr. Soalnya, itu tidak dianggap sebagai bagian dari program nuklir,” kata Hinz. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti