Dalam 30 bulan, Portugal membangun ulang era keemasan yang sempat hancur lebur di Qatar. Ronaldo dan rekan-rekan kembali bersemi di Liga Nasional Eropa.
09 Jun 2025 20:54 WIB · Olahraga
Tangisan Cristiano Ronaldo kembali pecah di lapangan. Dia menangis bahagia setelah tendangan penalti Ruben Neves memastikan Portugal keluar sebagai juara Liga Nasional Eropa 2024-2025. Situasi itu berbeda dengan air mata pada 30 bulan lalu, yaitu ketika Ronaldo tidak kuasa menahan rasa hancur dan kecewa karena gagal di Piala Dunia 2022.
Pria 40 tahun itu menangis di hadapan remaja 17 tahun, Lamine Yamal, yang tampak tegar setelah Spanyol kalah adu penalti. ”Saya sudah meraih banyak gelar di klub, tetapi tidak ada yang lebih baik dibandingkan menang bersama Portugal. Ini adalah air mata karena begitu banyak kebahagiaan dan misi yang tercapai,” ujar Ronaldo.
Wajar saja jika Ronaldo sangat terharu seusai pertandingan. Dia kembali mampu mempersembahkan trofi untuk Portugal walaupun sudah berusia kepala empat. Bayangan kesuksesan itu sama sekali tidak terlihat pada dua setengah tahun lalu, saat Portugal takluk dari Maroko di perempat final Piala Dunia Qatar.
”CR7”, panggilannya, terlihat sudah terlalu tua untuk memimpin Portugal ketika itu. Dia bahkan dibangkucadangkan oleh Pelatih Fernando Santos dalam dua laga terpenting, yaitu di babak 16 besar dan perempat final. Seusai Piala Dunia, pilihan pensiun terasa lebih realistis baginya dibandingkan harus membebani tim nasional.
Pelatih Roberto Martinez ditunjuk menggantikan Santos pada Januari 2023. Dia punya pilihan untuk membongkar ulang skuad setelah kegagalan total di Piala Dunia. Banyak pemain muda berbakat dari Portugal yang bisa menjadi fondasi era baru. Namun, sang pelatih tetap memercayai Ronaldo yang sudah bermigrasi ke Liga Arab Saudi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/06c78509f9372d2c49a7cf05f189dc3a-Portugal_Spain_Nations_League_Final_Soccer_1_.jpeg)
Martinez, dalam wawancara dengan UEFA pada Juni 2024, berkata, kualitas pemain bukan segalanya dalam pemilihan skuad. Sosok manusia di balik setiap pemain tidak kalah penting. Dia akan memilih pemain yang bisa berpengaruh positif di dalam dan luar lapangan. Ronaldo adalah salah satu yang masuk kriteria tersebut.
Kualitas pemain ditambah dengan nilai-nilai lain membantu Anda untuk juara. (Roberto Martinez)
Sosok Ronaldo dipercaya bisa menjadi pemimpin sekaligus inspirasi untuk para pemain muda. ”Jika memiliki pemain seperti Ronaldo untuk dicontoh, itu akan membuat kami lebih baik di generasi selanjutnya. Itu yang dibawa olehnya. Dia adalah seorang pemenang yang selalu menutut kesempurnaan,” ujar Martinez.
Kepercayaan Martinez diperlihatkan dari daftar pemain mula. Ronaldo nyaris selalu menjadi pemain mula di era Martinez, termasuk sejak perempat final hingga final Liga Nasional. Peraih lima gelar Ballon d’Or itu membalas kepercayaan dengan beperan sebagai pemimpin seutuhnya, meninggalkan segala ego individu.
Di Piala Dunia, Ronaldo lebih terlihat seperti seorang megabintang dibandingkan pemimpin tim. Dia hanya ingin mencetak gol, tetapi tidak ikut dalam proses menyerang dan bertahan sebagai kesatuan tim. Bukan tanpa alasan, Santos membangkucadangkannya di babak gugur, walaupun punya hubungan seperti ayah dan anak.
Kebangkitan karakter ”CR7” terpancar jelas di partai puncak versus Spanyol. Dia menjadi pemimpin sesungguhnya. Ronaldo berkali-kali dijatuhkan pemain bertahan Spanyol saat menjemput bola ke lini tengah, tetapi tidak berhenti mencoba. Dia juga berlari sepanjang laga untuk memimpin tekanan agresif Portugal saat kehilangan bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/9d37ba325ac7fc60be752767d272ce90-wires_photo_2025_06_09T055929.677.jpg)
Hasilnya, Ronaldo tidak bisa melanjutkan laga seusai dirawat di menit ke-88. Dia telah memberikan segalanya. Usianya tidak bisa berbohong. ”Saya merasakan (cedera) itu sejak pemanasan, tetapi untuk timnas saya rela jika harus patah kaki. Ini adalah (perebutan) gelar, saya akan bermain dan memberikan segalanya,” ungkapnya.
Adapun Ronaldo berperan besar dalam perjalanan Portugal menaklukkan Liga Nasional untuk kedua kali. Mantan pemain Real Madrid itu menghasilkan total delapan gol dari sembilan pertandingan. Gol itu, salah satunya, dicetak di final, membuat kedudukan kembali seimbang 2-2. Gol itu menjaga asa Portugal.
Jika Ronaldo bisa mencurahkan segala kemampuan, menjadi bagian tim, dan tanpa drama, separuh masalah Portugal sudah selesai. Hal itu yang membedakan perjalanan mereka di Piala Dunia dan Liga Nasional. Martinez tinggal memilih sepuluh pemain lain yang sudah sangat siap untuk mendampingi sang kapten.
Selain kebangkitan Ronaldo, Portugal kembali berbicara banyak juga berkat kemunculan bintang baru. Mereka memiliki para pemain yang sedang dalam level tertinggi, seperti trio Paris Saint-Germain, yaitu Joao Neves, Vitinha, dan Nuno Mendes. Ketiganya baru saja mengantar PSG berjaya di Liga Champions.
Trio itu dipercaya menjadi starter dalam laga final. Mendes berhasil menjadi pembeda untuk Portugal. Bek sayap kiri itu sukses meredam agresivitas dari Yamal yang merupakan kandidat kuat peraih Ballon d’Or tahun ini. Mendes juga mencetak gol pertama, terlibat dalam proses gol kedua, dan mengeksekusi sempurna di adu penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/0e4574a55014c56db462fd3b3e73c7e9-APTOPIX_Portugal_Spain_Nations_League_Final_Soccer_1_.jpeg)
Sosok pembeda, seperti Mendes, sangat dibutuhkan Portugal. Mereka nyaris hanya bergantung dengan kemampuan individu Ronaldo dan Bruno Fernandes selama beberapa tahun terakhir. Adapun pemain 22 tahun tersebut terpilih sebagai pemain terbaik dalam laga final versi UEFA.
”Kualitas pemain ditambah dengan nilai-nilai lain membantu Anda untuk juara. Kami tidak hanya memiliki tim biasa. Kami punya 16-17 pemain yang berada di level sama. Sebagai pelatih, saya punya lebih banyak opsi dan bisa mengganti konsep bermain dengan keistimewaan itu,” ujar Martinez, yang sebelumnya melatih generasi emas Belgia.
Kedalaman skuad bisa terlihat dari daftar susunan pemain mula di final. Saking padatnya di lini tengah, Neves yang berposisi asli sebagai gelandang harus diturunkan di bek sayap kanan. Trio gelandang diisi oleh Bernardo Silva, Bruno Fernandes, dan Vitinha. Adapun Martinez langsung mengganti Neves setelah turun minum karena strategi kurang berhasil.
Kedalaman itu pula yang membuat Portugal dijuluki seperti mesin diesel yang lambat panas. Mereka selalu tertinggal lebih dulu di babak perempat final, semifinal, hingga final, tetapi selalu bisa bangkit pada 30 menit terakhir. Lewat opsi lebih dari bangku cadangan, Portugal tidak pernah kehabisan cara untuk menang.
Beberapa faktor tersebut, mulai dari Ronaldo, bintang baru, hingga kedalaman skuad, sukses membangkitkan Portugal dari keterpurukan. Kejayaan di Liga Nasional bisa menjadi modal awal mereka menuju Piala Dunia tahun depan. Ronaldo dan rekan-rekan punya segalanya untuk berprestasi di level tertinggi. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto