Bagian Terbaik Memang Mata

Mantis menyukai humor receh Tembaga. Keduanya tertawa terkekeh. Segelas anggur rasanya pantas sebagai penggugur hati yang hancur.

22 Jun 2025 09:41 WIB · Cerpen

Oleh Teguh Affandi

Seekor katak hijau melompat dari cawan petri dalam tabung kaca; ekosistem rekaan di laboratorium Tembaga. Beberapa menit yang lalu, ia bukanlah seekor katak hijau seperti yang sekarang Tembaga amati, melainkan spesimen rantai DNA dari jaringan katak. Kloning berhasil, meski meleset dua menit; 5 menit 43 detik. Katalisator khusus harusnya mempercepat proses menjadi hanya sepanjang Joe Dassin menyenandungkan ”Les Champs-Elysées”. ”Sudah saatnya aku mengganti playlist,” kalimat Tembaga terputus, ”mulai tidak akurat lagu-lagu di laboratorium ini.” Dia lantas melakukan tabulasi karakterisktik katak hijau hasil kloning. Terkhusus efek katalis dari jaringan erektil manusia. 

”Mantan kekasihmu sudah kamu bunuh, tapi lagunya masih saja kamu putar.”  

Mantis tidak bisa lupa bagaimana lelaki tambun di hadapannya adalah dua manusia dalam satu tubuh. Tembaga begitu geram ketika mengetahui Bari ditiduri orang lain. Pada malam mendebarkan itu, Mantis masih memelototi sebuah jurnal, ketika Tembaga datang membawa koper besar. Mungkin Tembaga berubah pikiran dan akhirnya menerima tawaran penelitian kloning pelatuk hispaniola di Haiti, yang sepuluh hari lalu Tembaga tolak sebab menurutnya itu hanya usaha pemerintah buang-buang duit dan membungkam ilmuwan dengan dalih mencegah kepunahan fauna endemik. Sedangkan bagi Mantis, undangan penelitian itu adalah tiket mengecup bibir pantai berpasir, menjilati keindahan ombak, juga minuman tropis menyegarkan. 

Quote

Aku benci sofa merah kesayanganku dia pakai untuk mencumbu lelaki lain.

”Akhirnya kamu pergi ke Haiti?” 

”Aku tidak akan ke mana-mana,” jawab Tembaga. 

Mantis menunjuk koper besar. ”Buat apa bawa koper sebesar hippo itu.” 

”Aku baru saja mencincang Bari. Aku benci sofa merah kesayanganku dia pakai untuk mencumbu lelaki lain.” 

Mantis tak beranjak dari layar. Konsentrasinya tidak boleh sedikit pun lengah, tersisa dua halaman krusial. Dia memahami kemarahan Tembaga. Siapa saja bisa marah, termasuk lelaki tambun dengan kepala botak seperti Tembaga. 

Mantis menyaksikan Tembaga mengeluarkan beberapa kontainer dan memasukkan dalam chiller penyimpanan spesimen. Bagian-bagian khusus telah dicincang dan dipilih Tembaga. Ketika Mantis rampung memberi catatan pada jurnal dan mengirimkannya kepada reviewer lain, Tembaga terdengar menyenandungkan lagu kesukaan Bari. Tidak sebagus Joe Dassin, tapi cukup mengagetkan untuk dia yang sejak kecil tidak pernah tahu ada dunia lain selain meja belajar dan sumpeknya laboratorium.  

”Aku baru tahu kamu bisa menyanyi.” 

”Sebab Bari juga. Selama bersama, rasanya banjir suara Joe Dassin lebih sering melanda telinga daripada di Champs-Elysées.” 

Mantis menyukai humor receh Tembaga. Keduanya tertawa terkekeh. Segelas anggur rasanya pantas sebagai penggugur hati yang hancur. Mantis hendak mengeluarkan sisa anggur, tapi urung sebab ingat Tembaga telah diberi peringatan dokter; boleh minum alkohol kalau ingin ginjal kedua Tembaga turut diangkat. Mantis memilih mengeluarkan air karbonasi dan menuangnya pada dua gelas bening. Udara laboratorium yang disetel tidak lebih dari 23 derajat celsius, suara hening kota pukul dua pagi, dan suara cess air karbonasi memenuhi tiga perempat volume gelas. 

Quote

Konon bagian terbaik adalah mata, tapi aku tidak ingin tubuh culas masuk ke tubuhku.

”Mau diapakan potongan tubuh Bari itu?” Mantis menenggak air karbonasi.

”Sepanjang hidupnya, Bari bersih. Tidak minum alkohol, tidak merokok, tidak nyimeng. Aku paham betul setiap senti tubuhnya. Begitu terawat sangat bersih. Kamu pernah tahu daging termahal di dunia? Daging sapi yang setiap sentinya dipelihara dengan keseriusan,” Tembaga memang suka melantur, meski tidak sedang mabuk. 

”Jangan pikir kamu akan memotong dan menjadikannya steak atau yukhoe,” Mantis menyela. 

”Jelas tidak. Konon bagian terbaik adalah mata, tapi aku tidak ingin tubuh culas masuk ke tubuhku.” 

”Lantas?” 

”Apakah kamu tidak pernah berpikir kegagalan percobaan kloning kita sebab spesimen yang buruk? Makhluk hidup sudah tercemar limbah beracun, tubuhnya selalu cacat. Kini mencari spesimen sempurna sangatlah mustahil. Alam menghukum kehidupan kita. Semua penelitian kita dipermalukan. Kita dianggap gila.” 

”Jangan pikirkan untuk membuat seribu manusia seperti Bari,” Mantis mengancang-ancang ide Tembaga. 

”Aku tidak bodoh. Satu Bari sudah membuatku senewen, apalagi harus menggandakan yang serupa dia. Sakit itu cukup sekali,” Tembaga terbahak. Dia ingin tos dengan gelas Mantis, tapi sadar gelas Mantis telah kosong. Tos dengan gelas kosong sama saja merayakan kekalahan. 

”Bukankah kalian sudah serumah selama sepuluh tahun, dan….” 

”Kamu sangat picik, Mantis. Kondisi fisik tubuh tidak sama dengan kelakuan kami. Jasmani dan rohani itu tidak selamanya kongruen. Tidak kausalitas. Ada yang tampaknya sangat memesona, tapi tubuhnya penuh mala. Sebaliknya yang tampak lusuh, ternyata menyimpan banyak rahasia.” 

-

Sejak malam itu, Tembaga melakukan uji coba dari potongan-potongan jaringan tubuh Bari. Spesimen yang bisa jadi bahan penelitian atau sekadar jadi katalisator. Alangkah menyenangkan ketika cemooh-cemooh yang selama ini Tembaga terima, bisa dielak dengan kemenangan gemilang. Semua orang mengutuknya sebagai gila. Alam hancur, tapi tidak seharusnya direspons dengan melakukan kloning makhluk hidup. Tembaga telah mengambil sampel dari rambut dan kuku Bari—dua jaringan tubuh dengan laju pertumbuhan cukup cepat. Hasilnya masih kurang memuaskan. Lantas, Tembaga memikirkan satu bagian tubuh yang percepatan pertumbuhannya dalam ukuran detik dan seketika disambut bahak keras Mantis.  

”Tidak ada yang tidak mungkin, bukan?” 

”Benar….” 

”Semua demi ilmu pengetahuan,” Tembaga menampik. 

Terjadilah sekarang: proses panjang itu bertemu ujung. Kloning yang begitu panjang dapat disingkat dengan pemantik sangat menarik. Laboratorium penuh semarak dan pekik kemenangan. Katak hijau mungil tampak kaget dengan kehidupan yang begitu mendadak. Sebagaimana bayi baru mbrojol dari rahim, masih merah dan belum mengerti apa-apa. 

”Bersiaplah dengan segala kemungkinan, termasuk kontroversinya.” 

”Hidup terlalu lempeng itu tidak menarik,” jawab Tembaga. 

”Kalau kenapa-kenapa, asuransi dan tabungan emasku belum banyak.” 

”Hanya pecundang yang tidak berani bertempur. Pemabuk saja berani meludahi presiden,” Tembaga berseri-seri puas.

Tidak lama lagi semua akan menjadi medan pertempuran. Tembaga bisa dihujat dan itu tak jadi soal; Tembaga bisa dipuja-puji dan bukan itu yang diharapkan. 

Pukul dua dini hari, Tembaga pulang dari konferensi bersama banyak peneliti. Mantis tidak ada pekerjaan selain menunggu kabar baik dari Tembaga. Gelas kedua anggur sudah tandas, mumpung Tembaga tidak ada di tempat. 

”Mantis, kamu harus bersiap!” kata Tembaga sambil melepas setelan formal abu-abu tua.  

”Kita diserbu kelompok kanan? Atau dikejar-kejar polisi? Memang sudah kubayangkan. Mereka yang tidak menyukai kemajuan memang gemar represif.” 

”Bukan….” 

Tembaga memutar keran, bising air cukup deras masuk ke gelas. Persis berhenti ketika volume air 90% volume gelas. Tembaga meneguknya cepat-cepat. Melihat koleganya terengah-engah dan begitu terburu-buru, Mantis berpikir untuk menghangatkan spageti yang dia masukkan kulkas seusai makan malam tadi. Tembaga pasti tidak sempat makan malam. Meski sudah usia 50 dan kerap diperingatkan dokter untuk memperhatikan kesehatan, Tembaga lebih sering teledor. Nomor satu di kepalanya adalah perihal kloning dan nomor dua adalah Bari kekasihnya. Sayang, yang nomor dua sudah dia habisi. 

”Lab kita akan dikunjungi Wakil Presiden,” Tembaga akhirnya bercerita. 

”Hari ini? Maksudku nanti ketika hari terang? Lalu apa yang bisa dikerjakan oleh dua lelaki yang sudah sama-sama tua jam dua dini hari?” 

”Tadi aku mendapatkan panggilan penting. Pukul 10-11 pagi nanti, Wakil Presiden akan berkunjung. Sebagai apresiasi atas penelitian sekaligus mengenalkan kemajuan ilmu pengetahuan.” 

”Jadi tidak sendiri?” 

”Bersama delegasi ilmuwan muda dari banyak kampus.” 

Mantis melongo, mulutnya dua kali liang tabung reaksi. ”Sulit percaya ceritamu.” 

”Mantis, kali ini kamu harus percaya. Mengapa aku  pulang selarut ini? Ya, karena panggilan mendadak dari ajudan atau juru bicara atau siapanya Wakil Presiden itu.” 

Tembaga duduk di kursi biasa dia duduk saban hari. Andai betul pukul 10 Wakil Presiden tiba, tidak ada waktu untuk pulang ke apartemen. Dia akan menunggu kunjungan di laboratorium saja. Tidak perlu banyak persiapan. Sekadar kunjungan dan melihat proses kloning berhasil Tembaga persingkat, walau sedikit lebih lama dari ”Les Champs-Elysées”. Tembaga mulai ragu laboratoriumnya cukup menampung orang sebanyak itu. 

”Mantis, kamu cek apa spesimen di chiller masih ada?” 

”Bencana!” pekik Mantis.

”Kenapa? Jangan bilang kamu bikin bolognese daging Bari?” 

”Bukan. Jaringan erektilnya sudah habis.” 

Tembaga lantas ingat, bagian erektil Bari memanglah mungil. Sudah banyak percobaan Tembaga lakukan menggunakannya.  

Quote

Bagian terbaik memang mata.

Tembaga mendekati sisa potongan tubuh Bari. Tidak mungkin memakai bagian bisep, akan dipermalukan media. Tembaga menyaksikan dua bola mata Bari dan teringat ketika masih muda dia sangat suka makan gulai kepala kambing dan dia memang menyukai bagian mata.  

”Bagian terbaik memang mata,” Tembaga bergumam. 

”Kamu mabuk?” 

Tembaga menggeleng. Bukan waktu yang tepat untuk menceritakan kepada Mantis perihal hobinya makan gulai kepala kambing dan mendengar suara bola mata meletus dihantam gigi geraham. 

”Kita demonstrasikan dengan jaringan rambut atau kuku. Sedikit lebih lama tidak apa. Wakil Presiden kita, kan, seorang ilmuwan. Pasti dia paham selain meneliti, kendala ilmuwan itu bisa saja kekurangan spesimen.” 

Mantis terhenyak dan ingin sekali menempeleng kepala botak Tembaga. 

”Waktumu itu mandek berapa tahun? Wakil Presiden ilmuwan kita sudah mangkat bertahun-tahun lalu.”  

Tembaga menepuk-nepuk gunung di perutnya. Dia mengingat pernah dijamu makan malam oleh Wakil Presiden yang profesor. Terhidang aneka sajian, termasuk gulai kambing yang benar-benar enak. Sebab bersama orang nomor dua di negerinya, Tembaga memilih bagian daging yang sopan. Padahal Tembaga begitu mengincar kepala, terkhusus mata. ”Mata adalah bagian terenak.”

 

Catatan: Judul cerpen parafrase novel Monika Kim, The Eyes are the Best Part (2024). 

 

Teguh Affandi editor di sebuah penerbit di Jakarta. Cerpennya, ”Redian dan Kulkas Barunya”, terpilih dalam buku Keluarga Kudus: Cerpen Pilihan Kompas 2021. Terlibat dalam antologi bersama Museum Teman Baik (Post Press, 2024).  

Suharmanto, lulusan Seni Lukis, ISI Yogyakarta. Telah pameran tungggal sebanyak tujuh kali, antara lain, di Yogyakarta, Jakarta, Singapura, Austria, dan Jerman. Juga puluhan kali pameran bersama di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Bali, Singapura, Malaysia, Filipina, India, Nepal, Korea Selatan, China, dan Swiss.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Teguh Affandi
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul