Di balik gemerlap dunia sosial media terdapat tren mengkhawatirkan yang mengintai remaja Indonesia: diet ekstrem demi tubuh ”ideal” yang dipuja algoritma.
04 Jun 2025 08:26 WIB · Kesehatan
Tiap hari, jutaan remaja menggulir layar, menyerap konten yang seringkali membingkai tubuh ideal dalam bentuk sempit, langsing, tinggi, nyaris tak bercela. Di balik foto-foto cantik dan jumlah "like" yang membuncah, diam-diam tumbuh bahaya dalam bentuk gangguan makan dan kurang gizi yang menghantui generasi muda.
Dari video before-after, tips puasa ekstrem, hingga konten “what I eat in a day” yang tidak realistis, media sosial, utamanya TikTok dan Instagram kini menjadi ladang subur bagi narasi tubuh ideal yang bisa membahayakan kesehatan.
Salah satu tren yang mencuat belakangan adalah “SkinnyTok”, tagar viral di TikTok yang memuja tubuh super ramping. Di balik estetika visual itu, tersembunyi pesan-pesan merusak, remaja didorong menurunkan berat badan secara drastis, membatasi asupan makanan, bahkan mengonsumsi obat pelangsing tanpa pengawasan medis.
Penelitian oleh Center for Countering Digital Hate (CCDH) di Amerika Serikat (AS) menunjukkan akun TikTok dengan nama terkait diet menerima lebih banyak rekomendasi video tentang gangguan makan dan menyakiti diri sendiri. Hal ini menunjukkan bagaimana algoritma dapat memperkuat kerentanan pengguna.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/14/9797c539-6d7b-43b2-b4a1-246b5679ed66_jpg.jpg)
Banyak remaja juga tergoda mengikuti diet keto ekstrem, puasa intermiten, atau menghindari karbohidrat total karena konten viral. Mereka tidak tahu bahwa tubuh remaja sedang dalam masa pertumbuhan, dan membatasi nutrisi bisa merusak metabolisme, mengganggu siklus hormon, dan memicu gangguan menstruasi.
Alih-alih menjadi sehat, banyak remaja justru mengalami kelelahan kronis, sulit konsentrasi di sekolah, bahkan depresi. Muncul pula gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia, yang tak jarang berujung pada rawat inap atau trauma jangka panjang.
Situasi ini diperparah dengan banyaknya pemengaruh yang mempromosikan produk penurun berat badan, seperti pil diet atau minuman detoks, tanpa bukti ilmiah yang mendukung klaim itu. Konsumsi produk semacam ini tanpa konsultasi dengan profesional kesehatan dapat berisiko bagi kesehatan dan tidak menjamin hasil yang diinginkan.
Semakin banyaknya wanita dan anak perempuan muda menderita penyakit seperti anoreksia, bulimia, dan gangguan makan berlebihan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosial media ini, meskipun angka di kalangan pria juga menunjukkan peningkatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/8d7026628fe20a479cf466fabca5a2ca-Screenshot_2025_01_06_at_11_28_01_Best_Diets_2025_Weight_Loss_Healthy_Eating_More_US_News.png)
Laporan penelitian di The American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2019 menunjukkan persentase orang di seluruh dunia yang pernah mengalami beberapa jenis gangguan makan selama hidup mereka meningkat. Dari 3,5 persen pada tahun 2000 menjadi 7,8 persen pada 2018, suatu jangka waktu yang menggambarkan munculnya media sosial.
Studi ini dilakukan Marie Galmiche dan rekan-rekannya, yang menganalisis 94 studi dengan diagnosis gangguan makan yang akurat serta 27 studi dengan diagnosis lebih luas. Mereka menemukan gangguan makan amat umum terjadi di seluruh dunia, terutama pada perempuan, dan prevalensinya naik signifikan selama periode yang ditinjau.
Penyebab gangguan makan memang kompleks, dengan faktor psikologis, genetik, lingkungan, dan sosial yang semuanya berpotensi membuat seseorang lebih rentan.
Media sosial sendiri "bukanlah penyebabnya, tetapi pemicu," kata Nathalie Godart, seorang psikiater untuk anak-anak dan remaja di Student Health Foundation of France, seperti dilaporkan AFP pada 1 Mei 2025.
Menurut Godart, dengan mempromosikan tubuh kurus, diet yang dikontrol dengan ketat, dan olahraga tanpa henti, media sosial melemahkan orang-orang yang sudah rentan, bahkan bisa mengancam terhadap kesehatan mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/cd44ceb1af40b4764288b38aa123a7e2-diet_sehat.png)
Ketika algoritma lebih suka tubuh ideal, maka tubuh manusia nyata yang sedang bertumbuh dan mencari jati diri kerap merasa gagal. Persepsi diri pun terdistorsi. Banyak remaja mulai membenci tubuhnya hanya karena tidak sesuai dengan standar visual yang mereka lihat tiap hari.
Menurut Godart, masalah ini membutuhkan respons kolektif. Kita perlu membekali generasi muda dengan literasi digital, agar mereka bisa menyaring dan memahami apa yang terlihat di layar seringkali bukan cerminan kenyataan. Kita juga perlu menumbuhkan budaya penerimaan tubuh, menyuarakan bahwa sehat itu bukan satu bentuk saja.
Tak kalah penting, akses terhadap bantuan psikologis harus dibuka lebar. Gangguan makan bukan soal "cari perhatian", melainkan kondisi serius yang bisa merenggut nyawa.
Bagi para profesional kesehatan yang mencoba membantu remaja pulih dari gangguan pola makan, misinformasi dari para influencer atau pemengaruh di platform seperti TikTok dan Instagram merupakan masalah besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/c5763cc5a2ae9b777d1d45bccc4c5f86-cropped_image.png)
" Kita tidak lagi mengobati gangguan makan tanpa juga mengatasi penggunaan media sosial. Itu (media sosial) telah menjadi pemicu, jelas akselerator dan hambatan untuk pemulihan," kata ahli diet dan ahli gizi Prancis, Carole Copti.
Charlyne Buigues, perawat di Perancis yang mengkhususkan diri dalam gangguan makan, mengatakan, orang yang menderita gangguan makan sering kali memiliki harga diri yang rendah.
Kita tidak lagi mengobati gangguan makan tanpa juga mengatasi penggunaan media sosial. Itu (media sosial) telah menjadi pemicu, jelas akselerator dan hambatan untuk pemulihan.
"Namun dengan mengekspos ketipisan mereka akibat anoreksia di media sosial, mereka memperoleh pengikut, penayangan, like... dan ini akan memperparah masalah mereka dan memperpanjang penyangkalan mereka," tambahnya.
Hal ini terutama dapat terjadi jika konten ini menghasilkan uang. Buigues menceritakan tentang seorang wanita muda yang secara teratur merekam dirinya muntah secara langsung di TikTok dan telah "menjelaskan bahwa dia dibayar platform tersebut dan menggunakan uang itu untuk membeli bahan makanan".
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/e243ba0b-2a06-442b-8692-ef9eb007f7d3.jpg)
Masalahnya, para pemengaruh saat ini jauh lebih berpengaruh daripada para ahli kesehatan bahkan lembaga kesehatan. Copti menceritakan pengalamannya dalam sesi konsultasi dengan pasien yang bisa menjadi perdebatan. Banyak pasien yang membantah saran ahli karena rujukan di sosial media.
"Saya harus terus-menerus berjuang untuk membuat mereka mengerti bahwa tidak mungkin menjalani diet sehat dengan hanya mengonsumsi 1.000 kalori—itu setengah dari yang mereka butuhkan—atau bahwa tidak, tidak normal untuk melewatkan makan," katanya.
"Pasien-pasien benar-benar terindoktrinasi—dan konsultasi mingguan saya selama 45 menit tidak sebanding dengan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di TikTok," tambahnya.
Godart memperingatkan tentang maraknya orang yang mengaku sebagai "pelatih semu", yang membagikan saran nutrisi yang salah, "tidak masuk akal", dan berpotensi ilegal.
"Para influencer ini jauh lebih berpengaruh daripada lembaga. Kami terus-menerus berjuang untuk menyampaikan pesan sederhana tentang nutrisi," katanya, sambil menunjukkan ada jalur penyelamat yang tersedia bagi mereka yang membutuhkan.
"Kita harus terus-menerus berjuang untuk menyampaikan pesan sederhana tentang nutrisi," kata Charlyne Buigues, perawat di Prancis yang mengkhususkan diri dalam gangguan makan.
Kini para ahli gizi dan kesehatan diharapkan bisa terjun ke dunia sosial media untuk memberi edukasi atau konten yang benar untuk menangkal pengaruh dari pemengaruh dengan informasi sesatnya. Namun, hal itu tidak akan mudah.
Memberi label hoaks terhadap konten sesat juga tidak akan sepenuhnya menghentikan masalah ini. Produksi konten keliru akan terus membanjir selama algoritma masih menjadi panglimanya. Menangkal pengaruh buruk informasi sesat di sosial media tak hanya bisa di level hilir, karena itu seperti menampung banjir di ember.
Menyiapkan anak-anak muda untuk berpikir kritis, termasuk dalam menggunakan media sosial, menjadi salah satu benteng perlindungan mereka dari pengaruh buruk itu. Komunikasi tatap muka dan interaksi berkualitas dengan anak-anak di rumah, termasuk mendiskusikan kesehatan mereka bisa memperkuat benteng itu. (AFP)
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari