Erika Desra kehilangan sang ibu yang menjadi korban bandang di Sumatera Barat. Kini, selembar baju kurung sang ibu menjadi kenangan yang akan selalu dia simpan.
04 Des 2025 18:33 WIB · Nasional
KOMPAS/YOLA SASTRA
Erika Desra (32) mengais puing-puing rumah yang bercampur lumpur di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kamis (4/12/2025) siang. Sejumlah benda ia temukan, dari pakaian hingga Al Quran.
Barang-barang itu adalah peninggalan almarhumah ibunya, Ernita (58). Mengumpulkan barang-barang peninggalan almarhumah menjadi bentuk penghormatan Erik kepada sang ibu. Ia khawatir almarhumah ibu berkecil hati di alam baka bila barang peninggalannya dibiarkan terbengkalai begitu saja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/9aa3b70127da854120c23e164c0294c0-1000911282.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/a6b5ad1d56ea36e44556ab6163e4a44d-DSC05413.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/5740c6e2-56bc-4d12-a118-7af3c03461d5.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/529b9e49-3a7b-4688-93af-f32e80bd46f5.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/2c8e6ea1-024c-477f-bd61-3a2bf3173f6a.jpg)
Ibu Erika, Ernita, tewas dalam bencana galodo yang menghantam 200 lebih rumah di sekitar Sungai Nanggang atau Alahan Anggang di Palembayan pada Kamis (27/11/2025) sore. Jenazah sang ibu ditemukan di bawah reruntuhan rumah pada Minggu (30/11/2025) siang setelah Erik nekat menyewa ekskavator karena lambannya penanganan bencana.
Selain ibu, adik dan tiga keponakan Erik juga meninggal dalam kejadian di Palembayan yang merenggut lebih dari 100 jiwa. Puluhan korban lainnya juga belum ditemukan hingga sepekan pascakejadian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/33129ef9-82c6-426f-a168-336f2686491a.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/a1e4eebd-6794-4c15-92ce-76afc773857c.jpg)
Banjir bandang dari Sungai Alahan Anggang (disebut juga Nanggang) menghantam permukiman di Palembayan pada Kamis sekitar pukul 17.00. Dua nagari terparah disapu galodo, yaitu Salareh Aia dan Salareh Aia Timur.
Posko Basarnas di Palembayan mencatat, hingga Selasa (2/12/2025), jumlah korban dalam pencarian sebanyak 60 orang. Angka itu tersebar di tiga nagari, yaitu 19 orang di Salareh Aia, 39 orang di Salareh Aia Timur, dan 2 orang di Tigo Koto Silungkang.
Bagi Erika Desra, meski raga ibunya telah tiada, baju sang ibu yang penuh lumpur galodo adalah harta yang tidak tidak bisa dibeli dengan uang.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari