Serangan rudal Iran ke Israel menyasar wilayah utara Israel dan menimbulkan kerusakan di sejumlah kota.
22 Jun 2025 15:38 WIB · Internasional
Militer Amerika Serikat menyerang tiga lokasi di Iran, Minggu (22/6/2025) dini hari, yang menandai AS melibatkan diri dalam upaya Israel untuk menghentikan program nuklir Iran. Serangan ini disebut menjadi langkah berisiko untuk melemahkan musuh lama di tengah ancaman pembalasan Teheran yang dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa militer AS telah melakukan ”serangan yang sangat berhasil” terhadap tiga situs nuklir Iran, termasuk fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di Fordo. ”Kami telah menyelesaikan serangan kami yang sangat berhasil terhadap tiga situs nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan,” kata Trump dalam sebuah posting di platform Truth Social miliknya.
Pemerintah Iran menganggap serangan AS tersebut sebagai upaya mengkhianati proses diplomatik yang sedang berlangsung antara Iran dan Uni Eropa setelah Israel memicu konflik dengan menyerang Iran lebih dahulu. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, AS telah memicu perang berbahya dengan Iran. ”Iran memiliki hak untuk melawan dengan kekuatan penuh terhadap agresi militer AS dan kejahatan yang dilakukan oleh rezim jahat ini, dan untuk membela keamanan dan kepentingan nasional Iran,” demikian pernyataan yang dikutip Associated Press.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/57868e1e-93b5-498b-a8cd-3bea456eb9cc_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/92cce40a-a8ad-4669-a603-3fc5d5e002e7_jpg.jpg)
Sebagai reaksi atas serangan AS, Iran mengatakan telah menembakkan salah satu rudal balistik terbesarnya yang menyasar Israel setelah serangan AS. Saluran televisi Pemerintah Iran menayangkan apa yang tampak seperti rekaman uji coba rudal Khorramshahr-4 sebelumnya, dengan keterangan di layar yang mengatakan rudal itu digunakan pada hari Minggu dalam serangan beruntun ke Israel.
Khorramshahr-4 memiliki muatan terberat dari armada rudal balistik Iran, yang menurut para analis mungkin dirancang untuk menjaga senjata tersebut di bawah batas jangkauan 2.000 kilometer yang ditetapkan oleh pemimpin tertinggi negara itu. Rudal ini memiliki jangkauan 2.000 kilometer (1.240 mil) dengan hulu ledak 1.500 kilogram (3.300 pon).
Rudal tersebut dinamai berdasarkan kota Iran yang menjadi tempat pertempuran sengit selama Perang Iran-Irak pada 1980-an. Rudal tersebut juga disebut Kheibar, berdasarkan benteng Yahudi yang ditaklukkan oleh kaum Muslim pada abad ke-7, di tempat yang sekarang menjadi Arab Saudi.
Tak lama setelah serangan rudal Iran, Israel mengumumkan pesawat tempurnya melakukan serangan terhadap ”target militer” di Iran barat tanpa segera menjelaskan lebih lanjut. Rudal Iran menghantam wilayah di Israel utara dan tengah setelah serangan AS terhadap Iran.
Layanan penyelamatan Israel, United Hatzalah, mengatakan bahwa mereka telah mengirim petugas tanggap darurat. Rudal Iran melukai 16 orang di Israel saat serangan baru Israel terhadap Iran dilaporkan. Layanan penyelamatan Magen David Adom mengatakan, salah satu dari mereka yang terluka adalah seorang pria berusia 30 tahun dan 10 lainnya mengalami luka ringan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/df8fd1c7-f191-4938-ad26-e648c74f328a_jpg.jpg)
Iran telah menembakkan ratusan rudal dan pesawat nirawak ke Israel sejak Israel melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas militer dan nuklirnya, minggu lalu. Pertahanan udara canggih Israel mampu menembak jatuh sebagian besar, tetapi tidak semua, rudal dan pesawat nirawak Iran masih ada yang lolos.
Serangan beruntun yang dilancarkan Iran telah membuat warga Israel kini harus selalu dalam kewaspadaan. Mereka kini lebih banyak menghabiskan waktu berada di bunker penyelamat bawah tanah. Sebagian lainnya harus dievakuasi setelah permukimannya rusak terkena rudal dari Iran.
Dengan bergabungnya AS dalam serangan ke Iran membuat konflik makin memanas dan memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kini, negara-negara di kawasan tersebut khawatir konflik meluas.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Muhammad Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto