Pulau Dewata ”jenuh” dengan kompleksnya persoalan yang mendera, dari sampah, kemacetan, hingga masifnya pembangunan. Keseimbangan hidup makin sulit dijangkau.
07 Des 2024 13:47 WIB · Ekonomi
Bali selalu memiliki cara untuk memikat jutaan wisatawan tiap tahunnya. Tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara berlomba-lomba menikmati ragam fasilitas yang disuguhkan. Kekayaan alam, budaya, hingga hiruk-pikuk kota metropolitan dapat ditemui di Pulau Dewata itu.
Meski demikian, di balik ingar bingar pariwisata di sana, kondisi Bali yang makin menua ternyata tidak dibarengi dengan keseimbangan dari beragam aspek. Jumlah wisatawan yang makin deras berdatangan mendorong para investor membangun banyak hal. Alih-alih memfasilitasi kegiatan wisata, tindakan ini justru lekat dengan eksploitasi. Maraknya pembangunan diikuti jumlah wisatawan berlebih justru menggerus keselarasan yang selama ini telah dipupuk dan dijaga masyarakat Bali.
Tidak heran, jika Bali akhirnya masuk dalam daftar destinasi yang tidak direkomendasikan versi Fodor’s Travel. Fodor’s merupakan perusahaan Amerika Serikat (AS) yang menyediakan ragam panduan perjalanan serta informasi berwisata secara daring.
Dalam laporan itu, Fodor’s Travel menyebut bahwa Bali termasuk salah satu destinasi yang bersinar, tetapi juga menderita karena popularitasnya. Sebelumnya, Bali telah banyak disorot karena perkembangannya yang kurang memperhatikan kondisi alamiahnya, tetapi tidak menunjukkan perbaikan, bahkan situasinya makin buruk.
”Industri pariwisata dan alam di Bali terkungkung dalam kerapuhan relasi sirkular, di mana ekonomi Bali berkembang pesat dalam pelayanan, yang bergantung pada kesegaran lanskap alaminya,” tulis Fodor’s Travel dalam laporannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/28/a230050e-6e92-4b08-90c5-5252b0faae2f_png.png)
Dalam laporan Badan Pusat Statistik Bali, sebanyak 5,27 juta kunjungan langsung wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali sepanjang 2023. Angka itu naik 144,6 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya dalam periode yang sama. Pada semester I-2024, sebanyak 2,91 juta kunjungan wisman ke Bali atau naik 23,6 persen dari paruh pertama 2023.
Laporan Fodor’s Travel perlu dianggap sebagai pengingat sekaligus refleksi mengenai situasi Bali saat ini. Media itu juga menyebut Bali dalam daftar pertamanya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Bali, I Nyoman Darma Putra berpendapat, Bali memang saat ini tidak lepas dari pembicaraan soal wisata berlebih atau overtourism. Posisinya kini dianggap sejajar dengan Venesia, Italia, dan Barcelona, Spanyol, dengan jumlah wisatawan yang begitu banyak.
”Bisa dilihat lalu lintas macet sekali. Jadi, apa yang dialami warga Jakarta sudah dirasakan di Bali. Jadi, di mana-mana, seperti Denpasar, Kuta, Canggu, dan Ubud itu macet parah. Itu juga suatu realitas yang tidak bisa dibantah untuk mendukung bahwa overtourism itu bukan ungkapan kosong,” ujar Darma saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (7/12/2024).
Meski sejumlah media, bahkan beberapa pakar pariwisata telah menggolongkan Bali sebagai destinasi yang mengalami wisata berlebih, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa kepadatan di Bali terjadi bukan karena jumlah wisatawan berlebih. Alih-alih menganggap sebagai overtourism, ia menilai penyebaran wisatawan yang belum merata memicu penumpukan wisatawan di Bali bagian selatan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/01/01/bb2ad934-afe1-45ab-988e-02144ffafd94_jpg.jpg)
Pembangunan yang masif dan ugal-ugalan mendapat sorotan khusus dalam Fodor’s Travel. Daya tarik alam, seperti pantai Kuta dan Seminyak, kini tertimbun banyak sampah. Pada waktu bersamaan, sistem manajemen pengelolaan sampah lokal kurang dapat mengimbangi besarnya kuantitas buangan.
Koalisi akademisi dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada bidang pengelolaan manajemen sampah, Bali Partnership memperkirakan Pulau Dewata menghasilkan sekitar 1,6 juta ton sampah per tahun. Sebanyak 18,9 persen di antaranya adalah sampah plastik. Dari besarnya volume sampah itu, hanya 48 persen sampah yang berhasil dikelola dengan tepat.
Buruknya pengelolaan sampah menunjukkan perkembangan pariwisata tidak diimbangi dengan perencanaan dan perhitungan yang matang. Belum lagi, maraknya pembangunan hanya fokus pada keuntungan tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan.
Asisten profesor di William F Harrah College of Hospitality, University of Nevada, Las Vegas, Marta Soligo, mengemukakan alasan-alasan tersebut yang kerap menjadi fokus para akademisi pariwisata. Mereka banyak mengkritisi dalih pertumbuhan ekonomi yang perlu dikejar. Alhasil, pertumbuhan ekonomi dan keuntungan jangka pendek kerap diproritaskan di atas aspek keberlanjutan jangka panjang.
”Hal ini juga penting mencerminkan kualitas hidup harian penduduk karena masalah ini juga memicu pada persoalan lain, seperti kenaikan biaya hidup, polusi suara, dan kemacetan lalu lintas yang telah terjadi di Bali,” ujar Soligo dalam laporan Fodor’s Travel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/18/4d8edf57-c517-4d2d-a588-e20e2f7c13ae_jpg.jpg)
Pariwisata berlebih, Soligo melanjutkan, berisiko memperbesar konflik antara turis dan penduduk karena minimnya penghormatan pada komunitas lokal. Akibatnya, penduduk lokal kewalahan terhadap keramaian yang terjadi.
Fenomena pembangunan berlebih pada Bali telah menyeruak sejak lama. Ekspansi besar-besaran, termasuk pembangunan klub-klub malam yang menawarkan gaya berlibur berbeda dari karakteristik lokal Bali.
Darma mengatakan, lelucon ”Bali bakalan amblas lantaran investor” telah mengemuka sekaligus jadi peringatan bagi banyak orang. Hal ini tidak terlepas dari minimnya pemerataan antara Bali bagian selatan dan daerah lainnya.
Mencuatnya banyak klub malam juga menawarkan gaya berlibur berbeda dari ciri khas destinasi Bali sebagai wisata budaya. Turis berpesta berlebihan hingga menimbulkan keriuhan suara. Komplain-komplain dari penduduk lokal pun bermunculan.
”Bali memang harus mulai menata diri agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung, masyarakat setempat, dan tidak merugikan pengusaha (lokal). Kalau terjadi, rakyat secara ekonomi akan menghadapi persoalan,” tutur Darma.
Meski demikian, masalah dan teguran yang dilayangkan banyak pihak untuk pengelolaan Bali dinilai Darma tidak berdampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan. Selama ini, daerah tersebut sudah diwarnai dengan beragam isu, mulai dari isu keamanan bom, sampah hingga pemerasan turis.
”Bagi pengusaha pariwisata itu menakutkan karena dikhawatirkan akan menurunkan minat orang ke Bali. Namun, dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan meningkat,” ujar Darma.
Selain soal pembangunan yang masif, kemacetan juga menjadi masalah yang kini mengganggu penduduk lokal. Perlahan, penumpukan di jalan jadi pemandangan sehari-hari.
Upaya pemerataan wisatawan dari Bali bagian selatan ke utara juga, menurut rencana, didukung dengan pembangunan bandara internasional di Kabupaten Buleleng. Presiden Prabowo Subianto berambisi membangun bandara baru agar Bali menjadi ”Singapura baru” atau ”Hongkong baru”.
Senada, Kemenpar menyadari tantangan yang dihadapi Bali terkait dengan kurangnya pemerataan persebaran wisatawan. Pihaknya terus berupaya mendorong pemerataan wisatawan di Bali.
”Kemenpar tidak tinggal diam. Pada September 2024, Kemenparekraf berkolaborasi dengan pemerintah daerah (pemda) dan stakeholder terkait meluncurkan paket wisata 3B, yakni Banyuwangi-Bali Barat-Bali Utara yang diharapkan makin memperkaya pilihan tujuan berwisata,” ujar Widiyanti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2016/12/18/f712318e-1d15-43a7-af90-1e2939ff78e0_jpg.jpg)
Beberapa tempat yang dimaksud adalah Desa Wisata Tembok, Desa Wisata Les, Lovina, hingga Pemuteran di Bali Utara. Kabupaten Jembrana yang menyuguhkan Taman Nasional Bali Barat yang menyuguhkan burung jalak bali juga masuk dalam daftar tersebut.
Sementara Banyuwangi masih menonjolkan kekayaan alamnya sebagai destinasi andalan. Beberapa di antaranya adalah Desa Wisata Kemiren, G-Land, Alas Purwo, dan Kawah Ijen.
Secara terpisah, Darma berpendapat, selama ini Pemerintah Indonesia kerap membandingkan kuantitas kunjungan wisman dengan negara-negara tetangga. Sebagai negara besar, tingkat kunjungannya masih lebih rendah. Karena itu, pemerintah membangun 10 ”Bali baru”, antara lain Danau Toba di Sumatera Utara serta Candi Borobudur di Jawa Tengah.
”Secara umum, 10 ’Bali baru’ itu keberhasilannya rendah sekali,” kata Darma.
Pembangunan dan upaya pemerataan wisatawan ke Bali bagian lain dikhawatirkan hanya akan memindahkan masalah dari Bali bagian selatan jika tanpa perhitungan matang. Situasi yang dihadapi primadona Indonesia ini memang diakui begitu kompleks.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/28/76efb083-8479-4a6f-8082-d4d800fb9532_JPG.jpg)
Demi mengoptimalkan pemerataan di Bali, justru peran transportasi umum dapat dimaksimalkan, alih-alih membangun bandara baru. Akses transportasi umum yang memadai dapat meningkatkan minat kunjungan, tanpa membuka bandara yang berbiaya besar, termasuk pembebasan lahan yang juga luas.
”Kalau bangun di tanah, lama-lama akan mengorbankan ruang terbuka hijau di Bali yang akan berkurang. Pembangunan bandara diikuti hotel, sekolah, kantor, dan sebagainya,” ujar Darma.
Transportasi umum juga jawaban atas kemacetan yang selama ini terjadi. Pemerintah perlu menyiapkan hal ini pula. Tiap solusi yang ditawarkan tetap perlu memikirkan implikasi-implikasi yang bakal terjadi sesudahnya. Sebab, tidak ada satu obat untuk menyelesaikan segala penyakit. Penyakit baru akan menuntut solusi baru.
Bali memang bak surga yang jatuh di bumi Indonesia. Namun, kekayaan Indonesia tidak hanya berpusat di pulau itu. Masih banyak ragam opsi berlibur ke daerah-daerah eksotis yang minim dilihat mata.
Mengutip agen perjalanan asal Inggris, Culture Trip, merekomendasikan sejumlah daerah di Indonesia yang selama ini luput dari sorotan banyak orang. Meski, di antaranya ada pula destinasi dalam daftar ”Bali baru” yang dicanangkan pemerintah.
Pertama, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu daya tarik utama paket berlibur di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kawasan itu diakui sebagai situs warisan budaya Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO. Masih berdekatan dengan tempat konservasi Komodo, wisatawan dapat berkunjung ke Pulau Padar, Pink Beach, dan melihat keindahan laut sembari memperhatikan sekawanan ikan pari manta.
Kedua, Banyuwangi sebagai kota yang terletak di ujung Jawa Timur. Kota ini cocok bagi wisatawan yang mencari ketenangan karena menawarkan sejumlah pantai terpencil. Ada juga kawah Ijen yang terkenal dengan kobaran api berwarna biru berpadu dengan sulfur kekuningan pada bebatuan di sekitarnya.
Ketiga, Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah yang memperlihatkan kehidupan orangutan. Demi melihat lebih detail dan intens kehidupan satwa-satwa endemik ini, sebuah kapal atau perahu perlu disewa untuk menginap beberapa hari. Hutan di sana merupakan rumah bagi orangutan liar. Selain itu, kumpulan monyet bekantan akan terlihat kala fajar menyingsing.
Keempat, Pulau Morotai yang berada di Maluku Utara. Tempat ini telah menjadi destinasi wisata internasional yang memikat dengan kisah-kisah sejarahnya. Sebagai salah satu lokasi peperangan utama Perang Dunia II, kapal dan pesawat tempur karam telah jadi situs sejarah. Dengan menyelam, obyek wisata itu dapat dilihat dari jernihnya air laut di antara karang dan ikan-ikan.
Lokasi-lokasi di atas hanyalah segelintir dari banyaknya titik wisata yang bisa ditawarkan Indonesia. Banyak destinasi menawarkan wisata berdasarkan karakter daerah dan obyek wisatanya yang tak kalah memikat dari Bali. Karena itu, sudahkah Anda siap berlibur mengeksplorasi obyek baru?
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .