Seorang anak balita di Kota Bandung diduga mengalami kekerasan bertubi-tubi hingga akhirnya meninggal. Kekerasan diduga dilakukan ibu tiri korban.
24 Nov 2025 10:02 WIB · Kriminalitas
KOMPAS/TOTO SIHONO
BANDUNG, KOMPAS — Seorang anak balita bernama Raditya Allibyan Fauzan di Kota Bandung, Jawa Barat, diduga mengalami kekerasan di sekujur tubuhnya hingga akhirnya meninggal pada Sabtu (22/11/2025). Tim Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung telah menangkap terduga pelaku yang merupakan ibu tiri korban.
Anak berusia 4 tahun yang biasa disapa Pian ini merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Selama ini, korban tinggal bersama ayah kandungnya dan ibu sambung di daerah Cipadung, Kota Bandung.
Adapun ibu kandung Pian tinggal di Kota Depok, Jabar. Dia tinggal bersama anaknya, yang juga merupakan kakak Pian, dan suaminya.
Mulanya, Pian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ujungberung, Bandung, dalam kondisi tidak sadarkan diri pada Jumat (21/11/2025) siang. Pihak kerabat yang mengantarkan Pian menyebut anak itu jatuh di kamar mandi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/82d45869239badd5ff025a627bf8fded-IMG_20251124_091005.jpg)
Pian yang mengalami luka memar di sekujur di tubuhnya tak bisa bertahan dan mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu dini hari. Sesudah itu, ayah korban melaporkan kejadian ini ke Polrestabes Bandung.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung Komisaris Anton, Senin (24/11/2025), mengatakan, pihaknya telah mendatangi rumah sakit dan membawa jenazah korban untuk dilakukan pemeriksaan fisik serta autopsi.
Penyidik kemudian memeriksa lima saksi dan mendatangi lokasi kejadian di sebuah kontrakan di Cipadung, Gang Gagak, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.
Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan dugaan kuat tindak pidana kekerasan sehingga menyebabkan korban meninggal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/87d48d3f75803d19153ca6699a60fc71-Videoshot_20251124_092237.jpg)
”Kami telah menahan ibu tiri korban dalam kasus ini. Saat ini dia masih menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polrestabes Bandung,” ujar Anton.
Dia mengungkapkan, polisi telah mengotopsi jenazah Pian di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih, Bandung. Hasilnya, ditemukan luka-luka baru dan luka-luka lama di sekujur badan korban.
”Tampak adanya kekerasan benda tumpul di kepala, baik di dahi maupun bagian belakang. Luka lain juga ditemukan di sekujur tubuh, termasuk tangan, kaki, dan dada,” ungkapnya.
Terkait motif kekerasan itu, Anton menambahkan, penyidik masih mendalami keterangan pelaku. ”Sementara ini, motifnya karena rasa cemburu. Terduga pelaku merasa ayah korban lebih menyayangi si anak dibandingkan anak-anaknya sendiri. Namun, pemeriksaan masih berlanjut,” katanya.
Ibu kandung korban, Titawati, saat dihubungi Kompas, tak kuasa menahan duka atas kepergian putra bungsunya. Dia menuturkan, Pian telah dimakamkan pada Minggu (23/11/2025) kemarin di kampung halamannya di Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut.
Titawati mengatakan, dirinya melihat banyak luka di tubuh Pian saat berada di kamar jenazah. ”Ada lebam di tangan kanan, kiri, di kaki, perut hingga kepala. Ada pendarahan di otak, tulang dada kanan-kiri patah, dan tulang kepala juga retak,” ungkapnya.
Titawati pun mengenang Pian sebagai anak yang sangat ceria dalam keseharian. ”Harapan saya kasus ini diusut tuntas. Semoga ada keadilan bagi saya dan keluarga,” ujarnya.
Tampak adanya kekerasan benda tumpul di kepala, baik di dahi maupun bagian belakang. Luka lain juga ditemukan di sekujur tubuh, termasuk tangan, kaki, dan dada.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/a85f0eb3-99b1-48ef-b479-11f1445d2204_jpg.jpg)
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat Siska Gerfianti menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang menimpa Pian. Dia meminta pelaku diproses hukum pihak berwajib.
Siska menambahkan, DP3AKB Jabar juga telah menyiapkan tenaga psikolog untuk memberikan pendampingan kepada pihak keluarga, khususnya ibu kandung korban.
”Saat ini ibu kandung korban masih berada di Garut. Kemarin tim dari DPPKB P3A (Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) Kabupaten Garut datang ke rumah ibu korban dan memberikan dukungan psikologis baginya,” tuturnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto