Polemik sampah di Kota Bandung tidak kunjung usai. Tumpukan sampah masih mewarnai sudut kota. TPA Sarimukti kembali kewalahan menerima gelontoran sampah warga.
30 Des 2024 10:00 WIB · Lingkungan
Sepanjang tahun 2024, Bandung masih saja sulit mengembalikan citra sebagai ”Kota Kembang” lewat keindahan dan kebersihan alamnya. Pengelolaan sampah masih menjadi masalah. Ke depan, jangan sampai Bandung tenggelam makin dalam di lautan sampah yang menjengkelkan.
Video di media sosial Tiktok tentang tumpukan sampah di depan Pasar Caringin, Kota Bandung, Jawa Barat, kembali viral. Diunggah pada 14 Desember 2024, video itu memberi fakta pengelolaan sampah masih jauh dari ideal di ibu kota Provinsi Jabar ini.
Video yang diunggah Depupi Iskandar itu ditonton hingga 738.000 pengguna internet (netizen). Depupi mengeluhkan bau menyengat sampah yang tercium hingga rumah kontrakannya. Dari rumahnya, jarak gunungan sampah itu hanya 100 meter.
Hingga sepuluh hari setelah viralnya video itu, Kompas mendatangi lagi tempat itu, Selasa (24/12/2024). Ironisnya, sampah plastik, residu, dan makanan masih saja teronggok di sana.
Aroma bau sampah yang menyengat tercium di sekitar area pasar. Sampah yang menggunung hingga 4 meter terhampar di area dengan luas sekitar 50 meter persegi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/f690fcde0bb1d64789eab78a2dcfcb1c-IMG_20241224_111121.jpg)
Warga yang berjualan di daerah pasar sangat tersiksa aroma bau busuk sampah. Siska (33), penjual makanan dan kopi hanya berjarak sekitar 10 meter dari lokasi tumpukan sampah itu, misalnya, merasakan dampaknya.
Selain bau, lapaknya sepi pembeli. Hanya seorang bapak yang sedang meminum kopi hitam di lapaknya. Sesekali bapak itu menutup hidungnya karena tak tahan aroma bau sampah.
Sudah setahun Siska dan para penjual barang kebutuhan pokok di lokasi tersebut merasakan kondisi ini. Ibu tunggal dari satu anak ini sudah berjualan di Pasar Caringin selama lima tahun terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/27/d27c20b76d53cd2c88aaf0b04ea74620-IMG_20241224_112552.jpg)
”Bau sampah yang menyengat berdampak sepinya pembeli. Untuk mendapatkan uang Rp 100.000 per hari saja sangat susah,” ungkap Siska.
Kondisi yang dialami Siska juga dirasakan warga di luar area Pasar Caringin. Tiupan angin mengakibatkan bau busuk sampah tersebar dengan radius lebih dari 100 meter.
Aji (30) yang tinggal bersama istri dan dua anaknya setiap hari menghirup bau sampah di rumahnya. Rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari lokasi tumpukan sampah ini di Pasar Caringin.
”Bau sampah,” tutur Aldi (10), anak sulung Aji, yang kerap mual karena tak tahan bau sampah saat ditemui Kompas di rumah kontrakan mereka di Jalan Babakan Ciparay.
Aji mengaku pasrah dengan kondisi ini. Penghasilannya dari berjualan sejumlah barang kebutuhan pokok di kios tak cukup untuk mengontrak rumah di lokasi yang bebas dari bau sampah.
”Beginilah nasib kami saat ini. Setiap membuka pintu di pagi hari, bukannya udara segar yang dirasakan, tetapi bau sampah,” ungkap Aji.
Bau busuk sampah tidak hanya datang dari Pasar Caringin. Dari pantauan Kompas, tumpukan sampah dengan bau menyengat terlihat di sejumlah ruas jalan. Beberapa di antaranya seperti Jalan Jakarta dan Jalan Tamansari.
Arif (35), penjual pempek di Jalan Terusan Jakarta, terpaksa harus menggunakan masker. Dia baru berjualan di lokasi tersebut selama tiga bulan terakhir. Sekitar 10 meter dari lapak tempatnya berjualan terdapat tempat pemrosesan sementara (TPS) dengan sampah yang menumpuk di tiga gerobak. Bau busuk sampah tercium hingga tempatnya.
”Semua pembeli memilih untuk membungkus makanannya. Mereka tak tahan bau sampah yang sangat terasa dekat TPS,” ujar Arif.
Pengelolaan sampah di Tamansari bahkan terasa menjengkelkan karena berada di samping salah satu pintu masuk kampus teknik tertua di Indonesia, Institut Teknologi Bandung. Banyak studi tata kota dan teknik pengelolaan sampah muncul dari ahli-ahli di kampus itu.
Pemicu sampah menumpuk hingga mengakibatkan bau busuk karena belum terangkut. Salah satu penyebab utamanya, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kembali melampaui kapasitasnya.
Kapasitas TPA Sarimukti diperkirakan telah melebihi 90 persen. Saat ini, luas TPA Sarimukti sekitar 43 hektar.
Rata-rata jumlah sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti masih tercatat 1.750 ton per hari hingga Oktober 2024. Jumlah itu melebihi batas yang ditetapkan, yakni 1.000 ton per hari.
Jumlah sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti lebih dari 300 ritase pengantaran oleh truk. Sampah berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.
Idealnya sampah yang masuk hanya 215 ritase per hari. Hal ini sesuai target dari Pemerintah Provinsi Jabar selaku pengelola TPA Sarimukti pada tahun ini.
”Biasanya sampah yang dibawa ke TPA Sarimukti hingga melebihi 300 ritase per hari dari Senin hingga Jumat. Rata-rata sampahnya masih tercampur antara organik dan nonorganik,” Koordinator Pengelola TPA Sarimukti, Zidni Ilman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/26/d0126f40-c4d7-4aa0-9195-7041bb48e871_jpg.jpg)
Direktur Eksekutif Walhi Jabar Wahyudin menyatakan, sudah terdapat sembilan upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi masalah darurat sampah. Salah satunya pemanfaatan lahan seluas 1 hektar di daerah Gedebage untuk pembuangan sampah anorganik residu dan pengolahan organik dengan kapasitas 7.000 ton sampah.
Namun, menurut Wahyudin, respons Pemkot Bandung menangani dan mengendalikan kondisi darurat sampah yang terjadi saat ini belum berhasil secara maksimal. Hal ini terbukti kuota pembuangan ke TPA Sarimukti selalu berlebih.
Ia mengungkapkan, Walhi pun melakukan survei pada tahun ini untuk menemukan masalah darurat sampah di Kota Bandung. Hasilnya, ditemukan pembuangan sampah di TPA Sarimukti sebanyak 300-320 ritase per hari atau setara 2.500 ton.
Saat ini, kami sedang menginvestigasi penyebab penumpukan sampah di Pasar Caringin. Hal ini menunjukkan pengelolaan yang tidak maksimal.
”Dari jumlah volume itu, 70 persen merupakan sampah organik. Kota Bandung menyumbang sampah paling banyak, yakni 170 ritase per hari atau 1.500 ton per hari,” ujar Wahyudin.
Ia pun merekomendasikan Pemprov Jabar dan para pemangku kebijakan di kawasan Bandung Raya memosisikan isu sampah menjadi program prioritas. Upaya ini dilakukan dengan mendorong sistem pengelolaan sampah secara terpilah dan pengolahan sampah organik sedekat mungkin dengan sumbernya.
”Pemda dan legislatif harus mendorong kebijakan peningkatan anggaran penanganan sampah di semua level. Selain itu, segera membuat kebijakan olah organik lintas wilayah, lebih khusus kota-kota besar yang tidak memiliki cukup lahan untuk pengolahan sampah,” katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung Dudi Prayudi mengungkapkan, Kota Bandung menghasilkan 1.400-1.500 ton sampah per hari, terutama pada akhir pekan. Namun, pengelolaan sampah oleh vendor masih menghadapi sejumlah kendala.
Berdasarkan data DLH Kota Bandung, pengelolaan sampah oleh vendor saat ini mencapai 67,22 ton per hari, antara lain 25,9 ton sampah organik, 8,04 ton material daur ulang, dan 8,18 ton residu.
”Dari 48 vendor yang terdaftar, hanya 12 yang sudah memiliki rekomendasi teknis. Adapun 20 vendor masih dalam proses dan 12 lainnya belum mengajukan. Kami mendorong semua vendor segera melengkapi persyaratan ini,” ujar Dudi.
Ia pun menegaskan, pengelolaan sampah di Pasar Caringin yang dikelola pihak swasta. ”Karena itu, pihak pengelola wajib menangani sampah sesuai aturan,” katanya.
”Saat ini, kami sedang menginvestigasi penyebab penumpukan sampah di Pasar Caringin. Hal ini menunjukkan pengelolaan yang tidak maksimal, ” kata Dudi.
Bila tidak diatasi, Bandung bisa jadi kian tenggelam kian dalam di lautan sampah. Diperlukan sinergi berbagai pihak dalam mengatasi sampah sehingga Bandung sebagai Kota Kembang tak tinggal kenangan.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan